“To-to-tolong!!!” Aditia berteriak, dia tidak tahu harus berbuat apa lagi selain meminta tolong, dari belakang dia merasakan tangan seseorang memegang bahunya, dia senang, mungkin saja itu Pak Dirga, tapi saat dia menoleh tidak ada orang sama sekali, Aditia kaget, dia pun buru-buru berdiri, tapi saat dia berdiri untuk melepas pegangan dari tangan dingin itu, tiba-tiba seluruh tubuh Aditia terasa dingin, dimulai dari kaki, paha, perut, dada, hingga kepala, seperti ada tangan-tangan yang memegang seluruh tubuhnya secara bersamaan, Aditia berusaha melepaskannya tapi tangan dan kakinya di pegang dengan kencang oleh sesuatu yang dia sendiri tidak bisa lihat.
Dia ingin berteriak tapi mulutnya saat ini di bekap oleh tangan yang dingin, bau amis dan anyir mulai menguasai penciuman Aditia, dia tidak bisa melihat bahwa saat ini ada belasan jin jahat yang sedang mengeroyok tubuhnya, seluruh tangan mereka berebutan berusaha menyiksanya, jin-jin itu memiliki berbagai rupa, ada pocong, ada kuntilanak, ada tuyul-tuyul kecil dan bentuk lainnya, mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk menyiksa Aditia.
Akhirnya tubuh anak muda itu jatuh dalam keadaan terlentang, saat berdiri dia merasakan tubuh itu dipegang, sekarang dia merasa tubuhnya begitu sakit dan terasa berat, dia merasa tubuhnya ditindih oleh sesuatu yang berat dan banyak, tubuhnya memang sedang ditindih oleh belasan jin itu, mereka bahkan melompat-lompat di atas tubuh Aditia.
Sesak nafas, Aditia merasa sesak sekali, dia kedinginan, dan kesakitan, dia merasa bahwa mungkin saja ini waktunya pergi, seperti Ayahnya dulu.
“To-to-tolong.” Aditia mengatakannya dengan suara yang tidak keluar sama sekali, karena mulutnya sedang di bekap oleh tangan-tangan dingin itu.
Aditia merasa mungkin ini akhir hidupnya, dia sudah tidak bisa bergerak sama sekali, lalu Aditia berdoa, memohon kepada Tuhan, [Tuhan tolong aku.] itu yang Aditia ucapkan dalam hati, dia lalu menutup matanya, pasrah.
“Yaelah, masih aja main keroyokan macam tawuran.” Ada suara seseorang, Aditia melihat kearah suara, manusia! Karena Aditia bisa lihat, walau dia tidak bisa melihat dengan baik, karena posisi orang itu ada kaki Aditia yang sedang telentang.
Tidak lama kemudian, orang itu terlihat menarik sesuatu, dalam penglihatan Aditia, orang itu seperti menggapai angin, tapi Aditia yakin dia menolongnya, orang itu seperti menarik-narik makhluk itu dari tubuh Aditia, lalu tubuh orang sempat terpelanting, Aditia merasa bersalah, orang itu memakai celana jeans, kaos dan juga jaket hitam, jaket itu dipakai bersama dengan tudungnya, terakhir masker, orang itu tidak terlihat sama sekali.
Setelah terpelanting cukup jauh, orang itu berlari dan mulai melakukan gerakan bertarung, bertarung dengan angin tentu saja di mata Aditia.
Setelah seselai dengan setan yang tidak mengeroyok Aditia, dia kembali lagi menarik makhluk-makhluk yang menindih Aditia, menarik mereka lagi satu persatu, hingga Aditia merasa tubuhnya semakin ringan, tidak berat seperti sebelumnya, semakin lama, tubuhnya terbebas dari cengkraman itu, saat dia sudah berdiri, orang yang menolongnya masih bertarung, dia terlihat memukul dan menendang angin, Aditia menghampirinya walau dia merasa di pukul dan di tendang oleh sesuatu yang dia tidak bisa lihat.
Saat sudah dekat dengan orang itu, Aditia melempar keris mini, karena orang itu sepertinya bertarung tanpa senjata, Aditia berfikir bahwa keris itu bisa menolongnya.
Orang itu menangkap keris dari Aditia dan terlihat mahir menggunakannya, sungguh membuat dia terlihat sangat hebat, Aditia saja merasa bahwa tidak memiliki kemampuan sehebat itu menggunakan keris mini.
Setelah terlihat sudah tenang, dan merasa bahwa orang itu telah menang, Aditia menghampirinya, dia terduduk karena kelelahan.
“Terima Kasih.” Aditia berkata.
Dia memberikan keris mininya pada Aditia, pemilik aslinya.
“Udah yuk.” Dia berdiri setelah memberi keris dan mengajak Aditia pergi, Aditia cukup terperangan karena suara itu ....
Dia menarik tangan Aditia yang kaget dan membawanya keluar areal kuburan, ketika sudah di dekat pos penjaga yang suasananya sangat berbeda, suasananya sangat remai dan terang, di dalam tadi begitu menakutkan, Aditia melihat Ki Kusno dan Pak Dirga sedang ngopi di bagian depan, sementara mereka muncul dari belakang pos, Aditia hendak menghampiri mereka, tapi di tarik lagi oleh orang itu.
“Mau kemana?” Aditia bertanya, tapi dia tidak punya keraguan untuk mengikuti.
Dia mengajak Aditia ke warung kopi di dekat situ, tidak terlalu jauh dari pos penjaga.
“Bu, mau kopi 2 ya.” Orang itu duduk dan melepas pegangannya dari Aditia.
Saat itu orang yang menolong Aditia melepaskan kerudung jaketnya dan juga melepas masker wajahnya, terlihatlah wajah itu, Aditia sudah curiga, orang ini seorang perempuan bukan lelaki, karena suaranya ketika mengajak Aditia untuk keluar dari areal kuburan, terdengar sangat lembut.
Sungguh, suara itu berbanding terbalik dengan apa yang Aditia lihat sebelumnya, pertarungan brutal itu dan bagaimana tubuh dia dihempas ke sana ke mari oleh ‘meraka’, sungguh Aditia tidak menyangka bahwa tubuh di balik kaos, jeans dan sneaker kasual, yang seluruh warnanya hitam itu, ada seorang wanita dengan suara yang lembut.
“Makasih banget udah nolongin ya, aku fikir kamu .... “
“Laki-laki?” Wanita itu bertanya.
“Sorry, iya.”
“Nggak heran, kan tadi muka gue emang nggak keliatan, baju gue juga longgar.” Dia santai sekali menanggapi perkataan Aditia, tidak tersinggung.
Udara malam terasa dingin.
“Kamu, siapa?” Aditia bertanya.
“Oh ya, aku Saba Alkamah, panggil aja Alka.”
“Aku, Aditia.”
“Udah tau kok, makanya ke sini, nolongin kamu.” Dia asik makan gorengan dan menyeruput kopi mereka yang baru saja diantarkan.
“Kamu ke sini emang mau nolong aku?” Aditia penasaran.
“Iya, ngapain ke sini malem-malem untuk hal yang nggak penting.” Dia menjawab, masih dengan santai dan lembut, orang akan tertipu jika hanya berhubungan dengan Alka dari telepon saja, suaranya sangat lembut dan terdengar anggun.
“Kamu tahu siapa aku?”
“Tau lah, Kasep.” Setelah bakwan, sekarang dia mengambil tahu.
“Kamu, manusia kan?” Aditia makin bingung.
“Iya lah, kalau bukan mana kamu bisa lihat, kan kamu lagi dihukum.”
“Aku beneran nggak ngerti deh, kamu siapa dan kenapa nolongin aku?” Aditia bertanya.
“Kan tadi aku udah bilang, aku Saba Alkamah, aku nolong ya karena harus.” Dia tersenyum, Aditia sempat terpaku, dia merasa senyum itu manis sekali.
“Dit!” Pak Dirga memanggil Aditia dari belakang, sementara Aditia nengok, Pak Dirga mendekat dan bertanya, “Kamu kok di sini?” Dia bertanya lagi.
“Iya Pak, ini tadi aku sempet dikerjain sama ‘mereka’, untung Alka nolongin aku.”
“Alka? Siapa?” Pak Dirga bertanya.
“Ini, Alka.” Aku menunjuk belakangku dan menghadap kearahnya, tapi Alka tidak ada, apakah dia telah pergi? Atau dia menghilang? tapi tidak terasa, kapan perginya? Itu yang ada difikiran Aditia.
“Mana?” Pak Dirga bertanya.
“Tadi ada di sini kok Pak, bentar deh, ini gelas kopinya juga nggak ada, bu! Bu!” Aditia memanggil Ibu penjaga warung kopi.
Tidak lama kemudian penjaga itu datang.
“Bu, perempuan yang bareng saya mana ya?” dia bertanya.
“Lah, bukannya tadi ada di sini?” Wanita itu juga bingung, dia tidak melihat Alka pergi, kemana dia?
“Pak Dirga, Ki Kusno sama Bu Mirasih udah ketemu?” Aditia bertanya, sekaligus mengalihkan pembicaraan, masalah Alka akan dia fikirkan nanti.
“Ki Kusno udah ketemu, dia seperti orang linglung ketika Bapak temukan, kata orang-orang sini, dari kemarin dia linglung, selalu di sini tidak mau pergi, sementara Ibu Mirasih belum ketemu Dit, Bapak nggak tau dia kemana, kita udah cek semua areal, tadi Bapak dibantu oleh banyak orang di sini, tapi masih nggak ketemu.”
Aditia menghembuskan nafas dengan berat.
“Dit, tadi Bapak nggak bsia nemuin kamu, padahal kami ke semua areal loh.”
“Adit diserang, di situ.” Aditia menunjuk areal kuburan di mana dia tadi jatuh dan ditindih banyak ‘makhluk’.
“Hah, diserang? Kok bisa? Bapak tadi ke situ kok, tapi nggak lihat Aditia sama sekali.” Pak Dirga bingung.
“Mungkin karena Aditia ditutupin, untung Alka nolong.” Aditia berkata.
“Yaudah yuk Dit, kita pulang dulu, liat keadaan Dita.
“Iya Pak.” Aditia akhirnya ikut, dia masih penasaran, dimanakah Alka, dia sungguh ingin bertanya banyak.
...
“Ibu, Dita mana?” Aditia bertanya, Ibunya sedang di ruang televisi.
“Sudah tidur, tadi dia sempat menangis, karena katanya ketindihan, tapi nggak bisa bangun-bangun, dia lihat kamu, lihat Pak Dirga, lihat semua orang, tapi nggak bisa bergerak sama sekali.” Ibu menjelaskan.
“Ibu udah enakkan badannya?” Aditia duduk di samping Ibunya dan merangkulnya.
“Udah nggak apa-apa kok Dit.” Ibunya mengusap kepala Aditia.
“Lain kali, kalau Ibu mau pergi, minimal SMS Adit ya, biar Aditia tahu Ibu di mana.”
“Nah itu dia, Ibu mau SMS dan telepon kamu, tapi handphone Ibu rusak tiba-tiba, pas Ibu mau pinjem punya Dita, Dita lagi bobo, Ibu nggak mau bangunin dia, jadi Ibu tulis kertas, trus di jepit pake hiasan magnet di kulkas, emang Adit nggak liat?” Ibu nya bertanya.
“Nggak.” Aditia merasa bahwa, si Marni yang masuk ke Ditalah yang mencopot pesan Ibu, hingga serangkaian kejadian itu terjadi.
“Emang kenapa Dit, tadi kamu kayak khawatir gitu, trus Dita juga aneh, pas Ibu sampe rumah, Dita nangis ketakutan, kalian berdua kayak anak kecil, ditinggal sebentar aja rewel.” Ibunya bicara dengan santai.
“Ibu! Pokoknya Adit sama Dita, nggak bisa kalau nggak ada Ibu, jadi Ibu harus jaga kesehatan, harus selalu kasih tahu dimana pun Ibu berada, nggak boleh kemana-mana kalau hp rusak, ok.”
“Astaga, kamu kayak Ayah, yaudah ah, Ibu mau bobo sama Dita, tadi Ibu nungguin kamu pulang, kan biasa yang nungguin kamu pulang Dita, tapi sekarang Ademu itu lagi sakit, jadi ibu. Oh ya, Dit, Dita belum tahu kan, soal dia .... “
“Belum bu, belum.” Aditia buru-buru memotong omongan Ibunya.
“Jangan kasih tahu dulu ya, Ibu ... Ibu takut kalau dia tau, dia akan merasa berat, kamu tahu kan gimana dia manjanya, Ibu takut kalau nantinya dia akan jaga jarak, buat Ibu, anak Ibu dua, kamu dan Dita, sampai kapan pun, nggak akan berubah.”
“Iya bu, Adit janji, buat Adit juga, cuma ada 2 orang perempuan yang Adit cintai, Ibu dan Dita, Aditia nggak akan pernah capek buat jaga dan lindungin kalian berdua, seperti yang Ayah suruh.” Aditia memeluk Ibunya yang sempat dia kira telah tiada.
Sementara dari balik tembok dekat diluar rumah Aditia, Alka menguping pembicaraan Aditia dengan Ibunya.
“Maaf Kasep, nggak boleh ada yang tahu kalau aku menemui kamu, tidak ada yang boleh tahu keberadaan aku. Manusia hina ini.” Alka lalu pergi, hilang ditelan malam.
________________________________
Catatan Penulis :
Coba tebak siapa Alka, aku mau tau deh, menurut kalian Alka siapa, aku beneran mau tahu sejauh mana imajinasi kalian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 568 Episodes
Comments
Mila Mmh Bara
mungkin marni
2024-07-14
0
eka wati
mungkin alka org yg punya bakat istimewa kayak Adit sama bapaknya
2024-04-22
0
eka wati
kayak familiar sama nama sabah alkamah..
tapi pernah tau dimana ya🤔
2024-04-22
0