Jam 09:00 WIB
“Saya datang kemari karena di utus oleh Alya.” Aditia mendatangi Pak Harsawi, Ayah Alya.
“Berani sekali kau datang sendirian.” Ayahnya Alya duduk di sebrang meja makan yang cukup panjang.
Aditia datang ke rumah ini tentu tidak dengan tangan kosong, dia datang ke rumah ini membawa Panglima dan Raden.
“Seperti yang kau ketahui, bahwa aku tidak sendirian, di sebelah kananku ada Panglima Erlangga, sebelah kiriku ada Raden Ammardharma, kau sudah bergelut dengan dunia Ghaib cukup lama, kau mengenal kepemilikikan kedua Karuhun ini kan? Selain itu, aku tahu dibelakangmu adalah makhluk buas yang kau puja, berani kau menyentuhku dan menyakiti mereka, Ayi dan seluruh pasukannya akan membumihanguskan kerajaan bisnismu.”
“Aku hanya ingin anakku.” Ayahnya Alya sedikit menurunkan intonasi suaranya.
“Tawarkan aku sesuatu yang bisa membuatku memberikan Alya padamu.” Aditia memberikan penawaran.
“Oh, jadi ini tujuanmu? Berapa yang kau mau?” Ayahnya Alya terdengar seperti seorang ayah yang sangat menyayangi anaknya dan berusaha melepas anaknya dari tangan penculik, padahal ....
“Transfer sekarang, seluruh uang cashmu ke rekeningku, aku akan menunjukan lokasi Alya padamu.”
“Kau rupanya tau uang juga ya? Tidak masalah, uang cashku menjadi milikmu, karena setelah mendapatkan Alya aku bisa meminta lebih banyak lagi kepadanya.” Dia menunjuk Begu Ganjang yang ada di belakang.
“Aku sudah kirim chat, itu adalah akun rekening VVIP Gold Exceptional Priority, dimana bisa menerima dan mengeluarkan dana milyaran dalam satu waktu, sehingga tidak terikat sistem pindah dana yang berlaku di negara ini dimana dana yang ditransfer sangat terbatas dan nominalnya kecil, bukankah kau juga punya rekening seperti itu? pindahkan semua danamu ke rekening yang sudah aku kirimkan, sekarang juga.”
“Wow, bocah sepertimu bisa memiliki Akun Bank luar biasa istimewa karena tanpa batas, seperti itu? di negara ini cuma 20 orang yang memilki akun Bank Istimewa seperti itu bukan? Kau bocah yang tidak aku sangka sama sekali.”
“Tidak benar-benar milikku, tapi akan menjadi milikku.” Aditia berkata masih dengan sikap sombong dan arogannya.
“Baiklah, aku akan memprosesnya.”
Setelah menunggu sekitar 20 menit, mereka berdua masih di meja makan yang sama, terpisah cukup jauh karena saking panjangnya meja makan itu, meja makan mewah, padahal hanya satu orang yang tinggal di sana, tentu dengan puluhan anak buah dan ratusan jin peliharaan, tapi kan dia makan pasti sendirian, lalu kenapa meja makannya panjang sekali, hingga antara Pak Harsawi dan Aditia tercipta jarak yagn cukup signifikan.
“Aku sudah memindahkan danaku, kau bisa lihat di rekening itu.” Pak Harsawi memberitahu Aditia.
Aditia terbelalak, saat tahu nominal ratusan milyar telah masuk kedalam rekening yang dia pegang sekarang, jumlah yang membuatnya tersenyum simpul, bukankah dengan uang itu, Aditia sekeluarga bisa hidup dengan baik mulai saat ini?
“Baiklah, akan aku tunjukkan lokasi Alya. Ikut aku, tapi sendiri saja. Ajak Begu Ganjangmu saja, bukankah dia lebih dari cukup?” Aditia menyeringai.
“Ok, ayo kita pergi sekarang.”
Lalu mereka pergi ke lokasi dimana Alya disembunyikan.
I
I
I
2 Jam sebelumnya, Jam 07:00 WIB
Sudah pagi, Aditia, Alya dan Ayi Mahogra duduk untuk sarapan.
“Alya, apakah kamu bisa tidur dengan nyenyak?” Ayi bertanya.
“Iya Ayi, aku akhirnya bisa tidur dengan nyenyak, sebelumnya aku tidak pernah tidur dengan nyenyak.” Aditia menggenggam tangan Alya, dia merasakan betapa hidup Alya sangat berat.
“Hari ini kita akan melakukan suatu rencana, saat aku menyusunnya, tidak diperbolehkan siapapun bertanya, hanya ikuti perintahku, mengerti?” Ayi Mahogra bersikap tegas.
“Setelah selesai sarapan, Aditia datang keruanganku sendirian, aku ingin kau melakukan sesuatu terlebih dahulu.”
“Baik Ayi.” Aditia dan Alya nurut. Mereka tahu, tidak ada manusia manapun bisa dan mau membantu mereka selain Ayi Mahogra saat ini, ditambah, Aditia sangat amat mempercayai Ayi Mahogra.
Setelah itu mereka sarapan dengan tenang, walau hati mereka sungguh penasaran apa yang sedang Ayi rencanakan.
“Adit tahu kan, kalau membantu Alya tidak akan mudah?” Ayi bertanya, saat ini mereka sudah di ruangan khusus, sepertinya itu adalah ruangan kerja Malik, Ayi Mahogra terbiasa menggunakan ruangan ini untuk berdiskusi serius dengan para kawanan untuk menyusun strategi perang yang sedang mereka usahakan menang.
“Adit tau Ayi.”
“Adit percaya Ayi?” Ayi Mahogra bertanya lagi.
“Adit percaya, sangat percaya.”
“Kenapa Adit percaya?”
“Karena berdasarkan cerita Ayah dan catatan-catatan Ayah, Ayi Mahogra adalah orang yang sangat amanah dan mau menolong kami yang kesulitan menghadapi dunia seperti ini.”
“Hanya itu? bukan karena Adit benar-benar percaya Ayi?” perkataan Ayi Mahogra membuat Aditia sedikit takut. Entahlah, apa maksudnya.
“Adit ... saat ini percaya apapun yang Ayah suruh dan ayah catat, selebihnya Adit tidak tahu harus percaya siapa lagi?”
“Tuhan, Adit, Tuhan yang harus Adit percaya.” Ayi Mahogra terdiam sejenak, lalu melanjutkan perkataannya.
“Aku tidak bisa melakukan apapun yang bisa membuat kau dan Alya bisa bahagia. Tapi aku melakukan ini karena menyayangimu, kau adik dari seorang lelaki hebat yang sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri walau belum pernah bertemu. Hanya itu jaminanku, aku tidak melakukan apapun untuk menguntungkan diriku, makanya lakukan apapun yang aku katakan, tanpa bertanya, tanpa curiga dan tanpa ragu, kau akan berhadapan dengan seseorang yang sudah melewati umur 100 tahun, dia lebih cerdas, lebih hebat, lebih waspada dan lebih licik.” Ayi membetulkan posisinya duduknya dulu agar bisa lebih dekat dengan Aditia, lalu melanjutkan perkataannya.
“Kau harus mengatakan setiap kalimat yang aku katakan dengan presisi dan keyakinan yang tinggi, tanpa sedikit pun ragu, kepada Ayahnya Alya. Hapalkan setiap kata yang aku katakan dengan baik, ingat setiap gesture yang aku perlihatkan dari kata yang aku ucapkan, kau harus benar-benar menghapalnya tanpa sediktpun kesalahan, saat aku mengatakannya ulangi hingga tidak ada sedikitpun improvisasi yang kau buat dari perkataannmu, kita tidak bisa menggunakan tekhnologi seperti headset dan mengendalikan komunisasi dari jarak jauh, agar kau bisa berbicara seperti aku berbicara, makanya aku minta kau menghapalnya. Ayahnya Alya sudah membuat daerah rumahnya bersih dari gangguan tekhnologi luar. Makanya aku ingin kau menghapal setiap kata yang akan kau ucapkan kepada Ayahnya Alya, bisa?” Ayi Mahogra mengatakannya dengan sangat serius dan mengulang-ulang kata menghapalkan kata-kata yang harus Aditia ucapkan saat bertemu Ayahnya Alya nanti.
“Adit bersedia melakukan apapun untuk Alya.”
“Lakukanlah untuk kebaikan Dit, jangan pamrih, mengerti?” Ayi mengkoreksinya.
“mengerti Ayi.”
“Baiklah, katakan seperti ini .... “
I
I
I
Sekarang, Jam 10:00 WIB
Aditia mengulang setiap kata yang Ayi Mahogra katakan, kata perkata dengan tepat, dan gesture tubuh yang Ayi inginkan, kepada Pak Harsawi, dimulai dari meminta uang sampai memintanya ikut ke suatu tempat. Aditia harus terlihat sangat yakin dan sombong, karena menghadapi penjahat gila sekelas Ayah Alya, dibutuhkan keberanian tingkat dewa.
Dan dia berhasil, dana sudah masuk ke rekening yang Ayi inginkan, sekarang dia sudah berkendara dengan Ayahnya Alya menuju suatu tempat.
“Kita sudah sampai.” Aditia membuka pintu mobil Ayahnya Alya.
“Pintar sekali kau menyembunyikan anakku, ini adalah areal bersih, pantas saja Begu tidak dapat menemukannya walau sudah menyebar seluruh anak iblisnya.”
Ini adalah rumah yang sudah lama tidak ditinggali, luasnya hampir satu hektar, dulu Aditia menjemput Mbak Nona di sini, rumah ini sudah dibersihkan oleh Ayi dari radar perjin-an, siapapun tidak bisa melacak Alya, baik manusia ataupun jin. Kata Ayi, dia butuh tempat luas untuk pertarungan, Aditia tidak mengerti pertarungan apa yang dimaksud, tapi dia menuruti saja perintah Ayi dan menawarkannya gedung ini, karena kepemilikannya yang tidak jelas, jadi lahan dan gedung terbengkalai ini dirasa Aditia tepat sebagai ladang pertempuran.
“Masuk.” Aditia mengatakan itu dengan dingin.
Aditia berjalan duluan, mereka masuk ke bagian utama gedung terbengkalai itu, saat Ayahnya Alya berdiri tepat di belakang Aditia, seseorang dengan sigap menangkap tubuh lelaki itu dan tanpa jeda menancapkan suntikan ke lehernya, seketika laki-laki itu ambruk.
Begu Ganjang terlihat murka tuannya jatuh terkulai lemas, dia akan menghajar orang yang menyuntik tuannya hingga jatuh, tapi ....
“Dia sudah mati, maka berakhirlah perjanjianmu dengannya.” Lelaki yang menyuntik itu berkata dengan kencang, sementara Raden, Panglima dan seorang Karuhun yang mirip dengan lelaki itu melindungi lelaki itu dan juga Aditia.
“Dokter Adi?” Aditia bingung kenapa Dokter Adi ada di sini dan dia menyuntik sesuatu kepada Ayahnya Alya.
“Hai Adit. Begu, cek sendiri, tuanmu sudah mati!” Dokter Adi berkata dengan brutal.
Begu Ganjang mundur, dia linglung dan bingung, karena seketika menjadi tidak memiliki tuan.
“Alya, keluarlah!” Dokter Adi memanggil Alya.
“Al .... ”
“Dit, Ayah .... “ Alya terkulai lemas, dia memeriksa keadaan Ayahnya, sudah tidak bernafas, denyutnya pun tidak ada, Ayahnya benar-benar mati!
“Al, “ Aditia menggapai Alya yang terkulai lemas, “kuat Al, kuat ya.” Aditia berusaha menguatkan Alya dan membantunya berdiri.
“Begu, Tuanmu sudah mati, pewarisnya ada di sini, perbaharui perjanjianmu dengannya, atau kau tidak memiliki Tuan, dan menjadi makhluk yang rendahan!” Dokter Adi mencoba untuk memprovokasinya.
Begu Ganjang berdiri, dia memanggil semua anak iblisnya, datanglah sekumpulan makhluk menakutkan dengan berbagai rupa dan bentuk dengan derap kaki seperti tentara, terasa sangat sesak tiba-tiba gedung ini, mendung pun bergelayut di langit yang tadinya cerah.
“Ucapkan ikrar perjanjiannya Al.” Dokter Adi berteriak, Alya sudah berdiri tegak dipapah Aditia.
“Ayo Al, kamu bisa, kamu pasti bisa, ucapkan ikrarnya.” Aditia sudah membawa Alya dekat pada Begu Ganjang, makhluk yang dia takuti seumur hidupnya, makhluk yang membuatnya menderita seumur hidupnya.
“Aku tidak mau mengucapkannya. Aku tidak mau!!!” Aditia maklum Alya pasti takut dan enggan berurursan dengan makhluk ini, seumur hidupnya dia berusaha lari darinya, sekarang malah harus memeliharanya.
“Ucapkan seperti yang Ayi Ucapkan Al! Kau akan baik-baik saja, kau akan lepas dari belenggu setan ini, ayo ucapkan Al.” Sementara udara terasa semakin panas, seluruh pasukan Begu Ganjang menyerbu masuk ke dalam, Alya harus disegerakan menyebut Ikrar Perjanjian atau Begu Ganjang sepenuhnya menjadi makhluk bebas, dan ini tentu bahaya, dia bisa membunuh siapapun yang dia inginkan termasuk semua yang ada di sana.
“Aku tidak mau, aku tidak mau mengucapkannya!!!” Alya berteriak, sementara gedung itu sudah di penuhi anak-anak iblis. Mereka tersudut dan hanya pada Ikrar Janji Alya lah mereka bisa tenang.
________________________________________
Catatan Penulis :
Menurut kalian apakah mereka akan selamat? Apakah Alya berani mengatakan ikrar perjanjiannya atau malah lari karena takut? Atau ada jawaban lain?
Ada yang nggak tau siapa Dokter Adi? Yang baca Karuhun pasti tau siapa dia. yang penasaran ama Dokter Adi, Dokter ganteng yang punya Karuhun mirip seperti dirinya, cuss ke Mangatoon, baca Karuhun ya.
Tulis Coment di bawah ya, kasih tau aku dong apa sih yang kalian rasakan tentang cerita ini.
Oh ya, kisah Alya dan keluarganya akan berakhir pada 1 part setelah ini ya, setelah itu Aditia akan bergabung lagi dengan perkumpulan abang2 angkot se-Jakarta narikin Arwah penasaran, jangan bosen ya buat baca.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 568 Episodes
Comments
pioo
apasih anj
2024-06-25
0
Susilawati 2002
mani geleh ka si alya boloon kai ngucapkn bae naon hesena si ih jdi se'el
2023-08-03
1
Mery Sihombing
entah kenapa gw dr awal g suka sama si alya itu. to good to be true. let's see dia beneran baik atau enggak. LIKE FATHER LIKE SON.
2023-06-28
0