Evan menoleh ke arah sumber suara yang didengarnya barusan. Tampaklah gadis cantik yang Evan temui di pesta pernikahan Zaya dan Aaron dulu. Gadis yang juga patah hati seperti dirinya karena cintanya pada Aaron tak berbalas. Dan saat ini gadis itu berdiri tak jauh dari Evan sambil menenteng sepatu heelsnya.
"Nona patah hati," gumam Evan menanggapi.
Gadis itu tersenyum, lalu mendekat.
"Tidak disangka kita akan bertemu di sini," ujar gadis itu.
Tanpa sadar Evan juga ikut tersenyum.
Jika itu gadis lain, Evan mungkin akan langsung pergi dan menghindar, tapi gadis satu ini tidak membuat Evan merasa terganggu, bahkan sejak pertemuan mereka yang pertama dulu.
Evan mengamati gadis di hadapannya itu dengan seksama, dari atas hingga bawah. Membuat gadis itu juga melakukan hal yang sama terhadap dirinya sendiri.
"Nona terlihat seperti pengantin yang kabur dari pernikahannya," tebak Evan sambil tersenyum.
Tanpa disangka gadis itu justru tertawa dengan renyah.
"Tuan hampir benar. Tapi aku bukan kabur dari pernikahan, melainkan kabur dari pertunanganku. Orang tuaku menjodohkan aku dengan lelaki yang sangat luar biasa. Aku jadi tidak bisa menahan diri untuk tidak kabur," sahut gadis itu di sela tawanya.
Evan tampak menautkan kedua alisnya.
"Saking luar biasanya, dia sudah menghamili begitu banyak gadis malang di luar sana. Untung saja aku mengetahuinya sebelum menikah. Dan untungnya lagi pertunanganku diadakan secara tertutup dan hanya dihadiri pihak keluarga saja, sehingga tidak terlalu heboh meskipun aku membatalkannya secara sepihak. Kalau tidak, aku tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi." Gadis itu menjelaskan seakan bergumam pada dirinya sendiri sambil masih tertawa kecil.
Evan terlihat mendengarkan. Tampaknya gadis di depannya ini baru saja berhadapan dengan situasi yang cukup sulit. Tapi hebatnya gadis ini terlihat sangat santai menghadapinya. Entah dia memang sekuat itu, atau sedang berpura-pura kuat. Tapi yang jelas gadis ini tidak seperti perempuan kebanyakan.
"Jadi ... saat ini Nona kabur setelah membuat keributan?" tanya Evan kemudian. Dia tergelitik untuk tahu lebih banyak tentang kelanjutan cerita gadis di hadapannya itu. Tatapannya jatuh pada sepatu heels yang sedang di tenteng gadis itu.
Gadis itu mengangkat sepatu heelsnya dan kembali tertawa renyah.
"Saking ingin cepatnya berlari, aku sampai tidak sadar kalau sepatuku sudah tidak di kaki lagi," ujar gadis itu sambil masih tertawa.
Kali ini Evan tanpa sadar juga ikut tertawa. Gadis ini sungguh istimewa. Bahkan Evan yang menderita sakit hati akut bisa tertawa lepas begitu saja mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Paling-paling setelah ini aku akan mendapat ocehan Mamaku dan di hukum tidak boleh keluar kamar selama beberapa hari," tambah gadis itu lagi.
"Haiiissh ... mereka pikir aku ini masih remaja apa?" gerutunya sembari mencebikkan bibirnya.
Evan kembali tersenyum untuk ke sekian kalinya. Gadis ini benar-benar menghibur. Entah kapan terakhir Evan banyak tersenyum seperti ini, Evan sendiri tidak bisa mengingatnya.
"Lalu Tuan sendiri?" Tiba-tiba gadis itu bertanya sambil menunjuk ke arah Evan.
"Saya?"
Gadis itu mengangguk.
"Tuan juga kelihatannya baru saja menghadapi sesuatu. Berpenampilan rapi, tapi malah berdiri di sini sendirian seperti orang yang baru putus cinta. Apa Tuan baru saja memergoki pacar Tuan berselingkuh?" tanya gadis itu lagi.
Evan agak tertegun mendengar pertanyaan dari gadis itu. Lalu dia tersenyum lagi, untuk yang ke sekian kalinya.
"Saya baru saja bertemu dengan calon istri yang di pilihkan orang tua saya untuk membicarakan tentang rencana pernikahan kami. Tapi ternyata dia sudah hamil dengan lelaki lain. Jadi sepertinya saya juga terancam gagal menikah seperti Nona," jawab Evan kemudian. Seumur hidup Evan, inilah kali pertama dia berbicara dengan begitu gamblang tentang dirinya dengan seorang gadis, seakan gadis itu sudah lama dikenalnya dan telah membuatnya merasa nyaman.
Gadis itu tampak agak tertegun sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Wah ...," gumamnya kehabisan kata-kata.
"Hidup kita benar-benar sial rupanya." Gadis itu menggerutu sambil terkekeh, menertawakan pengakuan Evan tadi.
Tanpa sadar Evan juga ikut tertawa kecil, seolah apa yang mereka alami adalah hal lucu yang patut ditertawakan.
"Ngomong-ngomong, saya belum tahu nama Nona," ujar Evan kemudian saat menyadari jika mereka belum berkenalan.
"Ah, iya. Aku baru ingat kalau kita belum memperkenalkan diri." Gadis itu mengulurkan tangannya pada Evan.
"Carissa. Tanpa Nona di depannya," ujarnya.
Evan tersenyum dan menyambut uluran tangan Carissa.
"Evan. Tanpa Tuan di depannya juga," jawab Evan.
Keduanya saling melepaskan jabat tangan itu sambil sama-sama tersenyum.
"Rasanya aku agak familiar dengan wajah Nona ... eh, maksudku wajahmu, Carissa," Ujar Evan agak terbata. Dia belum terbiasa berbicara dengan bahasa yang akrab dengan seorang perempuan selain dengan Zaya.
Carissa menoleh dan tersenyum.
"Mungkin kamu pernah melihatku di tv, atau melihat konser pianoku. Setahun yang lalu aku cukup populer, hanya saja aku mengundurkan diri sekarang," sahutnya.
"Kamu ... pianis yang menerima penghargaan dua tahun yang lalu, Carissa Nugraha?" tanya Evan surprise.
Carissa mengangkat bahunya. "Begitulah," jawabnya acuh.
"Wah ... kalau Mamaku tahu aku bertemu dengan idolanya, pasti beliau akan sangat heboh. Mamaku selalu menonton konser pianomu. Tidak peduli kamu mengadakan konser di negara mana, dia pasti akan membeli tiketnya dan datang ke sana."
"Benarkah?" Carissa tampak agak terkejut.
Evan mengangguk mengiyakan.
"Senang rasanya punya seorang penggemar," seloroh Carissa.
"Tapi katamu sekarang kamu sudah mengundurkan diri? Kenapa?" tanya Evan.
Carissa terdiam sesaat.
"Karena kakak perempuanku menikah dan ikut suaminya tinggal di luar negri, jadi tidak ada yang akan menggantikan Papa mengurus perusahaan. Jadi aku pensiun bermain piano, lalu bergabung di perusahaan Papa untuk mulai belajar." Jawab Carissa.
"Sayang sekali," gumam Evan agak prihatin.
"Sejujurnya aku tidak terlalu sedih karena tidak menjadi pianis lagi. Aku dulu belajar bermain piano karena seseorang, jadi bukan murni keinginanku sendiri. Jadi tidak masalah kalau sekarang aku tidak menjadi pianis lagi."
Evan menoleh dan melihat ke arah Carissa yang menatap lurus ke depan.
"Kamu belajar bermain piano karena Tuan Aaron?" Tanpa sadar Evan bertanya.
"Jangan sebut namanya lagi. Aku sedang berusaha untuk move on," ujar Carissa dengan polosnya, sehingga membuat Evan kembali tertawa kecil.
Carissa pun ikut tertawa.
Kedua orang yang baru saja saling berkenalan ini tampak begitu lepas seolah mereka telah dekat sejak lama. Mereka kembali mengobrol ringan sembari sesekali tersenyum atau pun tertawa kecil, sebelum akhirnya Carissa pamit untuk kembali ke hotel tempatnya menginap.
"Senang berbicara denganmu, Evan. Dua kali kita bertemu secara kebetulan. Jika dalam waktu dekat kita bertemu sekali lagi, berarti kita jodoh," seloroh Carissa sambil melambaikan tangannya.
Evan hanya tersenyum menanggapi. Dia juga membalas lambaian tangan Carissa. Cukup menghibur berbicara dengan gadis itu. Tapi untuk masalah jodoh, Evan tidak ingin terlalu memusingkannya.
Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya.
Bersambung ....
Jangan lelah buat like, komen dan vote ya sayangku semua😘😘😘
Happy reading❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
LENY
COCOK EVAN DAN CARISSA
2025-02-10
0
Suci Narala Lendra
kalo dah jodoh pasti bertemu😍
2022-04-20
1
🍒 rizkia Nurul hikmah 🍒
wah anak paman yg nolong nugraha
2022-04-01
2