Sebelum baca like dulu aja ya, biar aku makin semangat up nya.
Setelah baca Leave Coment biar aku tau ini apa sih yang kalian rasakan dan fikirkan setelah membaca tulisan ini, karena itu semua bisa jadi masukan, supaya aku semakin baik dalam menulis.
______________________________________________
“Tumbal terakhir? Apa maksud De’ Alya, kalau kamu yang terakhir, berarti ada orang yang sudah menjadi tumbal sebelumnya?” Pak Dirga bertanya.
“Saya adalah anak bungsu dari 6 bersaudara keturunan Harsawi Manjay, saya punya 3 kakak laki-laki dan 2 kakak perempuan, kesemua kakak saya sudah almarhum. “Alya bergetar mengatakan kepada dua orang yang dia percaya.
“Almarhum, apa maksudmu semua kakakmu menjadi tumbal?” Aditia bertanya.
“Ya, mereka menjadi tumbal dari makhluk yang kau usir tadi malam, kami adalah pertukaran bagi kekayaan yang ayah kami miliki.” Di detik ini Alya menangis mengingat semua saudaranya.
“Mendengar ceritamu saya jadi kehilangan arah, maksudnya gini loh De’ Alya, semua orang kaya itu mengumpulkan uang untuk keturunannya, tapi kenapa ini malah mengorbankan semua keturunan untuk kekayaan? Bisa De’ Alya ceritakan kronologi kejadiannya dari awal?” Pak Dirga terlihat berang, karena beliau adalah ayah yang sangat menyayangi anaknya lebih dari dirinya sendiri, bahkan Aditia sudah dia jaga seperti anaknya sendiri.
“Umur 5 tahun aku berhasil di bawa oleh makhluk itu, tapi ibuku mengadakan pertukaran lagi, dia mengejarku dan menantang makhluk itu, ibuku memang seorang yang memiliki ilmu hitam juga, sama seperti ayahku, dia akhirnya berhasil meyakinkan makhluk itu untuk menukarku dengannya, sebelum dia dihabisi dan dijadikan tumbal, ibuku bilang bahwa aku harus bertahan, dia tidak ingin melihat lagi anaknya mati, dia putus asa karena aku anak satu-satunya yang tersisa dari 6 orang anak yang dia lahirkan, dia membisikiku sesuatu, yang akhirnya aku mengerti pada usiaku yang ke 17 tahun.” Aditia merasa mimpinya persis seperti yang Alya alami, bedanya Aditialah yang mengejar bukan ibunya Alya.
“Apa yang ibumu katakan?” Aditia penasaran.
“Dia waktu itu hanya bilang dua kata, lemari Papa, itu saja. Setelahnya aku disembunyikan oleh nenekku ke pedalaman pulau, kami hanya tinggal berdua, nenek dari pihak ibuku juga seorang dukun ilmu hitam, jadi dia menutupi jejakku dari makhluk itu, sampai usiaku yang ke 17 tahun Nenek meninggal secara tragis, aku fikir Papa pasti menemukan kami dan membunuh Nenekku, aku akhirnya dibawa Papa kembali ke jakarta, selama itu aku tinggal di rumah, Papa bersikap seolah tidak ada apapun dia bahkan menyuruhku untuk kuliah, aku takut, tapi aku tidak punya siapapun untuk melindungi, aku tidak punya pilihan selain ikut Papa. Tapi aku sudah di bekali cincin dan juga lempengan kuningan oleh Nenek, itu alasannya kenapa setiap anak panahku bagian ujungnya terbuat dari lempengan kuningan bukan dari lempengan besi ataupun tembaga seperti pada umumnya.”
“Apakah cincin itu dulu pertama kali diberikan oleh Nenekmu di gantungkan di kalung?” Aditia bertanya.
“Betul, Ibu pertama kali memberikannya di gantung di kalung dulu karena aku masih kecil dan cincin itu tidak muat, lalu Nenek menyimpannya, baru setelah aku 17 tahun Nenek memberikannya padaku karena cincin itu sudah muat tepat beberapa hari sebelum dia wafat, bagaimana kau tahu?” Alya Kaget, karena hanya Alya yang tahu kejadian itu.
“Aku memimpikanmu sebelum akhirnya buru-buru mendatangimu ke sel penjara tengah malam kemarin lusa, aku mendapatkan visual tentang Begu Ganjang pertama kali di sana.”
“JANGAN SEBUT NAMANYA!” Alya gemetar, wanita itu begitu takut dan lelah karena sudah di teror belasan tahun.
“Ok, maaf.” Aditia memegang tangan Alya, “oh ya, aku mengerti sekarang kenapa ujung anak panahmu berbeda, tapi aku fikir itu karena memang ciri khasmu sebagai Atlet.”
“Bukan, aku belajar panahan dan menjadi mahir juga karena senjata itu satu-satunya yang bisa menjangkau Makhluk yang sangat tinggi itu, Panahan. Beberapa kali anak panahku mengenai kepala makhluk itu dan akhirnya dia pergi saat hendak membawaku lagi.”
“Kau wanita hebat.” Pak Dirga memujinya, Aditia tersenyum karena Aditia ternyata mencintai wanita yang tepat.
“Sejak Papa membawaku ke rumah, aku mengamati semua dan mencoba untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi di keluargaku, kenapa kakakku meninggal dalam usia muda, kenapa aku disembunyikan dan benar saja, semua ada di lemari kamar Papa, lemari yang Mama bilang aku harus lihat ketika umurku 5 tahun, dari sana aku tahu bahwa Papa bukan berumur 50 tahun tapi berumur 105 tahun, jangan tanya aku kenapa dia terlihat muda dari umurnya, dan kenapa dia belum mati juga, sungguh itu juga membuatku penasaran. Dari lemari itu aku melihat semuanya, ada semua dokumen termasuk pernikahan Papa sebelum dengan Mamaku, anak-anak Papa sebelum kakakku, semuanya mati dalam keadaan tidak jelas dan bisa dibilang mengenaskan, tidak pernah diadakan otopsi, itu semua pasti karena Papa sudah tahu siapa yang membunuh anak-anaknya.”
“Sungguh manusia serakah yang tidak punya perasaan!” Pak Dirga mengepalkan tangan menahan amarah.
“Dari lemari tersebut aku melihat banyak dokumen tentang identitas Papa sebenarnya, bahwa ayahku lahir pada tahun 1914, tahun ini 2019 genap umurnya 105 tahun, Ibuku adalah istri ke 3 dari Pak Harsawi Manjaya, dan aku adalah anak ke 15 dari ibu yang berbeda dengan kakak-kakakku, 14 kakakku semuanya mati dalam keadaan sesak nafas, Dokter memvonis mereka semua mati karena bermasalah pada paru-paru, ada yang gantung diri, ada yang tenggelam di kolam renang, ada yang hilang di laut, bahkan ada yang sekedar serangan jantung. Papa memiliki masa lalu yang sangat kelam, jadi tidak heran dia tidak benar-benar perduli padaku, dia hanya ingin hidup lama dan bergelimang harta, tidak perduli bahwa harta yang banyak itu dia dapatkan dari mayat anaknya yang bergelimpangan.” Alya menunduk.
“Al, kenapa lu nggak pernah cerita soal ini, kenapa lu pendam sendirian?” Aditia bertanya.
“Siapa yang bakal percaya? Mereka akan anggap gue anak orang kaya yang gila. Lu aja nggak cerita soal diri lu yang mampu menghadapi makhluk seperti mereka hanya dengan keris mini itu, sedang gue harus berdarah-darah menggunakan panahan.” Alya menatap Aditia dengan penuh emosi.
“Aku pun sama, berfikir bahwa kau mungkin saja menganggapku gila, makanya aku tidak cerita pada siapapun kecuali Pak Dirga, sahabat Ayahku, karena dia juga yang membimbingku, bahkan Ibu dan Dita juga tidak tahu.” Aditia membela diri.
“Lalu apa rencanamu saat ini De’? apa kau tahu caranya membuat makhluk itu pergi dan tidak mengganggumu lagi?” Pak Dirga sangat berharap Alya bisa selamat dan melanjutkan hidupnya dengan tenang seperti anak lain pada umumnya.
“Aku tidak punya rencana, aku hanya ingin melawan sampai batas waktu yang menurut nenekku akan menjadi waktu maksimal tumbal ayahku di tukar.”
“Batas waktu?” Aditia bingung.
“Kata Nenek, jika aku berhasil selamat sampai umur 40 tahun, makhluk itu akan berhenti mengejarku, karena pada umur 40 tahun, setiap manusia itu seperti dilahirkan kembali, umur tersebut adalah umur di mana manusia mencapai tingkat tertinggi dalam kehidupannya. Maka aku bertahan sampai saat itu tiba, aku ercaya bahwa aku akan berhasil, aku ingin menjadi tumbal terakhir di keluargaku.”
“Jadi maksudmu jika makhluk itu gagal mengambilmu sampai usia 40 tahun, maka kau akan menjadi tumbal terakhir, dan perjanjian ayahmu dengan iblis itu akan selesai?” Pak Dirga memastikan.
“Tidak tahu Pak, yang saya tahu, saat dia tidak berhasil mengambilku, maka dia akan berhenti untuk memburuku.” Alya tidak memilki jawaban untuk Pak Dirga.
“Dalam jurnal harian Ayah, dia pernah bilang jika seorang Iblis tidak mendapatkan tumbalnya, maka si pembuat perjanjian akan diburu balik oleh Iblis tersebut sebagai pengganti dari tumbal yang gagal diambil.” Aditia menjawab.
“Jadi maksudnya Papa akan menjadi sasaran setelah si Iblis tidak berhasil mendapatkanku?” Alya bertanya.
“Kemungkinan besar.”
Alya terlihat menahan sedih, bagaimana mungkin anak yang ditumbalkan dan dibuat menderita masih memikirkan keselamatan ayahnya sendiri, sementara Aditia sudah sangat geram, dia ingin sekali menghajar ayahnya Alya.
“Selain itu, pada jurnal Ayah, dia pernah mengatakan bahwa pemuja Iblis bisa saja memiliki umur yang panjang, seperti Iblis yang di sembah, bukankah umurnya di tangguhkan sampai hari kiamat nanti oleh Tuhan untuk menggoda anak cucu adam, maka seperti itulah para pengikutnya, dia tidak abadi tapi umurnya bisa saja lebih panjang dari manusia pada umumnya.”
“Ya Saya fikir juga begitu.” Pak Dirga menghembuskan nafasnya dengan berat, uang bertriliun itu terasa tidak indah lagi di matanya.
“Uang yang dia dapat padahal milik dari anak cucunya kelak, tapi dia mengambil rejeki anak cucunya di depan bahkan sebelum anak cucunya lahir, lalu menggunakan keturunannya sebagai tumbal untuk perjanjian dimana pembayarannya dilakukan di awal itu. Uang dia banyak tapi hidupnya begitu menyedihkan.” Aditia terpaksa harus berkata kasar.
“Lalu apa yang terjadi dengan hari itu? hari di mana kecelakaan itu terjadi?” Pak Dirga membahas kecelakaan yang menimpa Bude Pecel.
“Oh ya, aku dan Pak Dirga tidak percaya bahwa kau sengaja menabrak Bude Pecel.” Aditia membuka hal yang sebenarnya sudah di tutupi pada saat Alya ditahan.
“Ya, hari itu aku selesai latihan cukup malam, lalu saat akan pulang aku melihat makhluk itu kembali mengejarku, untung aku sigap dan bisa menghalau dia dengan panahan, tapi di titik itu tiba-tiba Papa datang dengan beberapa anak buahnya, mereka menangkapku dan mengambil panahan yang sedang aku pegang, aku mencoba melawan dan berhasil kabur, lalu berlari menghampiri mobilku dan berhasil lolos dari tangkapan Papa, aku terus menyetir tanpa membawa panahan, saat itu sudah dini hari, aku sampai di persimpangan jalan rumahmu sekitar waktu dimana aku menabrak trotoar, saat menabrak trotoar aku bahkan tidak memegang setirku, karena sebelumnya aku tiba-tiba dicekik, mobil melaju sendiri dan aku saat itu benar-benar merasa bahwa aku hanya menabrak trotoar dan tidak mampu lagi mengendalikan mobil karena cekikkan itu, mobil terus melaju sendiri bahkan setelah menabrak trotoar mobil masih saja melaju dengan kecepatan tinggi, aku terus mencoba melawan, sampai akhirnya aku menggesek cincin yang diberikan Nenekku ke tangan makhluk itu, dan dia melepas cekikkan, lalu mobil oleng dan menabrak pohon di sekitaran perempatan di mana aku minta di jemput.” Alya menjelaskan sembari menangis, dia sangat terpukul karena masalah keluarganya harus ada korban yang terenggut nyawanya dengan tragis.
“Jadi benar, bukan kamu yang menabraknya, lalu kenapa kamu minta ditahan?” Pak Dirga mengambil kesimpulan lalu bertanya.
“Tapi walau bagaimanapun aku ada di mobil itu, dan karena dirikulah wanita baik itu harus meninggal dengan tragis.” Alya mengusap air mata yang jatuh tanpa henti.
“Tidak ada saksi selain Aditia, dan itu tidak cukup karena dia bukan melihat secara nyata, bahkan yang melihat ruhnya saja, tentu saja hal itu tidak bisa dijadikan bukti di pengadilan De’.” Pak Dirga menenangkan Alya.
“Ruh ya? Ternyata dirimu sangat rumit ya Ya, aku merasa tidak benar-benar mengenalmu.” Alya tersenyum di dalam air matanya.
“Nanti kalau ada waktu aku akan menceritakan semua kerumitanku, sehingga kamu lah satu-satunya wanita yang benar-benar mengenalku.” Ada rasa tersirat dalam ucapan Aditia.
“Sebenarnya selain merasa bersalah, alasanku ingin ditahan adalah untuk sejenak istirahat dari buruan Papa, karena saat makhluk itu gagal, gantian Papa yang akan memburuku, makanya aku berharap dengan ditahan, Papa tidak bisa menjangkauku.”
“Ya, tenang saja, kamu sekarang tidak sendiri.” Aditia Memegang tangan Alya dengan lebih erat. Alya tersenyum ada gurat tenang di sana.
“Jadi putriku sudah siuman? Aku akan membawanya pulang!” Seorang lelaki masuk ke kamar perawatan Alya, dia adalah Si Pemuja Iblis Jahanam.
“Papa!!!” Alya histeris.
_______________________________
Catatan Penulis :
Seorang manusia bisa menjadi iblis hanya karena kertas, seorang manusia bisa menjadi malaikat karena kertas dan seorang iblis bukanlah pelaku utamanya, dia hanya sesuatu di belakang layar, yang bisa menjadi pendukungmu, menjadi sponsormu, menjadi sandaranmu bahkan menjadi Tuhanmu, untukmu yang serakah, untukmu yang memiliki jiwa kelam dan untukmu yang lupa bahwa Takdir bukanlah milik yang kau puja selain TUHAN YANG MAHA ESA.
Aku mau tahu dong, ada yang udah nebak belum sih apa yang terjadi pada hari kecelakaan itu setelah aku kasih kisi-kisi beberapa part? Ini part lumayan panjang ya, dari mulai kecelakaan sampai terungkap, aku aja same lupa bahas ini. semoga kalian senang ya bacanya.
Happy Reading.
Salam Kismis (Kisah Mistis Hari Kamis)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 568 Episodes
Comments
Dewi Sulastri
saya udah ke 2 x baca novel ini. sll bikin deg degan dan penasaran...
2025-01-31
0
Dementor
keren...
sejauh ini alur ceritanya g monoton
udah pro ni author. 😁
2024-08-02
1
eka wati
gila sih bapaknya Alya..
2024-04-22
1