malam itu Gia malah lupa mebalas pesan Devan,padahal pengirim pesan sangat berharap jika pesannya di balas oleh pujaan hatinya itu. Malam itu Gia pun mengabari Salman jika dia menerima tawaran modal,pagi nya Gia baru membalas pesan Devan,membuat sang pemilik ponsel langsung menelponnya.
*Gia...*
*ya om?*
*bisa tidk memanggilku seperti itu?*
*hahaha... Om Dev teman Om salman,aku tidak ingin dikutuk om Salman karena memanggilmu dengan nama saja*
Kata kata Gia membuat Devan tertawa,ya... Ini lah kelebihan wanita ini,dia selalu pandai membuat orang tertawa,namun dia selalu pandai menyembunyikan lukanya.
Gia menatap ponselnya sambil tersenyum,ada rasa haru dan bangga jadi satu di kelilingi laki laki luar biasa dengan pesona berbeda beda dan jujur Gia menaruh hati pada salah satu nya tapi Gia tahu tidak mungkin dan tidak bisa,karena dia tidak ingin hubungan hangat ini berubah dengan adanya jalinan hungan di dalamnya.
'cahaya cahaya ku... Terima kasih telah mendukungku' ucap Gia dan mengubah nama mereka bertiga dengan menambahkan kata CAHAYA pada nama mereka.
*****
"CAHAYA KITCHEN'
nama itu yang Gia gunakan untuk usahanya,dia membuatkan berbagai media sosial dan memebuat akun online untuk usahanya juga,namun prosesnya seminggu,membuat Yuli dan sng ibu mengajak Gia untuk membuat test food dan flyer untuk orang yang ada di gedung apartemen itu dan Gia sangat setuju dengan itu, atas persetujuan Rayen akhirnya Yuli serta keluarga kecilnya tingal di apartemen tersebut di kamar belakang yang cukup besar untuk di tempati bertiga,tapi terkadang Gia meminta Yuli untuk menemaninya.
Hari ini Gia membuat test food untuk para pegawai lobby dan beberapa cleaning service (teman teman Yuli) dan tetangga mereka,tak lupa juga dia memposting di instagram milik CAHAYA dan ternyata responnya di luar dugaan. Sore itu ponsel yang di khususkan untuk CAHAYA berbunyi menandakan pesan masuk dan ternyata itu pesanan dari beberapa karyawan dan beberapa penghuni apartemen yang memang sudah merasakan masakan yang di bagikan Gia pagi itu.
Hari ke hari pesanan makin banyak,bahkan terkadang Gia mengangkat video call para cahaya nya itu sembari memasang atau membuat sesuatu. Mereka mengingatkan gia untuk tidak terlalu lelah,jangan semua pesanan main diangkut aja! Kasih target berapa dalam satu hari supaya Gia bisa beristirahat juga,namun Gia yang sudah sangat bersemangat hanya mengatakan iya semata saja tanpa melakukan apa yang mereka ucapkan.
Sebulan berlalu Gia jatuh pingsan di lobby apartemen dan semua yang ada di sana langsung membawa nya ke rumah sakit terdekat,pingsannya Gia sampai ke telinga Rayen,dia di telpon oleh pihak pengelola memberitahu tentang Gia dan itu membuat Rayen harus terbang siang itu ke Jakarta.
Semenara di kantor Salman sudah mulai khawatir karena dia baru saja memecahkan mug kaca pemberian Gia,Mug itu jauh dari pinggir meja dan tiba tiba saja jatuh,membuat Salman lngsung kepikiran tentang keponakannya itu. Dari siang hingga menjelang malam Gia pun belum mengangkat telponnya.
-salah satu rah sakit yang tidak jauh dari apartemen-
"bi... Ga ada yang bilang sama pak Rayen kan?"
"gak ada mba... Bibi gak bilang apa apa,tapi bibi belum tahu kalau Yuli kasih tahu,soalnya bibi belum ketemu Yuli lagi."
"coba bi... Telpon ka Yuli bilangin aku mau bicara"
Bibi pun mencoba menelpon anaknya yang memang saat ini masih bekerja karena tadi dia membantu membawa Gia ke rumah sakit jadi ada beberapa pekerjaaan yang dia tinggalkan.
*iya bu gimana mba Gia?*
*ka Yul...*
*eh mba Gia,,, sebentar ya ka,ini aku udah selesai kok! Abis ini langsung ke sana*
*ka Yuli gak bilang pak Rayen kan?*
*hah? Enggak mba,emang mba Gia mau aku kabarin bapak?*
*jangan jangan ka... Kasian mereka lagi kerja,nanti ganggu jadinya!*
*baik mba... Saya tutup dulu ya ka,biar cepat beres beres nya.*
*makasih ya ka*
*sama sama mba*
Sampai di bandara Rayen sengaja tidak langsung ke rumah sakit,dia mampir ke apartemen karena dua wanita yang dia minta menjaga Gia tidak ada sama sekali ada yang menghubunginya,sesampainya di apartemen dia langsung tercengang dengan satu papan tulis kecil yan ada di sana,yang Gia tempel atas ijin darinya,dia sana ada lebih dari 15 catatan pesanan mereka seminggu ke depan Rayen sampai mengeleng melihatnya.
"pantes sakit... Satu hari di atas seratus box! Menu berbeda setiap hari dan belum ada hari libur sebula ini! Kaya duit bakal di bawa mati aja!" gumannya kesal dengan Gia yang idak mendengarkan kata kata mereka.
19.32 Rayen sudah ada di lobby apartemen ingin menyusul keponakannya dan tiba tiba saja ada yang menghampiri nya dan memberikan ponsel Gia yang terjatuh saat pingsan,dia sempat menanyakan keberadaan Yuli namun mereka mengatakan jika yuli sudah pergi se jam yang lalu dengan teburu buru.
"baik... Terima kasih ya"
"sama sama pak"
-di rumah sakit-
"gimana mba? Kita hubungi aja ya kalau mba sakit?"
"kaya nya jangan deh ka!"
"biar mba istirahat dulu,kalau makin parah nanti saya bingung ngabarin ke pak Rayen nya,saya sudah janji jaga mba di sini"
"gini aja ka... Menu beberapa hari ke depan kan sebagian sudah kita frozen,kaya rolade,chiken wing,pillow egg,cordon blue dan lainnya. Ka Yuli tinggal bikini nasi dan sayur buat menu ayam bakar lusa nanti juga udah aku marinasi ayamnya nanti ga usah pake sayur lalap aja sama sambel."
"tapi yang jaga mba disini siapa kalau aku sama ibu pulang,stelah itu baru kalian ke sini,tapi kalian istirahat dulu sejam dua jam baru ke sini jadi kalian gak ikutan sakit"
Yuli bingun namun tetap mengiyakan usul dari Gia,di luar ruang rawat itu Rayen hanya mengeleng kan kepala keras kepala Gia sangat persis dengan Salman padalah mereka tidak kandung.
"ehem.." seorang pria dengan seragam dokter berdeham di dekat situ, "permisi... Saya ingin memeriksa pasien,maaf anda dengan siapa?"
"saya wali nya dok! Om nya Gia"
Dokter tersebut mengerutkan kening "kenapa tidak masuk?"
"saya baru sampai dia sedang berbincang,jadi saya nunggu dia selesai"
"menguping maksud anda!?" ucapnya membuat Rayen mengaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
Rayen masuk bersama dokter,bibi yang pertama kali melihat Rayen terkejut,namun langsung menunduk karena tahu kesalahannya,sedangkan Yuli dan Gia sama sama terkejut saat dokter sudah mendekat dan ada Rayen di belakangnya. Selama pemeriksaan tidak ada yang mengeluarkan suara sama sekali kecuali si dokter yang hanya di jawab anggukan dan gelengan oleh pasiennya itu.
" jadi... Siapa di antara kalian yang bertanggung jawab menjelaskan ini?" tanya nya namun tak ada satu pun yang menjawab itu, "aku tidak suka jika orang yang bersama ku tidak mendengarkan kata kata ku! Kalian paham?" ketiga orang itu hanya mengangguk, "bibi dan Yuli kembali,biar saya yang menjaga nya disini,kerjakan pesanan kalian sesuai dengan arahan dari bos kalian ini" ucapnya menunju Gia semakin membuat Gia merasa bersalah.
Bibi dan Yuli benar benar kembali ke apartemen,sementara Rayen bersama Gia di sana,tak ada pembicaraan dalam 15 menit pertama,Rayen hanya duduk dengan laptop di pangkuannya sampai seorang suster datang membawa makan malam.
"permisi... Makan malamnya"
"Terima kasih sus" ucap Gia.
Rayen menghampiri dan membuka plastik yang menutupi makanan itu,mengambil sendok menyuapkan ke dalam mulut Gia,dia pun menerimanya karena takut dengan mata tajam yang selalu meliriknya itu,ruangan ber-AC pun terasa panas saat ini,hingga tinggal beberapa suap lagi ponsel yang di sofa berdering 'CAHAYA PERTAMA' itu lah yang tertera di layar ponsel,Rayen memberikan ponsel itu pada Gia,Gia baru sadar jika itu ponsel milik nya sendiri.
*halo* Gia mengangkatnya dengan loudspeaker,membuat Rayen mendengar obrolannya.
*halo sayang... Kamu itu dari tadi ga angkat telpon dimana?* ucap Salman membuat Rayen sempat terkejut,namun dia berusaha mengubah raut wajahnya.
*aku ada kok...*
*aku chat telpon dari tadi gak di angkat*
*iya maaf ya,aku ga tahu*
*aku video call ya! Aku gak yakin*
Kata kata itu membuat Rayen langsung bediri dan keluar dari ruangan itu,keputusan Gia untuk menyembunyikan siapa yang menolongnya membuat Rayen harus berpura pura tidak tahu tentang semua ini.
...****************...
ternyata Salman melakukan panggilan grup,namun Rayen tak mengangkatnya hanya mengirim pean di grup itu kalau dirinya masih berada di keramaian,namun gia dan Devan mengangkatnya.
*kamu dimana?* Salman heran melihat ruangan asing... Bukan seperti apartemen teman keponakannya itu.
*kaya rumah sakit ya* ucap Devan memperhatikan Gia.
Gia menyorot ke arah tiang infus membuat kedua nya mengumpat dan langsung di berondong pertanyaan oleh kedua nya,sepert apa yang terjadi?sakit apa? Dari kapan? Kenapa bisa begitu? Apa kata dokter dan lain sebagainya membuat Gia tidak menjawab satupun karena bingung.
*tenang... Ini salah satu tantangan aku yang lagi berusaha untuk jadi pengusaha.* ucap Gia dengan tenang nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments