Sejak hari itu, Zaya menjelma menjadi seseorang yang sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan Evan. Gadis kecil bertubuh mungil itu mampu mengalihkan kesedihan yang Evan rasakan hanya dengan senyuman.
Setiap kali melihat wajah ceria Zaya, Evan seakan mendapatkan obat untuk luka hatinya yang begitu menyakitkan. Perlahan Zaya menjadi sosok yang sangat berarti bagi Evan. Zaya seakan menjadi arah baru bagi bocah lelaki itu. Karena celotehan polos Zaya, Evan bisa kembali tersenyum dan melupakan kemalangan yang dialaminya, hingga Evan bisa kembali bersekolah dan melanjutkan hidupnya lagi dengan normal seperti anak-anak lainnya.
Semakin lama, Zaya dan Evan semakin dekat satu sama lain. Bahkan Evan punya panggilan sendiri untuk gadis kecil itu. Dee. Panggilan yang diambil Evan dari nama belakang Zaya, Diandra. Dan Zaya sendiri sangat suka dengan nama panggilan yang diberikan Evan padanya.
Hari-hari selanjutnya, mereka semakin lengket. Di mana ada Zaya, hampir bisa dipastikan jika ada Evan juga di sana. Kedua bocah ini banyak menghabiskan waktu bersama. Entah itu belajar atau pun bermain. Evan juga seringkali bertindak sebagai malaikat pelindung Zaya, yang tak akan tinggal diam jika ada yang mengganggu gadis kecil itu.
Hingga akhirnya tak hanya Evan yang mulai merasakan ketergantungan untuk selalu berada di dekat Zaya, Zaya pun perlahan merasakan hal yang sama. Jika Evan membutuhkan Zaya agar bisa melupakan kesedihannya, maka Zaya juga membutuhkan Evan agar dia tidak dibuli teman-temannya lagi.
Evan juga seringkali membantu Zaya yang saat itu baru mulai bersekolah untuk belajar membaca, hingga belajar menuliskan namanya sendiri. Tapi lucunya, nama yang pertama kali berhasil Zaya buat dengan benar justru adalah nama Evan, bukan namanya sendiri.
Dan siapa yang tahu jika itu adalah salah satu momen yang akhirnya membuat Evan tak bisa berpaling dari Zaya hingga dia dewasa.
Siang itu, Evan baru pulang dari sekolah. Seperti biasa, Evan pergi ke tempat dia dan Zaya biasa belajar ataupun bermain dengan membawa serta buku tugasnya. Tampaknya bocah ini akan mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan gurunya di sekolahnya tadi.
"Kak Evan, Dee sudah pulang." Tiba-tiba Evan di kejutkan dengan suara Zaya saat tengah mengerjakan pekerjaan rumahnya.
Evan mendongak. Dia sedikit terkesiap. Hari ini penampilan Zaya agak berbeda dari biasanya. Gadis kecil itu mengenakan gaun anak-anak serta memakai pita di kepalanya.
Terlihat semakin manis dengan senyuman yang tersungging di wajahnya yang menggemaskan.
Hari ini Zaya memang tidak pergi ke sekolah karena diajak oleh Ibu pengurus panti untuk menghadiri pernikahan putri kerabatnya. Dan tampaknya sekarang dia baru kembali dari acara pernikahan itu.
"Dee bawa kue buat Kakak," ujar Zaya sambil menyodorkan kotak snack yang dibawanya dari acara pernikahan tadi.
Evan yang sebelumnya tertegun, kembali tersadar dan melihat ke arah kotak snack yang disodorkan Zaya. Evan menerima kotak itu dan membukanya. Ada dua potong kue di dalamnya.
"Ini untuk Kakak?" tanya Evan.
Zaya mengangguk mengiyakan.
"Apa Dee sudah makan kue ini di sana?" tanya Evan lagi.
Kali ini Zaya menggeleng dengan polosnya.
Evan tersenyum sambil meletakkan menutup kotal snack itu. Lalu dia menyuruh Zaya untuk duduk di dekatnya.
Gadis kecil itu pun menurut dan mendudukkan dirinya di dekat Evan. Tapi kali ini dia bergerak lebih anggun dari biasanya karena takut jika gaun pesta yang dikenakannya hari ini rusak atau pun kotor. Maklum saja, itu adalah pakaian bagus satu-satunya yang Zaya punya. Jadi dia tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan pada pakaian kesayangannya ini.
Evan mengulum senyumnya saat melihat gaya duduk Zaya hari ini. Gadis kecil itu duduk dengan anggun layaknya seorang tuan putri.
"Kalau Dee juga belum makan, kenapa kuenya Dee kasih ke Kak Evan?" tanya Evan kemudian.
Zaya tampak terdiam sesaat.
"Soalnya, kan, Kak Evan juga sering begitu. Makanan punya Kak Evan sering Kakak kasih sama Dee, padahal Kakak juga belum makan," jawab Zaya akhirnya dengan nada lirih. Tampaknya saat ini gadis kecil itu sedang ingin membalas apa yang selama ini Evan lakukan untuknya.
Evan tersenyum dan menatap sosok pelipur lara di hadapannya ini dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
"Tapi itu karena Kakak masih kenyang dan Kakak sedang tidak ingin makan makanan itu," bohong Evan.
"Memangnya sekarang Dee sedang tidak mau makan kuenya?" tanya Evan.
Zaya terdiam sambil melihat kearah Evan.
"Sebenarnya ... Dee mau," jawab Gadis kecil itu akhirnya sambil masih melihat ke arah Evan dengan mata jernihnya.
Evan akhirnya tak bisa menahan diri lagi untuk tidak terkekeh. Bocah lelaki itu tertawa kecil sembari menyodorkan kembali kotak snack yang tadi diberikan Zaya padanya.
"Ini. Dee saja yang makan kalau begitu," ujar Evan.
Zaya melihat ke arah kotak itu dan wajah Evan secara bergantian.
Melihat Zaya yang tampak ragu, Evan pun membuka kotak itu kembali dan mengambil isinya, lalu di suapinya ke mulut Zaya. Mau tidak mau Zaya menerima suapan dari Evan. Kue berukuran tidak terlalu besar itu masuk ke dalam mulutnya dalam satu suapan hingga pipinya membulat.
Evan tertawa semakin keras saat melihat wajah Zaya yang tampak semakin menggemaskan. Lalu karena tidak terima ditertawakan, Zaya pun mengambil potongan kue yang satunya dan memasukkannya juga ke dalam mulut Evan yang terbuka karena tertawa.
Mulut Evan juga penuh dengan pipi membulat, seperti Zaya sebelumnya.
Kini berganti Zaya yang tertawa terbahak-bahak melihat wajah Evan. Meraka berdua akhirnya saling menertawakan dengan mulut terisi kue. Untung saja kedua bocah ini tidak ada yang sampai tersedak.
Beberapa saat kemudian, tawa keduanya mereda, seiring dengan mulut mereka yang kembali kosong.
"Kak Evan, tadi pengantin perempuannya cantik sekali. Dia pakai gaun pengantin warna putih. Gaunnya panjang ... sampai ke lantai. Terus dia bawa bunga. Terus di kepalanya ada mahkota kecil seperti tuan putri. Dee suka ... Kalau sudah besar nanti, Dee juga mau jadi pengantin cantik seperti itu," Ujar Zaya kemudian.
Evan menoleh ke arah Zaya yang tampak sedang tersenyum.
"Memangnya kalau sudah besar Dee mau menikah sama siapa?" tanya Evan.
"Sama Kak Evan," jawab Zaya dengan entengnya.
"Sama Kakak?" tanya Evan lagi. Siapa yang tahu jika saat ini dia menjadi agak gugup karena tiba-tiba merasakan perasaan aneh yang tidak dipahaminya.
"Iya. Kalau sudah besar nanti Dee mau jadi pengantinnya sama Kak Evan saja. Soalnya Kakak baik sama Dee. Kakak tidak pernah mengganggu Dee seperti teman-teman Dee yang lain."
Jelas terdengar jika yang dikatakan Zaya hanyalah celotehan anak kecil. Tapi entah kenapa celotehan itu justru sangat membekas di hati Evan seolah yang di katakan Zaya adalah sebuah sumpah.
"Apa Dee mau berjanji jika sudah besar nanti Dee hanya akan menikah dengan Kakak?" tanya Evan pada Zaya dengan raut serius.
Zaya mengangguk dengan cepat.
"Dee janji," jawabnya tanpa ragu
Gadis kecil itu kembali tersenyum senang sambil melihat kearah Evan. Dia tidak menyadari jika kata-kata remeh yang diucapkannya tadi punya pengaruh yang begitu besar pada bocah lelaki di hadapannya ini, hingga mengikat hati bocah itu sampai dia dewasa.
Dan rasa cinta yang tak berujung itu pun di mulai hari itu.
Bersambung ....
Tengkyu buat yang udah ngikutin sampe kesini, cium duyu semuanya😙😙😙
Happy reading❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
LENY
YA SAMPE EVAN DEWASA DAN SDH JD DOKTER SPESIALIS JANTUNG DIA CINTA DEE SAYANG PAS KETEMU DEE SDH MENIKAH DGN AARON DAN PUNYA ANAK🙏
2025-02-09
0
Nona Cherry Jo
sedih😭😭
2022-03-07
0
Kaira Caem
aku punya pirasat,klo yg nolongin Evan itu adalah ayah Carissa,jdi ketika dewasa mereka bertemu Evan di jodohkan dengan anaknya yaitu Carissa.
2021-12-30
0