“Ucapkan seperti yang Ayi Ucapkan Al! Kau akan baik-baik saja, kau akan lepas dari belenggu setan ini, ayo ucapkan Al.” Sementara udara terasa semakin panas, seluruh pasukan Begu Ganjang menyerbu masuk ke dalam, Alya harus disegerakan menyebut Ikrar Perjanjian atau Begu Ganjang sepenuhnya menjadi makhluk bebas, dan ini tentu bahaya, dia bisa membunuh siapapun yang dia inginkan termasuk semua yang ada di sana.
“Aku tidak mau, aku tidak mau mengucapkannya!!!” Alya berteriak, sementara gedung itu sudah di penuhi anak-anak iblis. Mereka tersudut dan hanya pada Ikrar Janji Alya lah mereka bisa tenang.
“Al, kita semua akan dalam bahaya.” Aditia berusaha meyakinkan wanita itu, sementara Alya masih mematung di tempatnya, perlahan dia maju kearah Begu Ganjang.
“Mengabdilah kepadaku, seperti dulu kau mengabdi kepada ayahku Harsawi Manjaya, teruslah berada di sisiku, seperti kau dulu berada di sisi Ayahku, berikanlah harta dan kekuasaan, seperti kau dulu memberikannya pada ayahku, dan aku akan memberikan imbalan kepadamu, seperti ayahku memberikannya padamu!” Alya berteriak, Aditia mematung dengan mata melotot.
“Itu bukan kata-kata yang Ayi ajarkan.” Aditia berbisik berusaha menyangkal, “Ayi menyuruhmu memerintahkan Begu Ganjang untuk mengabdi padamu, lalu pergi dari hidupmu dan hidup anak cucumu sejauh mungkin, karena kau tidak akan memberikannya tumbal seperti Ayahmu memberikan itu padanya.” Aditia masih berbisik, dia tidak dapat mencerna kenapa Alya mengucapkan kalimat berbeda. Aditia mundur ketika menyadari bahwa dia salah, dia salah mempercayai seorang wanita.
“Sudah lihat kan sekarang?” Seorang lelaki lain muncul, dia bertelanjang dada, seluruh tubuhnya tertancap kaca, dia membawa pedang yang panjangnya sama dengan tinggi dari lelaki itu, pedangnya begitu panjang dan besar.
“Malik, cepet! Harsawi bisa mati beneran kalo kita kelamaan, cepet woy!” Dokter Adi memecah ketegangan, Aditia terlihat jatuh terduduk, dia menatap Alya dengan nanar, tatapan jijik dan menghina, tapi selain itu dia sungguh kecewa, karena salah percaya.
Lelaki yang dipanggil Malik itu langsung berlari melesat, dia mendaki tubuhnya Begu Ganjang yang tinggi itu dan menancap kepala setan itu dengan pedangnya, dalam sekali tusuk, Begu Ganjang jatuh.
Malik mencabut pedangnya, lalu sesaat sebelum sempat Begu Ganjang berdiri lagi, Malik menghujam dadanya dengan pedang pusakanya.
Ctas, ctas, ctas ... Malik di serang oleh sebuah anak panah, Alya menghujani Malik dengan anak panahnya, Malik menepis semua anak panah itu dengan pedangnya.
“Anak bau kencur!” Malik lalu berlari menghampiri Alya dengan menyeret pedangnya, lalu dia mengeluarkan seekor ular dari tangannya, ular itu menghampiri Alya, Alya berlari menghindari kejaran ular itu.
Lalu Malik berlari kearah Begu Ganjang lagi, makhluk itu sudah berhasil berdiri, luka di tubuhnya membuat raut ketakutan di wajah setan yang merenggut seluruh keturunan Harsawi.
“Adit, bantu saya gotong Harsawi ke pinggir, kita perlu ‘menghidupkannya kembali’,” Dokter Adi memberi perintah, tapi Aditia masih mematung di tempatnya, dia hanya mampu melihat Alya dengan lemas, dia masih sulit mencerna semuanya, dia masih sulit menerima wanita itu adalah wanita jahanam yang dia bela mati-matian, bahkan wanita itu tanpa ragu memanah Malik yang merupakan Suami dari Ayi Pasundan, entah apa bisa Aditia bertatap muka lagi dengan Ayi setelah ini. “Adit!!! Sadar dulu! Tolong saya, nanti Harsawi beneran mati ini!” Dokter Adi terlihat kesulitan menggeret tubuh Harsawi ke pinggir arena pertarungan.
“Ma-maaf Dok.” Aditia bangkit dari rasa kaget dan bingungnya, lalu membantu Dokter Adi untuk membopong tubuh Harsawi.
Dokter Adi membuka baju Harsawi hingga dadanya terlihat, lalu menunjuk suatu benda.
“Dit, ambilin Defibilatornya.” Aditia berlari mengambil Defibilator yang ditunjuk Dokter Adi.
Defibilator adalah alat untuk menstimulasi jantung agar berdetak kembali menggunakan listrik bertegangan tinggi, dengan memberikan ransangan arus listrik pada jantung diharapkan pasien dapat melewati masa kritisnya dan jantung bisa kembali berdenyut kembali dengan teratur. Orang awam biasa menyebutnya dengan nama Alat Kejut Jantung.
Dokter Adi memang sudah siap untuk ‘menghidupkan kembali’ Harsawi, makanya dia membawa Defibilator Portable, alat yang sangat mahal. Dokter Adi memang sering memalak Malik untuk membelikannya berbagai peralatan medis, Dokter Adi selalu memilih peralatan medis yang portable atau alat medis yang bisa dibawa kemana saja karena bentuknya yang lebih kecil tapi memiliki fungsi yang mirip dengan peralatan medis biasa, tentu jauh lebih mahal harganya.
Hal ini bukan untuk keuntungannya sendiri, dia banyak membeli peralatan medis yang hampir kesemuanya portable untuk keadaan darurat, mengingat Malik dulu begitu sering terluka parah dan hampir selalu ditemukan dalam keadaan sekarat di tempat-tempat yang jauh dari Klinik, Puskesmas atau Rumah Sakit, mau tidak mau Dokter Adi harus selalu siap menolong Malik dimanapun dia ditemukan, hal ini yang menjadi alasan kenapa Dokter Adi lebih suka peralatan medis portable. Seperti Defibilator portable ini, dulu alat seperti ini lah yang membuat Malik sadar kembali ketika jantungnya berhenti, seperti keadaan pak Harsawi sekarang.
“Nyalain monitor, Pasang Paddlenya ke monitor, buat mode Manual.” Dokter Adi memerintah Aditia untuk memasan Paddle, alat utama Defibilator ini, alat yang nantinya akan disentuhkan pada dada Pak Harsawi untuk membuat efek kejut atau shock. Aditia memang sudah di latih tadi pagi pada saat sebelum bertemu dengan Pak Harsawi, rencana ini sudah disusun Ayi begitu sempurna.
Sementara Dokter Adi memompa dada Harsawi dengan kedua tangannya, dia terlihat cukup khawatir, takut kalau Harsawi mati beneran.
“Dok.” Aditia memberikan 2 Paddle Defibilator yang sudah diberikan gel kepada Dokter Adi, alat ini sudah siap digunakan.
Dokter Adi memasang satu Paddle pada Dada sebelah kanan dan satunya lagi di bagian bawah dada sebelah kiri, “Clear, satu dua tiga, Shock!” Dokter Adi memencet Shock Button atau tombol kejut yang ada di atas masing-masing paddle, bagian tubuh atas Harsawi loncat keatas karena efek kejut.
Monitor pada layar Defibilator Portable masih menunjukan kalau jantungnya masih belum berdetak kembali, Dokter Adi kembali memompa dada Harsawi, dia terus memompanya dengan ritme yang konstan agar jantungnya kembali berdenyut.
“Ganti!” Dokter Adi minta Aditia menggantikannya untuk memompa dada Harsawi, Aditia berlari dan menggantikan Dokter Adi untuk memopa dada Harsawi.
Dokter Adi menyiapkan kembali Defibilatornya, dia akan kembali mengejutkan jantung Harsawi, dia berharap ini benar-benar membuatnya jantungnya berdetak kembali, kalau tidak, Dokter Adi harus menyerahkan diri ke Polisi karena telah membunuh orang.
“Clear,” Aditia berhenti memompa dada Pak Harsawi dan menjauh. “1, 2, 3, Shock!” Bruk ... Tubuh Pak Harsawi kembali terangkat karena efek kejut itu.
Lalu Dokter Adi kembali memompa dada Pak Harsawi, setelah 20 detik, dia melihat layar monitor menunjukan bahwa jantung Harsawi sudah kembali berdetak, mereka berdua berhasil membangunkannya.
“Alhamdulillah, ternyata belum waktunya pak, belum waktunya.” Dokter Adi lemas karena kelelahan memompa dada orang jahat ini.
“Oksigen Dit, kasih oksigen.” Dokter Adi memerintah Adit kembali. Fokus mereka memang membangunkan Pak Harsawi kembali setelah tadi dibuat pura-pura mati oleh Dokter Adi, mereka tidak tau apa yang terjadi saat ini dengan Begu Ganjang, Malik dan Alya.
Begu Ganjang terlihat kewalahan menghadapi Malik, tentu saja, dia menghadapi suami dari Ayi Mahogra, suami yang dipilih sendiri oleh Ratu dari para Kharisma Jagat Tanah Pasundan.
Malik mengakhiri perkelahian mereka dengan menebas kepala begu ganjang, setelah memanjat tubuhnya yang sangat panjang itu, sementara Alya telah di lilit ular ghaib yang dilempar Malik, ular itu berukuran kecil ketika dilempar Malik, tapi begitu berhasil menangkap Alya, ular itu berubah menjadi besar dan melilit seluruh tubuh Alya, hingga Alya jatuh tersungkur dalam keadaan terlilit ular.
Begu Ganjang sudah kalah, seluruh anak setannya kabur entah kemana, Harsawi akan dibawa ke Rumah Sakit tempat dimana Dokter Adi bekerja oleh Dokter Adi.
“Aditia, Ayi memanggilmu, ikut Malik ya.” Dokter Adi mengatakannya pada Aditia, Aditia hanya mengangguk, dia tidak punya kekuatan untuk melakukan apapun saat ini.
“Lalu bagaimana dengan Alya?” Aditia bertanya, hatinya sakit karena telah dibohongi tapi dia tetap khawatir.
“Kami akan mengurusnya, sekarang kau ikut Malik ya.” Dokter Adi kembali memerintah Aditia untuk mengikuti Malik.
...
“Aditia.” Ayi menyapa Aditia, mereka sudah kembali ke Apartemen Ayi Mahogra, Ayi Mahogra sedang duduk di sofanya ketika mereka sampai.
“Sayang, apakah beberapa Kharisma Jagat sudah datang untuk sisi lain zona perang?” Malik bertanya kepada istrinya. Malik sudah kembali ke bentuk awalnya, manusia biasa. Ayi mengangguk.
“Mau makan dulu?” Ayi Mahogra menawarin makan, Aditia hanya menggeleng.
“Kenapa Ayi? Kenapa Ayi tidak mengatakannya dari awal?” Aditia bertanya. Aditia tidak sadar kalau Ayi dan Malik sedang mempersiapkan perang. Dia sibuk dengan urusannya sendiri.
“Kau akan percaya?” Ayi bertanya dia meneguk kopi hitamnya.
“Aku ... Aku .... “ Aditia menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Kau percaya aku hanya karena ayahmu, ceritanya tentang seorang Ayi dan catatan-catanannya, bukan dari hatimu, kalau aku bilang bahwa perempuan itu hatinya busuk, kau akan percaya? Kau sangat percaya padanya, aku bisa apa selain ... menunjukannya padamu.” Ayi Mahogra tersenyum.
Semua serangkaian kejadian tadi memang strategi dari wanita istimewa ini, dia yang mengatur agar semuanya berjalan sesuai yang direncanakan.
Dimulai dari Aditia meminta uang imbalan pada Harsawi yang ditransfer ke rekening Ayi Mahogra, itu ada maksudnya. Lalu dilanjutkan dengan Dokter Adi yang tiba-tiba menyuntikkan Senyawa Potasium Klorida dengan dosis yang tepat, senyawa itu lah yang membuat jantung Harsawi berhenti seketika, Dokter Adi hanya punya waktu sekitar 3 menit agar Harsawi bisa bangun lagi, karena dengan berhentinya detak jantung, maka aliran darah ikut berhenti, otak yang tidak dialiri darah dalam waktu lebih dari 5 menit akan membuat seseorang mengalami mati otak, dengan mati otak, maka Harsawi akan menjadi koma tanpa bisa memiliki kesempatan untuk bangun lagi, makanya Dokter Adi lumayan takut kalau dia tidak berhasil membangunkan Harsawi tepat waktu, maka dia pasti akan menyerahkan diri ke Polisi, tapi Tuhan masih melindungi mereka semua, Ayi merencanakan ini semua, hanya untuk membuat Aditia melihat wujud asli perempuan yang dia cintai itu.
“Orang akan menjadi buta karena cinta Adit, aku takut kau akan ditaklukan oleh perempuan itu, makanya aku memperlihatkannya padamu.”
“Lalu kenapa dia begitu? Setelah melihat ayahnya menghabisi seluruh keluarganya, seluruh saudaranya, kenapa dia mau melakukan hal yang sama.” Aditia bertanya, wajahnya masih muram, dia menahan tangis semampunya.
“Uang, kekuasaan dan hidup abadi, dia begitu ingin menguasai dunia, itu yang dia inginkan, dia memang menderita karena di kejar-kejar Begu Ganjang seumur hidupnya, tapi kamu lupa bahwa dia lahir dari rahim seorang perempuan yang memiliki ilmu hitam, ayahnya, ibunya, neneknya, nenek moyangnya, semua memiliki ilmu hitam, maka dia menjadi seperti mereka, cepat atau lambat.” Ayi menarik nafasnya, lalu melanjutkan kembali.
“Ini yang Adit harus pelajari lagi, dia dikejar-kejar oleh Begu ganjang dari semenjak remaja, sampai sudah seusianya saat ini, jika dia hanya wanita biasa dan polos hanya ingin kebebasan, dia sudah lama mati Adit, karena cuma orang yang licik yang mampu selamat dari Begu ganjang, lihat dia selamat selama ini karena apa? Karena dia sama liciknya dengan pemilik Begu Ganjang, dia yang awalnya hanya ingin lepas dari teror Begu Ganjang, setelah mengetahui rahasia ayahnya, hidup mewah dan berumur panjang, dia menjadi ngin posisi itu, maka dia membuat rencana.” Ayi menarik nafas, banyak yang dia pikirkan saat ini. Tapi dia masih mencoba membantu Aditia tanpa meminta bantuannya untuk ikut perang, karena terlalu bahaya.
“Seburuk itu kah dia?”
“Kau melihatnya, bagaimana dia menjanjikan tumbal anak cucunya jika Begu Ganjang bersedia melakukan perjanjian baru dengannya, kau masih ragu?” Ayi bertanya.
“Aku hanya .... “
“Ingin menyangkal? Aku tidak mengijinkanmu pergi dari apartemen ini sampai aku merasa kau siap, istirahat dulu, aku pastikan kau akan membaik setelah beberapa hari, setelahnya kau akan mulai kembali pada pekerjaan lamamu.”
“Ayi, apakah Alya juga yang membunuh Bude Pecel?” Aditia bertanya.
“Tidak, dia tidak terlibat, itu murni kecelakaan karena Begu Ganjang, dia tidak tahu soal itu, tapi aku yakin, kalau pun tahu, dia tidak akan terlalu perduli. Oh Iya, soal uang yang diberikan oleh Harsawi, kita akan mengembalikannya pelan-pelan, Harsawi mungkin akan lumpuh setelah bangun karena efek mati jantung sesaat itu, lalu Alya pasti butuh uang untuk melanjutkan hidup, tapi kita akan memberikannya dengan parsial, hanya kita berikan jika mereka butuh.”
“Terima Kasih Ayi.”
“Makan dulu, Ayi udah masakin ayam bakar kesukaanmu sama Malik.” Lalu Ayi berdiri menyiapkan meja makan.
Telepon genggam Aditia bunyi, dari Dita.
[Iya Dit, napa?] Aditia menjawab telepon adiknya.
[Hai Dit, apaaahhh kabarrrr.] Suara cekikikan terdengar dari sana, itu bukan suara Dita, itu suara ....
[Dita! Dita!!!] Aditia berteriak dan telepon genggamnya mati.
“Ayi, Dita dalam bahaya!” Aditia berlari keluar.
______________________________________________
Catatan Penulis :
Yang ketipu sama polosnya Alya ngacung!
yang penasaran sama Malik dan Ayi Mahogra, cuss ke Noveltoon ya, cari judulnya KARUHUN, kalian akan disuguhi cerita gila pasangan yg berdiri di dua alam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 568 Episodes
Comments
pioo
like father like son
2024-06-25
0
pioo
terlalu dibutakan cinta
2024-06-25
0
pioo
anjeng anjeng
2024-06-25
0