Evan melirik arloji yang dikenakannya, lalu melihat ke arah sekitar. Sudah hampir tiga puluh menit Evan menunggu gadis yang akan dijodohkan Sonya dan Zacky padanya, tapi gadis itu belum terlihat juga. Semoga saja ini bukan indikasi awal dari ketidakberhasilan perjodohan ini.
Evan kembali meyesap minumannya yang sudah hampir habis. Itu adalah gelas ke dua yang sudah Evan pesan. Jika sampai setelah gelas ini habis dan gadis itu masih belum datang juga, Evan khawatir perutnya akan kembung sebelum dia sempat makan malam.
Tapi untunglah, tak lama kemudian, yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Seorang gadis cantik mengenakan gaun berwarna merah marun datang dengan agak tergesa.
"Maaf, Tuan, saya terlambat." Gadis itu terdengar meminta maaf.
Evan melihat ke arah gadis itu sebelum akhirnya mempersilahkan gadis itu duduk. Evan mengamati sekilas wajah gadis itu yang terlihat pucat.
"Nama saya Tania. Saya putri dari teman Tante Sonya." Gadis bernama Tania itu memperkenalkan diri.
Evan mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Saya Evan," ujar Evan ikut memperkenalkan diri.
Setelah berbasa basi sebentar, Evan pun memesan makanan untuk mereka berdua. Mereka akhirnya makan malam terlebih dahulu sebelum berbicara lebih jauh. Sesekali Evan mengamati Tania yang tampak sedang menahan sesuatu. Dari ekspresi wajahnya, Evan tahu jika saat ini gadis itu sedang menahan mual.
"Apa makanan yang saya pesan ada yang membuat Nona alergi?" tanya Evan.
Buru-buru Tania menggeleng.
"Ti-tidak ada. Saya tidak punya alergi dengan makanan," jawabnya dengan agak terbata. Gadis itu berusaha setengah mati untuk bisa terlihat tenang, meski masih bisa dilihat jika dia sedang merasa gelisah dan tidak nyaman.
Evan mengangguk. Lalu melanjutkan makannya sambil masih mengamati Tania sesekali. Wajah Tania tampak semakin pias dan kali ini dia terlihat limbung, seperti akan pingsan.
Cepat-cepat Evan bangkit dan menyangga tubuh gadis itu yang tampak lunglai. Dibantunya Tania untuk kembali duduk di posisinya semula, membuat gadis itu menjadi semakin salah tingkah.
"Ma-maaf, Tuan Evan. Saya jadi merepotkan," ujar Tania lirih karena merasa tak enak hati.
Evan kembali mengamati Tania dengan lebih seksama.
"Seharusnya Nona tidak memaksakan diri untuk datang jika sedang tidak enak badan." Ujar Evan terlihat khawatir. Lalu diraihnya pergelangan tangan Tania hingga gadis itu sedikit membulatkan matanya. Rupanya Evan memeriksa denyut nadi Tania karena merasa curiga akan sesuatu.
"Apa belakangan ini Nona sering merasakan mual, terlebih di pagi hari?" Tanya Evan kemudian sambil menatap Tania dengan ekspresi yang sulit di jelaskan.
Tania semakin membeliakkan matanya sambil menelan salivanya dengan kesusahan.
"A-apa maksudnya?" tanya Tania dengan suara agak gemetar, seolah gadis itu sedang kedapatan mencuri.
Evan terdiam sesaat.
"Katakan pada saya sejujurnya, Nona Tania. Saat ini Nona sedang hamil, kan?"
Tania ternganga bersamaan dengan sebuah sendok yang terjatuh karena terlepas tanpa terasa dari genggamannya. Benda itu jatuh ke lantai dengan menimbulkan suara yang cukup menyita perhatian.
Tania tampak melihat Evan dengan mata melebar. Ekspresi wajahnya terlihat sangat tidak bagus. Tapi sejurus kemudian dia terlihat telah menguasai dirinya lagi.
"Jangan sembarangan, Tuan. Jika Tuan ingin menolak perjodohan ini, katakan saja dengan berterus terang. Tidak perlu sampai memfitnah saya seperti ini," kilah Tania kemudian.
Evan menatap gadis itu sambil tersenyum tipis.
"Memfitnah?" gumam Evan.
"Nona sendiri pasti sangat tahu jika saat ini saya sedang memfitnah atau tidak. Saya tidak punya permasalahan apapun dengan perjodohan ini, jadi untuk apa saya memfitnah Nona. Mungkin sekarang kita perlu pergi ke rumah sakit untuk membuktikan jika ucapan saya tadi memang benar," ujar Evan dengan nada datar.
"Dan saya tidak tahu akan seperti apa reaksi orang tua saya jika dia tahu keluarga sahabatnya sendiri berusaha untuk menipunya," tambah Evan lagi.
Kali ini Tania bergeming dan tampak ketakutan.
"Apa ada masalah, Nona Tania?" tanya Evan sambil kembali duduk di kursinya.
Tiba-tiba saja tangis Tania pecah dan gadis itu terisak di hadapan Evan.
"Maaf ... maafkan saya, Tuan Evan ... Saya sungguh minta maaf ...," ujarnya sambil tersedu.
Evan tampak menautkan kedua alisnya.
"Tolong jangan menyalahkan kedua orang tua saya, mereka tidak tahu kalau saya hamil," tambah Tania lagi di sela tangisannya.
"Usaha keluarga kami sedang mengalami kesulitan. Orang tua saya terancam bangkrut dan butuh pinjaman dana. Beberapa hari yang lalu, Tante Sonya datang menawarkan bantuan. Asalkan saya mau menikah dengan putranya, beliau mau memberikan bantuan dana. Saya terpaksa setuju agar bisa menyelamatkan orang tua saya dari kebangkrutan. Tapi kemudian, saya baru menyadari jika saya sedang hamil. Saya tidak berani mengatakannya pada orang tua saya, karena saya takut mereka akan semakin terpukul. Lagipula kalau perjodohannya batal, Tante Sonya tidak akan memberikan bantuannya pada kami. Dan kami akan menjadi gelandangan ...." Tania semakin tersedu.
Evan menghela nafasnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Entah apa yang ada dalam benak lelaki itu saat ini.
"Maafkan saya, Tuan Evan ...," lirih Tania sekali lagi.
"Apa ayah calon anak Nona tahu kalau Nona sedang mengandung?" tanya Evan.
Tania mengangkat wajahnya yang beruraian airmata, lalu mengangguk pelan.
"Saat saya akan kemari tadi, dia sempat menemui saya. Itulah sebabnya saya datang terlambat. Dia meminta saya agar tidak menyetujui perjodohan ini dan menikah dengannya. Dia bukan dari kalangan keluarga berada, orang tua saya tidak menyetujui hubungan kami. Jadi kami berhubungan secara diam-diam. Tapi saya tahu kalau dia sangat mencintai saya."
Tania terdiam sesaat.
"Tuan Evan. Tolong jangan batalkan perjodohan ini. Saya tahu kalau saya tidak pantas untuk Tuan. Bahkan jika nanti Tuan tidak memperlakukan saya dengan baik pun saya akan terima. Tuan bisa menganggap saya sebagai seorang pelayan. Tapi tolong, Tuan ... jangan batalkan perjodohan ini," pinta Tania dengan sendu. Airmatanya kembali mengalir membasahi pipinya yang mulus.
Evan kembali menatap gadis itu dengan tatapan yang tidak bisa dijabarkan. Entah kenapa dia jadi merasa iba. Tiba-tiba dia teringat akan sosok Zaya yang juga pernah merasakan pahitnya hamil di luar pernikahan. Apakah saat itu Zaya juga semenyedihkan ini? Atau lebih menyedihkan dari ini? Mengingat dulu Zaya hamil karena diperkosa.
Evan kembali menghela nafasnya. Untuk kesekian kalinya dia menyamakan perempuan yang ada di dekatnya dengan sosok Zaya.
"Pulanglah, Nona Tania. Ceritakanlah keadaan Nona yang sebenarnya pada orang tua Nona. Lalu menikahlah dengan lelaki yang seharusnya bertanggung jawab," ujar Evan akhirnya.
"Tapi, Tuan ...."
"Tidak usah khawatir. Saya akan meminta Mama untuk tetap membantu kalian meskipun perjodohan ini dibatalkan. Kalian akan tetap mendapatkan bantuan dana," ujar Evan lagi.
"Apa Nona perlu saya pesankan taksi?" Tanya Evan pada Tania yang tampak tertegun.
"Ti-tidak, Tuan. Saya bisa pesan taksi sendiri. Terima kasih."
Tania beranjak dari duduknya, lalu setelah kembali meminta maaf dan mengucapkan terima kasih untuk yang ke sekian kalinya, gadis itu pun berlalu dari hadapan Evan.
Evan sendiri juga pergi dari restoran itu setelah membayar makanannya. Dia tak langsung pulang, melainkan berdiri menyaksikan pertunjukan air mancur yang sedang menari mengikuti iringan musik, tak jauh dari restoran tempatnya bertemu dengan Tania tadi.
Evan memandang air mancur yang meliuk-liuk di hadapannya dengan tatapan yang tak terbaca. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
Tiba-tiba saja seorang perempuan mendekatinya sembari menyapa.
"Tuan patah hati?"
Bersambung ....
Makasih buat yang udah like, komen dan vote buat Evan.
Happy reading❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
LENY
UNTUNG GAK JADI SAMA TANIA
2025-02-10
0
Yetti Hendra
Carissa: tuan patah hati???
2021-03-07
1
Yetti Hendra
Carissa: tuan patah hati???
2021-03-07
1