Evan menyingkir dari ruang perawatan Arga saat kedua orang tuanya dan sibuk membicarakan rencana pernikahan dirinya bersama Carissa.
Papa Carissa sendiri tampak tak menolak keinginan Zacky dan Sonya yang menginginkan Evan secepatnya menikah dengan Carissa, tanpa perlu ada acara pertunangan terlebih dahulu.
Bahkan Alya yang awalnya terlihat tidak terlalu senang saat mendengar pengakuan cinta Carissa pada Evan, kini tampak sudah lebih bisa menerima. Melihat suaminya baik-baik saja dan tak berkeberatan dengan hubungan Carissa dan Evan, Alya akhirnya tidak protes dengan keputusan Arga untuk menikahkan Carissa dengan Evan.
Di sisi lain, Evan yang merasa kesal melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke ruang kerjanya, dan tak menghiraukan Carissa yang tampak mengejarnya. Kali ini gadis itu sudah sangat keterlaluan. Bisa-bisanya dia mengatakan hal tak masuk akal yang membuat mereka berdua terjebak ke dalam situasi yang cukup rumit.
Mereka di kira sebagai pasangan yang saling mencintai dan akan segera di nikahkan. Ini adalah masalah serius dan tak main-main. Evan tahu jika Carissa melakukan ini semua karena tidak ingin menikah dengan calon tunangannya yang suka main perempuan itu. Tapi bukankah seharusnya Carissa meminta pendapatnya terlebih dahulu sebelum melakukan itu, bukannya malah menjalankan rencananya seorang diri dengan melibatkan Evan di dalamnya.
Evan benar-benar kesal di buatnya.
"Evan... Evan..., tunggu." Carissa mengejar Evan dengan berlari kecil.
Evan tak menghiraukan gadis itu dan terus melangkah, seolah suara Carissa hanyalah angin lalu baginya.
"Evan, aku mohon dengarkan aku dulu. Aku tidak bermaksud membuat kita jadi seperti ini. Maaf." Carissa akhirnya bisa menyusul Evan.
Lelaki itu menghentikan langkahnya dan melihat kearah Carissa dengan tatapan marah. Carissa ikut menghentikan langkahnya juga dengan nafas yang agak memburu. Sejurus kemudian ia terkesiap saat mendapat tatapan marah dari Evan. Carissa tak menyangka jika wajah yang biasanya terlihat ramah saat tersenyum itu bisa tampak sangat menakutkan.
Carissa sampai kesusahan menelan salivanya karena tercekat melihat tatapan dari Evan itu.
"Maafkan aku. Aku yang salah. Kamu pantas marah karena tindakanku tadi yang lancang melibatkanmu ke dalam masalah pribadiku." Ujar Carissa lagi sambil menundukkan wajahnya dengan sangat menyesal.
Evan masih menatap Carissa dengan tajam.
"Lalu apa? Apa permintaan maafmu itu bisa memperbaiki keadaan? Bukannya meluruskan kesalahpahaman sebelumnya, kamu malah membuat orang tua kita jadi semakin salah paham." Evan akhirnya angkat bicara.
Carissa memberanikan dirinya untuk kembali melihat kearah Evan.
"Aku tahu. Sekarang aku sungguh sangat menyesal." Lirih Carissa.
"Apa gunanya menyesal. Keadaan juga tidak akan berubah dengan hanya kamu menyesal. Sekarang apa kamu bisa mengatakan pada orang tua kita kalau tadi kamu berbohong? Tidak, kan?"
Carissa terdiam dan tak menjawab. Sejujurnya dia memang tidak berani mengakui pada kedua orang tuanya jika semua yang di katakannya tadi tidak lebih dari sekedar bualan saja. Awalnya dia hanya berniat membuat Papanya membatalkan perjodohannya dengan Jonathan.
Carissa sungguh tak menyangka jika Papanya akan langsung berpikir untuk menikahkannya dengan Evan hanya karena Carissa bilang dia mencintai lelaki itu. Semua ini di luar ekspektasinya.
"Harusnya kamu tidak melakukan ini, Carissa. Pernikahan bukanlah hal yang main-main." Suara Evan kembali terdengar. Lelaki itu berbicara sambil kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Carissa yang tampak termangu.
☆☆☆
Beberapa hari kemudian, Arga telah pulih dan di perbolehkan melakukan rawat jalan.
Mereka tak segera kembali ke tanah air karena masih harus melakukan kontrol untuk mengetahui perkembangan kondisi jantungnya.
Dan hal lain yang membuat mereka tetap berada di Singapura adalah karena rencananya Carissa akan segera melangsungkan pernikahan di sana.
Ya. Awalnya kedatangan mereka ke negara itu adalah untuk melaksanakan pertunangan Carissa dan Jonathan. Tapi Carissa malah kabur dari pertunangannya, hingga Arga mengalami serangan jantung dan harus di rawat di rumah sakit.
Tapi siapa sangka, setelah Arga berangsur pulih, Carissa kini justru akan menikah dengan seorang Dokter yang menurutnya adalah lelaki yang di cintainya. Sehingga kini mereka memilih untuk kembali setelah pernikahan Carissa selesai di gelar.
Hari-hari berikutnya, orang tua Evan dan Carissa semakin akrab. Mereka begitu antusias mempersiapkan pernikahan keduanya, di saat orang yang akan di nikahkan justru tak terlalu bersemangat.
Dan hari itu, Sonya bahkan membawa Carissa ke kediamannya untuk makan malam bersama. Tapi sebelum itu, Sonya juga mengajak Carissa untuk memasak bersamanya.
Sonya begitu senang dan bersemangat. Perempuan paruh baya itu akhirnya bisa mewujudkan mimpinya untuk memasak bersama seorang menantu. Meskipun tampaknya calon menantunya ini tidak pernah menyentuh dapur. Pasalnya tak ada satu pun bumbu yang Carissa ketahui, kecuali bawang dan cabe.
"Maaf, Tante. Bukannya membantu, aku malah merepotkan." Ujar Carissa dengan menyesal.
Sonya tersenyum.
"Tidak apa-apa. Tante senang kok kamu repotkan. Lagipula kalau kemarin-kemarin kamu sibuk di dapur, kamu pasti tidak ada waktu untuk berlatih main piano." Ujar Sonya menghibur.
Berganti Carissa yang tersenyum. Mama Evan benar-benar orang sangat menyenangkan. Sangat jauh dari image calon mertua sadis seperti yang ada di sinetron-sinetron. Beruntung sekali perempuan yang menjadi menantunya.
"Carissa, bisa antarkan ini pada Evan. Dia baru pulang. Biasanya dia selalu minum lemon tea hangat sepulang dari rumah sakit." Sonya tiba-tiba saja menyodorkan nampan berisi secangkir minuman hangat pada Carissa.
"Tante mau menyelesaikan masakan kita tadi. Kamu kasih ini ke Evan, ya." Pinta Sonya lagi.
Mau tidak mau Carissa pun menuruti kemauan Sonya. Dengan secangkir lemon tea hangat di tangannya, dia mendatangi Evan yang sibuk memberi makan ikan hiasnya di sebuah akuarium.
"Ini lemon teanya." Ujar Carissa pada Evan.
"Taruh saja di sana." Evan sambil menunjuk kearah meja kecil tanpa menoleh.
Carissa meletakkan minuman itu, lalu beranjak pergi. Tapi sejurus kemudian dia menghentikan langkah kakinya dan kembali mendekati Evan.
"Evan..." Panggil Carissa dengan agak ragu.
"Sekali lagi aku minta maaf. Sepertinya aku tidak bisa mengatakan yang sejujurnya pada kedua orang tuaku tentang kebenaran hubungan kita. Aku takut Papa akan kembali sakit."
Carissa menghentikan kata-katanya sejenak.
"Tadinya aku berniat menceritakan semuanya pada Mamamu ketika kami di dapur tadi. Tapi melihatnya tampak sangat bahagia, aku juga tidak sanggup mengatakan kebenarannya pada Mamamu. Aku takut beliau jadi kecewa dan sedih. Aku tidak tahu harus bagaimana..."
Carissa menundukkan wajahnya san menghela nafasnya dalam. Tampak dia begitu menyesal dengan situasi yang tercipta karena dirinya saat ini.
Evan masih tak bergeming dalam waktu yang cukup lama.
"Kalau begitu, kita menikah saja." Tiba-tiba suara Evan terdengar.
Carissa mengangkat wajahnya dan kembali melihat kearah Evan dengan tatapan tak percaya.
"Awalnya aku memang marah dan menyayangkan situasi ini bisa sampai terjadi. Tapi kemudian, setelah aku merenungkannya berulang kali, aku mulai bisa menerima keadaannya. Dan aku berpikir..."
Evan terdiam sesaat dan melihat kearah Carissa.
"Mungkin ini takdir."
Bersambung...
Maaf gaess, emak telat. Dari pagi ampe magrib ada pemadaman listrik, trus jaringan internet ikutan raib. Ga tau apa hubungan mereka berdua ampe bisa kompakan gitu😅
Jgn lupa likenya yak
Happy reading❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
🍒 rizkia Nurul hikmah 🍒
setelah gituan" pasti kalian bkl cinta
2022-04-01
1
Dik Yude
😆😆😆
2021-07-02
1
Nenk Fatmah Nenk Fatmah
iiiihhhh cerita outhor emang top markotop drch,makin jatuh cinta aku sma karyamu😘😘😘
2021-04-25
1