Evan sedikit menyingkir dari hingar bingar pesta. Setelah tadi dia berhasil mengucapkan selamat kepada Zaya tanpa menimbulkan drama apapun, Evan berniat untuk langsung pergi dari tempat itu.
Tapi kemudian langkah Evan terhenti kala Aaron, lelaki yang kini telah resmi menjadi suami Zaya lagi, naik ke atas panggung dan menyanyikan sebuah lagu romantis untuk sang istri. Suaranya ternyata sangat merdu hingga membuat hampir semua undangan yang ada di sana ikut tenggelam ke dalam lagu yang dia nyanyikan.
Evan melihat ke arah Zaya. Tampak ia begitu terharu mendengar nyanyian dari pujaan hatinya itu. Perempuan itu tersenyum sambil sesekali menyeka airmatanya yang jatuh.
Kemudian, keromantisan itu berlanjut dengan pernyataan cinta Aaron pada Zaya yang membuat para undangan bersorak-sorai. Semua orang yang hadir seakan ikut merasakan kebahagiaan yang di rasakan oleh kedua mempelai. Zaya memeluk Aaron erat, dibalas dengan sama eratnya oleh lelaki itu. Keduanya terlihat begitu saling mencintai satu sama lain.
Evan menurunkan pandangannya. Entah kenapa, hatinya masih saja tidak bisa menerima apa yang dilihatnya saat ini. Seandainya dua puluh dua tahun lalu dia tidak pergi meninggalkan gadis kecil pelipur laranya itu, pasti saat ini dialah yang menjadi pendamping hidup Zaya. Tapi waktu tidak bisa diulang. Apa yang telah terjadi tak bisa diubah lagi. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan Evan saat ini hanyalah merelakan sosok pelipur laranya itu. Meski itu sangat sulit dan menyakitkan.
Evan hanya berharap Zaya akan mendapatkan kebahagiaannya kali ini.
"Ternyata yang patah hati di sini tidak hanya aku saja." Suara seorang perempuan tiba-tiba membuyarkan lamunan Evan. Evan menoleh ke arah sumber suara itu. Dan tampaklah seorang gadis cantik tengah berdiri di sampingnya sambil menikmati segelas minuman.
Gadis itu melihat ke arah panggung yang tengah menampilkan pertunjukan keromantisan Zaya dan Aaron, sambil tersenyum penuh ironi. Ia menghela nafas dalam sebelum akhirnya menoleh ke arah Evan yang juga melihat ke arahnya.
Gadis cantik itu kembali tersenyum. Lalu menyesap gelas minuman di tangannya dengan anggun. Jelas terlihat jika gadis ini berasal dari keluarga kelas atas.
"Pegorbanan dan penantian selama bertahun-tahun, akhirnya hanya untuk menyaksikan dia bersanding dengan perempuan lain," Ujar gadis itu lagi sambil kembali melihat ke arah Aaron yang ada di kejauhan.
Evan bergeming dan tak menanggapi, tapi dia tampak mendengarkan.
"Aku bahkan seringkali berkaca di cermin besar untuk melihat bagian mana dari diriku yang tampak buruk, sehingga dia tidak mau sedikit saja melihat ke arahku meski dalam keadaan terpuruk sekalipun. Dan rasa-rasanya, aku ini lumayan juga, tidak terlalu mengecewakan," tambah gadis cantik itu lagi sambil sedikit tertawa. Lagi-lagi tawa yang penuh dengan ironi.
Tanpa sadar Evan tersenyum mendengar penuturan gadis di sampingnya ini. Biasanya gadis dari golongan atas sangat mempedulikan reputasinya hingga tidak akan mengatakan hal-hal pribadi dengan begitu gamblang, terutama pada orang asing. Sangat jarang Evan menemui yang berani jujur akan perasaannya seperti yang dilakukan gadis di hadapannya saat ini.
Kemudian gadis itu kembali terdiam dan menghela nafasnya sekali lagi. Sangat terlihat jika dia sedang mengendalikan sebuah emosi yang tak tertahankan. Seperti yang sedang Evan lakukan sejak tadi.
"Tapi yang namanya perasaan tidak bisa dipaksakan. Semakin dipaksakan, justru akan semakin terasa menyakitkan." Suara gadis itu terdengar lagi, meski kali ini agak lirih.
Evan kembali melihat ke arah gadis itu. tampak wajah cantiknya diselimuti dengan kesedihan yang dalam. Agaknya situasi gadis ini tidak berbeda jauh dari situasi yang tengah Evan hadapi sekarang. Mungkin karena merasa sependeritaan, Evan pun bersimpati pada gadis di hadapannya ini.
"Sejak kapan?" tanya Evan kemudian.
Gadis itu menoleh sekali lagi ke arah Evan dengan penuh tanda tanya.
"Sejak kapan Nona jatuh cinta pada Tuan Aaron? Kalau boleh saya tahu," ulang Evan lagi.
Gadis itu terdiam sebentar.
"Sejak aku masih seorang gadis kecil. Sekitar tujuh belas tahun yang lalu " jawab gadis itu akhirnya.
"Kalau Tuan sendiri?" tanya gadis itu juga.
Evan terdiam dan teringat saat dia pertama datang ke panti dan bertemu Zaya. Lalu dia juga teringat ketika Zaya berjanji akan menikah dengannya, saat itulah Evan merasakan perasaan asing yang selalu ada di hatinya hingga saat ini.
Evan jatuh cinta pada gadis kecil pelipur laranya sejak saat itu.
"Saya jatuh cinta dengannya sejak lebih dari dua puluh dua tahun yang lalu ...," jawab Evan akhirnya dengan mata yang agak menerawang.
Tampak gadis di hadapannya tadi tertegun untuk beberapa saat ketika mendengar Evan. Lalu mereka berdua kembali menghela nafas secara bersamaan.
"Dan ternyata kita telah menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia," gumam gadis itu kemudian sambil kembali tertawa dengan penuh ironi, hingga Evan pun tanpa sadar juga ikut tersenyum.
Entah kenapa, berbicara dengan orang yang juga merasakan hal sama seperti yang di rasakan Evan saat ini, membuat hati Evan terasa jauh lebih baik daripada sebelumnya, seolah batu besar yang sedang menimpa hatinya saat ini sedikit terangkat.
"Entah sudah berapa banyak lelaki yang aku tolak karena aku tak bisa berpaling dari Aaron. Bahkan beberapa di antaranya adalah orang-orang hebat. Jika mereka tahu Aaron tetap tidak memandangku sampai akhir, mungkin mereka semua akan menertawakanku, mengingat betapa gigihnya aku saat itu."
"Lalu Anda sendiri, Tuan? Sudah berapa banyak perempuan yang patah hati karena cintanya tidak Anda terima?" tanya gadis itu lagi sambil kembali menoleh kearah Evan.
Evan tersenyum.
"Entahlah, aku tidak ingat. Yang jelas banyak," jawab Evan kemudian. Evan memang tidak bisa mengingat satu persatu gadis yang selama ini ditolaknya. Hatinya yang telah terkunci untuk Zaya seorang, membuatnya tak ada minat sedikit pun melirik perempuan lain, meski rata-rata yang mendekati Evan adalah para gadis cantik.
"Sepertinya setelah ini kita harus membuka hati untuk orang lain, Tuan. Orang yang kita cintai sudah bahagia dan tidak akan ingat lagi dengan kita." Gadis itu kembali tertawa dengan sumbang.
"Tidak mungkin kita berharap mereka bercerai, bukan?" tanya gadis itu lagi.
Kali ini Evan kembali tersenyum mendengar kalimat terakhir yang diucapkan gadis itu.
"Yang dikatakan Nona benar. Kita harus bisa membuka hati untuk orang lain. Tapi mungkin tidak akan mudah," gumam Evan.
Gadis itu mengangguk setuju sambil kembali melihat ke arah Zaya dan Aaron dengan tatapan sendu.
"Tentu saja. Itu sudah pasti," ujar gadis itu lirih.
Mereka berdua pun akhirnya hening, mengakhiri percakapan tentang patah hati mereka yang menyakitkan.
Tak ada dari keduanya yang tahu jika di kemudian hari mereka akan dipertemukan kembali.
Bersambung ....
Tengkyu buat yang udah like, komen dan vote😙😙😙
Happy reading❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
🍒 rizkia Nurul hikmah 🍒
hanya author yg tahu 😄
2022-04-01
0
Junfa Jundi faaz
di kemudian hari mereka berdua di pertemukan oleh author Tiwi......
2021-08-11
0
Rena Nia
evan sama carrisa sepertinya akan di jodohkan,btw kek nya carissa anaknya nugraha ya thor?
2021-08-01
0