Sebelum baca LIKE dan SHARE dulu ya, bantu penulis agar semakin banyak yang baca dan dukung penulis.
______________________________________________
“Ibu, Dita mana?” Aditia bertanya, Ibunya sedang di ruang televisi.
“Sudah tidur, tadi dia sempat menangis, karena katanya ketindihan, tapi nggak bisa bangun-bangun, dia lihat kamu, lihat Pak Dirga, lihat semua orang, tapi nggak bisa bergerak sama sekali.” Ibu menjelaskan.
“Ibu udah enakkan badannya?” Aditia duduk di samping Ibunya dan merangkulnya.
“Udah nggak apa-apa kok Dit.” Ibunya mengusap kepala Aditia.
“Lain kali, kalau Ibu mau pergi, minimal SMS Adit ya, biar Aditia tahu Ibu di mana.”
“Nah itu dia, Ibu mau SMS dan telepon kamu, tapi handphone Ibu rusak tiba-tiba, pas Ibu mau pinjem punya Dita, Dita lagi bobo, Ibu nggak mau bangunin dia. Jadi Ibu tulis kertas, trus di jepit pake hiasan magnet di kulkas, emang Adit nggak liat?” Ibu nya bertanya.
“Nggak.” Aditia merasa bahwa, si Marni yang masuk ke Ditalah yang mencopot pesan Ibu, hingga serangkaian kejadian itu terjadi.
“Emang kenapa Dit, tadi kamu kayak khawatir gitu, trus Dita juga aneh, pas Ibu sampe rumah, Dita nangis ketakutan. Kalian berdua kayak anak kecil, ditinggal sebentar aja rewel.” Ibunya bicara dengan santai.
“Ibu! Pokoknya Adit sama Dita, nggak bisa kalau nggak ada Ibu, jadi Ibu harus jaga kesehatan, harus selalu kasih tahu dimana pun Ibu berada, nggak boleh kemana-mana kalau hp rusak, ok.”
“Astaga, kamu kayak Ayah. Yaudah ah, Ibu mau bobo sama Dita, tadi Ibu nungguin kamu pulang, kan biasa yang nungguin kamu pulang Dita, tapi sekarang Ademu itu lagi sakit, jadi ibu. Oh ya, Dit, Dita belum tahu kan, soal dia .... “
“Belum bu, belum.” Aditia buru-buru memotong omongan Ibunya.
“Jangan kasih tahu dulu ya, Ibu ... Ibu takut kalau dia tau, dia akan merasa berat, kamu tahu kan gimana dia manjanya, Ibu takut kalau nantinya dia akan jaga jarak. Buat Ibu, anak Ibu dua, kamu dan Dita, sampai kapan pun, nggak akan berubah.”
“Iya bu, Adit janji, buat Adit juga, cuma ada 2 orang perempuan yang Adit cintai, Ibu dan Dita, Aditia nggak akan pernah capek buat jaga dan lindungin kalian berdua, seperti yang Ayah suruh.” Aditia memeluk Ibunya yang sempat dia kira telah tiada.
Sementara dari balik tembok di luar rumah Aditia, Alka menguping pembicaraan Aditia dengan Ibunya. Karena Alka bukan manusia biasa, maka pendengarannya melebihi manusia biasa.
“Maaf Kasep, nggak boleh ada yang tahu kalau aku menemui kamu, tidak ada yang boleh tahu keberadaan aku. Manusia hina ini.” Alka lalu pergi, hilang ditelan malam.
...
Namanya Saba Alkamah, taukah kamu, Saba adalah nama negeri dimana Ratu Balqis lahir, Ratu yang katanya lahir dari rahim seorang Jin dengan ayah manusia yang seorang Raja, tentu saja hal ini diragukan kebenarannya.
Tapi jauh dari kisah tersebut, munculah seorang anak, bernama Saba Alkamah, seorang anak perempuan yang cantik nan rupawan, penduduk desa awalnya sangat bahagia, walau kemunculannya yang tiba-tiba itu terasa janggal, tapi karena kecantikannya itu, mengalahkan semua praduga.
Setelah berembug, akhirnya diputuskanlah, bahwa anak ini akan dirawat oleh sepasang suami istri yang menemukannya di hutan. Perihal nama, semua juga sepakat bahwa dia akan menggunakan nama yang tertulis pada secarik kertas yang ditaruh tepat di dekat tubuhnya ditinggalkan begitu saja.
Saba Alkamah anak yang baik, sebagai bayi yang terlihat baru lahir, karena semua penduduk tidak tahu umur pastinya, hanya di perkirakan dari bobot tubuhnya saja, dia merupakan bayi yang sangat tenang, tidak menangis, tidak mengganggu dan sangat menurut.
Semua orang senang, karena semua hal tentang Saba Alkamah membuat siapapun bahagia bila mendengarnya, Alka adalah anak perempuan yang sangat membahagiakan.
Waktu berjalan, Alka telah berumur 5 tahun, warga desa yang tadinya sangat menyayangi Alka, menjadi berbalik membencinya, mereka yang tadinya merawat dengan sepenuh hati, saat ini malah cenderung mengabaikannya. Itu semua terjadi karena, kampung mereka tiba-tiba menjadi muncul banyak petaka dan kemalangan yang menimpa siapa saja yang dekat dengan Alka.
Ada seseorang warga Desa yang berkata bahwa, Alka adalah penyebab segalanya, dia menyerap seluruh kebaikan dari Desa itu, sumber daya alamnya, keberuntungan setiap warganya serta keberkahan Tuhan. Alka adalah seorang anak sial, wajahnya yang rupawan merupakan sebuah jebakan, Alka ditinggalkan adalah karena kesengajaan, seseorang yang ingin membuat Desa ini menjadi penuh malapetaka, Alka adalah anak Iblis.
Semua penduduk menjadi percaya, mereka lalu mulai membenci Alka, anak berusia 5 tahun yang tidak pernah menangis itu akhirnya mulai mendapat perlakuan yang kasar, dia selalu dihina, tidak diberi makan dan terakhir dia akan dibakar hidup-hidup untuk mematahkan kesialan di desa itu sebagai hukuman karena memeliharanya. Anehnya setiap orang yang menyiksanya, tiba-tiba akan mendapatkan kesialan yang mirip.
Hal tersebut menambah keyakinan pada seluruh warga, bahwa benar Alka adalah anak Iblis, maka dari itu, mereka merencanakan untuk membakar tubuh Alka hidup-hidup, karena dengan begitu, mereka berharap, setelah Alka mati, maka Desa mereka menjadi Desa yang tentram, damai dan sejahtera, tidak seperti sekarang ini.
Setelah merencanakan sebulan penuh, tibalah hari di mana Alka akan di eksekusi padahal bukan seorang penjahat, para warga yang menyerupai algojo itu berlaku bengis, melebihi anak Iblis yang mereka fikir telah mereka rawat, Alka diikat di sebuah bangku yang mereka buat, lalu sekeliling tubuhnya disiram minyak tanah, Alka yang memang tidak pernah menangis, bahkan setelah disiksa begitu kejam, saat ini dia hanya terlihat sedih, dia terdiam dan akhirnya berkata, untuk pertama kalinya dia bicara, selama ini dia tidak bicara bukan karena tidak mampu, tapi karena takut, saat ini akhirnya dia berbicara.
“Kalian adalah manusia hina, kalian adalah manusia akhir jaman, kalian bahkan menyiksa dan membunuh anak kecil, maka kehancuran menjadi milik kalian.” Lalu Si Kecil Alka berteriak, seketika minyak tanah yang tadinya akan disiramkan kembali kepada Alka, berbalik menyiram tubuh mereka, lalu api tiba-tiba muncul dan membakar orang kampung, Alka melepas ikatannya dengan mudah, Alka yang baru berumur 5 tahun itu, menjadi begitu menakutkan, penduduk benar-benar merasa telah melihat Iblis dalam wujud anak kecil.
Setiap langkah Alka membuat tanah di sekitarnya menjadi tandus, air yang mengalir menjadi kering dan manusia yang berpapasan dengannya akan dibakar oleh anak berumur lima tahun itu.
Saba Alkamah, manusia hina yang datang dari kedalaman hutan belantara, kembali ke dalam hutan, tenggelam oleh gelapnya malam, menangis karena harapannya untuk hidup bahagia telah sirna, manusia tetaplah serakah. Bahkan lima tahun hidup makmur membuat mereka terlena, sedang hidup sulit hanya baru beberapa bulan saja, membuat mereka mencari kambing hitam, mereka tidak tahu bahwa dengan kedatangan Alka, keburukan pada Desa mereka telah ditunda selama 5 tahun penuh.
...
“Saya benar-benar ketakutan malam itu Pak, tapi Alka tiba-tiba dateng, trus nolongin saya, trus, dia juga tiba-tiba hilang, saya nggak bohong Pak.” Aditia dan Pak Dirga sedang di warung kopi langganan mereka, di dekat Pos Polisi.
“Bapak mana mungkin menyangka kamu bohong, tapi Bapak benar-benar nggak lihat perempuan itu, pas Bapak liat kamu pun, kamu cuma sendirian Dit.”
“Mungkin dia pergi, setelah melihat Pak Dirga. Tapi Pak, Adit benar-benar merasa dia hebat sekali, caranya bertarung, sungguh seperti bukan manusia, tapi dia manusia.”
“Adit udah coba cari di buku, soal hukuman Adit dan juga siapa itu Alka?”
“Oh iya ya, sebentar Pak.” Aditia berlari ke arah angkotnya dan mengambil buku catatan Ayahnya.
“Adit cari dulu ya Pak.”Aditia duduk dan mencari lembar demi lembar.
“Gimana, ada?”
“Kalau nama Saba Alkamah, nggak ada pak. Tapi ini ada catatan paling terakhir yang Adit fikir agak janggal.”
“Gimana tulisannya?” Pak Dirga bertanya.
“Ada sebuah desa angker, dimana seluruh warganya dibantai oleh seorang anak perempuan berumur lima tahun, anak itu lalu lari ke arah hutan. Setelahnya, tidak pernah diketahui lagi keberadaannya, tapi desa itu menjadi desa yang mengerikan, siapapun yang bermaksud membangun desa itu lagi, pasti akan tertimpa sial, ditambah penduduk yang mati dibantai, mereka bergentayangan, banyak suara aneh, seperti orang menangis, menjerit atau rintihan. Ada banyak penampakan orang-orang terbakar dan yang paling mengerikan, tukang-tukang yang melakukan pekerjaan konstruksi untuk membangun desa itu lagi, kalau tidak kesurupan, mkaa akan kepanasan dengan hebat dan ditubuhnya ditemukan banyak luka lepuhan, persis seperti orang yang terbakar, tapi luka itu akan menghilang dengan sendirinya, jika orang itu menjauh dari desa.”
“Lalu apa hubungannya dengan Alka? kau curiga anak perempuan yang membantai warga desa itu, Alka? ” Pak Dirga bertanya.
“Entahlah, firasatku mengatakan bahwa, Alka bukan manusia biasa seperti kita, kemampuannya bertarung dan menghilang saat itu, benar-benar hebat.”
“Kalau anak perempuan itu Alka, kamu harus berhati-hati Dit, dia berbahaya.” Pak Dirga mengingatkan.
“Siapapun dia, Alka sudah membantu Adit Pak, tidak seharusnya Adit takut padanya.”
“Adit mau ketemu sama ibu warung kopi di kuburan ah, kan dia waktu itu lihat Alka dateng sama Adit, pasti dia tahu sesuatu.”
“Yaudah sana, tapi hati-hati ya, kalau ada apa-apa telepon Bapak ya.” Pak Dirga dan Aditia lalu berpisah, Aditia menuju warung kopi di dekat kuburan.
Tidak lama kemudian Aditia sampai, dia melihat sepi sekali warung ini, dia buru-buru masuk dan menghampiri penjaga warung yang sedang mengelap meja untuk pelanggan.
“Punten (permisi) Bu, mau kopi item.” Aditia menyapa dan memesan kopi.
“Iya, dibuatin dulu ya.” Ibu itu lalu masuk ke warung dan membuat kopi, tidak lama kemudian dia mengantarkan kopinya.
“Bu, sakedap (sebentar), ada yang mau saya tanya.”
“Mangga (silahkan) Jang (panggilan untuk anak lelaki berasal dari kata ujang),” ibu itu berkata.
“Ibu kenal Alka, kan ya?” Aditia langsung pada fokusnya.
“Hmm, kenal atuh, kan emang sering ke sini.”
“Rumahnya di mana ya?” Aditia bertanya lagi.
“Nggak tau, tanya aja sendiri. Tuh orangnya.” Ibu itu menunjuk belakang Aditia.
Saat menoleh kebelakang, Aditia kaget, karena dalam waktu bersamaan, Alka muncul.
“Hai Dit.” Dia menyapa dengan santai sekali.
“Alka!”
“Ya?”
“Aku mau ngomong, boleh?”
“Ya, ngomong mah ngomong aja, siapa yang larang?” Alka lalu duduk di bangku panjang, dimana Aditia juga duduk.
“Alka, aku boleh tau nggak?”
“Tau apa?”
“Kamu itu ... siapa?”
“Saba Alkamah.” Dia nyeruput kopi Aditia dengan santai.
“Ya aku tahu, bukan itu, aku bertanya tentang perjalan hidupmu, siapa kamu, kenapa menolong aku?”
Raut muka Alka berubah menjadi muram.
“Haruskah aku menceritakannya?”
“Tidak, jika kau tidak ingin, tapi satu hal yang aku tahu, kau bukan manusia biasa, benar kan?”
“Aku memang bukan manusia biasa, aku lahir dari rahim seorang ibu manusia dan ayah seorang Jin, pernikahan terlarang yang mereka lalukan melahirkan seorang anak iblis! hukuman Tuhan atas keegoisan dan nafsu dunia yang mereka menangkan.” Alka menunduk karena malu.
“Kau yang membantai warga desa itu?” Aditia bertanya dengan hati-hati.
“Bukan aku, tapi Takdir Tuhan.” Alka terlihat marah. “Kenyataannya, mereka yang berusaha membunuhku, aku marah, lalu terjadilah hal itu, andai mereka tahu yang sebenarnya.”
“Lalu kenapa kau menolongku?” Aditia bertanya.
“Karena aku menjaga pesan ayahmu.”
“Pesan Ayahku? apa pesannya?”
“Dia bilang bahwa .... “
_________________________________
Ada yang jawabannya bener? Siapa Saba Alkamah? Udah ada yang bisa tarik garis lurus, apa hubungan mereka hingga Alka harus datang menolong Aditia?
Kasih tau aku apa sih yang kalian fikirin?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 568 Episodes
Comments
Nia Sulistyowati
selalu di luar tebakan alurnya author😁😁
makin seruu
jalo baca malem" jadi serem sendiri..
biasanya kalo baca novel horor laen meski malam menjelang pagi g seserem baca novelmu thor,,
kita jadi ikut kebawa susasana kalo lagi bawa novelmu
2024-04-03
1
Mey-mey89
semangat thorrrr
2023-05-31
2
Abdul Rahim
ia nih pengulangannya sampai setengah bab
2023-05-19
1