Ibadah dan pemakaman berjalan dengan sangat lancar,mereka kembali ke rumah Ghaida yang ada di ibu kota dan rumah itu sudah batas nama Gianna peninggalan dari sang ibu jauh sebelum dia kembali bersama Bapa di surga. di sana Rayen dan Devan tetap ada di sisi Salman dan keponakan nya agar tidak ada yang menghalalkan segala cara karena mereka tahu kalau asuransi Ghaida tidak kecil, di tambah barang dan investasi yang di tinggalkan.
malam itu juga Ghina langsung meminta untuk bicara dengan Salman,kedua sahabatnya yang dari tadi terus menempel langsung menatap Salman yang kemudian menganggukkan kepala nya.
"kita ga perlu basa basi lagi! biar Gia tinggal bersama kami di sini"
"gak gitu dong mba... ini kan kakak baru saja kita makamkan! kita gak bisa bicarakan itu sekarang, kita harus pikirin Gianna jangan pikirin diri kita sendiri! lagi pula dalam surat kakak Gia harus tinggal sama kalian tanpa paksaan,kasian dia mba! dia masih syok"
"oke... mba tunggu sampai hari ketujuh! setelah itu kita akan bicarakan ini, biar tidak terlalu larut."
Salman dan dua sahabatnya mencoba mencari tahu kebenaran tentang isi surat yang di buat ka Ghaida,menurut pihak kepolisian ka ida memang sudah dua minggu sebelum bunuh diri dikunjungi sepasang suami-istri yang mengaku sebagai saudara dan menurut buku tamu atas nama Anton.
kedua sahabat Salman berusaha membantu meminta rekaman CCTV untuk mengetahui apa yang terjadi,sementara itu Salman berusaha mengulur waktu,ternyata rencana Salman dan kawan kawan tercium Ghina dan sang suami.
di saat Salman lengah,Ghina memanfaatkan untuk mengancam Gia. "Gia... Jika kau ingin om kesayangan mu baik baik saja kau harus menuruti keinginan ku!!"
"aku harus melakukan apa? "
"mudah... kau bilang padanya jika kau ingin tinggal bersama ku"
"jika itu tidak membuat tante tidak melakukan hal buruk pada om Salman,aku akan melakukannya."
"bagus... ini yang aku tunggu!"
Salman semakin khawatir karena ini sudah memasuki hari ke enam,tapi entah kenapa dan bagaimana pencarian sabahat sahabatnya hilang, seperti ada sebuah kesengajaan.
malam itu Gia meminta Salman mengajak nya keluar dia ingin menghabiskan waktu yang hanya sebentar ini,walaupun ini keputusan nya sendiri namun Gia masih ragu, berat untuk nya meninggalkan satu satu nya cahaya hidupnya itu. ya... om Salman adalah laki laki yang membawa cahaya dalam hidup nya di saat semua cahaya meredup.
"Gia... kamu jangan ngelamun terus! " tegur Salman lembut.
"ga ngelamun om..."
"senyum dong..." ucapnya dan sang ponakan langsung tersenyum dengan sangat manis.
awal mereka hanya minum kopi di sebuah danau sambil bercerita,Salman menceritakan kisah nya hingga bertemu dengan mama nya Gia dan Gia menceritakan masa kecil yang luar biasa bahagia, lalu hancur hanya karna rasa egois dan rasa tak puas dari ayah nya, yang merasa tak ingin di kalahkan oleh sang ibu yang usahanya cukup bagus di kota Malang dan Jakarta.
padahal saat itu ibu tetap sederhana dan apa adanya,hanya saja ayah memang selalu ingin terlihat lebih unggul, terutama untuk hal uang,sampai akhirnya dia menyetujui rencana nenek untuk menikah lagi. Gia sempat menitikkan air mata mengingat kisah itu lagi,aahhh... rasanya tidak ingin aku punya keluarga seperti mereka. bahkan bagaimana tante Ghina memperlakukan ibu nya begitu melekat dalam ingatan nya,saat itu mereka belum tahu jika ibu mempunyai beberapa usaha dan harta benda yang semua di kelola oleh sang adik angkat.
"om... bisakah biarkan aku tinggal bersama mereka?"
"kamu jangan gila Gia.."
"om... mereka keluarga ku?"
"keluarga? kau bercanda? apa mereka menganggap mu keluarga?"
"om... aku mohon..."
"tidak Gia... kamu jangan menyiksaku! kau tahu bukan hanya kamu yang tersisa dalam hidupku! bahkan semua akan aku relakan asal kamu bersama ku! " nada Salman pun mulai tak biasa.
Gia menggenggam tangan om nya itu,menggenggam dengan erat menenangkan laki laki yang paling dia sayang saat ini. "percaya sama aku... aku akan baik baik saja... aku akan jaga diri dengan baik"
Salman tidak menjawab,dia memutuskan untuk bangkit dari duduk nya dan pergi dari sana, namun tetap masih ada Gia dalam genggamannya,mereka pulang namun tak ada satu kata apapun yang keluar dari mulut nya, hingga mereka kembali ke rumah yang ternyata sudah ada Rayen dan Devan di sana.
"akhirnya pulang juga kalian... " Ghina berasa di sana juga.
"Gia istirahatlah..." Salman tetap mengatakannya dengan lembut,Gia pun menganggukkan kepalanya dan menurut.
"saya setuju apa pun keputusan Gia mba.... kita bicarain lagi besok! biarin dia istirahat,tapi aku juga punya syarat sama setiap keputusan yang Gia ambil." ucap Salman setelah melihat sang keponakan sampai di kamarnya yang bersebelahan dengan kamarnya sendiri.
"apa syarat nya?"
"kita lihat keputusan Gia dan aku akan mengajukan syarat"
"oke.. awas saja jika kau tidak Terima dengan keputusan itu"
Salman tak menjawab,dia lebih memilih menghampiri sahabat sahabatnya dan mengajak mereka keluar,sahabat nya yang memang hadir untuk memberi dukungan mengikuti kemana sahabat nya akan pergi.
*aku tahu kamu denger keputusan ku! jika sesuatu terjadi padamu,aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri... istirahatlah...*
Salman mengirimkan pesan itu pada keponakan nya dan bertepatan dengan jawaban Gia di ponselnya,Salman menoleh ke arah jendela kamar,keponakannya menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
kedua sahabat nya menatap ke arah yang sama lalu tersenyum pada wanita itu,Gia spontan membalas senyum mereka,walau terlihat dipaksakan.
"tidur..." ucap Salman tanpa suara,Gia mengangguk dan melambaikan tangan pada yang lain,yang lain membalas lambaian itu, hanya Salman yang langsung masuk ke mobil.
*****
pukul 1 dini hari Salman masih di sebuah tempat yang menyediakan minuman beralkohol bersama kedua sahabatnya,berat... sangat berat untuknya melepaskan orang yang dia sayangi.
"jadi Gia akan bareng mereka?" tanya Devan dengan nada yang terdengar agak kesal.
"apa yang bikin dia ambil keputusan itu?" kali ini Rayen yang bertanya.
"gua gak tahu dan gak ngerti kenapa keputusan itu yang dia ambil tapi gw yakin ini bukan murni keputusan dia,secara gw tahu banget kalau dia ga suka sama ini orang. " Salman masih ragu.
malam itu Salman dan Devan mabuk, sedangkan Rayen yang tahu dua sahabat nya ini akan mabuk, berusaha menjaga batas aman kesadaran nya. dia tahu keputusan yang di ambil keponakan sahabatnya itu mempengaruhi dua orang ini, Salman karena dia adalah orang yang melihat nya bertumbuh dan merawatnya dari 3 SD dan Devan yang sempat mengatakan pada Rayen kalau dia jatuh hati pada anak kecil itu,yang bisa di bilang keponakkan nya juga.
Pukul 3 pagi pagar rumah terbuka menampilkan mobil Devan masuk,Gia yang memang sudah menunggu langsung membuka jendelanya,dia melihat Rayen berbincang dengan mang Usup yang selama ini menjaga rumah. Dua pria itu berjalan ke sisi kiri kanan pintu dan memapah dua pria lain nya,mang Usup membawa om Salman dan om Rayen membawa om Devan.
"astaga... Om Salmam..." Gia menjerit dan buru buru keluar dari kamar, "om ada apa ini?" tanya Gia setelah duduk di samping Salman.
"mereka mabuk" jawabnya santai lalu ikut duduk.
"aku tahu... Tapi tidak biasanya om Salman seperti ini"
"aku rasa ada hubungan nya dengan keputusanmu!"jawabnya singkat, " aku harap keputusanmu yang terbaik agar dua laki laki ini tidak seperti ini"
"dua???"
"hahahaha....apa yang kau lihat hanya satu laki laki yang mabuk saat ini??"
"kenapa aku harus memikirkan dia juga??" tanyanya sambil menunjuk Devan.
"hahahahaha.... Sudahlah...." Rayen hanya membalas sekenanya.
Gia masih heran dengan apa yang di ucapkan sahabat om nya itu namun dia berusaha mengabaikan agar tidak terlalu banyak pikiran,Gia pergi ke dapur dan kembali dengan sebuah baskom dengan air hangat,di belakangnya ada istri mang Usup yang dengan benda yang sama.
Gia menghampiri laki laki kesayangannya,membasuhnya dengan air hangat,sedangkan Devan dibasuh teh iis,munculah niat usil Rayen merekamnya,untuk menggaggu sahabatnya nanti.
Saat pagi menjelang,Rayen lebih dulu terbangun dan betapa terkejutnya dia saat mendapati Gia tertidur di samping Salman yang berbaring di sofa dari semalam,dia menarik napas dalam melihat kedekatan sahabatnya dengan keponakannya itu. "Devan... Devan... Lu harus 50 kali lebih keras buat meluluhkannya kalau kaya begini.." ucapnya dalam hati.
Salman terbangun dan mendapati keponakan kesayangannya itu di sampingnya,dia sempat mengelus pelan rambut itu,tanpa dia sadari dua sahabatnya ada di sana.
"om..." Gia terbangun karena kecupan di kepalanya.
"bangun sayang... Kepala aku pusing" ucapnya sambil tersenyum,mendengar itu Gia langsung berdiri dengan cepat,bahkan saking cepatnya sampai dia tidak menjaga keseimbangannya dan hampir saja jatuh ke lantai,untung Salman dengan cepat menangkapnya,kejadian itu pun tak luput dari tontonan para sahabat mereka,Devan panas dan Rayen hanya tertawa. Namun apa yang di lakukan Rayen membuat Salman bingung,karena tidak biasa biasa nya Rayen akan merespon hal hal sekecil itu,dia yakin ada sesuatu di balik tawa Rayen yang seperti meledek itu.
*****
malam itu mba Ghina yang memang tidak ingin membuang waktu lngsung meminta kuasa hukum dari Ghaida kakak nya untuk datang ke rumah Yang dulu di tempati Gianna dan keluarga.
"selamat malam semuanya... Saya sebagai kuasa hukum Ibu Ghaida ingin menjelaskan isi surat yang ditinggalkan beliau untuk ibu Ghina,mas Salman dan mba Gianna"
"selamat malam..." jawab mereka serentak.
"maaf... Apa di sini ada yang bukan keluarga?" tanyanya lagi.
"tidak ada" jawab Salman cepat,padahal di sana ada Rayen dan Devan,Ghina bahkan diam saja agar hal itu berlangsung lebih cepat sesuai dengan keinginan mereka.
"baik akan saya lanjutkan... Saya mulai dari harta yang di tinggalkan Ibu saat ini,ada 2 buah kedai makanan,3 toko atk dan barang unik serta 3 toko frozen food,semua ada di kota ini. Sedangkan di kota lain atau lebih tepatnya di Malang,beliau mempunyai 2 kedai kue 1 toko florist dan 3 frozen food yang selama ini di kelola oleh bapak Salman selaku adik laki laki Ibu Ghaida"
"punggut" ucap Ghina memperkeruh suasana,namun Salman tak menanggapi karena tahu akan di pancing.
"eehhheemm... Boleh saya lanjutkan?"
"silahkan pak... Maaf karena harus mendengar suara penunggu rumah ini,seperti nya mang Usup lupa memberinya darah tadi malam." kali ini suara Devan yang mengema.
"sekarang saya akan sampaikan harapan dari Beliau,yang pertama ibu Ghaida sampaikan dimana Ibu Ghaida meminta agar Ibu Ghina sebagai adik kandung agar menerima dan merawat mba Gianna seperti anak sendiri di saat beliau sudah tiada dan hingga nanti Gianna di miliki orang lain atau dengan kata lain menikah. Lalu untuk Mba Gianna ibu meminta agar mba Gianna bisa tinggal bersama dengan ibu Ghina namun mas Salman masih boleh datang mengunjungi ataupu pergi berlibur dengan keponakannya." ucapnya.
"tidak... Bisa pak karena..." mba Ghina memotong pembicaraan itu.
"maaf bu itu keputusan mutlak dan tidak untuk diganggu gugat!" tegasnya lagi,membuat Salman yang ada di sisi lain tersenyum puas. "semua keputusan yang saya sebutkan langsung dari Beliau dan tidak sama sekali bisa di ganggu gugat. Ibu Ghina akan mendapatkan beberapa aset jika mba Gianna ada bersama kalian dan tapi jika tidak ibu Ghina hanya mendapatkan rumah kedua dan rumah ini Beliau wariskan untuk mas Salman dan Mba Gianna. Demikian keputusannya dan akan saya serahkan kepada Mas Salman yang akan memberi persyaratan kepada ibu Ghina dan keluarga untuk membawa mba Gianna dari sini dan saya akan membuatkan surat persyaratan itu untuk di tanda tangani sekarang."
"terima kasih pak...." balas Salman sopan padanya. "mba... Sebelumnya saya minta maaf,mungkin mba memang belum menerima keberadan saya di keluarga kecil mama Lily sampai saat ini,bukan maksud saya melawan mba atau tidak menyukai mba dan keluarga,jauh dalam lubuk hati saya yang terdalam saya juga ingin dekat dengan mba tapi karena memang dari awal ka Ghaida bawa saya mba tetap belum menerima keberadaan saya. Namun Gianna tetap tanggung jawab saya juga karena kakak dan Mama mengangkat saya sebagai anak secara resmi dan saya ada di kartu keluarga yang sama dengan Mama yang saat ini hanya berisi saya dan Gianna,saya hanya ingin semua berjalan sesuai dengan apa yang telah dikatakan surat dar mba Ghaida kalau segala sesuatu yang menyangkut Gianna tetap harus persetujuan saya walaupun dia tinggal bersama mba dan hasil 2 toko yang ada di sini yang akan menjadi milik mba akan tetap menjadi milik mba,saya mau tetap di ijinkan untuk meenjenguknya tanpa ada halangan dengan alasan apapun,karena saya mau tetap melihat ponakan saya mba... hanya itu yang saya mau"
Setelah mengerti maksud perkataan Salman orang kepercayaan Ghaida langsung membuatkan surat yang menyatakan jika dirinya boleh menemui sang keponakan kapan pun yang dia mau tanpa ada halangan dari siapapun termasuk suami dari ibu Ghina sendiri. Setelah jadi surat itu langsung di tanda tangani saksi dan mereka dan itu menandakan malam ini adalah malam terakhir Gia bersama dengan mereka dan tiba tiba malam itu setelah rapat dadakan itu Salman berkata pada keponakkan kesayangannya itu "hari ini aku tidur di kamar mu ya..?"
"iya" jawab keponakannya cepat,karena setiap kali laki laki itu akan pergi dia akan menginap di kamar Gia.
"wah... Apa apaan ini..." Devan tak terima.
"apaan sih... Kok jadi lu yang sewot" Salman kesal.
Rayen tak kuasa menahan tawa mendengar pertengkaran itu Devan yang tak berani kalau Salman tahu langsung buru buru menutup mulutnya menatap Rayen tajam karena sang sahabat masih tertawa tanpa henti. Tawa itu baru berhenti saat Salman hendak beranjak membawa keponakannya ke kamar dan setelah berbagai macam perdebatan,akhirnya mereka berempatan ada di kamar yang sama,namu bukan beristirahat mereka malah berbincang dan meluapkan emosi mereka di sana saling menguatkan dan saling memberikan dukungan untuk keadepnnnya nanti.
"om... Aku titip om Salman ya..." ucap Gia menatap Devan dan Rayen bergantian.
"pasti sayang... Kamu harus tiap hari berkabar sama kita ya,sekecil apapun kejadiannya om minta kamu bilang sama kita" ucapnya memeluk tubuh mungil keponakan sahabatnya itu.
"janji ya...jangan biarin dia dia minum terlalu banyak"
"iya....sayang"
"kalian berdua memang om terbaik!!!"
"kita bertiga jadi terbaik karena kita punya kamu yang terbaik juga" kali ini Devan yang bicara dan tidak menyianyiakan kesempatan untuk memeluknya gadis itu,namun sialnya sang om kesayangannya datang saat Devan sedang memeluk keponakannya itu.
"ngapain sih lu??" Salman menarik Devan cukup keras.
"Om..." Gia dengan lembut memanggilnya.
"kamu juga mau aja di peluk ber*k satu ini"
"ga boleh gitu om"
"lu man... Ponakkan lu aja gak masalah!" Devan sewot.
"sana lu... Jauh...."
Malam itu di penuhi dengan segala pesan dan wejangan dari ketiga pria itu dan beberapa pesan dari wanitu imut dan mungil yangakan mereka tinggal di kota ini bersama seseorang yang katanya adalah Tante kandungnya.
"aku janji hanya pergi sebentar dari kalian dan aku akan kembali lagi sama kalian" ucap Gia di penghujung malam itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments