"Permisi, Nyonya." Perawat yang datang bersama Evan menginterupsi Alya yang hendak kembali menampar Carissa di pipi satunya lagi.
Alya langsung menarik tangannya kembali dan melihat ke arah Evan dan perawat itu dengan agak salah tingkah. Sedangkan Carissa buru-buru menoleh ke arah lain sambil berusaha menutupi pipinya yang merah karena tamparan sang mama.
Evan yang belum menyadari jika gadis yang berdiri tak jauh darinya adalah Carissa, berusaha untuk tidak terganggu dengan insiden yang barusan tak sengaja dilihatnya. Dia tampak bersikap profesional. Hal yang selalu dilakukannya saat berada di rumah sakit.
"Nyonya, Ini adalah Dokter Spesialis Jantung yang direkomendasikan oleh pihak rumah sakit untuk menangani Tuan Arga. Namanya Dokter Evan." Perawat tadi tampak memperkenalkan Evan pada Alya.
Alya tampak mengangguk dengan agak gugup. Rupanya Alya merasa tidak enak pada Evan karena kedapatan berselisih dengan putrinya saat menjaga suaminya yang masih belum sadarkan diri.
"Saya akan melakukan pemeriksaan fisik terlebih dahulu pada Tuan Arga," ujar Evan.
Alya mempersilahkan.
Evan pun melangkah mendekati brangkar Arga, dan melewati Carissa yang bediri membelakanginya.
Carissa terkesiap. Suara dokter yang menangani Papanya itu terdengar familiar. Secara spontan Carissa membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah dokter itu yang ternyata saat ini justru sedang membelakanginya karena sedang melakukan pemeriksaan pada papanya.
Dokter itu tampak begitu serius dan teliti melakukan tugasnya. Dan beberapa saat kemudian, dokter itu pun selesai. Karena merasa penasaran, Carissa tampak tak sabar menunggu dokter itu membalikkan badannya.
"Berdasarkan pemeriksaan secara fisik, saat ini jantung Tuan Arga sudah dalam keadaan baik. Dan untuk lebih memastikan, kita akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk Tuan Arga setelah beliau tersadar. Sejauh ini, kondisi Tuan Arga bisa di katakan stabil," ujar Evan memberi penjelasan pada Alya yang saat ini sudah berada di dekat brangkar suaminya. Posisi tubuhnya masih setia membelakangi Carissa yang terus mengamatinya.
"Syukurlah ...." Alya bergumam lega.
"Saya permisi dulu, Nyonya. Nanti setelah Tuan Arga siuman, saya akan kembali memeriksa Tuan Arga, dan akan langsung dilakukan pemeriksaan lanjutan." Evan pamit undur diri.
Alya mengangguk.
"Terima kasih, Dokter," ujar Alya.
Berganti Evan yang mengangguk.
Evan membalik badannya dan hendak melangkah pergi. Tapi kemudian pandangannya bersirobok pada tatapan gadis yang sebelumnya tadi berdiri membelakanginya. Carissa.
Evan terdiam sesaat, begitu pula dengan Carissa. Untuk beberapa detik mereka saling pandang seolah waktu ikut berhenti berputar. Tanpa suara, hanya mata yang seakan terlihat saling menyapa.
"Evan?"
"Carissa?"
Keduanya berguman hampir bersamaan, membuat perawat dan Alya yang juga ada di sana agak sedikit terkejut.
Kedua orang ini saling kenal?
"Ka-kamu seorang Dokter?" tanya Carissa seakan tak percaya dengan siapa yang di lihatnya saat ini. Lelaki melow yang terlihat hampir menangis saat pernikahan Aaron dan Zaya, benarkah dia Dokter Spesialis Jantung terbaik yang direkomendasikan untuk menangani penyakit papanya?
"Tuan Arga orang tuamu?" Evan malah balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan dari Carissa.
Carissa mengangguk.
"Iya, beliau Papaku. Dan ini Mamaku," jawab Carissa sambil mendekati Alya yang tampak masih terlihat bingung.
"Saya kenalan Carissa, Nyonya. Sebelumnya kami pernah bertemu dan berkenalan secara tidak sengaja. Saya tidak menyangka akan kembali bertemu dengan Carissa di sini," ujar Evan sambil tersenyum ke arah Alya.
Alya tampak tersenyum juga menanggapi Evan. Lalu setelah Evan undur diri, Alya kembali melihat ke arah Carissa dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
"Jangan bilang karena dokter tadi kamu lari dari pertunanganmu," ujar Alya pada Carissa.
"Hah?" Carissa tampak terkejut sekaligus bingung mendengar kata-kata Alya.
"Saat ini Mama tidak akan membahasnya lebih lanjut, Carissa. Tapi saat Papamu sudah sadar nanti, Mama harap kamu bisa berpikir dengan lebih masuk akal. Turuti apa yang diinginkan Papamu, jika kamu ingin Papamu kembali sehat," pinta Alya dengan tajam.
Carissa tak menjawab. Dia terdiam sambil melihat ke arah papanya yang terbaring lemah dengan sedih. Entah apa yang yang harus di lakukannya setelah ini. Yang jelas, Carissa tidak akan membiarkan nyawa papanya kembali terancam.
☆☆☆
Carissa duduk di sebuah bangku taman rumah sakit sambil memandang ke arah depan dengan tatapan yang agak sedikit menerawang.
Ia bimbang.
Carissa sangat tidak ingin menikah dengan calon tunangannya saat ini. Jonathan, pemuda berdarah campuran itu memang terlihat nyaris sempurna. Dia tampan dan punya segalanya. Tapi fakta yang baru-baru ini diketahui Carissa, membuat Carissa sangat muak pada pemuda itu.
Jonathan ternyata adalah seorang playboy yang sangat suka bermain perempuan. Dia bahkan pernah menghamili beberapa gadis dan menyuruh para gadis malang itu untuk melakukan aborsi dengan iming-iming sejumlah uang sebagai kompensasi.
Tak ada yang sampai menuntut Jonathan. Tapi hal itu tentu tak serta-merta membuatnya lepas dari predikat lelaki brengsek versi Carissa. Carissa sangat tidak menyukai lelaki yang suka main perempuan. Itulah sebabnya ia membatalkan pertunangannya secara sepihak dan melarikan diri semalam.
Tapi jika hal itu sampai membuat nyawa papanya terancam, haruskah Carissa menyerah dan mengorbankan dirinya untuk menjadi istri dari lelaki yang sangat ia benci demi kesehatan sang papa?
Carissa menghela nafasnya karena merasakan dadanya sedikit sesak. Tapi tiba-tiba Carissa dikejutkan dengan seseorang yang menyodorkannya sebotol minuman padanya.
Carissa mendongakkan wajahnya untuk melihat sosok baik hati itu. Dan ternyata orang itu adalah Evan. Tampak Evan sedang menunggu Carissa menerima minuman yang disodorkannya, dengan tangan yang satunya membawa minuman untuk dirinya sendiri.
Carissa tersenyum tipis, lalu menerima minuman yang disodorkan lelaki itu.
"Terima kasih," ujar Carissa sambil membuka tutup botol minuman itu dan menenggak isinya.
Evan menghenyakkan tubuhnya di samping Carissa, lalu meminum juga minumannya.
"Papamu akan baik-baik saja. Tidak usah terlalu dipikirkan," ujar Evan tampak ingin menghibur.
Carissa menghela nafasnya sekali lagi.
"Aku tahu. Saat ini aku justru sedang memikirkan nasibku sendiri," desah Carissa.
Evan menautkan kedua alisnya.
"Kalau nanti Papaku sadar dan tetap menginginkan aku menikah dengan lelaki berengsek itu, tamat sudah riwayatku. Sudah dipastikan jika hidupku akan seperti berada di neraka," gumamnya dengan nada putus asa.
Evan tersenyum tipis melihat ekspresi Carissa saat ini. Entah kenapa gadis di sampingnya ini selalu saja berhasil membuatnya mengulas sebuah senyuman.
"Sepertinya kamu sangat membenci calon suami yang dipilihkan orang tuamu. Memangnya kriteria calon suami idamanmu itu seperti apa?" tanya Evan.
Carissa tampak terdiam sesaat.
"Sebenarnya aku tidak menginginkan yang muluk-muluk. Dia bisa memberiku makan tiga kali sehari saja sudah cukup, asalkan dia lelaki setia," jawab Carissa.
Evan kembali tersenyum. Kali ini bahkan lebih lebar dari sebelumnya. Ia tak menyangka jika sosok Carissa ternyata sesederhana itu.
"Berarti aku masuk ke dalam kriteriamu," ujar Evan.
Carissa menoleh dan melihat ke arah Evan dengan penuh tanda tanya.
"Aku setia, dan meskipun aku bukan seorang crazy rich, rasanya aku masih bisa memberimu makan tiga kali sehari," ujar Evan lagi.
Carissa terdiam sesaat sembari masih melihat ke arah Evan. Tapi sejurus kemudian ia terkekeh.
"Benar. Kamu masuk ke dalam kriteria suami idamanku," sahut Carissa di sela kekehannya.
"Kalau begitu mungkin kamu harus mempertimbangkan untuk menikah denganku saja. Kita sudah bertemu tiga kali secara tidak sengaja. Dan menurut yang sudah kamu katakan sebelumnya, bukankah itu berarti ..." Evan tak langsung menyelesaikan kalimatnya hingga membuat Carissa menatap semakin lekat ke arahnya karena merasa penasaran.
"Kita jodoh," lanjut Evan akhirnya.
Mata carissa membeliak seketika.
Eh?
Bersambung ....
Tetep like, koment dan vote ya
Happy reading❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
LENY
EVAN JG KAYA DIREKTUR RUMAH SAKIT DAN SETIA SDH PASTI😊
2025-02-10
0
LENY
ORANG TUA CARISSA MATRE KAYAK NYA
2025-02-10
0
zha syalfa
Eh ciee. ciyee... chiyeee..... beneran nih bang Evan?? 😆
2021-08-17
1