Tahun 2005
“Adit mau ikut Ayah?” Pak Mulyana bertanya pada anaknya yang baru berumur delapan tahun.
“Mau, tapi beliin ciki ya Ayah?” Aditia suka sekali ikut ayahnya narik angkot, sebenarnya Pak Mulyana enggan mengajak Adit karena dia pasti akan pulang dini hari. Tapi mimpi itu jelas, sebuah wasiat yang tidak bisa diabaikan ataupun ditolak, seperti dulu ayahnya Pak Mulyana atau kakeknya Aditia mewariskan pada dirinya. Pembukaan kembali mata batin.
“Ayah dia minta naik.” Adit menunjuk keluar angkot yang melewati pinggiran hutan, tempat dimana Mimpi terlebih dulu membawa pak Mulyana kedalam hutannya, Pak Mulyana memberhentikan laju kendaraan dan membiarkan makhluk itu masuk.
“Mau kemana Nek.” Pak Mulyana bertanya, bau melati semerbak di mobilnya.
Nenek dengan kebaya hijau dan kain jarik yang dililit sebagai roknya terkekeh, udara sekitar menjadi lebih dingin selain karena nenek itu, mungkin karena sudah jam satu malam juga.
“Itu ada lagi Ayah.” Adit menunjuk keluar, kali ini anak kecil berdiri di pinggir sawah. Setelah hutan ada persawahan membentang, sebenarnya ini bukan trayek angkotnya Pak Mulyana, tapi dia harus kesini karena ‘tugas’. Pak Mulyana tidak memberhentikan angkotnya.
“Kenapa nggak berhenti Ayah?” Aditia bertanya.
“Dia jin yang menyamar Nak, jangan dihiraukan. Dia melihatmu makanya dia keluar.”
“Nenek ini juga jin?” Aditia bertanya.
“Dia jiwa yang tersesat, mari kita bantu dia pulang Nak.” Pak Mulyana mengajak Adit untuk kesekian kalinya mengantar pulang jiwa yang tersesat.
“Nenek, pulangnya kemana?” Nenek yang duduk di bangku paling belakang angkot pak Mulyana menengok, kepalanya berputar sedang badannya masih ditempat yang sama, bibirnya tersenyum lebar melewati batas garis yang seharusnya, lalu keluar darah dari garis bibir itu.
“Dia nggak akan takut, dia udah biasa liat hal seperti yang kamu tunjukan.” Pak Mulyana menegur nenek itu yang mencoba menakuti Adit.
“Pulang Ni, anak cucumu menunggu, kasihan mereka.” Sekali lagi Pak Mulyana membujuk.
“Teu hoyong uih. (Tidak mau pulang)." Nenek itu menjawab kepalanya masih saja menatap Adit.
“Kunaon? (Kenapa?)" Pak Mulyana bertanya.
“Cing cangkeling manuk cingkleng cindeten
plos ka kolong bapa satar buleneng
Kleung dengdek buah kopi raranggeuyan
Keun anu dewek ulah pati dihereuyan
Cing cangkeling manuk cingkleng cindeten
plos ka kolong bapa satar buleneng.”
Nini bernyanyi lagu Cing Cangkeling dengan nada yang begitu menyayat hati, biasanya lagu ini dinyanyikan dengan nada riang oleh anak-anak.
“Upami teu hoyong uih, teras bade kamana?” (kalau nggak mau pulang lalu mau kemana?) Pak Mulyana bertanya.
“Nuturkeun anjeun, nuturkeun kasep. (Ikut kamu, ikut anak kamu)."
Pak Mulyana memberhentikan laju kendaraannya dan berbicara, “Abdi teu bisa ngajak anjeun, Incu ngantosan di bumi, hayu uih nyak. (saya nggak bisa ajak kamu, anak cucu menunggu di rumah, ayu pulang)."
“Maneh teu nyaho saha aing!” Nenek itu berubah menjadi kasar, tubuhnya membesar, rambut putihnya yang semula tersanggul rapih menjadi berantakan, kebaya dan kain jariknya compang-camping.
“Adit, jangan lihat kebelakang ya, Ayah mau ngomong dulu sama Nini.” Pak Mulyana ke bagian belakang mobil, tempat dimana biasanya penumpang duduk dengan formasi empat dan enam. Mulyana menutup sekat yang memang dia pasang antara supir dan penumpang sehingga Adit tidak bisa melihat apa yang terjadi di belakang. Aditia menurut untuk tetap di dalam dan tidak keluar.
Sementara Pak Mulyana duduk bersila di bagian belakang angkotnya berhadapan dengan Nini yang sudah berdiri dengan membungkuk karena tubuhnya yang berubah menjadi besar.
“Uih sareng abdi, upami teu hoyong uih, hayang jadi setan anu teu ditarima bumi?! (Pulang bareng saya, kalau nggak mau, apa mau jadi setan yang tidak diterima bumi?!)" Pak Mulyana mulai keras, untuk berjaga-jaga dia mengeluarkan keris mininya dan menaruh di telapak tangan, keris itu menempel sempurna walau tidak di genggam.
Nenek itu mendekatkan wajahnya yang berukuran tiga kali lipat kepala orang dewasa, bau melati berganti menjadi bau busuk, darah menetes di lantai angkot.
“Bejakeun ka Incu, aing hayang aranjeun PAEH!!! (Bilangin ke anak cucuku, aku ingin mereka semua mati!!!)" Suara nenek itu berubah menjadi berat dan menyeramkan, Pak Mulyana masih berusaha tenang, walau saat ini nenek itu berusaha meraih lehernya dan mencekik dengan kencang.
Pak Mulyana menempelkan keris pada kening nenek itu, seketika dia kepanasan dan berlari ke ujung angkot, tubuhnya berangsur kembali seperti semula.
“Hampura .... (Maaf)" Pak Mulyana meminta maaf dan mendekati nenek yang sudah duduk di pojok ketakutan.
“Uih Ni, incu parantos ngalaman. (Pulang nek, anak cucu sudah menderita)." Pak Mulyana mengelus kepala jiwa nenek yang terluka karena sakit hati oleh anak cucunya.
“Anterkeun abdi, bade uih sareng anjeun jeng kasep. (Antarkan saya pulang, mau sama kamu dan anak kamu dianternya)."
Nini Karti memiliki dua orang putra yang sangat sukses. Dari dua orang putra dia memiliki tujuh orang cucu. Ni Karti tinggal di pedalaman bandung, sementara anak cucunya tinggal di kota besar meninggalkan dia sendirian setelah sukses.
Nini Karti kecewa karena untuk menjadikan anak-anaknya sukses dia terpaksa melakukan pesugihan dengan tumbal suaminya sendiri, tapi setelah sukses kedua putranya meninggalkan dia sendirian, karena marah dan sudah renta atas pengabaian anaknya, dia bersumpah akan membuat anak cucunya mati perlahan.
Begitulah jiwa yang sudah tergadai pada iblis jahanam, maka tidak ada belas kasih sebagai seorang ibu dihatinya, kemarahan membuatnya lupa bahwa bayi yang dulu dia lahirkan bisa saja sedang Khilaf dan lupa ibunya, tidak seharusnya dia mengucap sumpah bala.
Sementara anak cucunya menderita dan kembali pulang menemui dirinya, Nini Karti bahkan tidak bisa lagi melihat mereka dengan raganya, karena sumpah yang dia ucapkan adalah sumpah bala yang mengorbankan si pemberi bala yaitu dirinya sendiri, dia tidak mati ataupun hidup, dunia medis menyebutnya koma.
Setelah jiwa Nini Karti pulang dan masuk ketubuhnya, maka sakaratul maut menyambut diiringi pelepasan semua pegangan yang dia miliki, lalu kembalilah jiwa dan raganya pada Tuhan. Anak cucunya memohon maaf dan mulai memperbaiki diri, belajar dari kesalahan ibunya dan menata hidup dengan mendekatkan diri pada Tuhan.
Bagaimana Pak Mulyana bisa menolong Nini Karti? Itu karena dia bermimpi bertemu dengan suami dari Nini Karti yang meminta pertolongan, menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, maka disinilah dia sekarang, membawa pulang jiwa tersesat Nini Karti. Bagaimana suaminya bisa minta tolong, karena dikalangan jiwa tersesat, nama Pak Mulyana sangat terkenal, buat manusia dia hanya supir angkot, tapi buat ‘mereka’ Pak Mulyana adalah orang mulia yang mau membantu dengan tulus.
Setelah meninggalnya Pak Mulyana maka nama Aditia lah yang menjadi begitu terkenal, anak muda pandai, yang tampan, membantu mereka yang tersesat.
...
“Adit tidak takut?” Suatu ketika masih diumurnya yang belum genap sepuluh tahun Pak Mulyana bertanya.
“Takut apa Ayah?” Aditia memakan es krim yang dibelikan ayahnya sebelum mereka mulai narik Angkot ke tempat bukan trayek angkotnya, tapi tempat dimana ‘tugas’ menjemput harus dilaksanakan.
“Mereka.” Pak Mulyana menunjuk sesosok yang berdarah dari ujung kepala hingga kakinya, jin yang menyamar menjadi korban tabrakan.
“Enggak, kan udah sering liat. “Aditia memang terbiasa melihat yang lain dari bentuk manusia, karena dari lahir memang dia sudah bisa melihat mereka.
“Tapi masih tetap pegang janji kan?” Pak Mulyana memastikan.
“Iya, nggak boleh bilang sama ibu sama ade juga. Soalnya Adit beda makanya nggak takut, kalau Ibu sama Ade takut.”
“Pintar kamu nak, ini rahasia Adit dan Ayah ya.” Ayahnya Adit mengusap kepala Adit dan menciumnya.
“Adit Ayah tau setelah ini, setelah kamu menggantikan Ayah pasti akan berat untukmu, tapi sebisa mungkin Adit akan Ayah ajari menghadapi mereka, memilah mereka dan mengantarkan mereka sampai pada tujuannya, selain mental Adit juga harus belajar ilmu bela diri ya, karena mereka yang berjenis jin terkadang bisa menyentuh kita melalui orang yang mereka tumpangi, lindungi dirimu dengan agama dan ilmu beladiri, jangan lupa mintalah perlindungan pada Tuhan.”
Nasehat Pak Mulyana saat itu memang tidak dimengerti Aditia kecil, tapi setelah dewasa barulah Aditia mengerti kenapa Ayahnya begitu keras dalam soal agama dan ilmu beladiri, Aditia kecil tumbuh lebih dewasa dibanding teman sebayanya, Aditia kecil menjadi pribadi riang dan tampan tidak takut oleh hal-hal yang tidak diliat orang lain, karena pemahaman yang baik diberikan oleh ayahnya. Walau tetap setelah ayahnya meninggal, warisan pekerjaan di luar nalar yang diberikan ayahnya membaut ia syok dan sempat lupa pelatihan yang diberikan selama ini.
Perlahan tapi pasti Aditia menjadi pribadi yang mirip bahkan lebih baik dari Pak Mulyana, dikalangan mereka yang tak terlihat, Aditia dikenal dengan nama KASEP ....
...
Tahun 2019
“Hei, hei, hei .... “ Ada suara dari belakang tengkuknya itu.
Aditia mengusap tengkuk lehernya.
Lelaki itu mendekati Aditia, dia duduk tepat di belakang bangku supir, dia meniup-niup tengkuk Aditia dengan mulut birunya.
Aditia berusaha untuk mengabaikan apa yang dilakukan lelaki itu, karena dia masuk ke mobil bahkan tanpa dipersilahkan, dari jenisnya dialah paling jahil. Dia dikenal dengan nama Al-Amir, jin paling iseng dan tentu saja menakutkan, dia paling suka menakut-nakuti orang secara frontal, apalagi orang yang peka seperti Aditia.
“Kau tidak takut pergi ke tempat sepi seperti ini? bukankah ini bangunan rumah tua? untuk apa kau kesini, pulang saja.” Jin iseng itu berbicara tepat di tengkuk Aditia, dingin sekali rasanya, tapi dia tidak mudah diusir.
Aditia keluar dari mobil, saat ini dia memarkir mobilnya di pelataran rumah kosong yang memiliki bangunan sangat besar, luas tempat kosong ini mencapai satu hektar, untuk mencapai bangunan dari gerbang masuk, kita harus berjalan sekitar seratus meter, karena sudah tidak berpenghuni hampir lima belas tahun, maka sepanjang jalan dari gerbang sampai bangunan, ada banyak pohon besar menjulang yang hampir menutupi jalan.
Gelap sekali, untung Aditia mengendarai angkot, jadi dia tidak perlu jalan kaki, terbanyang bagaimana mencekamnya jika dia harus menjemput dengan berjalan kaki.
“Hei, kau yakin berani?” Jin iseng itu sudah berada di samping Aditia, lalu perlahan tangannya memegang bahu Aditia dan kakinya diangkat lalu ditekuk, seketika Aditia menggendong jin itu. karena kaget reflek Aditia mencoba melepaskan gendongan, tapi jin itu tertawa cekikikan karena memegang bahu Aditia dengan erat, kakinya mengikat pinggang Aditia dengan kencang.
“Bisakah kau meninggalkanku sehari saja, kenapa kau selalu ikut!” Aditia kesal karena jin ini susah sekali diusir, posisinya masih menggendong Aditia.
Bukannya turun jin itu menjulurkan lidahnya ke pipi Aditia dan menjilatnya dalam sekali usapan, Aditi berteriak, sakit dan panas sekali rasanya.
Belum masuk kerumah kosong itu untuk menjemput, kenapa harus hari ini juga si jin iseng ini ikut numpang di angkot, itu yang Aditia rasakan.
“Lepas atau kukeluarkan kerisku!” Aditia kehilangan kesabaran.
“Kalau kau keluarkan kerismu, maka kawananku akan memburumu, ingat aku bukan satu dan aku akan mengikutimu sampai akhir hayat, karena menaklukanmu akan menjadikanku panglima setan, kau harus pulang, ingat ibumu menunggu, adikmu juga, pulanglah!” Jin itu berbisik di telinga Aditia.
“Baiklah jika kau ingin kugendong, maka ikutlah bersamaku ke dalam.” Aditia berjalan perlahan karena berat menggendong jin, tapi langkahnya takkan terhenti untuk menjemput tamu istimewa dari rumah ini, tamu yang ayahnya gagal jemput setelah sekitar lima kali dikunjungi, sampai akhir hayat, ayahnya Aditia tidak mampu membawa jiwa dari penghuni rumah kosong ini.
Maka setelah dua tahun Aditia ‘bertugas’ menggantikan ayahnya, saat inilah Aditia siap menghadapi ....
“Selamat malam Nona, Ayuk pulang .... “
___________________________
Catatan Penulis :
Part ini aku fokuskan pada ayah Adit ya biar landasannya jelas, kalau yang udah pernah baca cerbungku yang judulnya KARUHUN (sudah tamat versi FB) pasti terbiasa dengan alur maju mundur khas kepenulisanku, yang kurang nyaman sama alur atau plotnya, mohon maaf memang seperti ini caraku menulis, aku tidak terbiasa menjelaskan sesuatu dengan detail memaksa si pembaca mengerti dengan alur yang halus, terkadang malah tidak ada penjelasan apapun ini bisa dilihat di creepy storyku yang sudah bertebaran, pembaca lamaku pasti sudah hafal caraku menulis, walau terkadang mereka mengeluh karena aku tidak memberi penjelasan, tapi memang begini caraku menulis.
Selamat menikmati, yang belum add akunku, add ya, karena aku pasti lebih dulu up lanjutan part di akunku.
Yang belum like jangan lupa like, yang belum coment ayo dong coment, jgn gara2 catatan penulis jadi takut coment ya, aku terbuka pada krisan, apalagi coment yang nyenengin bikin aku kebut nulis partnya.
Love kiss ....
Mukakanvas/RPs
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 568 Episodes
Comments
Selvia Suri Krisna Dewi
sy SDH baca Karuhun... ayiiiikkk... wkwkwkwk.. seru .. suka... insyaallah karya yg skrg seru jugaa...
2023-08-30
0
Maisyaroh
baru mampir kak othor...😁😁😁
2023-08-21
0
Sas Saspir
cerita bagus
2023-08-15
0