“Al.”
Aditia duduk bersebelahan dengan Alya, mereka duduk di ruang yang biasa digunakan oleh para atlet berlatih, Alya sedang berlatih saat pagi ini Aditia bertanya dia di mana, karena sebenarnya Alya tidak memiliki jadwal kuliah sama sepertinya, tapi terkadang Alya masuk untuk berlatih.
Kampus ini memiliki beberapa fasilitas untuk Atlet olahraga, salah satunya panahan, mereka duduk di bangku yang disediakan di ruangan ini, di pinggir lapangan.
“Ya, Ya, napa? Pagi-pagi udah ngajak ketemu aja, jam berapa nih?” Dia melihat ke arah jam tangannya, “jam 10, Ya. Biasanya masih sibuk lu masih sibuk nganter nyokap sama ade lu.” Alya memanggil Aditia selalu dengan panggilan yang berbeda dari yang lain, dia memanggil Aditia dengan sebutan Ya, diambil dari pelafalan namanya ADITIYA, maka dua lafal terakhir yang menjadi panggilan kebiasaan Alya pada Aditia. Saat ditanya kenapa memanggilnya berbeda, Alya bilang, karena dengan begitu kita memiliki panggilan yang sama, ADITIYA, ALYA. Lalu dia tersenyum, sementara jantung Aditia seperti mau copot mendengarnya, bahwa Alya senang memiliki suatu kesamaan dengan dirinya.
“Gue mau minta maaf, kemarin nggak bisa jemput, kok lu tumben sepagi itu ada di sana, dari mana?” Aditia tampak hati-hati bertanya sembari tetap terlihat biasa.
“Gue kemaren sebenarnya dari rumah temen, Ya. Terus mobil gue mogok, gue telepon mobil derek, soalnya emang tuh mobil rada rewel. Nah pas mobil gue dibawa, gue inget itu tuh deket rumah lo. Jadinya gue minta jemput deh.” Alya menjelaskan sembari membersihkan panah yang dia gunakan tadi.
Sementara busurnya masih digantung di pinggang.
“Sekarang mobilnya udah bisa jalan?” Aditia ingin memastikan, bahwa mobil Alya seharusnya ringsek bagian depan karena kemarin menubruk tubuh Bude Pecel dan trotoar dua kali. Tidak mungkin mobilnya baik-baik saja.
“Belum bisa, masih di bengkel, gue pakai mobil yang lain.” Alya masih saja membersihkan panahnya dengan sangat tenang.
Aditia melihat tatapan yang aneh, tapi bukan tatapan menyesal.
“Al, ikut gue yuk.” Aditia mengajaknya.
“Kemana?”
“Udah ikut aja.” Aditia menarik tangan Alya, mau tidak mau Alya mengikutinya.
Mereka ke parkiran mobil, Aditia menyetir dan Alya di sampingnya, mereka naik angkot Aditia.
Berkendara selama 45 menit dengan angkot membuat Alya terlihat tidak nyaman, ini bukan kali pertama dia naik angkot, tapi tetap saja, mobil mewahnya dan angkot bukan lawan yang sebanding.
Aditia meminggirkan mobilnya, mereka sudah di pinggir jalan, lokasi yang memang Aditia tuju, perempatan jalan, dimana Bude Pecel ditabrak oleh mobil Alya.
“Kenapa kita berhenti di sini, Ya?” Alya bertanya, dia masih tidak mau turun, sementara Aditia sudah keluar dan berada di sisi pintu Alya, dia membuka pintu Alya dan menarik tangannya.
Aditia membawa Alya ke bagian jalan dimana mobil itu tepat menabrak Bude Pecel, lalu Aditia berjongkok, Alya masih bingung, tangan mereka masih saling menggenggam.
“Bude Pecel, dia jualan pecel di SD, tempatku sekolah dulu, dia orang yang baik, kalau ada anak yang kebetulan tidak punya uang, dia akan memberikan pecelnya cuma-cuma, syaratnya cuma satu, jangan lupa solat ya, bilang terima kasih sama Allah Nak. Begitu dia dulu sering memberiku makan pecel gratis, katanya aku anak baik, aku harus sekolah yang tinggi.”
Aditia mengusap air mata yang meleleh di pinggir matanya. Lalu dia melanjutkan lagi perkataannya.
“Kemarin ada seseorang yang menabraknya, dia sedang berdiri di sini,” Aditia menunjuk tempat Bude Pecel berdiri menunggu angkot, “sedan itu datang dari sana dengan kecepatan tinggi.” Aditia kembali menunjuk arah mobil itu datang, “lalu dia menabrak Bude Pecel, hingga kepalanya hancur!” Aditia emosi, tangannya masih memegang Alya, tapi lebih erat, ekspresi Alya tidak berubah, wajahnya masih tenang.
“Lalu?” Alya menatap Aditia tajam.
“Plat mobil yang menabraknya, B 411 YA.” Aditia terdiam, di titik ini dia sangat marah, karena melihat Alya tidak sama sekali merasa bersalah.
“Itu mobilku, aku yang menyetir, jadi sudah pasti aku yang menabraknya.” Alya melihat ke arah jalan di mana Aditia bilang Bude Pecel tergeletak di situ.
Aditia berdiri dan memegang bahu Alya, “Kau tahu, kau akan dihukum minimal tiga tahun, ditambah kau lari dari insiden itu, mungkin kau akan dihukum lima tahun, bagaimana dengan kuliahmu? bagaimana dengan karir atletmu?!” Aditia berteriak karena marah melihat Alya begitu santai menghadapi ini semua.
“Bawa aku ke kantor Polisi.” Alya berjalan duluan dan masuk ke angkot. Aditia terduduk lemas, bagaimana mungkin dia terjebak dengan situasi berat seperti ini.
...
Mereka sudah di kantor Polisi, Polres Metro Jakarta Pusat. Alya dan Aditia berada di ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu ( SPKT ), karena posisinya Alya menyerahkan diri, maka akan langsung dibuatkan BAP, Aditia mendampinginya.
“Jadi bagaimana anda menabraknya?” Pak Dirga kenalan Aditia dan Ayahnya yang memeriksa Alya.
“Saya kelelahan, karena berlatih dan sibuk nongkrong sama teman-teman, jadinya tidak tidur, lalu ketika saya melewati jalan itu, saya ngantuk, kehilangan kendali dan menabraknya.”
“Bagaimana anda menabrakya?” Pak Dirga bertanya.
“Seperti ini.” Alya memposisikan tangan kanannya sebagai mobil dan jari telunjuk kirinya sebagai bude pecel, dia menggerakan tangan kanannya kearah jari telunjuk kirinya, tangan kanan itu menabrak telunjuknya, lalu tangan kanan itu pergi setelah menabrak.
“Kau yakin seperti itu?” Pak Dirga mengernyitkan dahi dan melihat ke arah Adit.
Aditia menggeleng dan Pak Dirga mengangguk tanda mengerti.
“Aku akan menahanmu, sementara itu aku akan melakukan penyelidikan.” Pak Dirga mengeluarkan borgol, lalu memborgol Alya.
“Pak, apakah saya boleh tetap memakai ini?” Alya menunjuk pada cincin yang ada di jari telunjuknya, cincin itu dari neneknya, Aditia tahu betapa berharganya itu.
“Sementara di sini boleh, tapi kalau sudah pindah penjara, tidak boleh ya.” lalu Pak Dirga membawanya ke sel tahanan, Aditia masih duduk di tempat semula mereka membuat laporan.
Setelah mengantar Alya, Pak Dirga kembali ke tempat duduknya, di sana masih ada Aditia.
“Bagaimana menurutmu?” Pak Dirga bertanya pada Aditia yang masih termenung.
“Kalau dia yang menabrak, kenapa dia tidak tahu kejadiannya?” Aditia mulai goyah.
“Ya, aku ingat tadi subuh kau telepon aku dan menjelaskan bagaimana kejadiannya, seharusnya dia menabrak dua kali bukan? Setelah tabrakan pertama, dia mundur dan menabraknya sekali lagi, baru kabur, begitu bukan?”
“Iya, ada yang salah Pak, sepertinya bukan dia.”
“Lalu kenapa dia menyerahkan diri? Tapi Adit, saya sudah mencari tahu tentang keluarganya, menurut sumber yang terpercaya, dia dari keluarga terpandang. Mungkin Alya akan bebas dalam satu atau dua hari, karena keluarganya pasti menggunakan kekuasaan untuk melepaskannya.”
Aditia masih terdiam, dia tidak tahu, masalah apa yang dia hadapi saat ini. Tapi Alya sudah berani menyerahkan diri, itu patut dihargai, walau dalam hati, Aditia yakin Alya tidak bersalah sepenuhnya, tapi dia harus menemukan bukti terlebih dahulu.
...
“Dimana ini?” Aditia melihat hamparan pasir putih di kakinya, luas sekali, ini bukan pantai, tapi ini seperti lautan pasir putih yang tidak ada ujungnya.
Aditia berlari, sejauh dia berlari, dia tidak menemukan jalan pulang, semua seperti berputar di porosnya.
Aditia bingung, ini di mana? dan kenapa dia ada di sini? lalu dia melihat seorang anak kecil yang sedang jongkok, rambutnya panjang ikal sepinggang, dia memakai baju tidur berwarna putih, tidak, itu gaun tidur berwarna putih, umurnya sekitar lima tahun, dia sedang jongkok. Aditia tidak tahu dia manusia atau ‘mereka’ tapi hanya anak ini saja yang bisa Aditia ajak bicara.
Dia mendekatinya, lalu menunduk agar suaranya bisa didengar anak ini.
“De, ini dimana, kamu ngapain di sini?” Aditia mengusap kepalanya, anak itu menoleh pada Aditia, anak yang sangat cantik. Lalu anak itu menunjuk sesuatu, arah telunjuknya ke depan, Aditia menoleh dan melihat ada sesosok hitam yang tinggi sekali, rambutnya panjang, matanya merah. Makhluk itu bertelanjang dada, tubuhnya kurus sekali sehingga tulang rusuknya terlihat jelas, dia memakai kain selempang yang compang-camping di pinggangnya sebatas lutut, ketika dia muncul, udara terasa panas, dan langit menjadi gelap.
“Tolong aku .... “ Anak itu melihat Aditia dengan sangat ketakutan, matanya mengeluarkan darah. Aditia tidak berfikir apapun, dia langsung menggendongnya di pinggangnya dan berlari secepat yang dia bisa, makhluk itu mengejar mereka, kakinya yang panjang membuat Aditia tertangkap dengan mudah.
Aditia masih berusaha melindungi anak itu, tapi dia gagal, anak itu diambil oleh setan berkaki panjang, tapi sebelum setan itu mengambilnya, dia melihat kalung yang dipakai anak perempuan itu.
Detik di mana Aditia berusaha mengejar setan itu untuk menyelamatkan anak yang diambil, dia terbangun dalam keadaan berkeringat di tempat tidurnya.
“Astaghfirullahaladzim. “ Aditia terus mengulangnya.
Setelah cukup tenang, dia berfikir kembali dan ....
“Pak Dirga, maaf menelponmu tengah malam begini, aku hanya ingin tahu apakah kau masih di Kantor Polisi?” Aditia menelpon Pak Dirga, sementara dia sudah ada di angkotnya, dia akan ke Kantor Polisi.
“Ini sudah tengah malam Nak, mana mungkin aku di Pos, kenapa?”
“Siapa yang jaga Alya Pak?” Ada nada kekhawatiran yang tinggi saat Aditia menanyakannya.
“Ada rekan sejawatku yang jaga, kenapa Dit?"
“Pak aku tahu siapa pelakunya, bukan Alya Pak, bukan dia!!!” Aditia berteriak, kecepatan mobilnya makin tinggi.
“Siapa Dit, siapa?!” Pak Dirga ikut berteriak.
“BEGU GANJANG!!!”
____________________________________
Catatan Penulis :
Ada yang tau Begu Ganjang? Tulis di kolom komentar ya.
Author mau curhat boleh? Boleh lah ya ....
bahwa untuk menulis satu part seperti ini, sepanjang 1500 kata, Author harus bukan cuma mengetik nggak karuan, tapi harus juga mencari artikel terkait yang dapat dipercaya. Nih Aku jabarin ya :
1. Aku harus membaca tentang hukum pidana tabrak lari\, berapa lama hukuman dan ada pada pasal berapa\, karena soal hukuman yang diatur negara nggak bisa ngasal.
2. Aku harus baca\, gimana prosesnya kalau seseorang mau lapor polisi\, dia akan diterima oleh bagian apa dulu\, lalu setelahnya ngapain\, nggak ujug-ujug bikin BAP trus dipenjara\, nangis2 trus di sel trus nyanyi deh\, kumenangisssssss membayangkan ... silahkan lanjutin sendiri nyanyinya.
3. Aku harus tahu tentang makhluk yang mau aku angkat sebagai tema\, gimana bentuknya\, gimana kisahnya sampai menjadi urband legend dan siapa korban-korbannya.
Jadi untuk membuat satu part ini aku harus baca 4-5 artikel, supaya landasannya Ajeg, nggak ngasal ngetik gengs.
Trus udah baca banyak apakah tulisanku sempurna? Enggak! Bahkan masih banyak yang tidak sesuai kaidah KBBI, pasti masih ada aja yang salah, PASTI!
Jadi dengan curhat ini aku mau kasih tau, kalau aku tidak menulis dengan asal-asalan pada tiap part yang aku tulis, aku luangkan waktu 2-3 jam untuk menulisnya diantara kesibukanku sebagai karyawan dan seorang ibu, dan berusaha menjaga kualitas tulisanku, yang masih banyak kekurangan ini.
Jadi tolong, jangan pernah menganggap menulis itu mudah, dibutuhkan keinginan yang kuat bahkan mengorbankan waktu.
Dah segitu aja curhatnya.
Terima Kasih.
Wassalam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 568 Episodes
Comments
Iswandi
beguganjang nama setan dari Sumatera Utara yg berarti hantu yg tinggi
2024-10-14
0
pioo
begu ganjang itu adalah hantu urban legend sumatera utara, kalau mau tau silahkan searching di google
2024-06-25
0
Desy Pinem
eh busyet, Begu ganjang ada di situ🤭
2024-06-19
0