Setelah melalui semua rangkaian acara, mulai dari prosesi pernikahan hingga di lanjutkan dengan resepsi, Evan dan Carissa pun akhirnya bisa bernafas lega. Semuanya rangkaian acara tersebut telah selesai, sehingga pasangan pengantin baru itu sudah di perbolehkan beristirahat di kamar mereka.
Keduanya memasuki salah satu kamar hotel yang menjadi kamar pengantin mereka. Dan saat pintu kamar tersebut di buka, mata Carissa langsung membulat saat melihat suasana kamar tersebut.
Suasana di dalam kamar tampak temaram. Hanya di terangi cahaya keemasan dari lilin-lilin yang di nyalakan di hampir setiap sudut kamar. Belum lagi kelopak bunga mawar merah segar yang memenuhi sebagian lantai kamar dan juga tempat tidur. Menambah kesan romantis di dalam kamar tersebut.
Pemandangan yang di lihat Carissa saat ini sebenarnya sangat indah, tapi ekspresi wajahnya tidak menunjukkan jika dia merasa senang, justru istri Evan itu terlihat sangat kesal.
"Astaga..." Gumam Carissa syok.
"Kenapa?" Tanya Evan sambil menutup kembali pintu kamar mereka.
"Kamu yang minta kamarnya di hias seperti ini?" Carissa malah balik bertanya.
"Tidak." Jawab Evan.
Carissa menghela nafasnya dan berjalan mendekati tempat tidur.
"Mereka kurang kerjaan sekali. Kenapa juga mesti di kasih bunga seperti ini. Bagaimana aku bisa berbaring kalau tempat tidurnya penuh bunga begini." Carissa menggerutu dengan kesal.
"Padahal aku sudah sangat lelah..." Gumamnya lagi.
Evan tersenyum tipis mendengar rutukan Carissa.
"Kamu mandi saja lebih dulu. Biar aku yang membersihkan tempat tidurnya." Ujar Evan pada Carissa. Carissa pun langsung tersenyum mendengarnya.
"Oke, terima kasih." Ujar Carissa sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Evan hanya menggelengkan kepalanya sembari masih tersenyum. Entah kenapa mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Carissa selalu bisa membuat dirinya terhibur. Sepertinya Carissa memang di kirimkan Tuhan padanya agar dia tidak terus bersedih.
Evan pun mulai membersihkan kelopak bunga yang memenuhi tempat tidur dan mengumpulkannya di salah satu sudut ruangan. Tidak ada sapu ataupun alat pembersih ruangan lainnya, jadi Evan hanya bisa membersihkan kelopak bunga tersebut sebisanya saja. Yang terpenting mereka bisa beristirahat tanpa merasa risih lagi.
Tapi tiba-tiba Carissa keluar dari kamar mandi masih dengan gaun pengantinnya.
"Aku lupa membawa masuk baju gantiku." Ujar Carissa sambil membongkar kopernya.
"Astaga... Astaga..." Carissa bergumam sambil mengacak-acak isi kopernya.
Evan menautkan kedua alisnya dan mendekati istrinya.
"Astaga.... Apa ini?" Carissa terlihat agak histeris dengan mengangkat sesuatu di kedua tangannya. Tampak g-string di tangan kirinya, dan lingerie di tangan kanannya.
"Kak Clara...benar-benar..." Carissa terlihat agak geram saat menyebut nama Kakaknya itu. Clara memang yang menyiapkan koper pakaian ganti Carissa. Dan ternyata isinya tidak ada yang bisa di pakai. Semuanya hanya pakaian tipis bak jaring nelayan, juga beberapa pakaian yang kekurangan bahan.
"Kenapa?" Tanya Evan sambil menahan senyum. Melihat kedua benda yang ada di tangan Carissa, di tambah lagi ekspresi Carissa saat ini, Evan harus berjuang setengah mati agar tidak tertawa.
"Kak Clara membawakan aku pakaian ganti seperti ini. Kelihatannya dia ingin aku masuk angin." Jawab Carissa kesal.
Evan kembali mengulum senyumnya.
"Ya sudah, pakai saja." Ujar Evan memprovokasi.
"Apa?" Carissa sontak menoleh pada Evan.
"Memakai pakaian seperti ini sama saja dengan tidak memakai pakaian." Ujar Carissa.
"Kalau begitu tidak usah memakai pakaian. Bukankah ini malam pertama kita? Walaupun memakai pakaian juga nanti bakal di lepas, kan?" Tanya Evan dengan entengnya.
Sontak Carissa membeku dengan mata yang membulat sempurna. Ia menatap Evan dengan ekspresi seperti orang yang tak bisa bernafas.
"Hahaha......" Evan tak bisa lagi menahan tawanya. Lelaki itu tergelak dengan sangat kencang saat melihat wajah merah padam milik istrinya itu.
"Aku cuma bercanda. Kenapa kamu sangat serius sepeti itu?" Tanya Evan di sela tawanya.
Kemudian masih dengan tertawa kecil, Evan membuka kopernya dan memberikan satu stel pakaiannya pada Carissa.
"Ini pakai piamaku saja. Aku masih punya satu stel lagi." Ujarnya sambil masih tersenyum.
Carissa tak bergeming. Hanya matanya saja yang tampak menatap Evan.
Sumpah demi apapun. Melihat ekspresi istrinya ini benar-benar membuat perut Evan terasa kram. Wajah Carissa terlihat begitu menggemaskan hingga ingin sekali rasanya Evan tertawa sambil mencubit pipinya.
"Pakailah. Apa kamu mau tidur dengan gaun pengantin itu? Atau mau pakai pakaian yang ada di kopermu tadi?" Tanya Evan.
Mata Carissa kembali membulat. Langsung saja di sambarnya pakaian yang di sodorkan Evan dan di bawanya masuk ke kamar mandi.
Evan kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Berada dekat dengan Carissa benar-benar membuat lelaki ini begitu banyak tersenyum.
Tapi tak berapa lama kemudian, Evan di kejutkan dengan panggilan Carissa dari dalam kamar mandi.
"Evan..." Suara Carissa terdengar agak panik.
Buru-buru Evan menggedor pintu kamar mandi.
"Carissa? Kamu kenapa? Cepat buka pintunya!" Evan ikut panik karena pintu kamar mandi terkunci dari dalam.
Ceklek.
Pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Cepat-cepat Evan masuk ke dalam untuk melihat keadaan Carissa. Tampak istrinya itu berdiri di dekat wastafel sambil melihat kearahnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Evan.
"Resliting gaunku tersangkut. Aku tidak bisa membukanya..." Ujar Carissa pelan.
Kali ini Evan yang membulatkan matanya.
'Astaga, membuat kaget saja.'
Evan menghela nafasnya. Dia lega karena tidak terjadi apa-apa. Kemudian dia melangkah mendekati istrinya itu.
Mereka berdua berdiri berhadapan dengan mata yang saling menatap.
"Berbaliklah." Ujar Evan.
Carissa tertegun. Suara Evan barusan terdengar sangat lembut hingga membuat dadanya berdesir. Lalu dengan perasaan yang tak menentu, Carissa pun menuruti kata-kata Evan untuk berbalik.
Dapat Carissa rasakan tangan Evan menyentuh punggungnya untuk membantu membuka reslitingnya yang tersangkut. Carissa melihat wajah Evan yang tengah serius melihat kearah resliting gaunnya dari kaca wastafel. Wajah tampan dengan pandangan yang teduh dan menenangkan. Dan pemilik wajah itu adalah lelaki yang tadi pagi baru saja menikahinya.
Ya. Lelaki yang wajahnya sedang Carissa kagumi saat ini adalah suaminya sendiri. Rasanya Carissa masih belum bisa mempercayai jika sekarang Evan adalah suaminya. Semuanya masih terasa seperti mimpi.
Deg... Deg... Deg...
Tiba-tiba saja jantung Carissa berpacu dengan cepat, membuat nafasnya agak sedikit tersengal karena menahan debaran itu. Entah kenapa rasanya ia menjadi gugup saat berdekatan dengan Evan seperti ini.
"Sudah." Suara Evan membuyarkan isi kepala Carissa.
"Hah?"
"Resliting gaunmu sudah tidak tersangkut lagi. Sudah bisa aku buka." Ujar Evan lagi.
Sontak Carissa langsung berbalik kembali hingga membuat gaunnya agak melorot, memperlihatkam sedikit pemandangan indah untuk Evan.
"Arrghh..." Carissa sedikit terpekik sambil menutupi area dadanya.
Evan membeku sambil tak sadar menelan salivanya. Tapi sejurus kemudian dia kembali tersadar.
"Cepatlah. Setelah itu aku juga yang mandi." Buru-buru Evan keluar dan menutup pintu kamar mandi, meninggalkan Carissa yang masih terlihat syok.
Bersambung...
Eh, ternyata belum😅
Jgn lupa like, komen dan votenya sayang2ku
Happy reading❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Lin Han
ayolahhhhhh
2021-07-14
1
Nur Hidayat
lucu jga ya pasutry
2021-05-04
2
Ida Yanti
bener2 konyol sungguh bkin hatikuu baperrrr
2021-04-25
1