*SELAMAT YA... KAMU UDAH JADI ORANG SUKSES SEKARANG* isi pesan yang masuk ke ponsel pribadinya.
*makasih om Ray! Support kalian,doa kalian dan inpirasi dari kalian juga. Jangan bosen bosen doain aku dan nasehatin aku ya!*
*terutama Devan ya...*
*gak dong... Tetap om Salman paling the best*
*hahahaha... Iya iya om Salman mu itu memang paling the best! Nanti tunangan om berarti ambil seluruh komsumsi dari kau ya! Dari yang berat sampai yang paling ringan*
Gia terpaku membaca pesan itu,pesan yang memang tidak pernah dia sangka akan keluar dari salah satu sahabat om nya,yang dari awal bertemu sudah singgah di hati nya.
'Tuhan... Kenapa begini??? Perasaan apa ini Tuhan? Aku mohon Tuhan jika ini hanya sebuah lelucon,aku mohon enyahkan lah!'!! Aku takut Tuhan,aku takut perasaan ini salah dan aku juga tidak ingin mereka tahu...." tanpa Gia sadari dia menangis.
*****
Kesuksessan Gia terdengar bahkan sampai di kampung halaman sang ibunda tercinta,namun mereka hanya tahu sebatas kesuksesan nya tanpa tahu usaha apa sebenarnya yang di di geluti Gia,kabar itu pun sampai kedua sepupunya yang semenjak kepergian sang ayah hanya bisa melihat ibunya berteriak di dalam rumah sakit jiwa.
"ka... Aku mau balas dendam!"
"pasti... Kalau bukan karena dia mungkin kamu bisa lanjut kuliah kamu waktu itu!" balas kakak nya dengan sorot mata menerawan pada kejadian beberapa tahun yang lalu,yang memang sebenarnya tidak sepenuhnya kesalahan Gia.
Kedua saudara itu datang berkunjung ketempat dimana ibunya dirawat,mereka membawa makanan seadanya kesana,melihat ibu nya di sana.
"ma..." anak lelakinya memanggil sang ibu yang sudah ada di depannya,ibunya tidak menanggapi hanya diam sambil memeluk sebuah baju yang dia belikan untuk suaminya.
Sang adik yang tidak tega melihat sang bunda seperti itu,langsung menangis dia tidak tahan diri setiap kali menghampiri sang bunda. Dia langsung pergi tanpa menoleh lagi,dia tahu ibu nya tiak akan ada peubahan,dia tahu ibunya pun tak menantikan kehadirannya.
"de... Intan...." panggil kakak nya,namun adik nya tak menoleh sama sekali,dia berusaha mengejar sang adik,namun dia menemukan adiknya.
Intan pergi tanpa arah dan tanpa dia sadari dia sudah terlalu jauh dari tempat dimana sang ibu di rehabilitasi, "pasti kakak nyari aku!" ucap Intan lalu membuka tas nya untuk mengambil ponsel, "astaga hp ku di kakak lagi!"
Sementara itu Dendi yang tak menemukan sang adik dimanapun akhirnya memutuskan menelpon,namun ponsel itu berbunyi di kantong celananya. "yaelah... Di taro di gua ya tadi!" ucapnya sambil kembali mengantongi ponselnya sendiri.
tibalah saat Intan melintas tempat yang sangat sepi dia merasa ada orang yang mengikutinya,semakin cepat dia berjalan,semakin cepat juga orang itu bergerak.
semenjak kepergian sang ayah dan ibunya yang mengalami gangguan jiwa,kedua kakak beradik itu menjadi sangat akrab dan saling menjaga,kepahitan itu membuat mereka menjadi lebih dekat. Seperti yang orang orang bilang, KADANG... KEHILANGAN MEMBUAT KITA SALING MENGHARGAI ORANG DI SEKITAR KITA
malam itu Dendi tak menemukan adiknya hingga malam berganti menjadi pagi,jangan bilang kenapa Dendi tidak melaporkannya ke polisi tapi ini adalah dunia nyata bukan disinetron,Dendi sudah mencoba membuat laporan,namun di tolah karena belum 2 x 24 jam apalagi adiknya bukan di bawah 17 tahun.
semetara itu di tempat lain Intan sedang menahan nyeri di badannya karena pukulan beberapa orang pria yang berusaha memperkosanya,bukan... Bukan berusaha tapi telah memperkosanya.
jadi malam itu Intan sudah berusaha lari sekencang mungkin namun dia malah bertemu jalan buntu dia berusaha menjaga dirinya,namun tentu saja kekuatannya beda,pria itu membawa serta 2 orang emannya untuk mengilir Intan.
Intan memang bukan seorang perawan lagi,namun dia tidak pernah melakukan dengan paksaan,dia pernah melakukannya dengan sang kekasih,tapi itu atas kemauan mereka tanpa ada paksaan dan kekasihnya melakukan dengan lembut.
*****
dua hari kemudian saat Dendi akan kembali melaporkan adiknya yang tak kunjung di temukan,Dendi melihat adiknya itu dengan penampilan yang sangat berantakan,tidak jauh dari rumah mereka,dari kontrakan mereka lebih tepatnya karena harta peninggalan ibunda Gia tidak boleh di tempati mereka jika tidak ada Gia disana seperti yang sudah kedua orang tua nya tanda tangani.
"Intan..." Dendi langsung menghampiri adiknya dan sang adi yang menyadari kalau di depannya adalah sang kakak,dia langsung memeluk dan menumpahkan semua air matanya. "kamu kenapa de?? Kamu kemana aja?? Kenapa kamu berantakan gini?"
Adik nya tak menjawab,namun sang kakak buru buru membawa adiknya kembali ke kontrakan mereka,dia meminta Intan membersihkan diri namun dia diam saja,akhirnya Dendi memasak air untuk membuatkan air hangat agar adiknya sedikit lebih tenang,dia datang membawa handuk dan sebuah lap kecil untuk membasuh tubuh adiknya.
Saat membantu sang adik membersihkan diri dia langsung tahu jika terjadi sesuatu pada adiknya,dengan tenang dia membersihkan adiknya walaupun beberapa kali tak kuasa airmatanya terjatuh,namun dia harus kuat agar adiknya tidak menjadi lemah.
"kamu ingat siapa yang melakukan ini?" tanya Dendi dengan tenang saat selesai memakaikan baju pada Intan dan adiknya hanya mengeleng. "de... Denger aku.... aku tinggal punya kamu aja sekarang dan aku gak mau kamu kenapa napa,jadi aku minta sama kamu saat ini,aku mohon kamu jangan diam aja,kamu boleh teriak,kmu boleh marah,kamu boleh nangis tapi jangan diam!" ucap Dendi dan kali ini dia sama sekali tak menutupi rasa sedih dan air matanya yang turun.
Intan langsung memukuli kakak nya, "karma ka... Karma... Ini karma buat aku!aku selalu diam aja saat kalian melecehkan perempuan,mulai dari mba yang bantu bantu sampai sepupu kita sendiri dan sekarang aku mendapat karma itu ka!" Intan terus mengamuk dan Dendi diam saja,apa yang di katakan adiknya ada benarnya juga.
Kesokkan harinya Dendi membawa adiknya untuk melaporkan kejadian yang menimpa adik nya itu ke pihak yang berwajib,di sana Intan mengatakan semuanya yang terjadi dan itu membuat Dendi kembali menangis. 'jika benar ini karma dari apa yang aku dan papa lakukan,tolong beri karma itu ke kami saja,jangan ke Intan' ucap Dendi lirih dalam hatinya.
*****
Sebulan setelah kejadian itu para pelaku di tangkap dan langsung di masukan ke sel dengan bukti bukti yang ada,Dendi tersenyum puas saat di hubungi jika para pelaku sudah tertangkap.
"ka...kita gak usah balas dendam ya... Cukup ka,udah cukup sampai sini saja!" ucap Intan saat sedang menyiapkan makan malam.
"terserah kamu aja! Kakak ikut kamu"
"kita hidup layaknya orang lain aja! Jangan ganggu orang supaya kita gak di ganggu"
"siap boss!"
Akhirnya kakak beradik itu memutuskan tidak membalaskan dendamnya,walau sebenarnya memang tidak seharusnya mereka balas dendam karena merekalah sebenarnya yang bersalah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments