Rayen diam mendengar itu,tapi semua itu Salman yang tahu kita gak mungkin pergi tanpa tujuan di kampung orang,dia juga sebenarnya sama khawatirnya dengan dua orag sahabatnya,tak lama bibi datang dengan minuman hangat dan sebuah kabar yang akan mencengangkan semua orang.
"aden aden... Bibi mau kasih kabar kalau pak Anto ayahnya non Intan meninggal dunia,jenazah sudah di perjalanan menuju ke sini."
"terima kasih buat info ya bi..."
setelah kepergian bibi mereka di kejutkan dengan tawa Salman yang cukup menggelegar. "mamp*s kalian! Itu balasan yang setimpal untuk kalian... Kalian harusnya mengurusnya dengan baik bukan malah menyakitinya hahahahaha"
Kedua sahabatnya bukan ikut senang malah sedih melihat sang sahabat sepeti itu,karena dari mereka semua Salman memang yang paling sabar,hal ini membuktikan bagaimana berartinya Gianna untuk sahabat mereka.
"hancur... Hancur... Semuanya hancur! mereka berhasil menghancurkan keluarga ini dan berhasil menghancurkan hidupku" teriaknya sambil memukul kepalanya sendiri.
Kedua sahabat nya dengan sigap mendekati memegang tangannya dan memeluknya,momen langka yang hanya akan dilihat saat mereka hancur dan saat ini adalah patah hati terburuk untuk mereka,karena wania paling mereka saya menghilang.
*****
Rumah sudah di penuhi banyak saudara dan kerabat dari Ghina dan Anto hanya Salman dan kawan kawan yang memasang wajah datar,sisa nya ikut bersedih mendengar tangis pilu dari Ghina dan Intan saat itu,entah pura pura atau bagai mana suara tangis itu memang cukup menyayat hati orang terkecuali Salman.
"sedih banget kayanya..." sindir Rayen yang berjalan melewati Ghina,kata kata itu mendapat tatapan sinis dan kesal karena setiap mereka lewat selalu mengatakan itu.
Di saat Ghina dan anak anak nya hendak tidur malam itu karena sang ayah akan di makamkan esok hari,Salman malah lebih dulu kembali ke kamar bersama dua sahabatnya,hal itu membuat Ghina dan anak anak nya kembali ke tempat menjaga jenazah Anto malam itu.
subuh Salman terbangun dan hendak mengambil minum,dia melihat Ghina dan kedua anak nya yang tertidur di samping,timbul rasa tidak tega karena biar seperti apapun dia adalah adik dari kakak angkat ny yng artinya menjadi kakak angkatnya dia juga,walaupun Ghina secara terang terangan menolak saat Ghaida membawanya pulang saat itu,namun jika dia mengikuti perasaannya terus terusan seperti itu Ghina akan semakin seenaknya,tidak hanya padanya,tapi pada keponakannya juga.
Siang itu Anto akan dimakamkan,saat acara penutupan peti Rayen sekilas melihat seseorang yang cukup dia kenal,namun wanita itu hanya melihat dari kejauhan. Rayen berjalan kearahnya namun dia buru buru pergi.
Sementara itu di tempat Gianna berdiri dia merasa ketakutan karena,dia tidak menyangka perbuatannya membuat ayah dari sepupunya itu meninggal dunia,namun dia sendiri hanya berusaha menyelamatkan dirinya.
Setelah kejadian itu,dia berusaha kabur,karena niat nya hanya ingin menunggu hingga tantenya pulang saja,makanya dia bersembunyi di salah satu rumah kosong di sana,namun malam itu saat akan kembali Gianna malah melihat bendera kuning di sana,perasaan nya langsung tak menentu,akhirnya dia berjalan ke arah lain mengunakan hoodie milik Rayen yang memang tertinggal di ruang tamu,dia keujung jalan dimana ada bendera kuning dan membaca nama yang tertera disana.
Betapa terkejutnya dia saat melihat nama Anto di sana,badannya langsung bergetar hebat dan berusaha kembali ke rumah kosong itu. "aku membunuhnya... Aku membunuhnya... Mereka pasti akan mencariku,ya Tuhan! Bagaimana ini... Apa yang harus aku lakukan?" ucapnya masih dengan badan yang gemetar hebat.
*****
Setelah pemakaman semua kembali ke rumah peninggalan Ghaida,Ghina dan kedua anaknya langsung memasang wajah melawan pada Salman,sementara itu Rayen berkeliling di area komplek rumah untuk mencari kebenaran dari apa yang dia lihat saat jenazah Anto akan di bawa ke pemakaman tadi,dia melihat seorang wanita memakai hoodie miliknya dan dia sangat yakin itu adalah Gianna,tubuh nya yang mungil membuat Rayen yakin,namun dia tidak mengatakan apapun agar Gia tidak panik.
"keponakan kesayanganmu membunuh suamiku!" ucap Ghina.
"dia tidak akan melawan jika tidak ada yang memulainya!"
"tidak ada yang melawannya!" Intan yang merasa kesal langsung melawan.
"kau yakin?"
"kenapa kau berbicara seakan ini kesalahan suami dan anak anakku?"
Salman tidak menjawab namun dia pergi ke sebuah sudut dan mengambil kamera di sana. "kalian tidak tahu jika setiap sudut rumah ini terdapat kamera?" tanya nya membuat kedua keponakannya itu sedikit panik,padahal yang dia mengambil kamera yang telah rusak yang memang di letakkan di sana oleh sang kakak,dia hanya ingin melihat reaksi para keponakannya seperti apa.
Keduanya terlihat panik membuat Salman yakin benar yang dikatakan bibi kalau saat kejadian mereka ada di sana dan itu membuat Salman tidak akan memaafkan mereka.
*****
"apa yang kau lakukan?" Rayen menegur seorang gadis yang sedang minun air dari keran air,alias meminum air mentah.
"om Rayen..." ucap gadis itu lalu menghambur kedalam pelukan om nya itu.
"apa yang kamu lakukan? Ayo pulang..." ucap nya lembut,membuat Ga langsung mundur.
"jangan om... Jangan aku mohon..."
"semua akan baik baik saja Gia... percaya padaku! Mereka tidak akan berani menyentuhmu!"
"jangan om...hanya om yang tahu kehadiran ku! aku akan kembali kabur dari tempat ini jika om masih mengajakku kembali! Aku mohon jangan katakan kepada mereka tentang pertemuan ini! Aku mohon"
Rayen menarik napas dan menghembuskannya dengan kasar,dia mencoba berfikir sebentar dan akhirnya dia mendapatkan ide terbaik. "dengarkan aku... Aku tidak akan mengatakan pada siapapun tentang mu dan pertemuan ini! Tapi aku punya sebuah permintaan"
"apa?"
"aku akan menjemputmu 20 menit lagi,kau harus tinggal di tempat yang layak,aku tidak mau kamu disini"
"tapi mereka akan menemukan ku!"
"tidak akan"
"baiklah..."
Rayen kembali ke rumah Ghaida dan langsung mendapat banyak pertanyaan dari dua sahabatnya,untung tadi dia membeli makanan dan mengantarnya ke Gia dan sisa nya di bawa kembali.
"lama amat lu beli makanan" Devan protes.
"bawel masih mending gua beilin"
"kalau kelamaan juga keburu gua gak laper lagi"
"itu mah urusan lu bukan gua"
"sialan lu!"
setelah makan Rayen pamit dengan alasan bertemu dengan rekannya,Devan dan Salman memilih beristirahat.
*****
Rayen dan Gia berkeliling mencari kost yang pas untuk Gia setelah 1 jam berkeliling akhirnya Rayen memutuskan mencari apartemen,selain dia bebas berkunjung untuk memastikan keponakannya baik baik saja,dia tahu tempat yang aman di area sana.
" om... Apa ini tidak terlalu besar?" kalimat itu membuat si agen properti menatap Rayen dengan agak sinis.
"tidak Gia... Ini pas untuk mu! Aku akan mengunjungi mu dua minggu sekali dan memastikan makanan mu aman"
"terima kasih om! Aku tidak akan pernah melupakan kebaikkan mu ini!"
"sudahlah Gia jangan membuatku seperti seorang sugar daddy!"
"hahahaha... Memang om merasa seperti itu?"
"bagaimana tidak????? semua orang menatapku tidak baik karena kau terus memanggilku om! Sekan aku sedang memberikan jajan untuk sugar baby ku"
Gia tertawa,tawa yang sangat manis,mungkin kalau tidak ingat dia keponakan dari sahabat nya dan sahabat nya yang lain menginginkan gadis ini,dia akan membuat gadis ini menjadi miliknya.
"karena kau memang om ku" ucap Gia di sela tawa nya.
"aku senang mendengar tawa mu!" Rayen mengalihkan perhatian keponakannya itu,karena dia melihat agen property itu telah terkejut dengan obrolan itu.
Akhirnya mereka setuju dengn apartemen minimalis yang berada di latai 7 dimana di sana hanya ada satu kamar tersisa dan itu menghadap sebuah danau buatan.
"jadi apa yang harus aku katakan pada Salman dan Devan?"
"om...aku tidak tahu harus apa..."
"bisa kau ceritakan pada ku apa yang terjadi?"
Cerita itu mengalir dari mulut gadis manis itu,cerita yang begitu miris,mungkin orang lain akan menangis mendengar itu,lemparan tendangan bahkan tamparan yang dia rasakan dan yang buat mengejutkan di lakukan oleh suami dari tante kandung sendiri yang hausnya merawat dan mengurusnya.
"apa dia berhasil melakukannya?" tanya Rayen berpindah tempat duduk ke sebelah Gia dan memeluknya.
"aku... Aku... Tidak tahu " jawab nya gugup.
"sorry...." ucapnya saat Gia kembali tersedu sedu.
Karena pertanyaannya Gia jadi kembali menangis tidak berhenti membuat Rayen merasa bersalah,dia menunggu cukup lama hingga akhirnya Gia tertidur dalam pelukkan nya.
perlahan Rayen membawa gadis dalam pelukkannya ke kamar yang telah dia pilih,kamar yang jendela nya menghadap ke danau. Setelah membaringkannya Rayen keluar dan tak lupa dia mengunci pintu.
30 menit kemudian dia kembali dan mendapati Gia masih tertidur. "sepetinya dia terlalu lelah menangis" guman Rayen tak terdengar.
Dia meninggalkan HP yang baru dia beli untuk berkomunikasi dengan Gia,setelah menyimpan no mereka bertiga di sana dan dia taruh di panggilan darurat 1 2 san 3
Tak lupa dia meninggalkan note di setiap barang yang akan di gunakan Gia,bahkan dia meninggalkan baju hingga baju dalam untuk wanita itu,hanya beberapa pasang karena rencana lusa dia akan kembali untuk mengajak wanita itu pergi berbelanja pakaian dan mengenalkannya pada wanita paruh baya yang akan menemani nya disini.
*****
Gia terbangun hampir tengah malam dengan perut kosong,saat bangun yang pertama dia lihat adalah note lucu dari sahabat om nya.
"aku tidak mengatakan apapun pada siapapun tentang keberadaan mu! aku akan menunggu persetujuan mu tentang persembunyianmu ini! Gunakan ponsel ini untuk menghubungi siapapun yang ingin kau hubungi,tapi aku sudah menyimpan nomor nomor orang yang penting"
"benar kan hanya ada no penting" sebuah pesan masuk kurang lebih 30 menit yang lalu,membuat Gia tertawa saat membukannya.
"SANGAT PENTING!!! Terima kasih untuk kehadiran mu om,aku menyanyangimu" dia membalas pesan itu tak lupa menyematkan tanda hati di sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments