Setelah menghadiri pernikahan Zaya dan Aaron, Evan langsung kembali ke Singapura dan menjalani rutinitasnya di rumah sakit seperti biasa.
Sosoknya menjadi lebih pendiam dan tertutup. Dan sebagian besar waktunya dia habiskan hanya untuk bekerja. Awalnya Evan ingin membuka hatinya untuk untuk perempuan lain, tapi sosok Zaya ternyata tidak bisa pergi begitu saja dari dalam hati Evan, hingga Evan seringkali tanpa sadar membandingkan perempuan yang mendekatinya dengan Zaya.
Hingga akhirnya Evan memilih untuk menarik diri dari semua para perempuan yang menyukainya. Evan tidak ingin jika nantinya akan berakhir dengan menyakiti hati seseorang.
Fokus Evan sekarang hanyalah menangani pasien dan membantu memajukan rumah sakit keluarganya. Saat ini, menikah tidak lagi menjadi agenda masa depannya. Evan hanya menjalani hari-harinya dengan bekerja dan bekerja, seakan dia tak berkeberatan jika seumur hidupnya dia tak memiliki seorang pendamping.
Waktu berlalu, tapi tak juga mengurangi rasa sakit di hati Evan. Sepertinya pepatah yang mengatakan jika waktu akan meyembuhkan luka, tak berlaku baginya. Evan tetap belum bisa bangkit dari rasa sakit, meski telah sangat berusaha.
Hal itu membuat Sonya dan Zacky, kedua orang tua angkat Evan, menjadi khawatir. Mereka takut jika putra mereka itu tidak akan menikah karena tidak bisa move on.
"Mama dan Papa ingin mengenalkanmu dengan seseorang, Evan." Suara Zacky memecah keheningan saat Evan dan kedua orang tuanya itu menikmati makan malam.
Evan terlihat santai menanggapi kata-kata Papanya itu. Dia sama sekali tidak terkejut. Wajar saja, karena ini bukan kali pertama kedua orangtua angkatnya ini berusaha untuk mengenalkan Evan dengan seorang gadis, meskipun sejauh ini tidak ada yang disukainya. Kelihatannya Sonya dan Zacky tidak berputus asa dan terus berusaha untuk mencarikan jodoh untuk Evan.
"Kencan buta lagi?" tanya Evan sambil masih berkutat dengan makan malamnya.
"No! Sekali ini bukan kencan buta. Dia calon istrimu. Mau kamu suka atau tidak, Mama ingin kamu menikah dengan dia." Sonya yang menjawab.
Evan menghentikan makannya, lalu menghela nafas sejenak.
"Mama, please ...."
"Tidak, Evan. Sekarang Mama tidak ingin mendengar alasan apapun lagi. Mama dan Papa sudah tua, kami ingin segera menimang cucu. Dan sejauh ini kamu tidak ada pergerakan apapun untuk memenuhi keinginan kami. Makanya kali ini Mama yang memilihkan jodoh untukmu," ujar Sonya memotong kata-kata Evan.
"Kamu tidak bisa seperti ini terus, Evan. Kalau kamu tidak berkeluarga, bagaimana kamu bisa merasakan kebahagiaan?" tambah Sonya lagi. Kali ini dia berujar dengan nada tidak ingin di bantah.
Sekali lagi Evan menghela nafasnya. Entah bagaimana Evan harus menolak mamanya kali ini.
"Kamu tidak bisa terus terpaku dengan cinta masa kecilmu itu, Evan. Sekarang dia sudah hidup bahagia bersama suaminya. Beberapa waktu yang lalu aku dengar mereka bahkan menggelar sebuah pesta besar untuk memperkenalkan putri mereka." Sonya kembali mengeluarkan suaranya.
Evan terdiam. Dia tahu jika Zaya sudah hidup bahagia dengan suami dan anak-anaknya. Tentu saja Evan tidak mengharapkan perempuan itu lagi. Hanya saja, Evan masih kesulitan jika harus menjalin hubungan dengan perempuan lain. Evan merasa nyaman dengan kesendiriannya saat ini. Dan dia tidak terpikir untuk mencari calon istri.
"Kamu harus bangkit, Evan. Lupakan dia dan mulailah hidup dengan perempuan yang bisa mencintai dan mendampingimu. Menikahlah."
Evan masih tetap terdiam.
"Apa yang dikatakan Mamamu benar, Evan. Kami ingin melihat kamu bahagia. Maka dari itu, turutilah Mamamu kali ini. Gadis yang ingin kami kenalkan padamu adalah seorang gadis yang baik. Dia cantik, lembut dan penyayang. Papa yakin dia bisa menjadi istri yang baik untukmu." Zacky juga menimpali.
Evan masih bergeming dan kembali menghela nafasnya. Dia tidak tahu harus bagaimana. Sudah sangat sering Evan menolak ide kedua orang tuanya tentang perjodohan. Dan sejauh ini mereka tidak memaksa Evan. Tapi sekarang tampaknya Sonya dan Zacky sudah mengambil keputusan untuk Evan. Jadi Evan mungkin harus menurutinya meski dengan terpaksa.
"Jika kamu menyayangi Mama dan Papamu ini, turutilah keinginan kami, Evan. Toh yang kami lakukan juga demi untuk kebahagianmu sendiri," ujar Sonya lagi dengan nada yang lebih rendah.
Evan masih terdiam cukup lama sebelum akhirnya kembali menghela nafas untuk ke sekian kalinya.
"Baiklah ...," gumam Evan akhirnya.
"Mama dan Papa atur saja waktunya, setelah itu beri tahu aku," tambahnya lagi sambil menyudahi makan malamnya.
"Masih ada yang harus aku kerjakan. Aku ke atas duluan."
Evan berlalu dari hadapan kedua orang tuanya, dan pergi ke kamarnya. Dia duduk di pinggiran tempat tidur dengan pandangan mata yang agak menerawang.
Mungkin tidak ada salahnya menerima perjodohan yang diatur oleh orang tuanya kali ini. Dia tahu jika semua yang dikatakan mama dan papanya tadi memang benar. Evan harus bangkit dan membangun rumah tangganya sendiri juga. Bukan hanya untuk kebahagiaannya semata, tapi juga demi memenuhi harapan kedua orang tuanya yang menginginkan cucu darinya.
Saat ini Evan adalah putra tunggal. Meski dia hanyalah seorang anak adopsi, tapi secara hukum Evan adalah pewaris yang sah. Sehingga sangat wajar jika dia dituntut untuk memiliki penerus yang kelak bisa meneruskan kepengurusan rumah sakit keluarganya. Evan juga tidak ingin jika sampai mengecewakan kedua orang yang telah membesarkannya hingga menjadi seperti saat ini.
Sejak menjadi putra mereka, kehidupan Evan menjadi sangat baik. Sonya dan Zacky menyayangi dan memperlakukan Evan layaknya Evan memang darah daging mereka sendiri. Dan sejauh ini, tidak banyak yang telah Evan lakukan untuk membalas semua kebaikan yang telah mereka lakukan. Dan mungkin inilah saatnya jika Evan ingin melakukan hal yang bisa membahagiakan mereka. Menikah dengan gadis yang mereka pilih dan memberikan cucu yang mereka inginkan.
Evan memejamkan matanya sesaat, lalu membuka matanya lagi. Dulu dia mengira akan menghabiskan sisa hidupnya dengan seseorang yang dia cintai. Gadis kecil pelipur laranya. Tapi ternyata hal itu hanyalah angan-angan semata. Evan harus menerima jika nanti gadis yang akan menikah dengannya bukanlah Zaya. Mau tidak mau Evan harus berusaha untuk mencintainya.
Evan tersenyum miris sambil mengambil pigura yang tertelungkup diatas nakas. Pigura yang kacanya telah retak karena pernah terjatuh sebelumnya. Tampak foto seorang gadis kecil yang sedang tersenyum memperlihatkan giginya yang ompong.
Evan mengusap pelan foto yang warnanya telah agak pudar itu dengan segenap perasaan. Matanya kembali mengembun jika mengingat sosok yang ada di dalam foto itu. Dadanya kembali terasa sesak. Sebuah kisah kasih tak sampai yang begitu membelenggunya hingga detik ini, sekarang Evan berusaha untuk mengakhiri semuanya.
'Aku juga ingin bahagia, Dee. Ajari aku untuk melupakanmu.'
Bersambung ....
Next part, Evan dan Carissa akan ketemu lagi. Tebak dia cewek yang di jodohin sama Evan apa bukan?
Happy reading❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
LENY
BANGKITLAH EVAN ZAYA SDH BAHAGIA DGN KELUARGANYA JGN MIMITIN ZAYA TERUS KAMU JG BERHAK BAHAGIA EVAN❤
2025-02-10
0
mirin Mika
sedih bnget jdi evan😢😢😢
2021-07-27
1
muii
huhuhuhuhu
2021-07-22
1