Carissa dan Evan saling menatap untuk waktu yang agak lama, sebelumnya akhirnya keduanya sama-sama melihat kearah lain karena mulai merasa salah tingkah.
"Eh, iya, minum lemon teanya dulu." Carissa mencoba mengatasi rasa canggungnya dan meraih cangkir yang tadi di letakannya di atas nakas. Tapi tanpa di duga, Evan juga ternyata beranjak dari duduknya, hingga minuman di tangan Carissa mengenai dada lelaki itu dan tumpah.
"Astaga!!" Carissa dan Evan terkejut bersamaan. Dada Evan jadi basah karena terkena tumpahan lemon tea. Untung saja minuman tersebut suhunya sudah tidak terlalu tinggi, hingga kulit Evan tidak melepuh.
"Maaf..maaf..." Carissa berusaha untuk membantu Evan mengeringkan t-shirt yang di kenakannya dengan mengibaskan tangannya di dada Evan sebisa mungkin.
Evan yang merasa agak tidak nyaman dengan tumpahan lemon tea itu langsung saja membuka bajunya yang basah.
Carissa sedikit melebarkan matanya melihat apa yang Evan lakukan. Lelaki itu kini tak lagi mengenakan pakaian di tubuh bagian atasnya, memperlihatkan dada liat berotot dengan kulit yang putih bersih di depan mata Carissa.
Carissa tertegun dan tanpa sadar menelan salivanya.
Kemudian Carissa menaikkan pandangannya dan melihat kembali kearah Evan. Pandangan mereka bertemu untuk ke sekian kalinya. Tapi kali ini tentu saja dengan debaran yang agak berbeda.
"Kenapa?" Tanya Evan saat melihat ekspresi Carissa yang terlihat seperti sedang kesulitan bernafas.
Carissa menggelengkan kepalanya cepat.
"Ti-tidak..tidak ada." Ujar Carissa gugup.
"Disana ada tisu." Evan menunjuk kearah meja di sudut kamar.
Cepat-cepat Carissa mengambil tisu yang di maksud Evan dan berniat memberikannya pada lelaki itu. Tapi karena terlalu gugup, Carissa tersandung kakinya sendiri dan kembali menubruk tubuh Evan untuk kedua kalinya.
Brukkk!!!
"Arrgghh!" Carissa agak terpekik.
Keduanya mendarat di atas sofa dengan posisi Evan kembali berada di bawah dan Carissa berada di atas.
Carissa dan Evan sama-sama membeku dengan mata yang juga sama-sama melebar. Dapat Evan rasakan dada Carissa berdegup dengan kencang, seakan baru saja melakukan lari marathon.
Carissa agak menahan beban tubuhnya dengan kedua telapak tangannya bertumpu pada dada telanjang Evan. Kulit mereka saling bersentuhan hingga membuat keduanya merasakan gelenyar aneh yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.
Keduanya saling menatap sambil masih setia dengan posisi erotis itu.
"Evan! Carissa! Apa yang kalian lakukan??" Suara Sonya yang lantang mengejutkan keduanya. Sontak Evan dan Carissa langsung bangkit dan menjadi semakin salah tingkah saat menyadari Mama Evan tiba-tiba sudah berada di ambang pintu.
Sonya langsung mendekati keduanya dan menyeret Evan menjauh dari Carissa.
"Jadi ini yang kalian lakukan di rumah sakit tempo hari? Pantas saja kalau Papamu bersikeras ingin kamu segera menikahi Carissa." Ujar Sonya marah.
"Tante...ini tidak seperti kelihatannya. Kami tidak sengaja..."
"Tempo hari kalian juga bilang tidak sengaja seperti itu. Apa nanti kalau kamu sampai hamil, masih mau bilang tidak sengaja?" Sonya menjawab Carissa sebelum Carissa sempat menyelesaikan kalimatnya.
Carissa terdiam dengan mata membulat.
"Ma, tadi aku terkena tumpahan lemon tea, jadi bajuku aku lepas karena basah." Evan juga berusaha untuk menjelaskan.
"Lalu yang kalian lakukan di atas sofa tadi itu apa, hah? Sudah tertangkap basah, masih saja mau mengelak." Gerutu Sonya.
"Carissa, ayo turun. Tante hanya menyuruhmu untuk mengantarkan lemon tea, kamu malah melemparkan diri ke kandang harimau seperti ini."
Carissa membeliakkan matanya. Sungguh malu rasanya kembali di salah pahami seperti ini, tapi dia tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa agar Mama Evan tidak salah paham lagi.
Yang bisa di lakukannya saat ini hanyalah berjalan mengikuti Sonya keluar dari kamar Evan dengan wajah memerah karena menahan malu.
"Tadinya Tante meragukan cerita Papa Evan yang mengatakan kalian melakukan hal tidak senonoh di rumah sakit, bahkan saat beberapa dokter juga ikut membenarkan cerita tersebut. Tapi sekarang Tante malah memergoki sendiri kelakuan kalian. Kalian benar-benar keterlaluan. Bukankah sebentar lagi kalian juga akan menikah? Masa menahan sedikit saja tidak bisa?" Sonya masih mengocehi Carissa dalam perjalanan menuju ruang makan.
"Maaf..." Hanya itu yang bisa Carissa katakan pada Sonya. Padahal dengan mengatakan itu sama saja dengan ia mengakui apa yang Sonya tuduhkan padanya. Tapi Carissa bisa apa. Melihat dari kejadian yang sebelumnya, percuma saja menjelaskan karena ia akan tetap di anggap berbohong.
"Duduklah." Sonya menyuruh Carissa duduk di sofa yang terletak di ruang keluarga, tak jauh dari meja makan.
Carissa pun hanya bisa menuruti kata-kata Sonya tanpa membantah.
"Dengarkan Tante baik-baik, Carissa. Tante mengatakan ini bukan karena Tante membencimu, melainkan karena Tante sangat menyukaimu dan menganggap kamu adalah putri Tante sendiri." Sonya mendudukkan dirinya juga di sebelah Carissa.
"Tidak peduli sebesar apa rasa sayang dan cintamu terhadap seorang lelaki, jangan pernah menyerahkan tubuhmu padanya jika dia belum resmi menjadi suamimu." Ujar Sonya lagi dengan tegas.
"Iya...tentu saja." Jawab Carissa pelan.
"Tante sangat ingin kamu menjadi menantu Tante dan mempunyai cucu darimu. Tapi tentu Tante tidak mau jika kamu sampai hamil lebih dulu sebelum menikah. Itu pasti akan mencoreng nama baik keluarga kita. Orang tuamu juga pasti tidak menginginkan hal itu sampai terjadi."
Carissa hanya bisa memejamkan matanya mendengar ocehan Sonya. Sungguh sangat menyakitkan mendengar tuduhan Mama Evan itu. Selama ini Carissa adalah gadis yang tak pernah tersentuh lelaki manapun. Dan sekarang dia sudah dua kali di salahpahami seperti ini. Hanya Tuhan saja yang tahu seperti apa rasanya. Tapi sekali lagi, dia tak berdaya untuk membela diri hingga tak bisa melakukan apa-apa selain menerima tuduhan kejam tersebut.
"Apa jangan-jangan Evan memberimu alat kontrasepsi agar kalian bebas melakukan hal itu tanpa khawatir kamu akan hamil?" Tiba-tiba saja Sonya kembali bertanya dengan kalimat paling ajaib yang pernah Carissa dengar.
"A-apa?" Carissa membeliakkan matanya.
"Ti-tidak, Tante. Tentu saja tidak." Carissa menggeleng cepat.
"Alat kontrasepsi apa?" Suara Zacky tiba-tiba saja menginterupsi.
Carissa dan Sonya menoleh kearah sumber suara itu secara bersamaan. Tampak Zacky telah berdiri tak jauh dari mereka bersamaan dengan Evan yang juga baru turun dari kamarnya.
Bebarapa saat kemudian, mereka semua telah duduk di meja makan dengan penuh ketegangan. Sebelumnya Sonya telah menceritakan kelakuan Evan dan Carissa yang di lihatnya tadi, tentu saja dengan cerita versi dirinya, tanpa memberi kesempatan Evan dan Carissa untuk menyanggah.
Dan setelah cerita selesai, aura tegang langsung menyelimuti mereka semua. Hal itu di karenakan raut wajah Zacky yang menjadi sangat tidak terbaca.
Tapi kemudian Zacky tampak mengeluarkan ponselnya dan menelfon seseorang.
"Tuan Arga..."
Carissa langsung membulatkan matanya saat mengetahui Papa Evan sedang menelfon Papanya. Entah apa yang akan terjadi kali ini, Carissa harap Papanya tidak akan terlalu syok mendengar apa yang akan di sampaikan oleh Papa Evan.
"Tampaknya kita harus mempercepat pernikahan putra-putri kita. Mereka sudah sangat bersemangat dan tidak bisa menahan diri lagi..."
Bersambung...
Emak sebenernya kasihan, tapi seneng😅
Tetap like, koment dan vote
Happy reading❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
LENY
AMPUN LAGIAN ANEH JUGA 2 KALI TERJATUH DAN SALAH PAHAM ADUH DASAR NOVEL 🙈😂. LAGIAN NGOBROL NYA DI KAMAR MEMANG GAK ADA RUANG LAIN YG SEPI GAK HRS KAMAR TIDUR. JAN RMH ORANG KAYA PASTI BESAR LAH RMH NYA.
2025-02-10
0
Indah Sulistiani
🤣🤣🤣🤣
2023-01-02
0
dalla.dalla
somplak lah ortunya, yg SEMANGAT itu bukan nya para orang tua ya 😂😂😂😂😂😂
2022-11-04
0