Pemeriksaan Jantung

Evan menatap Carissa lekat hingga gadis itu tak bisa berkata-kata. Sampai-sampai hanya untuk menelan salivanya pun dia jadi kesusahan. Mata mereka terkunci untuk beberapa saat, seolah akan saling menenggelamkan satu sama lain.

"Bukankah kamu sendiri yang bilang seperti itu di pertemuan terakhir kita?" tanya Evan.

"I-iyakah?" Carissa tampak gugup. Jantungnya tiba-tiba saja berdegup tak beraturan karena tatapan Evan tadi.

Evan tak bisa menahan kekehannya lebih lama lagi. Dia sungguh merasa lucu melihat ekspresi Carissa yang begitu salah tingkah.

"Astaga, kamu bercanda rupanya." Mau tidak mau Carissa juga ikut tertawa untuk menutupi rasa canggungnya.

Evan menghentikan tawanya. Lalu kembali menoleh ke arah Carissa.

"Kalau aku tidak sedang bercanda, memangnya kamu mau menikah denganku?" Tanya Evan.

Carissa menoleh pada Evan sekilas, lalu kembali tertawa kecil.

"Sepertinya punya suami seorang dokter asyik juga. Kalau sakit tidak perlu pergi ke rumah sakit. Ada suami sendiri yang merawat di rumah," jawabnya enteng.

"Siapa bilang seperti itu. Banyak pasien di rumah sakit yang menunggu, jadi aku mungkin tidak punya banyak waktu mengurusmu, kecuali kalau kamu punya penyakit jantung dan mendaftar untuk menjadi pasienku," sahut Evan mengoreksi.

Ekspresi wajah Carissa tampak berubah saat mendengar kalimat Evan tadi.

"Yah ...," desahnya seolah-olah sedang merasa kecewa.

"Kalau begitu aku berubah pikiran. Aku tarik kembali kata-kataku tadi," sungut Carissa.

Evan kembali tertawa.

"Tapi kalau kamu sakitnya saat Weekend, mungkin aku bisa mengurusmu," ujar Evan di sela tawanya.

"Memangnya sakit bisa disetting waktunya kapan?" Carissa kembali tertawa. Entah kenapa berdekatan dengan lelaki yang baru dikenalnya ini membuatnya selalu merasa terhibur. Tanpa sadar, Carisssa tak lagi memikirkan tentang perjodohannya karena kehadiran Evan. Sedangkan Evan sendiri sesekali tampak memperhatikan Carissa yang sedang tertawa. Gadis cantik satu ini sungguh berbeda dari gadis lain yang selama ini ingin mendekatinya. Evan merasa nyaman saat berbicara padanya meski mereka baru beberapa kali bertemu.

Carissa adalah gadis pertama yang bisa membuat Evan tersenyum bahkan tertawa, setelah Zaya.

"Ngomong-ngomong, kamu mungkin perlu memeriksa jantungku juga. Kenapa dari tadi rasanya aku berdebar-debar terus? Jangan-jangan aku juga punya potensi terkena serangan jantung seperti Papaku," ujar Carissa lagi dengan polosnya sembari memegangi dadanya.

Evan tertegun beberapa saat. Tiba-tiba saja dia merasakan desiran halus yang yang terasa begitu aneh dan asing. Entah perasaan apa itu, tapi yang jelas saat ini Evan merasa ada yang salah dengan dirinya. Raut polos Carissa yang tengah memegangi dadanya membuat Evan terhipnotis. Gadis di hadapannya ini seperti memiliki semacam sihir yang mampu membuatnya terpana.

"Hei, aku memintamu untuk memeriksaku. Kenapa malah melamun?" Carissa membuyarkan lamunan Evan.

"Apa aku perlu mendaftar dulu menjadi pasienmu?" tanya Carissa lagi. Kali ini dengan nada lebih serius.

"Kamu sungguhan?" tanya Evan.

Carissa mengangguk.

"Tidak lucu kalau sampai aku juga yang di rawat setelah Papaku. Kalau sudah terdeteksi lebih awal, mungkin akan lebih bagus."

Evan ikut mengangguk. "Iya, benar," gumamnya.

"Sekarang masih istirahat makan siang. Kalau kamu mau aku hanya sekedar melakukan pemeriksaan fisik, tidak perlu mendaftar sebagai pasien. Ikut ke ruanganku saja, aku akan melakukannya untukmu, di luar jam kerja," ujar Evan.

"Benarkah?"

Evan kembali mengangguk.

"Memangnya kamu tidak takut dipecat karena memeriksa pasien ilegal?" tanya Carissa sambil tertawa.

"Tidak ada yang akan memecatku," jawab Evan sambil beranjak dari duduknya. Lalu dia pun melangkah untuk pergi dari taman rumah sakit.

"Ayo," ajaknya saat melihat Carissa yang masih mematung di tempatnya semula.

Carissa bangkit dan segera menyusul Evan.

"Benar tidak apa-apa?" tanya Carissa saat mereka berjalan di koridor rumah sakit.

"Tidak apa-apa," jawab Evan enteng. Dia terus melangkah, diikuti oleh Carissa yang tampak ragu-ragu.

Setelah menaiki lift untuk mencapai lantai paling atas rumah sakit, sampailah mereka di depan sebuah ruangan.

Carissa tampak sedikit terkejut saat membaca papan keterangan yang tertera di pintu masuk ruangan tersebut.

"Tunggu dulu," tahan Carissa saat Evan hendak membuka pintu ruangan itu.

"Ini ruang kerja Direktur Rumah Sakit." ujarnya lagi.

Evan menoleh.

"Lalu kenapa?" tanya Evan.

"Kamu Direktur Rumah Sakit ini?" tanya Carissa sedikit surprise.

Evan mengangkat bahunya acuh, seperti yang pernah dilakukan Carissa saat Evan menyadari jika Carissa pianis terkenal idola Mamanya.

"Begitulah," jawab Evan sambil membuka pintu ruang kerjanya.

Carissa tertawa garing sambil mengikuti Evan untuk masuk ke dalam ruangan. Dia merasa seperti dikerjai oleh lelaki di hadapannya itu, tapi anehnya tidak merasa kesal.

"Silahkan duduk."

Evan duduk di kursi meja kerjanya. Carissa pun ikut duduk berhadapan dengan Evan.

"Jadi apa keluhanmu? Apa kamu pernah merasakan nyeri di bagian dada sebelah kiri?" tanya Evan kemudian.

Carissa menggeleng.

"Tidak. Hanya saja dadaku rasanya berdebar-debar. Dan detak jantungku juga lebih cepat dari biasanya," jawab Carissa.

"Sejak kapan?" Tanya Evan lagi.

Carissa tampak berpikir. "Sejak ... tadi," sahutnya.

Sontak Evan kembali terkekeh mendengar jawaban Carissa.

"Maksudku, apa kamu sudah sejak lama sering merasakan yang seperti itu."

Carissa ikut tertawa.

"Entahlah. Aku tidak ingat. Yang jelas untuk hari ini aku merasakannya sejak tadi," jawab Carissa lagi.

Evan tampak menahan senyumnya.

"Baiklah. Kalau begitu silahkan berbaring di sana. Aku akan mulai melakukan pemeriksaan fisik untuk jantungmu," ujar Evan sembari mengarahkan Carissa untuk berbaring di brangkar yang terletak di sudut ruang kerjanya.

Carissa pun melakukan yang diminta Evan. Dia berbaring di brankar itu.

"Sebelumnya aku ingin memberitahukan padamu. Karena jantung terletak di bagian dalam dada, jadi bagian yang akan aku periksa adalah bagian itu. Apa kamu keberatan?" tanya Evan.

Carissa berpikir sejenak, lalu menggeleng.

"Kelihatannya kamu bukan dokter cabul, jadi tidak apa-apa," jawab Carissa.

Evan kembali terkekeh. "Terima kasih atas pujiannya. Berarti sekarang kita bisa mulai."

"Hal pertama dari prosedur pemeriksaan fisik jantung adalah melakukan inspeksi, yaitu dengan memperhatikan bentuk dan kondisi dada. Kemudian memeriksa pembuluh darah di bagian leher, serta memastikan ada tidaknya pembengkakan di berbagai organ tubuh," terang Ervan.

"Apa kamu bisa membuka kancing bagian atas kemejamu supaya aku bisa memeriksa kondisi dadamu?" tanya Evan kemudian.

Carissa terkesiap. Pikiran kotor tiba-tiba muncul di otaknya, tapi buru-buru ia membuangnya jauh-jauh pemikiran itu. Saat ini dia dan Evan adalah pasien dan dokter, jadi tidak mungkin terjadi hal yang tidak-tidak.

"Baiklah," gumam Carissa sambil melakukan yang Evan minta tadi.

Evan pun segera melakukan pemeriksaan pada dada dan leher Carissa seperti yang dia katakan sebelumnya.

"Yang kedua adalah melakukan palpasi, yaitu memeriksa kondisi dan kinerja jantung dengan cara memeriksa detak jantung di permukaan dinding dada. Aku harus memeriksanya seperti ini." Evan mendekatkan telinganya ke dada sebelah kiri Carissa.

Carissa membeliakkan matanya. Posisi ini terasa begitu intim. Tiba-tiba saja nafasnya terasa seperti berhenti. Lama-lama dia bisa mati kehabisan nafas jika terus seperti ini. Beruntung posisi tadi tidak berlangsung lama, hingga Carissa bisa menghirup oksigen kembali.

Setelah itu, Evan mengetuk-ngetukkan jarinya ke permukaan dada Carissa, sehingga Carissa kembali merasakan gelenyar aneh yang mulai membuatnya tidak nyaman.

"Ini disebut dengan perkusi. Bunyi yang dihasilkan dari ketukan jari di permukaan dada akan menjadi indikator kondisi jantung dan organ di sekitarnya, terutama paru-paru," ujar Evan lagi menjelaskan.

Carissa hanya mengangguk dengan perasaan yang mulai bercampur aduk.

"Dan yang terakhir, aku akan melakukan auskultasi." Evan memakai stetoskopnya dan memeriksa dada Carissa dengan benda itu.

Evan tampak mendengarkan detak jantung Carissa dengan seksama. Lalu matanya melihat ke arah Carissa yang juga sedang melihat ke arahnya. Pandangan mereka terkunci beberapa saat, hingga mereka berdua sama-sama tertegun.

Deg! Deg! Deg!

Dada Carissa menjadi bergemuruh tak karuan, membuat mata Evan membulat sempurna saat mendengarnya melalui stetoskop.

"Carissa, jantungmu ...???"

Bersambung ....

Nah lo, Carissa sakit jantung😁

Happy reading❤❤❤

Terpopuler

Comments

Junfa Jundi faaz

Junfa Jundi faaz

tatapan Evan membuat jantungku mau ikut meloncat

2021-08-11

1

Shanty Syakirasakina

Shanty Syakirasakina

saya yg baca malah jantungan

2021-08-05

1

Sunsf128

Sunsf128

jantung carissa yg diperiksa, jantungku ikutan degdegan mak haha

2021-07-26

0

lihat semua
Episodes
1 Hari Yang Tak terlupakan (Prolog)
2 Gadis Kecil Bermata Jernih
3 Sosok Pelipur Lara
4 Berpisah
5 On Your Wedding Day
6 Pertemuan Pertama
7 Rencana Perjodohan
8 Tuan Patah Hati?
9 Tertawa Bersama
10 Pertemuan Ketiga
11 Kita Jodoh
12 Pemeriksaan Jantung
13 Kesalahpahaman
14 Terjebak
15 Mungkin Ini Takdir
16 Teman Hidup
17 Kesalahpahaman (Lagi)
18 Meyakinkan Hati
19 Pernikahan
20 Drama Malam Pertama
21 Step By Step
22 Evan, stop! Sakit!!
23 Menuntaskan Dengan Cara Lain
24 First Day To Be Wife
25 Korban Eksperimen
26 Sepertinya Aku Telah Jatuh Cinta Padamu
27 Yang Disebut Rumah
28 Aku Ingin Kita Segera Punya Anak
29 Milik Evan seutuhnya
30 Berbagi Rahasia
31 Jangan Pernah Ada Orang Ketiga
32 Saling Mengungkapkan Perasaan
33 Kenapa Aku Masih Belum Hamil?
34 Pemeriksaan Kandungan
35 Rahim Pengganti?
36 Mungkinkah Ini Karma?
37 Murka
38 Aku kecewa...
39 Lampiaskan Saja
40 Pagi Yang Lebih Baik
41 Memulai Perjuangan
42 Hukuman Untuk Sonya
43 Mengakhiri Drama
44 Bulan Madu Yang Tertunda
45 I Love Maldives...
46 The Vow
47 Kabar Yang mengejutkan
48 Sisi Lain dari Seorang Arga Nugraha
49 Pengakuan Dosa
50 Namanya Evan
51 Kepergian Arga
52 Dilema
53 Memberi Ruang
54 Mencoba Menerima
55 Pelangi Di Tengah Badai
56 Permintaan Evan
57 Tak Bisa Memilih
58 Berusaha Melapangkan Hati
59 Berharap Kembali Bahagia
60 Berpisah Sementara
61 Resah
62 Rindu
63 Ada Yang Berbeda
64 Mulai Mencari Tahu
65 Evan, Sebenarnya Kamu Kenapa?
66 Masih Ingin Menutupi
67 He Is Dying
68 Terjawab Sudah
69 Bimbang
70 Malam Terakhirku Bersamamu
71 Mengingkari Janji
72 Dia Pergi
73 Kamu Harus Sembuh!
74 Berusaha Hidup Tanpamu
75 Kembali Mengepakkan Sayap
76 Merindukanmu
77 Tunggu Aku...
78 Bertahan
79 Memandang Dari Jauh
80 Teman Lama
81 Sebuah Hutang
82 Sosok Yang Dirindukan
83 Hanya Dengan Memeluk
84 Pulanglah...
85 Melepas Rindu
86 Ritual Mandi Pagi
87 Harta Dan Cinta Pertama
88 Jalan-Jalan
89 Ayah Paling Penyayang Sedunia
90 Tawaran Kesepakatan
91 Wrong Partner
92 Pertemuan Tak Terduga
93 Triple Date?
94 Nostalgia (Nasehat Aaron)
95 Memandang Dengan Perasaan Yang Hancur
96 Maksud Tersembunyi
97 Panggilan Sayang
98 Shocking Kiss
99 Malam Terkutuk
100 Ketertarikan Yang Beralih
101 Meminta Penjelasan
102 Pulang
103 Kondisi Evan
104 Bunga Lili
105 Menanti Kelahiranmu
106 Kontraksi Palsu
107 Oh, akhirnya...
108 Putri Kita Sudah Lahir
109 Lily Bramasta
110 Kembali Bahagia
111 Orang Tua Posesif
112 Surat Cinta Dari Author
113 Tamu Istimewa
114 Membuang Perasaan
115 Calon Menantu Sempurna
116 Tak Akan Menggunakan 'Cara Lain' Lagi
117 Kejutan Dari Geraldyn
118 Menyaksikan Pertunjukan
119 Tuluskah Perasaannya?
120 Modus
121 Alasan Yang Disembunyikan
122 Sembuh
123 Jadilah Bersinar Sekali lagi
124 Rumah Baru
125 Meminta Bantuan
126 Bertemu Calon Mertua?
127 Alergi Pada Orang Kaya
128 Sebuah Permintaan
129 Janji Jonathan
130 Kamu Seorang Ibu!
131 Goyah
132 Belajar Untuk Saling Memahami
133 Sebuah Solusi
134 Pilihan Untuk Geraldyn
135 Aku Pasti Kembali
136 Because My Destiny Is With You (End)
137 Melepaskan Beban Terakhir (Extra Part 1)
138 Kembali (Extra Part 2)
139 Jari Keramat (Extra Part 3)
140 Albern & Lily (Extra Part 4-Epilog)
141 Karya Baru
142 Sudah Rilis
143 Promo Karya Terbaru
144 Pengumuman
145 PENGUMUMAN
146 Karya Baru Again
147 Pengumuman Karya Terbaru
Episodes

Updated 147 Episodes

1
Hari Yang Tak terlupakan (Prolog)
2
Gadis Kecil Bermata Jernih
3
Sosok Pelipur Lara
4
Berpisah
5
On Your Wedding Day
6
Pertemuan Pertama
7
Rencana Perjodohan
8
Tuan Patah Hati?
9
Tertawa Bersama
10
Pertemuan Ketiga
11
Kita Jodoh
12
Pemeriksaan Jantung
13
Kesalahpahaman
14
Terjebak
15
Mungkin Ini Takdir
16
Teman Hidup
17
Kesalahpahaman (Lagi)
18
Meyakinkan Hati
19
Pernikahan
20
Drama Malam Pertama
21
Step By Step
22
Evan, stop! Sakit!!
23
Menuntaskan Dengan Cara Lain
24
First Day To Be Wife
25
Korban Eksperimen
26
Sepertinya Aku Telah Jatuh Cinta Padamu
27
Yang Disebut Rumah
28
Aku Ingin Kita Segera Punya Anak
29
Milik Evan seutuhnya
30
Berbagi Rahasia
31
Jangan Pernah Ada Orang Ketiga
32
Saling Mengungkapkan Perasaan
33
Kenapa Aku Masih Belum Hamil?
34
Pemeriksaan Kandungan
35
Rahim Pengganti?
36
Mungkinkah Ini Karma?
37
Murka
38
Aku kecewa...
39
Lampiaskan Saja
40
Pagi Yang Lebih Baik
41
Memulai Perjuangan
42
Hukuman Untuk Sonya
43
Mengakhiri Drama
44
Bulan Madu Yang Tertunda
45
I Love Maldives...
46
The Vow
47
Kabar Yang mengejutkan
48
Sisi Lain dari Seorang Arga Nugraha
49
Pengakuan Dosa
50
Namanya Evan
51
Kepergian Arga
52
Dilema
53
Memberi Ruang
54
Mencoba Menerima
55
Pelangi Di Tengah Badai
56
Permintaan Evan
57
Tak Bisa Memilih
58
Berusaha Melapangkan Hati
59
Berharap Kembali Bahagia
60
Berpisah Sementara
61
Resah
62
Rindu
63
Ada Yang Berbeda
64
Mulai Mencari Tahu
65
Evan, Sebenarnya Kamu Kenapa?
66
Masih Ingin Menutupi
67
He Is Dying
68
Terjawab Sudah
69
Bimbang
70
Malam Terakhirku Bersamamu
71
Mengingkari Janji
72
Dia Pergi
73
Kamu Harus Sembuh!
74
Berusaha Hidup Tanpamu
75
Kembali Mengepakkan Sayap
76
Merindukanmu
77
Tunggu Aku...
78
Bertahan
79
Memandang Dari Jauh
80
Teman Lama
81
Sebuah Hutang
82
Sosok Yang Dirindukan
83
Hanya Dengan Memeluk
84
Pulanglah...
85
Melepas Rindu
86
Ritual Mandi Pagi
87
Harta Dan Cinta Pertama
88
Jalan-Jalan
89
Ayah Paling Penyayang Sedunia
90
Tawaran Kesepakatan
91
Wrong Partner
92
Pertemuan Tak Terduga
93
Triple Date?
94
Nostalgia (Nasehat Aaron)
95
Memandang Dengan Perasaan Yang Hancur
96
Maksud Tersembunyi
97
Panggilan Sayang
98
Shocking Kiss
99
Malam Terkutuk
100
Ketertarikan Yang Beralih
101
Meminta Penjelasan
102
Pulang
103
Kondisi Evan
104
Bunga Lili
105
Menanti Kelahiranmu
106
Kontraksi Palsu
107
Oh, akhirnya...
108
Putri Kita Sudah Lahir
109
Lily Bramasta
110
Kembali Bahagia
111
Orang Tua Posesif
112
Surat Cinta Dari Author
113
Tamu Istimewa
114
Membuang Perasaan
115
Calon Menantu Sempurna
116
Tak Akan Menggunakan 'Cara Lain' Lagi
117
Kejutan Dari Geraldyn
118
Menyaksikan Pertunjukan
119
Tuluskah Perasaannya?
120
Modus
121
Alasan Yang Disembunyikan
122
Sembuh
123
Jadilah Bersinar Sekali lagi
124
Rumah Baru
125
Meminta Bantuan
126
Bertemu Calon Mertua?
127
Alergi Pada Orang Kaya
128
Sebuah Permintaan
129
Janji Jonathan
130
Kamu Seorang Ibu!
131
Goyah
132
Belajar Untuk Saling Memahami
133
Sebuah Solusi
134
Pilihan Untuk Geraldyn
135
Aku Pasti Kembali
136
Because My Destiny Is With You (End)
137
Melepaskan Beban Terakhir (Extra Part 1)
138
Kembali (Extra Part 2)
139
Jari Keramat (Extra Part 3)
140
Albern & Lily (Extra Part 4-Epilog)
141
Karya Baru
142
Sudah Rilis
143
Promo Karya Terbaru
144
Pengumuman
145
PENGUMUMAN
146
Karya Baru Again
147
Pengumuman Karya Terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!