“Bu .... “ Aditia melihat seseorang di ujung dekat pintu keluar kebun yang nembus ke rumah tetangga pemilik kebun dan juga nembus ke sungai belakang rumah.
“Bu .... “ Aditia mengejar seseorang itu, perawakannya seperti wanita dengan baju berwarna serba hitam, Aditia tidak yakin itu ibunya, tapi dia sungguh berharap itu Ibunya.
Aditia baru kepikiran menelpon, dia akhirnya mengambil telepon genggamnya, dia menelpon Ibu, telepon tidak aktif. Sementara wanita diujung jalan itu mulai berjalan menjauhi Aditia.
“Bu .... “ Aditia berusaha mengejarnya, sampai di pintu keluar kebun, Aditia melihat wanita itu berjalan mendekati sungai, langkahnya cepat sekali, walau tidak yakin itu Ibunya, tapi Aditia tetap mengejar.
Walau hari sudah malam, Aditia terus mengejar wanita itu, wanita yang dia fikir ibunya, wanita itu berjalan tanpa menoleh, cara jalannya terkesan aneh, seperti diseret, tapi kenapa dia cepat sekali.
“Ibu!!!”
Aditia tersandung batu besar, dia terjerembab ke tanah, hari memang sudah mulai gelap, ditambah Aditia tidak fokus hingga tidak melihat batu yang sebenarnya berukuran besar, di pinggir sungai ini memang tidak tidak ada lampu jalanan yang disediakan juga, Aditia terus mengejar perempuan berbaju hitam itu, tanpa penerangan yang cukup, di malam hari pula, tak heran dia tersandung dan jatuh.
Aditia terbangun dan kaget, dia tidak melihat sosok itu lagi, sosok itu menghilang di gelap malam, yang tersisa hanya suara gemericik air sungai dan tentu saja keheningan malam.
Aditia akhirnya kembali ke rumah berjalan memutar, tidak lewat kebun lagi, karena dia harus manjat tembok rumahnya kalau kembali lewat kebun, dia lewat depan walau agak memutar jalannya lebih terang dan siapa tahu bisa ketemu Ibu.
“Dit, Bapak udah tanya tetangga kanan kiri, nggak ada yang liat ibu kamu, mereka bilang terakhir melihat ibu kamu kemarin malam pas di pengajian Pak RT, setelah itu dari pagi, Dita sama Ibu nggak keluar, biasanya ibu kamu selalu beli sayuran di tukang sayur keliling, tapi kemarin dia nggak keluar, pintu rumah terus terturup Dit.” Pak Dirga memberitahu Aditia begitu Aditia sampai di rumah.
“Tadi Adit kayaknya liat Ibu, tapi pas Adit panggil dia malah terus lari, Adit kejar, eh malah ilang.”
“Kita tunggu sampai besok pagi Dit, kalau Ibu belum pulang juga, Bapak akan kerahkan beberapa polisi untuk mencarinya. Sekarang kita fokus dulu keluarin Marni dari tubuh Adikmu, kasihan, dia sepertinya belum makan dan minum, entah sejak kapan. Oh ya, bapak sudah panggil Pak RT dan suruh Pak RT menghubungi Pak RW, Bapak takut keadaan akan semakin buruk, makanya bapak minta mereka datang kesini.”
“Iya Pak, kita memang harus memanggil mereka.”
“Assalamualaikum, Adit.” Ada seseorang yang memanggil dari luar, sepertinya Pak RT dan Pak RW.
Aditia keluar dan menyambut mereka, dia lalu mempersilahkan mereka masuk.
“Pak ini Pak RT dan Pak RW, mereka membawa Ki Kusno juga.” Ada 3 orang lelaki datang, Ki Kusno lah yang paling terlihat sangat sepuh, kalau ditakar mungkin umurnya sekitar 80 tahun.
“Duduk Pak, mohon maaf ini kami merepotkan.” Pak Dirga mempersilahkan mereka duduk, sementara Aditia ke belakang menyediakan kopi, karena hanya itu yang Aditia bisa sediakan.
“Pak maaf, Aditia hanya bisa menyediakan ini.” Aditia lalu menyuguhkan 5 gelas kopi, mereka duduk di bangku, rumah kecil Aditia memang menyediakan bangku sofa sederhana, sofa panjang dan 3 sofa single, Cukup untuk mereka semua duduk.
“Dit, Ibu mana?” Pak RT bertanya.
“Tidak tahu Pak, kata tetangga Ibu terakhir terlihat kemarin pas pengajian di rumah Bapak, setelah itu Ibu tidak terlihat lagi, pagi ini bahkan Ibu tidak belanja sayur seperti biasa.”
“Oh iya, kemarin Pas pengajian, Istri Bapak bilang, kalau ibumu pulang duluan, dia terlihat pucat, lalu pamit pulang, Istri Bapak akhirnya mengantar ke depan, lalu tiba-tiba pas sampai depan Ibumu terlihat buru-buru, dia tidak pamit seperti biasa, langsung saja berlari, karena sedang pengajian, jadinya Istri Bapak tidak terlalu memperhatikan lagi.” Pak RT memberitahu Aditia.
“Apakah Ibu memakai gamis warna hitam Pak?” Aditia bertanya.
“Sepertinya bukan, dia memakai baju berwarna ungu Dit, seragam dengan pakaian Istri Bapak dan ibu-ibu yang lain.” Pak RT menjelaskan.
Aditia ingin memastikan apakah perempuan yang dia liat tadi ibunya atau bukan, sepertinya bukan.
“Baik, ini Ki Kusno, Ki Kusno ini adalah orang yang paling dituakan di sini Dit, dia tahu seluk beluk daerah ini, jadi mungkin sedikit banyak dia akan membantu kamu dan keluarga, apakah boleh Ki Kusno melihat Dita Dulu?” Pak RT bertanya.
“Boleh Pak, silahkan.” Aditia membawa mereka semua ke kamar Dita, Dita terlihat masih terikat, tapi dia melotot dan cekikikan ketika kami semua masuk, tubuhnya membelakangi kami.
“Assalamualaikum Dita.” Pak RT mencoba menyapa Dita.
Dita tidak menjawab, dia cekikikan lebih kencang lagi.
“Marni.” Kali ini Ki Kusno yang menyapa, sapaan ini membuat Dita berpaling kearah kami, dia terlihat kaget dengan kedatangan Ki Kusno.
“Kusno!!! Berani kau datang!!!” Dita bersuara berat dan berdesis.
“Marni, kenapa kau datang lagi?” Ki Kusno berdiri di depan Dita.
“Aku ingin anak ini, aku ingin anak ini!!!” Dita berkata masih dengan desisan yang mengerikan.
“Apa yang sebenarnya terjadi Pak?” Pak Dirga bertanya pada Ki Kusno.
“Waktu itu tahun 1997 .... “
I
I
I
I
I
TAHUN 1997
Ada seorang wanita bernama Marni, dia adalah wanita paling baik, cantik dan ramah di daerah ini, daerah tempat tinggal Ayah Adit dan Ibunya, ayah dan ibu Aditia baru saja menikah, Aditia sedang dalam kandungan Ibunya, pasangan ini memang tidak menunda kehamilan setelah pernikahan.
Marni saat ini berumur 18 tahun, umur di mana seorang gadis terlihat gemilang, Marni gadis yang berpendidikan dan beragama baik, tidak diketemukan sedikitpun kecacatan pada diri Marni ... Itu yang orang sangkakan.
“Marni tidak ingin yang lain, Marni hanya ingin menjadi pegawai negeri, makanya ijinkan Marni kuliah Pak.” Marni berbicara pada Ayahnya, ayahnya hanyalah seorang buruh prabrik sepatu, mana mampu dia membiayai kuliah putrinya.
“Bapak tidak mampu Marni, biaya kuliah itu mahal, bekerja saja dulu, begitu kau ada uang, baru kuliah.” Bapaknya yang memang sakit-sakitan juga berusaha memberinya pengertian.
“Tidak Pak, kita kan masih punya rumah, kita gadaikan sertifikatnya, lalu setelah itu aku bisa langsung kuliah selepas lulus SMA, saat aku lulus kuliah, aku berjanji Pak, aku akan mengambil sertifikat rumah ini kembali.” Marni masih bersikeras.
“Tapi menggadaikan rumah ini ke Bank sungguh hal yang menakutkan Nak, ada bunga yang berjalan dan jika kita tidak bisa melunasi maka kita akan diusir, mau tinggal di mana lagi kita? Ini adalah warisan satu-satunya milik kita Nak, ini warisan dari keluarga ibumu, Bapak tidak berhak menggadaikan atau menjualnya.”
“Bapak pengecut! Bapak hanya memiliki anak satu saja, tapi tidak bisa memenuhi impian anaknya, aku ingin menjadi pegawai negeri Pak!” Marni berlari ke kamarnya dan menangis sesegukan, sementara Ibunya hanya bisa menangis di dapur.
Ibunya tahu, ada hal lain yang membuat putrinya ingin sekali menjadi pegawai negeri, bukan, ini bukan tentang impian, ini tentang hal lain, dan itu sungguh memalukan jika Ibunya ceritakan pada Bapaknya Marni.
“Bu, apa kita gadaikan saja rumah ini untuk kuliah Marni?” Bapaknya Marni akhirnya melemah, melihat putrinya menangis seharian, tidak mau makan dan minum. “dia adalah putri kita satu-satunya, mendapatkannya dulu pun kita harus menunggu selama 5 tahun.” Bapak mengingat bagaiman dulu ibunya Marni sulit sekali hamil dan mengalami beberapa kali keguguran.
“Kalau kita akhirnya tidak mampu bayar bagaimana Pak? Kita akan menjadi tuna wisma dan berakhir menjadi gelandangan.” Ibu mengingatkan.
“Lebih baik kehilangan rumah daripada kehilangan anak bu.” Bapak tertunduk, rasa sayangnya terhadap Marni sungguh sangat dalam, anak yang dia inginkan hingga harus menunggu selama 5 tahun.
...
Marni mendapatkan apa yang dia inginkan, dia kuliah di kampus ternama, semester awal dia menjadi mahasiswa dengan nilai yang sangat baik, wajahnya yang cantik dan kemampuan intelektualitasnya yang tinggi membuat namanya cepat di kenal, di desanya dia menjadi idaman, di kampus pun sama.
Kehidupan yang begitu mengelu-elukan namanya berbanding terbalik dengan kehidupannya di rumah yang serba kekurangan, tapi Marni bukanlah gadis jahat, dia menjalani semuanya dengan sabar, untuk cita-citanya, hingga suatu saat ....
“Ada apa dengan wajahku?” Marni bangun dalam tidurnya dan menemukan wajahnya melepuh, semua kulitnya berkerut seperti nenek-nenek.
Dia keluar kamar dan berlari kearah ibunya yang sedang masak di dapur.
“Ibu, muka Marni kenapa?” Marni berteriak karena melihat mukanya hancur.
“Mukamu? Mukamu baik-baik saja, tidak ada kenapa-kenapa.” Ibunya bingung karena mukanya baik-baik saja.
“Ibu lihat muka Marni, ini melepuh sakit bu, ini juga semua kulit Marni jadi keriput, Marni mendekati kaca yang ada di kamar mandi dekat dapur, dia melihat betapa jeleknya dia.”
“Pak, Pak, Marni kenapa nih.” Ibunya bingung, karena dia tidak melihat sesuatu yang aneh dari putrinya, tapi putrinya bersikeras mengatakan bahwa wajahnya hancur.
“Nak, sini.” Bapaknya Marni menarik anaknya dan melihat wajahnya, tidak ditemukan ada yang salah di sana.
“Lihat ini, wajah Marni hancur Pak!” Marni histeris, ayahnya percaya, ada yang salah dengan Marni, karena Marni bukan orang yang suka berbohong, suka mengarang cerita atau berdrama, Marni orang yang jujur dan tidak mau melakukan apa yang tidak penting hanya untuk menarik perhatian.
Bapaknya langsung membawa dia ke banyak orang pintar, tapi sayang, tidak ada satupun yang mampu membuatnya sembuh, Bapaknya Marni sudah habis harta dan tenaga, setelah 3 bulan mencari pengobatan tidak juga ketemu, Marni tidak masuk kuliah karena malu, padahal orang melihatnya biasa saja, tidak ada yang salah, dia tetap cantik, tapi Marni melihat hal yang sebaliknya, dia melihat wajahnya hancur, dan sakitnya terasa nyata.
Karena penyakit ini, mental Marni jatuh, dia menjadi sedikit gila karena rasa mau dan sakit itu, dari mulai tidak mau makan, tidak mau minum sampai akhirnya tidak mau tidur, hanya dalam hitungan bulan tubuhnya menjadi kurus kering, tidak ada lagi aura cantik dalam dirinya.
Bapak dan Ibunya mulai putus asa, karena sudah tidak punya uang untuk berobat kemana pun, untuk makan saja mereka sudah tidak mampu, hanya dari belas kasihan tetangga mereka masih bisa makan.
Rumah Ibu Bapaknya pun terancam disita karena ketidak mampuan Bapak dan Ibunya membayar angsuran bunga setiap bulannya, mereka pasrah atas ketentuan Tuhan.
Tepat setelah 6 bulan Marni sakit, akhirnya Marni pun meninggal dunia, dalam keadaan tubuh yang hanya berbalut kulit, dia mulai tidak mau pakai baju sebelum kematiannya, tubuhnya di ketemukan dalam keadaan mengenaskan, di kamarnya yang bau, karena bekas kotoran yang tidak dibersihkan, tanpa busana dan mata dan mulut yang terbuka lebar, sampai akhir hayatnya wajahnya masih memperlihatkan betapa takutnya dia pada dirinya sendiri.
...
Kematian Marni gempar, seluruh warga yang membantu proses pemakaman tidak kuat memandikan tubuhnya, jasadnya sangat bau dan kotor, saat ini orang melihat dia persis seperti yang dia katakan, wajahnya melepuh dan kulitnya keriput, itu semua karena dia memang kurang gizi, efek dari tidak mau makan dan minum.
Orang melihat apa yang Marni lihat setiap hari pada dirinya, tapi mereka lihat justru di akhir hidup Marni, Marni sendirilah yang membuat kondisi tubuhnya menjadi senyata apa yang dia halusinasikan.
Setelah pemakaman, semua warga kembali hidup seperti biasa, yang berbeda hanya, sudah tidak ada kembang desa yang cantik dan pintar lagi di sana, tidak ada yang mau tahu apa yang terjadi pada Marni, yang tertinggal hanya Bapak dan Ibunya yang kesepian, tanpa putri yang merupakan harapan satu-satunya untuk menopang hidup mereka di masa tua nanti.
7 hari setelah kematian Marni, kampung kembali gempar, hari itu hari jumat, malam terasa lebih dingin dari biasanya, para petugas ronda pun merasa bahwa malam ini terasa sepi sekali, tidak ada suara serangga sekaipun. Petugas ronda itu ada 3 orang, setelah mengitari komplek mereka memutuskan untuk beristirahat di pos, waktu menunjukan pukul 1 dini hari.
“Malam Pak .... “ Seorang perempuan yang wangi sekali menyapa ketiga petugas ronda itu.
Mereka semua otomatis berpaling.
“Malam, mau kemana Neng Marni?” Seorang petugas ronda mengenalinya.
“Mau pulang .... “ Marni menjawab dengan suara yang mendayu-dayu dan wajah menyeringai.
“Udah malem banget ini, mau dianter?” seseorang menawarkan diri.
“Iya dianter aja Neng.” Yang lain menimpali sembari menggoda.
Lau akhirnya salah satu dari mereka mengantar Marni untuk pulang.
Setelah Marni dan salah satu pemuda tidak terlihat lagi, seorang petugas ronda tiba-tiba berkeringat dingin dan menyadari sesuatu.
“Bu-bukannya Marni ... udah meninggal?” Dia berkata dengan pelan dan terlihat sedikit lingung.
“Astagfirullah .... “ pemuda yang lain ketakutan ketika dia juga baru menyadari bahwa wanita yang mereka sapa itu, sebenarnya sudah meninggal.
Bau yang tadinya terasa wangi, seketika berubah menjadi bau busuk, padaha Marni dan salah satu pemuda yang mengantarnya sudah tidak terlihat, mereka yang ketakutan akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah Pak RT untuk melaporkan kejadian tadi.
Ditempat lain, pemuda yang mengantar Marni masih saja menemaninya, dia berjalan di samping Marni, walau sedikit heran kenapa Marni mengenakan dress hitam panjang malam-malam begini dan jalannya agak diseret, karena biasanya pakaiannya selalu kasual, seperti jeans dan kaos, dia tetap saja tidak terlalu memikirkannya, bisa mengantar gadis paling cantik di desa adalah suatu anugrah untukknya.
“Dari mana Mar, kok malem banget pulangnya.”
“Dari sana.” Marni menunjuk belakang tubuhnya.
Pemuda itu berfikir, bukankah itu area pemakaman?
“Dari kampus?” pemuda itu mencoba untuk memastikan lagi, kali ini dia berada di belakang Marni, langkahnya terhenti begitu Marni menunjuk kuburan.
Marni menggeleng, dia memang bukan dari kampusnya.
Agak curiga, lelaki itu tetap mengkutinya dari belakang, sampai di persimpangan, Marni masih saja lurus.
“Mar, rumahmu kan belok kiri.” Lelaki itu mengingatkan, Marni masih saja berjalan ke depan tidak mengindahkan peringatan lelaki itu.
“Mar!” Lelaki itu mencoba memangginya, tapi Marni masih lurus ke depan, jarak mereka terasa cukup jauh.
Akhirnya lelaki itu berlari mengejar Marni dan mau memberitahunya dia salah jalan, “Mar!” Lelaki itu masih berusaha memanggil, Marni masih tidak menghentikan langkahnya. “Mar.” Akhirnya lelaki itu memegang pundak Marni, dia berharap Marni mau berhenti, saat tangannya menyenyuh pundak itu, dia merasakan tubuh Marni dingin sekali, sedingin es batu, Marni berhenti, tubuh dan wajahnya masih menghadap ke depan, lelaki itu masih merasa aneh, kenapa tubuh Marni dingin sekali, dia masih mencoba berfikir, sampai ....
“Antar aku Mas .... “ Marni memutar kepalanya hingga ke punggung, saat ini lelaki itu sudah berhadapan dengan Marni, tapi wajahnya saja, tubuhnya masih menghadap depan, lelaki itu reflek melepas tangannya dari pundak Marni dan jatuh tak sadarkan diri, tapi sebelum kesadarannya benar-benar hilang dia mendengar Marni berbisik di telinganya ....
“Luuuraaahhh .... “
______________________________________________
Catatan Penulis :
Menurut kalian, kenapa Marni membisikkan kata Lurah pada lelaki itu? komen ya di bawah, aku mau tahu ada yang sefrekuensi nggak sih sama aku?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 568 Episodes
Comments
pioo
gara2 nyelamatin perempuan sialan jadi keluarganya yg kena musibah
2024-06-25
0
cookie_23
Bisa jadi
2023-10-10
0
maya ummu ihsan
pak lurah ta ini maksudnya
2023-08-17
0