Aditia mengendarai angkotnya, tubuh lelahnya tidak membuat dia mengurungkan niat untuk pulang, adiknya menelpon, tapi aneh, suara yang muncul malah suara makhluk itu, makhluk yang sudah lama sekali pergi dari kehidupan dia dan keluarganya.
Ini aneh karena dia kembali lagi, apa yang dia lakukan pada Dita? Dia memang sudah lama sekali mengincar Dita, bahkan dari Dita masih kecil, itu yang Aditia fikirkan.
Aditia terus menelpon Dita selama perjalanan, tapi telepon genggamnya mati, tidak aktif, begitu juga dengan telepon Ibunya.
[Halo Pak, maaf ganggu, lagi di deket rumah Adit nggak?] Aditia akhirnya menelpon Pak Dirga.
[Lagi di Pos, kenapa Dit?] Pak Dirga menjawab dari sebrang sana.
[Dita telepon tapi suaranya ... suaranya, bukan suara dia, itu suara ... Marni!]
[Astagfirullah, dateng lagi dia? Yaudah Bapak ke rumahmu ya, kamu dimana?]
[Lagi di jalan arah pulang Pak.] setelahnya Aditia mematikan telepon dan kembali fokus menerobos jalanan, Aditia takut kalau Dita kumat lagi.
Setelah berkendara cukup lama, sekitar 1 jam lebih, Aditia sampai di rumahnya, dia memarkir mobilnya dengan asal-asalan, yang penting ketemu adiknya dulu.
Selesai parkir, dia berlari kearah rumah, dia membuka pintu rumah segera setelah bisa mencapainya, pintu tidak dikunci.
“Dit, Dita!” Aditia berteriak, dia berlari menuju kamarnya, sebelum sampai kamar dia melihat Dita sedang duduk di meja makan, menghadap kearah Aditia.
“Dit ... “ Aditia menatap Adiknya dengan hati-hati. Dita duduk dengan kedua tangan bertumpu menopang dagunya, dia menatap Aditia dengan sangat tajam dan tersenyum, tidak, dia tidak tersenyum, dia menyeringai.
“Makan dulu Mas? Aku udah masak buat kamu.” Dita membuka tudung saji, Aditia melihat ada begitu banyak makanan enak, aneh.
“Mas udah makan.” Aditia duduk di hadapan adiknya, mereka saat ini duduk di meja makan saling berhadapan.
“Aku udah masak loh, makan dong.” Dita memaksa.
“Dit, sejak kapan kau panggil aku Mas?” Aditia tersenyum menatap tajam adiknya.
Ha ha ha ha ha, hi hi hiiiiiii Dita tertawa, yang tadinya bersuara bulat, menjadi melengking, cukup memekakan telinga, siapapun yang mendengarnya pasti merea merinding, sedang Aditia masih duduk dengan tegak di tempatnya.
“Adit udah gede ya sekarang.” Dita tersenyum lebar sekali, suaranya berubah menjadi lebih serak dan seperti berbisik, senyumnya pun sangat lebar, kalau dilihat-lihat bukan senyum seorang manusia.
“Mbak ngapain kesini?” Aditia bertanya.
“Mbak kangen ama Dita.” Wanita didalam tubuh Dita menjawab.
“Kan Ayah udah bilang, jangan balik lagi, kenapa sekarang kembali lagi.”
“Kan Ayah udah nggak ada.” Wanita itu tertawa cekikikan lagi.
“Tapi ... sekarang kan, ada Adit!” Aditia langsung menangkap tubuh adiknya yang telah kerasukan, dia menggeret tubuh itu, lalu dibanting ke sofa, setelahnya Aditia menahan tubuh adiknya dengan lutut.
“Kenapa harus hari ini sih Mbak, hari ini Adit lelah banget, plus lagi labil, jadi jangan kaget kalau Adit lebih kejam ya.”
Tubuh Dita meronta dan dia berteriak karena kesulitan melepaskan diri dari lutut Aditia, bagian terlemah dari Jin jahat adalah perut yang dirasukinya, karena itu dengan menekan perut Dita, maka Aditia bisa menguasai tubuh wanita didalam adiknya ini.
“Dit, bener si Marni ini?” Pak Dirga datang tanpa mengetuk pintu, dia ternyata telat, wajar Aditia menelponya setelah berkendara sekitar 30 menit.
“Pak, sapu lidi, sapu lidi Pak.” Aditia minta Pak Dirga mengambilkan Aditia sapu lidi yang ditaruh di pojok dekat pintu masuk, sapu itu terbuat dari batang pohon bidara, batangnya dipilih yang tebal-tebal, setelah dibersihkan dari daunnya, batang bidara itu dijemur dulu, setelahnya baru disatukan menjadi satu ikatan, persis seperti sapu lidi pada umumnya. Karena terbuat dari batang pohon bidara yang berukuran kecil-kecil, maka sapu lidi ini tidak akan sekeras dan setegak sapu lidi pada umumnya yang terbuat dari daun kelapa, sapu ini juga tidak digunakan Aditia dan keluarganya untuk menyapu, sapu ini dibuat oleh Ayahnya Aditia untuk menetralisir gangguan Jin.
Pak Dirga berlari mengambilnya, lalu memberikan kepada Aditia, Adiknya masih meronta-rona sembari berkata sumpah serapah.
Ceprettt, ceprettt ... Aditia memukul kaki Adiknya dengan sapu lidi itu, Adiknya berteriak semakin kencang, suaranya berubah-rubah, kadang suara kakek-kakek, kadang suara nenek-nenek, kadang suara anak kecil, jin memang bisa merubah suara dan bentuknya, tapi dari semua suara itu, terdengar seperti sesak nafas.
“Keluar ga lu!” Aditia memerintah.
“MAHTIII, MAHTIII, MAHTIII, Ayahmu, Ibumu dan kamu, Mahtiii!!!” Marni wanita yang di dalam tubuh Dita berkata dengan suara serak seperti nenek-nenek.
“Elu yang mati, setan!” Cepret, cepret ... Aditia terus memukul kaki adiknya, hingga ada tanda merah di sana.
“Dit! Istigfar, istigfar kamu!” Pak Dirga memegang bahu Aditia, Aditia kelepasan.
“Keluar lu Marni, keluar!” Aditia masih terus berusaha mengusir.
“Hihihiiiii hihihiiiiii, kau dan seluruh keluargamu akan Mahtiii, Hiiihiihiii hiiiihiihii hiiihiiihiii.”
Aditia kesal, dia mengeluarkan keris kecilnya yang sangat tajam, dia mau menusuk perut Marni.
“Adit! Astagfirullah! Eling Nak, eling!” Pak Dirga menahan tangan Aditia yang sudah siap menusuk perut Marni, dia lupa kalau itu tubuh adiknya.
Aditia terdiam dia baru sadar telah gelap mata, sepertnya kejadian tentang Alya masih menguasai fikirannya, didalam hatinya yang terdalam, dia masih sangat kecewa.
Pak Dirga mengambil alih situasi, dia menahan perut Dita dengan lututnya, mengambil sapu lidi dari tangan Aditia, dan memukul kaki Dita sembari membaca ayat-ayat suci Al Quran, tak henti Pak Dirga terus melafalkannya sembari memukul kaki Dita.
“Sakit sia! Sakit!!!” Jin itu berteriak dengan kencang hingga membuat beberapa perabotan bergetar.
“Kaluar maneh, kaluar!!! (keluar kamu, keluar!!!)” Pak Dirga tidak kalah kerasnya.
“Aing hayang kopi (aku mau kopi), hayang kembang tujuh rupa (mau bunga tujuh rupa), hayang getih hayam hideng (darah ayam hitam).” Setan itu berulah.
“Ari maneh saha marintah aing! Kaluar sia! Kaluar!!!” Pak Dirga semakin kencang memukul kaki Dita dan melantunkan ayat-ayat suci, tak lama Dita pun pingsan.
“Iket dulu Pak, belum keluar dia.” Aditia yang sedari tadi duduk di meja belakang Pak Dirga menenangkan diri, sembari memberitahu Pak Dirga bahwa setan itu masih ada.
Pak Dirga mengikat Dita dengan tali tambang yang cukup besar, membuat simpul yang membuat tangan dan kaki Dita tidak bisa bergerak, karena terikat dengan tali tambang di bagian belakang tubuhnya dan saling mengait antara ikatan kaki dan tangan.
“Adit minum dulu gih.” Pak Dirga sudah selesai mengikat Dita, dia dibaringkan di kasur.
Aditia menurut perintah Pak Dirga, dia ke dapur dan minum air putih, lalu membuat kopi untuk Pak Dirga.
“Nih Pak.” Aditia menyuguhkan kopi hitam kesukaan Pak Dirga.
“Makasih Dit. Dit, Bapak udah denger kabar soal Alya dari Ayi, katanya Alya sudah diamankan di markas Pak Malik ya?” Pak Dirga bertanya.
“Iya Pak.” Aditia nunduk, malu dan teringat pada kekecewaannya.
“Ayi akan mengurus semuanya, jangan terlalu kecewa ya, hidup ini memang keras Nak, makanya ayahmu mengamanahimu sebuah pekerjaan mulia, agar kau belajar, belajar bahwa dunia ini tidak selalu indah, dan tentu saja tidak selalu kelam. Akan ada saatnya Adit mengerti bahwa semua sudah diatur Ku Gusti Alloh.” Pak Dirga menepuk pundak Aditia.
“Maapin Adit ya Pak, Adit ga seharusnya percaya sama Alya, karena cantik dan sangat mandiri Adit mencintai gadis yang salah.”
“Nggak heran Dit, pribadimu yang kuat, menangkap sinyal dari wanita luar biasa juga, kamu hanya tertarik pada wanita yang sama kuatnya denganmu, makanya kau mencintai Alya, tapi dalamnya hati siapa yang tau Nak, ternyata Alya wanita hebat dengan cara yang kotor, dia bertahan hidup bukan untuk menjadi lebih baik, tapi ikut menjadi kotor. Dengan kehebatan strateginya dan juga keberaniannya, jika saja dia dibimbing oleh oleh orang yang benar, mungkin Alya akan tumbuh menjadi gadis yang baik. Sayang, dia dirawat oleh Ibu dan Neneknya yang jelas penganut ilmu hitam.”
“Aku tidak ingin memaklumi sikap dan prilakunya. Dia memilih jalan yang salah, bukankah dia tahu pedihnya lari dan ketakutan, kenapa dia mau menjadi seperti ayahnya hanya karena uang.” Aditia masih merasa sesak karena kecewa yang dalam.
“Bekerjalah terus seperti biasa Nak, kau akan sembuh perlahan, bertemu dengan wanita yang tepat untukmu dan menjadi dewasa karena tempaan, Bapak akan terus mengawasimu seperti janji Bapak pada Ayahmu Nak.”
“Insyaallah Pak.” Aditia masih tertunduk.
“Dit, Marni kenapa ya balik lagi?” Pak Dirga baru ingat tentang Marni yang masih di tubuh Dita.
“Oh ya, entahlah Pak, tapi memang dia dulu saat diusir Ayah, selalu bilang akan menjemput Dita, dia mengancam kalau Dita tidak diberikan, dia akan menghabisi kita semua, tapi Ayah berhasil mengusirnya.”
“Dia Jin yang menyerupai Kuntilanak ya?”
“Betul Pak.”
“Haruskah kita menyelidikinya, apa motif dia?” Pak Dirga bertanya.
“Kalau dia kekeh nggak mau keluar, ya kita harus cari tahu kenapa.”
“Kapan dia dateng terakhir Dit?”
“Baru-baru ini, tapi cuma di pintu nggak bisa masuk, nggak bisa nembus pager yang Ayah buat.”
“Lah terus kenapa sekarang bisa masuk?” Pak Dirga bingung.
“Adit nggak tau, kan Adit nggak di rumah Pak.”
“Dit ... Ibu, mana?”
“Astagfirullah!!!” Aditia langsung berlari ke belakang, karena di kamar jelas tak ada, kamar hanya ada Dita yang berbaring terikat.
“Ibu ....!” Aditia berteriak, di areal belakang rumah ada kebun milik tetangga, posisinya membentang dari rumah sebelah Aditia sampai belakang rumah Aditia, cukup besar dan pohon-pohonnya pun rimbun, sedikit terkesan menyeramkan, ditambah sekarang masuk waktu Magrib.
Tidak ada jawaban, Aditia mulai panik, apa yang terjadi pada Ibunya, kemana dia?
Aditia berlari, dia melompati tembok yang membatasi antara rumah dan kebun tetangga.
“Ibu!!!” Aditia masih memanggil terus, dia lemas karena takut ibunya kenapa-kenapa.
“Ibu!!!” Masih tidak ada jawaban.
“Ya Allah, tolong jaga Ibu, Ibu!!!” Aditia berteriak tanpa henti. Dia terus menerobos kebun yang berisi pohon pisang dan bambu yang memenuhi kebun ini.
“Bu .... “ Aditia melihat seseorang di ujung dekat pintu keluar kebun yang nembus ke rumah tetangga pemilik kebun dan juga nembus ke sungai belakang rumah.
“Bu .... “ Aditia mengejar seseorang itu, perawakannya seperti wanita dengan baju berwarna serba hitam, Aditia tidak yakin itu ibunya, tapi dia sungguh berharap itu Ibunya.
Aditia baru kepikiran menelpon, dia akhirnya mengambil telepon genggamnya, dia menelpon Ibu, telepon tidak aktif. Sementara wanita diujung jalan itu mulai berjalan menjauhi Aditia.
“Bu .... “ Aditia berusaha mengejarnya, sampai di pintu keluar kebun, Aditia melihat wanita itu berjalan mendekati sungai, langkahnya cepat sekali, walau tidak yakin itu Ibunya, tapi Aditia tetap mengejar.
Walau hari sudah malam, Aditia terus mengejar wanita itu, wanita yang dia fikir ibunya, wanita itu berjalan tanpa menoleh, cara jalannya terkesan aneh, seperti diseret, tapi kenapa dia cepat sekali.
“Ibu!!!”
______________________________________________
Catatan Penulis :
Tebak, itu yang dikejar Ibunya bukan? Kasih tau alasannya ya.
Kasian Adit, belum istirahat udah dikasih masalah lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 568 Episodes
Comments
Hana Nisa Nisa
deg degan ini
2023-08-14
1
Merah Delima
😬😬😬😬😬
2023-08-12
0
Drra Andini
setuju thor, kelemahannya emang di perut apalagi neken pas ulu hati
2023-07-07
0