Sebelum baca LIKE dan SHARE dulu ya, bantu penulis agar semakin banyak yang baca dan dukung penulis.
______________________________________________
Kematian Marni gempar, seluruh warga yang membantu proses pemakaman tidak kuat memandikan tubuhnya, jasadnya sangat bau dan kotor, saat ini orang melihat dia persis seperti yang dia katakan, wajahnya melepuh dan kulitnya keriput, itu semua karena dia memang kurang gizi, efek dari tidak mau makan dan minum.
Orang melihat apa yang Marni lihat setiap hari pada dirinya, tapi mereka lihat justru di akhir hidup Marni, Marni sendirilah yang membuat kondisi tubuhnya menjadi senyata apa yang dia halusinasikan.
Setelah pemakaman, semua warga kembali hidup seperti biasa, yang berbeda hanya, sudah tidak ada kembang desa yang cantik dan pintar lagi di sana, tidak ada yang mau tahu apa yang terjadi pada Marni, yang tertinggal hanya Bapak dan Ibunya yang kesepian, tanpa putri yang merupakan harapan satu-satunya untuk menopang hidup mereka di masa tua nanti.
7 hari setelah kematian Marni, kampung kembali gempar, hari itu hari jumat, malam terasa lebih dingin dari biasanya, para petugas ronda pun merasa bahwa malam ini terasa sepi sekali, tidak ada suara serangga sekaipun. Petugas ronda itu ada 3 orang, setelah mengitari komplek mereka memutuskan untuk beristirahat di pos, waktu menunjukan pukul 1 dini hari.
“Malam Pak .... “ Seorang perempuan yang wangi sekali menyapa ketiga petugas ronda itu.
Mereka semua otomatis berpaling.
“Malam, mau kemana Neng Marni?” Seorang petugas ronda mengenalinya.
“Mau pulang .... “ Marni menjawab dengan suara yang mendayu-dayu dan wajah menyeringai.
“Udah malem banget ini, mau dianter?” seseorang menawarkan diri.
“Iya dianter aja Neng.” Yang lain menimpali sembari menggoda.
Lau akhirnya salah satu dari mereka mengantar Marni untuk pulang.
Setelah Marni dan salah satu pemuda tidak terlihat lagi, seorang petugas ronda tiba-tiba berkeringat dingin dan menyadari sesuatu.
“Bu-bukannya Marni ... udah meninggal?” Dia berkata dengan pelan dan terlihat sedikit lingung.
“Astagfirullah .... “ pemuda yang lain ketakutan ketika dia juga baru menyadari bahwa wanita yang mereka sapa itu, sebenarnya sudah meninggal.
Bau yang tadinya terasa wangi, seketika berubah menjadi bau busuk, padaha Marni dan salah satu pemuda yang mengantarnya sudah tidak terlihat, mereka yang ketakutan akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah Pak RT untuk melaporkan kejadian tadi.
Ditempat lain, pemuda yang mengantar Marni masih saja menemaninya, dia berjalan di samping Marni, walau sedikit heran kenapa Marni mengenakan dress hitam panjang malam-malam begini dan jalannya agak diseret, karena biasanya pakaiannya selalu kasual, sepertijeans dan kaos, dia tetap saja tidak terlalu memikirkannya, bisa mengantar gadis paling cantik di desa adalah suatu anugrah untukknya.
“Dari mana Mar, kok malem banget pulangnya.”
“Dari sana.” Marni menunjuk belakang tubuhnya.
Pemuda itu berfikir, bukankah itu area pemakaman?
“Dari kampus?” pemuda itu mencoba untuk memastikan lagi, kali ini dia berada di belakang Marni, langkahnya terhenti begitu Marni menunjuk kuburan.
Marni menggeleng, dia memang bukan dari kampusnya.
Agak curiga, lelaki itu tetap mengkutinya dari belakang, sampai di persimpangan, Marni masih saja lurus.
“Mar, rumahmu kan belok kiri.” Lelaki itu mengingatkan, Marni masih saja berjalan ke depan tidak mengindahkan peringatan lelaki itu.
“Mar!” Lelaki itu mencoba memangginya, tapi Marni masih lurus ke depan, jarak mereka terasa cukup jauh.
Akhirnya lelaki itu berlari mengejar Marni dan mau memberitahunya dia salah jalan, “Mar!” Lelaki itu masih berusaha memanggil, Marni masih tidak menghentikan langkahnya. “Mar.” Akhirnya lelaki itu memegang pundak Marni, dia berharap Marni mau berhenti, saat tangannya menyenyuh pundak itu, dia merasakan tubuh Marni dingin sekali, sedingin es batu, Marni berhenti, tubuh dan wajahnya masih menghadap ke depan, lelaki itu masih merasa aneh, kenapa tubuh Marni dingin sekali, dia masih mencoba berfikir, sampai ....
“Antar aku Mas .... “ Marni memutar kepalanya hingga ke punggung, saat ini lelaki itu sudah berhadapan dengan Marni, tapi wajahnya saja, tubuhnya masih menghadap depan, lelaki itu reflek melepas tangannya dari pundak Marni dan jatuh tak sadarkan diri, tapi sebelum kesadarannya benar-benar hilang dia mendengar Marni berbisik di telinganya ....
“Luuuraaahhh .... “ Lalu lelaki itu pingsan.
Esok harinya ia ditemukan oleh warga yang mencarinya, 2 pemuda yang melapor ke Pak RT sakit, mereka ketakutan dan demam.
Warga resah karena semenjak kejadian hantu Marni minta diantarkan pulang oleh salah satu petugas ronda yang saat ini terkulai lemah selama berhari-hari, tidak bisa makan, minum dan demam, semua orang menjadi takut untuk keluar malam.
Kampung terasa sepi, sangat sepi, seperti kampung mati, setelah Magrib semua orang tidak berani keluar dan memilih mengunci pintu.
Seperti Bu Asih malam ini, dia mengunci pintunya setelah sang suami pergi kerja, suaminya adalah security yang kadang shift malam, dia punya anak balita yang sedang demam, ditambah dia sendirian tidak ada sanak saudara yang bisa menemaninya, sungguh dia ketakutan, takut kalau hantu Marni akan mendatanginya dan menganggu anaknya.
Anak Bu Asih terus menangis setelah keberangkatan suaminya itu, tangisnya semakin menjadi, Bu Asih tidak hentinya menggendong dan menenangkan bayinya.
Tok … Tok … Tok ….
Ada ketukan 3 kali, Bu Asih yang sedang di kamar mendengar ketukan itu.
“Loh, siapa malam begini ngetok pintu? Apa ayahmu ya Nak? Apa ada yang ketinggalan?” Bu Asih meletakkan anaknya di tempat tidur lalu berjalan kearah pintu.
“Mas? Mas yang ngetuk?” Bu Asih memastikan, tidak ada jawaban, apa dia salah dengar?
Lalu dia hendak kembali ke kamar, saat dia berbalik, pintu rumah kembali di ketuk.
Tok … Tok … Tok ….
3 kali ketukan lagi, Bu Asih berjalan perlahan mendekati pintu, dia sangat ketakutan, anaknya menangis semakin kencang, tapi itu memang benar ketukan pintu, kalau itu suaminya pasti nanti marah karena tidak dibukakan pintu.
“Mas ….” Bu Asih bertanya di balik pintu, masih tidak ada jawaban, Bu Asih akhirnya membuka tirai jendela untuk mengintip keluar, dia ingin tau siapa yang iseng mengetuk pintu malam begini, ditengah adanya rumor hantu, apa anak kecil yang sedang iseng?
Saat dia melihat keluar dari balik jendela, ada seorang perempuan di sana, dia tidak bisa melihat wajahnya karena jendelanya memang kecil, jadi tidak tidak terlalu bisa melihat dengan sempurna, maklum namanya rumah kontrakan.
“Siapa di sana?” Bu Asih bertanya.
“Aku …. “ Wanita di luar pintu menjawab.
“Aku siapa?”
“Mar … ni …. “ Bu Asih langsung loncat dan menjauhi pintu rumahnya, lalu berlari ke kamar, anaknya menangis semakin kencang, Bu Asih menggendong anak itu dan menangis karena katakutan, sementara pintu depannya masih saja di ketok, dari yang ritmenya pelan, menjadi kencang.
Lalu ketukan itu berhenti, Bu Asih tetap ketakutan sembari memeluk anaknya dengan erat, apapun yang terjadi dia akan melindungi anaknya.
Suasana tiba-tiba hening, Bu Asih mencoba mendengar ketukan lagi, tidak ada ketukan dari pintu depannya lagi, tapi ….
Brak!!! Jendela kamar tiba-tiba terbuka, dari jendela Bu Asih melihat seorang wanita yang dia kenal dalam keadaan buruk rupa, wajahnya hancur, tubuhnya penuh luka dan dia tertawa cekikikan.
“Tolong!!! Tolong!!!” Bu Asih ketakutan, tapi dia tidak mau pingsan, dia harus melindungi anaknya.
Dia berteriak semakin kencang agar semua warga mendengarnya, tidak lama ketukan dari beberapa orang membuatnya jauh lebih tenang, warga berdatangan dan memanggil-manggil namanya, Bu Asih segera membuka pintu, lallu saat warga sudah masuk rumahnya, dia pun jatuh lunglai.
“Ada … ada … ada Marni!!!” Bu Asih menunjuk ke kamarnya.
...
1 tahun sebelum kematian Marni
Hari ini Marni dan semua teman sekolahnya sedang study tour di salah satu sarana rekreasi edukasi di Jakarta, banyak sekolah juga yang datang ke tempat itu, selain study tour, di sana akan diadakan juga pemberian Piagam dan hadiah bagi siswa yang berprestasi, karena 2 minggu yang lalu diadakan lomba cerdas cermat yang seluruh SMA jakarta ikuti, salah satu pesertanya Marni dan Marni menjadi juara unggul dari lomba cerdas cermat itu, maka dia juga sebagai salah satu penerima Piagam dan hadiah.
Semua orang berkumpul di lapangan yang sudah dihias dengan tenda dan juga panggung pemberian Piagam dan hadiah bagi siswa berprestasi, semua anak yang akan menerima sudah dibariskan di dekat panggung, sebagai tamu kehormatan datang Gubernur DKI jakarta, Pak Wali Kota Jakarta pusat, dan juga Pak Lurah, nantinya mereka akan menjadi wakil-wakil negara yang akan memberikan Piagam dan juga hadiah atas lomba cerdas cermat yang memiliki lingkup cukup besar, yaitu se-DKI jakarta.
Nama Marni dipanggil sebagai salah satu penerima pernghargaan tersebut, Marni sangat senang, pertama karena Piagam itu bisa menjadi tolak ukur bagi kecerdasannya dan juga hadiah yang diberikan tidak main-main, yaitu uang tunai sebesar 20 juta rupiah, rencananya uang itu akan dia gunakan untuk kuliah nanti.
Saat Marni naik ke panggung, langsung gemuruh sorak sorai, Marni punya banyak penggemar, hal itu membuat tamu kehormatan langsung memperhatikan, siapa sih yang naik ke panggung sampai semua orang mengelu-elukan bak seorang yang istimewa, tentu itu semua karena Marni adalah wanita cantik yang pintar, pantas saja semua orang berusaha untuk mencuri perhatian Marni dengan memberi dukungan sekeras mungkin.
Yang memberikan Piagam dan juga hadiah untuk Marni adalah Gubernur DKI jakarta, Marni sumringah karena menjadi orang yang sangat diperhatikan, bahkan panitia memberinya banyak keistimewaan, seperti bangku dekat dengan para pejabat negara dan tentu saja, beberapa dari mereka memberinya uang secara cash sebagai tanda apresiasi.
Setelah perhelatan itu, Marni dan semua teman sekolahnya naik bis untuk pulang, tapi ketika dia akan naik ke bis, tiba-tba ada seorang laki-laki, berperawakan tinggi dan tegap menghampirinya, lalu lelaki itu memberikan kertas yang dillipat secara paksa ke tangan kanan Marni.
“Ini apa Pak?” Marni bertanya.
“Baca setelah kamu sendirian ya.” Lelaki itu berkata begitu lalu setelahnya pergi, belakangan Marni baru tahu kalau lelaki itu adalah ajudan Pak Lurah.
Setelah naik bis Marni masih terus menggenggam kertas itu, dia tidak berani membukanya karena takut dilihat yang lain, entah kenapa perasaan Marni merasa senang mendapat kertas itu, dia berharap ini adalah tawaran yang bisa membuatnya menghasilkan uang lebih untuk kuliah.
Sampai di rumah Marni buru-buru masuk kamar setelah mengucapkan salam dan salim kepada kedua orang tuanya, dia menutup pintu kamar, menguncinya dan membuka kertas yang sedari tadi dia pegang dengan tangan kanannya, kertas itu terasa agak lembab, mungkin karena Marni terus menggenggamnya, jadi kertas itu terkena keringat di tangannya.
‘Besok, jam 10 pagi di alun-alun kota, dekat warung kopi Kang Sulaiman.’
Begitu isi dari kertas yang diberikan oleh Ajudan Lurah, Marni berdebar, apa yang harus dia lakukan? Pergi atau tidak? Di tahun tersebut, sebenarnya jarang terjadi penculikan atau pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang terhadap gadis remaja, jadi yang membuat Marni bimbang adalah, apakah tawaran ini akan menguntungkan atau merugikannya, kalau seorang pejabat yang memanggilnya, dia takut tidak bisa menolak, tapi sepertinya kesempatan ini sebuah kesempatan besar yang kalau dia lewatkan, tentu akan menyesal, makanya dia akhirnya memantapkan diri untuk datang, ketempat dan waktu yang tertulis di sobekan kertas itu.
...
Jam 10 Marni sudah sampai di warung kopi Mang Sulaiman, dia menunggu saja di sana, entah siapa yang dia tunggu.
Hampir 15 menit setelah menunggu, datang sebuah mobil sedan hitam di depan warung kopi itu, lalu seorang laki-laki keluar, laki-laki itu ada lelaki yang sama, yang memberikan sobekan kertas pada Marni kemarin sebelum dia naik bis.
Setelah itu dia menghampiri Marni dan mengajak Marni masuk ke mobil, dia membukakan pintu bagian belakang untuk Marni, Marni masuk dan duduk sendirian di sana.
Mobil jalan, Marni tersenyum, dia senang karena naik mobil mewah, dia duduk di belakang seperti seorang nyonya.
“Kita akan kerumah Pak Lurah ya Mbak.” Supir itu berkata.
“Iya Pak, panggilnya Marni aja, umurku juga baru 17 tahun.” Marni tersenyu, sumringah.
“Panggil saya Mas aja.” Lelaki itu lebih santai sekarang.
“Mas, namanya siapa? Mas siapanya Pak Lurah?” Marni memberanikan diri bertanya.
“Saya Wijatmoko, panggil Mas Moko aja, saya Ajudan Pak Lurah.” Lelaki itu menjelaskan.
“Saya kenapa dipanggil Pak Lurah ya Mas?” Marni bertanya lagi.
“Kita sudah sampai, nanti Marni juga tahu, saya bukakan pintumu dulu ya.” Ajudan itu turun dan membukakan pintu mobilnya, lalu mereka masuk rumah yang sangat besar dan mewah ini, Marni duduk di ruang tamu dengan sangat takjub, sofnya sangat empuk dan besar dengan warna emas yang begitu mencolok, tapi tidak norak, ditambah semua furniture terlihat mewah, Marni tidak pernah masuk ke rumah orang kaya seperti ini.
“Tunggu sini dulu ya, nanti ada Pembantu, bilang aja Marni mau minum apa, itu ada makanan kecil, di makan aja ya.” Ajudan itu berkata dan pergi memanggil tuan rumah.
Tidak lama keluarlah seorang wanita elegant, cantik, tinggi dan putih menemui Marni, dia langsung duduk di samping Marni.
Marni bingung, jujur ida fikir yang ingin bertemu adalah Pak Lurah, tapi kenapa yang keluar malah perempuan?
“Marni, kamu kenal saya?” Wanita itu bertanya.
“Punten, enggak Bu.” Marni menjawab.
“Saya istri Pak Lurah, panggil aja saya Ibu Mirasih.” Wanita yang berumur sekitar 43 tahun itu masih terlihat cantik, dia memegang tangan Marni dengan kedua tangannya, Marni merasa risih tapi cukup bangga, Marni bahkan berfikir apakah mungkin wanita ini ingin memberikannya beasisw? Tapi sayang, jauh panggang dari api.
“Iya bu Mirasih.” Marni menjawab.
“Marni tau Pak Lurah?” Ibu bertanya.
“Tau bu, Pak Lurah Miftahudin.”
“Marni pernah melihat wajahnya atau bersapa dengan Bapak?”
“Tidak bu, Marni hanya tahu nama, karena pernah menjadi pertanyaan di sekolah.” Marni tersenyum malu.
“Kemarin Bapak dan saya kan datang ke acara pemberian piagam, kamu nggak lihat?”
“Maaf, tidak bu.”
“Baik, begini Marni, saya lihat kamu anak yang cerdas dan cantik, saya juga tau bahwa kamu santun, sangat berbakti pada orang tua dan bercita-cita ingin masuk perguruan tinggi bukan? Saya bisa bantu kamu, kamu tahu kan, kalau uang 20 juta itu tidak akan cukup sampai kamu lulus kuliah S1, saya bisa bantu kamu bahkan sampai setinggi yang kamu mau.” Bu Lurah berkata.
“Baik bu, terima kasih.” Marni yang cerdas tapi polos senang menerima perkataan manis sepert ini.
“Tapi Marni, ada syaratnya.” Marni mulai khawatir, apa syaratnya? Apakah berat? Kalau berat mungkin Marni lebih baik mundur karena menunda kuliah dan bekerja lebih dulu juga tak apa.
“Apa syaratnya bu?” Marni ingin tahu.
“Saya sudah berumur 43 tahun Marni, tapi saya belum juga hamil, ada masalah dengan rahim saya, saat ini saya melakukan banyak terapi belum ada satu pun yang berhasil, saya butuh bantuanmu.” Marni mulai berdebar, apa maksudnya ini.
“Bantuan saya? Untuk apa Bu?”
“Jadi Istri ke-2 Pak Lurah bantu saya mendapatkan keturunan untuk Pak Lurah Mar.” Bu Lurah semakin menggenggam Marni dengan kuat, Marni kaget dan mulai mengeluarkan air mata, bagaimana mungkin dia disuruh menjadi istri kedua dari Pak Lurah, seorang yang mungkin saja sudah tua.
“Bu, syaratnya terlalu berat, lagian kan pegawai negeri mana boleh memiliki istri 2.” Marni mencoba bersikap diplomatis, padahal dia sungguh ingin cepat pergi dari sini.
“Aku akan mengaturnya Marni, kau hanya perlu menikah siri, lalu hami, melahirkan, setelahnya kau akan aku kirim ke luar negeri, kau bebas mau kuliah setinggi apapun, aku akan mewujudkannya.” Wajah Bu Lurah tampak putus asa.
“Lalu bagaimana dengan Bapak dan Ibu saya? Mereka akan malu punya anak seperti saya, bagaimana dengan kata orang-orang?” Marni tertunduk, air matanya berderai.
“Saya akan mengatur supaya kau seolah mendapatkan beasiswa dan pergi keluar kota, menikahlah dengan Pak Lurah di sana, lalu usahakan cepat hamil, setelah itu, saya di sini juga akan mengarang cerita bahwa saya hamil, dengan begitu ketika anakmu lahir, orang akan taunya itu adalah anak saya yang lahir, setelah itu aku akan mengatur supaya kau bisa kuliah di luar negeri, orang tuamu akan bangga, kehidupan mereka di desa ini juga akan saya tanggung, bagaimana?” Bu Lurah berharap.
“Tapi bu .... “
“Bertemu dulu dengan Pak Lurah sekarang, setelah itu baru kau putuskan, kalau setelah bertemu Pak Lurah kau menolak, aku tidak akan memaksa lagi.”
Marni mengangguk, dia fikir setelah ini dia akan langsung menolak, dia tidak enak menolak sekarang.
Lalu Marni kembali pergi dengan Ajudan ke suatu tempat, dia pergi ke hotel, Marni agak ketakutan, karena kenapa harus ke hotel, tapi Ajudan bilang supaya tidak ada yang curiga, Pak Lurah juga tadi tidak menggunakan namanya saat booking hotel, tapi menggunakan nama lain yang tidak ada hubungannya dengan Pak Lurah agar tidak ada record tentang pembookingan hotel ini.
“Mas, saya nggak akan diapa-apain kan ya di atas?” Marni dan Ajudan sudah naik lift.
“Tenang Marni, Pak Lurah bukan lelaki hidung belang, dia melakukan ini semua untuk istrinya.”
Marni tenang, karena Ajudan menemaninya keatas.
Setelah keluar lift Marni berjalan mengikuti Ajudan ke sebuah pintu, Ajudan itu ternyata mempunyai kunci pintunya, jadi dia tidak mengetuk, langsung masuk saja, Marni mulai ragu untuk masuk, dua lelaki di sana, kalau Marni dilecehkan, dia tidak akan bisa melawan.
“Tenang Marni, aku punya adik perempuan, aku tidak akan mencelakakanmu sama sekali.” Marni lumayan tenang mendengarnya, dia pun ikut masuk ke dalam, saat sudah di dalam, dia melihat seseorang sedang duduk membelakanginya.
“Pak, Marni sudah di sini.” Ajudan itu memberitahunya.
Setelah mendengar bahwa Marni sudah datang, Pak Lurah itu langsung bangun dan menghadap Marni, dia lalu mengulurkan tangannya.
“De Marni, saya Lurah miftahudin, panggil saja saya Mas Miftah, duduk disini.” Pak Lurah mempersilahkan Marni untuk duduk, tapi Marni hanya diam, dia masih terkejut, dia tidak mampu berkata atau bergerak bahkan untuk sekedar membalas uluran tangan Pak Lurah saja dia tidak mampu.
“Marni, duduk di sini.” Ajudan itu akhirnya menegur Marni yang terdiam karena terkejut.
Marni pun duduk dan mencoba menyembunyikan keterpanaannya pada lelaki yang berusia 45 tahun itu, Marni mengira bahwa Pak Lurah itu adalah lelaki gemuk, berkulit hitam dan berwajah tua, tapi ternyata sangkaannya salah, Pak Lurah memiliki postur yang tegap, badan yang tinggi, wajah yang tampan dan bersih, suara yang berat dan berwibawa, sungguh lelaki idaman siapapun!
“Kalau De Marni menolak, saya dan Istri tidak masalah, kami melakukan ini jujur karena Istri saya begitu ingin anak, sedang umur kami sudah tidak muda lagi, buat saya, hidup berdua dengan istri saja cukup.” Pak Lurah menjelaskan dengan suara yang lembut dan berwibawa, sedang Marni telah tenggelam dalam lautan hasrat ketampanan Pak Lurah, hingga tidak mau melewatkan kesempatan ini.
“Saya ingin kuliah sampai tinggi Pak, tawaran Bu Lurah sangat saya butuhkan, mohon terima saya sebagai istri kedua Bapak Pak.” Marni menutup pertemuan itu dengan kepastian tentang persetujuannya menjadi istri kedua, setelah itu Pak Lurah dan Marni berpamitan hanya dengan salaman, Pak Lurah tidak memberikan sesuatu yang istimewa pada hubungan mereka, Marni hanya tersenyum dengan manis dan mencoba menggoda Pak Lurah.
Tapi Pak Lurah masih tidak merasakan apapun, dia masih sangat mencintai istrinya, satu-satunya alasan menerima perjodohan ini karena dia ingin mewujudkan mimpi istrinya dan ketika Istrinya melihat Marni kemarin, gadis cantik dan cerdas Istrinya langsung yakin bahwa jika Marni melahirkan anak dari Pak Lurah anak itu akan cantik atau tampan dan tentu saja cerdas, dia memilih bibit unggul sebagai ibu dari anaknya kelak, seperti yang dia selalu bangga-banggakan, bahwa suaminya adalah lelaki tampan, mapan dan setia, maka yang harus menjadi ibu bioligis dari anaknya haruslah berkualitas juga.
...
Tidak terasa waktu sudah berjalan 3 bulan, kedekatan antara Marni dan Pak Lurah semakin erat, awalnya Pak Lurah tidak menggunakan perasaan, tapi Marni wanita yang sangat cerdas dan cantik, semua packagingnya sungguh membuat lelaki manapun mabuk kepayang, ditambah Marni memang menggodanya untuk bisa mendapatkan hatinya, mereka berdua jatuh cinta dan sering ketemu di belakang tanpa sepengetahuan Bu Lurah.
Marni mulai merayu Pak Lurah untuk mempercepat rencana pernikahan mereka, rencananya Marni akan membuat Pak Lurah meninggalkan istrinya, makanya dia ingin rencana pernikahan yang rencananya akan diadakan 6 bulan lagi, untuk mengurus semua dokumen dan tempat tinggal di luar kota yang akan menjadi tempat pernikahan dan tempat mereka tinggal nantinya sampai Marni melahirkan, Pak Lurah setuju dan akan membicarakan dengan istrinya segera.
Bu Luran mencium ada yang tidak beres dengan permintaan suaminya dan tentu saja perubahan sikap yang drastis dari suaminya ini membuat bu Lurah yang pintar akhirnya menyelidiki dan mengetahui bahwa ada permainan antara Pak Lurah dan Marni di belakangnya, tapi dia tidak mau menyalahkan Pak Lurah sepenuhnya karena ini semua menjadi tanggung jawabnya juga, mempertemukan Marni kepada suaminya, maka dia yang harus memperbaiki semuanya, maka hari ini dia suruh Ajudan Pak Lurah untuk membawa Marni kerumahnya.
Seperti dulu Bu Lurah menawarkan pernikahan, kali ini dia mau menawarkan yang lain, kalau Marni pintar dia tentu akan menerima tawaran ini.
Bertemulah Bu Lurah dan Marni di sore yang kelam itu.
“Marni saya tahu kamu dan suami saya sering ketemu di belakang saya.”
Marni terdiam, tidak ada penyesalan di matanya, justru dia tersenyum, Bu Lurah menangkap bahwa Marni telah menjadi setan bahkan sebelum dia mati karena cinta terlarang.
“Aku akan memberikan beasiswa itu padamu tanpa perlu kau menikah dengan suamiku, aku akan menjamin hidupmu di luar negeri dan juga orang tuamu, kau hanya perlu menjauhi suamiku, jangan berhubungan dengannya lagi dan jangan pernah bertemu dengannya lagi.”
“Maaf bu, kami saling mencintai.”
“Saya tahu kamu masih muda, hasratmu menggebu, tapi tunggu, dalam setahun cintamu akan hilang, aku jamin itu, makanya aku akan memberikan beasiswa, pergilah keluar negeri dalam satu bulan ini.”
“Saya tidak mau yang lain, saya mau suami Ibu.” Marni tersenyum dengan seringai.
“Kalau kau bersikeras, aku akan mencabut hadiahmu dari lomba cerdas cermat itu, bukankah itu belum cair? Aku bisa melakukannya karena Ayahku adalah pejabat tinggi, aku bisa melakukan apapun untuk membuatmu menderita Marni, kau dan orang tuamu akan kesulitan, terimalah tawaranku, kau tidak rugi apapun!”
“Tidak bisa, kau membuat kami saling mencintai.” Marni bersikeras.
“Setan yang membuat kalian saling mencintai, tinggalkan suamiku. Kau tidak pantas untuknya, kau hanya punya wajah yang bisa saja aku rusak dalam sekejap, kau hanya anak SMA suamiku tidak akan mau bersama gadis dengan pendidikan rendah, tidak akan ada jalan untukmu mendapatkan beasiswa di luar sana, aku akan membuat semua pintu tertutup untukmu, hanya akulah kesempatanmu saat ini ataupun nanti.”
“Aku punya Mas Miftah, dia akan selalu bersamaku dan melindungiku.”
“Tidak akan lagi, Mas mu itu tidak akan pernah membantumu lagi, begitu kubilang tinggalkan maka dia akan meninggalkanmu.” Bu Lurah memang seorang dari kaya raya dan memiliki pendidikan yang tinggi, menghadapi remaja seperti Marni bukanlah hal yang sulit.
“Aku akan memberikannya anak, tidak sepertimu.” Khas anak kecil yang merengek, Marni menggunakan satu-satunya senjata.
Bu Lurah tertawa keras, dia lalu berkata, “Marni, mau kuberi tahu rahasia yang sangat indah?” Bu Lurah lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Marni, dan melanjutkan perkataannya, “Aku hamil.” Lalu dia tertawa terbahak-bahak, Marni pucat, bak tersambar petir, dia mendapat kabar yang mengguncang hidupnya, Bu Lurah Hamil!
Marni tahu bahwa Bu Lurah memang melakukan terapi, Marni yakin dia tidak akan pernah hamil, tapi siapa sangka bahwa terapinya berhasil disaat Marni dan Pak Lurah sedang cinta-cintanya.
“Aku tidak perduli, aku akan tetap berada di sisinya!” Marni tetap ngotot, itu adalah perlawanan terakhirnya.
“Kau tau selama ini aku selalu menampakkan sisi baikku, bukankah kau belum pernah melihat sisi burukku? Mau kutunjukkan?”
Lalu Bu Lurah mengusir Marni, dia menendang Marni keluar dari rumahnya, tidak lagi diantar Ajudan pulang, dia pulang sendirian, berjalan kaki karena tidak memegang uang sepeserpun, tidak bisa memberitahu Pak Lurah karena jaman itu telepon genggam merupakan barang mewah yang hanya bisa dimiliki oleh orang kaya saja.
Marni, gadis belia yang cantik dan cerdas menjadi putus asa, cinta sekejap yang dia rasakan harus pupus dalam waktu 3 bulan, cintanya dengan Pak Lurah tentu sudah melewati batas, karena Marni memang mencoba memberikan segalanya secara utuh, dia berfikir rencananya untuk jadi istri kedua dan menjadi ibu biologis dari anak Pak Lurah, lalu menendang Bu Lurah, tidak berjalan mulus, saat ini malah dia yang di tendang oleh wanita kaya raya itu, Marni memang pernah mendengar rumor tentang, Bu Lurah yang mendanai karir politik suaminya, dia juga yang membuatkan suaminya beberapa perusahaan, Bu Lurah ada wanita tangguh yang tidak bisa Marni kalahkan.
______________________________________
Catatan Penulis :
Jangan lupa coment ya, aku pengen tau yang kamu rasain abis baca ini, minggu depan masih seputar Marni ya, mungkin Final untuk kisah Marni. Baru kemudian kita cari Ibu nya Aditia, kasian masih ilang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 568 Episodes
Comments
pioo
hah sebelum kematian? hufft its okee aku bisa beradaptasi dgn alur yg maju mundur
2024-06-25
0
Styaningsih Danik
gk di karuhun gk disini pasti diulang ulang teruuus sampe 1/4 bab sendiri...aq tahu menulis emg gk mudah tp kalo ada reader yg ngasih kritik ato komen berarti ada rasa peduli dn perhatian...eman" lho cerita bagus tp sllu ngulang salah yg sama itu2 terus...
2024-02-06
0
Syamsuryani Zaenal
jangan d ulang lagi
2023-11-10
0