Gia terbangun hampir tengah malam dengan perut kosong,saat bangun yang pertama dia lihat adalah note lucu dari sahabat om nya.
"aku tidak mengatakan apapun pada siapapun tentang keberadaan mu! aku akan menunggu persetujuan mu tentang persembunyianmu ini! Gunakan ponsel ini untuk menghubungi siapapun yang ingin kau hubungi,tapi aku sudah menyimpan nomor nomor orang yang penting"
"benar kan hanya ada no penting" sebuah pesan masuk kurang lebih 30 menit yang lalu,membuat Gia tertawa saat membukannya.
"SANGAT PENTING!!! Terima kasih untuk kehadiran mu om,aku menyanyangimu" dia membalas pesan itu tak lupa menyematkan tanda hati di sana.
Lusa pun tiba,Rayen menepati janjinya pada Gia untuk pergi bersama ke toko baju,pukul 3 sore Rayen sudah ada di lobby apartemen,sayang nya saat sampai di kamar dia tidak menemukan siapapun,bahkan pintu tidak terkunci.
Dia mencari keponakannya itu keseluruh ruangan,bahkan kamar mandi dan tak menemukannya dimanapun,membuatnya memutuskan turun ke bawah untuk menanyakan pada resepsionis atau satpam.
Namun ketika lift yang dia tumpangi berhenti di lobby dia mengurungkan niatnya untuk keluar karena gadis yang baru saja dia cari masuk dengan masker serta kepala yang menunduk sehingga tidak melihat keberadaan dirinya di sana.
Gia sendiri yang merasa diikuti mempercepat langkahnya saat akan keluar dari lift,bahkan dia sempat tersandung dan hampir jatuh. gadis itu berusaha membuka kamarnya,namun kuncinya seperti tidak masuk ke tempatnya.
Rayen berinisiatif mengambil kunci itu dan membantunya membuka kamar itu,betapa terkejutnya dia saat menyentuh tangan itu dan ternyata tangannya sangat dingin membuat Rayen membalikkan badan mungil itu,PUCAT.... Wajah itu sangat pucat membuat Rayen tidak enak hati,dia mengambil belanjaan di tangan Gia dan membuka pintu itu untuknya.
Brukkkk....
Gia jatuh pingsan di depannya,tangannya pun kalah cepat kepala Gia membentur lantai,Rayen melepaskan belanjaan yang ada di tangannya dan buru buru mengangkat gadis itu ke kamar,saat dia keluar ada seorang petugas hotel di depan pintu yang sudah memungut belanjaannya.
"maaf pak... Ini tercecer"
"iya,,, terima kasih ya! Bisa kau membantuku?"
"dengan senang hati pak"
"di dalam kamar itu ada keponakan ku,barusan dia pingsan karena sedang sakit namun dia berusaha untuk membeli makanan sendiri, bisakah kau menganti baju gadis itu dengan baju ini?" ucapnya dan memberikan sebuah papper bag.
"baik pak...maaf ya pak,saya ijin masuk"
"silahkan"
Tidak sampai 15 menit gadis itu sudah keluar dan dengan panik dia memberi tahu jika Gia tiba tiba berteriak minta tolong,dengan sigap Rayen masuk dan langsung memeluk gadis itu dn mengelus punggungnya yang ternyata belum terpasang sempurna bajunya.
"terima kasih telah membantu ku" ucapnya menyerah uang kepadanya.
"Tidak pak... Saya senang membantu anda!"
Rayen memasukkan kembali uang nya "siapa namamu?"
"Yuli pak"
"Yuli...jam berapa kau selesai bekerja?"
"jam 5 pak"
Rayen menoleh ke jam dinding "15 menit lagi???" gadis itu menganggukkan kepalanya, "bisa kah kau menemuiku seelah jam kerja mu selesai?"
"untuk?"
"aku ingin mengenalkan mu pada keponakan ku"
"baik pak,saya akan kembali ke sini"
tepat pukul 17.49 Yuli kembali ke kamar Gia sudah dengan pakaian bebas,dia menepati janji nya ke Rayen unuk datang,Rayen menyajikan makanan yangsudah dia pesan sebelumnya.
"terima kasih pak" ucapnya sambil tersenyum.
"sama sama... Kau tamu ku sekarang,tidak usah terlalu formal"
"baik pak... Maaf kalau boleh saya tahu,saya ke sini untuk apaya pak?"
"hahahaha... Kamu cukup to the point ya,tidak pakai basa basi!"
"Maaf pak... Saya hanya tidak ingin timbul pembicaraaan yang tidak tidak."
"baiklah...saya ingin menanyakan apa kau mau menemani keponakan ku disini? Aku akan mengaji mu"
"saya sudah bekerja pak maaf... Tap saya bisa inta ibu saya menemaninya di sini"
"bisa kau membawa ibu mu malam ini ke sini? Tapi beliau harus menginap"
"biar saya bicarakan pada ibu saya dulu pak"
"ini kartu nama saya! Ada no telp saya di sana,apapun keputusan ibu mu,tolong beri kabar ke saya!"
"baik pak... Salam untuk keponakan anda"
*****
Setelah sadar Gia langsung menanggis dia pikir dia tidak akan selamat kali ini,nmun ternyata dia mengingat kembali wajah Rayen lah yang muncul membuatnya langsung mencari Rayen.
"om..."
"astaga Gia... Kenapa lama sekali pingsannya?"
"aku tidak tahu om..." ucapnya menghampiri Rayen di dapur,dia melangkah dan hampir jatuh dan kali ini Rayen berhasil menangkapny.
"duduklah..."
"apa ada yang bisa aku bantu?"
"tidak...diamlah disana dan jangan melakukan apapun."
"hemm... Om... Apa kau akan ada tamu? Kenapa masakan ini seperti banyak sekali?"
"ya... Aku akan mengenalkan mu pada seorang gadis dan ibunya!"
"wow... Apakah aku akan segera mendapar aunty?"
"bukan! Mereka yang akan menemaniku disini! Ku mohon jangan menolak!"
Gia tak menjawab iya ataupun tidak,dia tahu kalau Rayen akan melakukan ini,apalagi setelah kejadian yang barusan terjadi... Dia pun tak berani menolaknya.
menjelang makan Malam office girl yang siang itu membantu Rayen datang bersama sang ibu,dia sedikit terkejut saat Gia membuka pintu untuknya,dia pikir itu gadis yang berbeda dengan gadis yang dia toong siang itu.
"selamat malam ka... Bisa bertemu dengan pak Rayen?"
"lagi masak... Masuk aja"
"terima kasih mba"
"Gia" dia memperkenalkan diri.
"saya Yuli mba... Yang tadi gantiin baju mba.. Inget kan tadi mba sempat tanya saya siapa?"
"jadi kamu??? Saya kira om Rayen,saya udah ngomel sama dia dari tadi"
"aku kan udah bilang kalau bukan aku!" ayen tiba tiba sudah hadir di sana.
"iya iya... Maaf ya om Rayen"
"cuekin dia Yuli... Ayo kita makan malam"
mereka makan malam dengan sangat kekeluargaan tak lupa Rayen mengatakan maksud dan tujuannya meminta Yuli untuk datang,mereka membicarakan itu sambil makan hingga tak terasa waktu bergulir begitu cepat.
*****
setelah sepakat dengan penawaran yang Rayen ajukan akhirnya Yuli dan sang ibu kembali dan Rayen sendiri menginap di sana,Gia sudah masuk ke kamar setelah Yuli dan ibu nya pamit pulang da Rayen menyalakan Tv namun dia tidak menontonnya malah sednag bertelepon dengan 2 sahabatnya.
"bagaimana kabar mereka?" Gia tiba tiba sudah ada di belakangnya.
"kau menguping?"
"menguping??? Yang benar saja! Suara mu mungkin terdengar hingga lantai 1"
"kau terbangun karena aku?"
"ya... Begitulah kira kira"
"jujur sekali... Saya suka kejujuran itu!"
"jadi kalian kembali besok?"
"ya"
"apa mereka mencari ku?"
"siapa?"
"semua"
"aku tak mencarimu!"
"jelas!"
"hahahaha...mereka sangat mencari mu"
"apa keluarga Om anto juga mencari ku?"
"ya... Mereka juga! Namun kami punya saksi yaitu bibi,tapi mereka tidak punya saksi ataupun bukti jika kamu bersalah"
"ah... Aku sudah menduga nya!"
"jadi...kau masih ingin bersembunyi?"
"Aku akan menelpon kalian bersamaan besok,om istirahat saja!"
"aku yakin kamu akan memulai sesuatu yang baru,saat kamu akan melakukannya beri kabar pada ku! Salman pasti bisa membantumu,karena dia wali mu! Lakukan yang terbaik,aku pasti mendukung mu" ucap Rayen lalu mengusir Gia untuk masuk ke kamarnya.
Besok pagi ibu Mar atau ibu nya Yuli sudah sampai di apartemen pukul 6 pagi saat Gia sedang memasak sarapan om nya yang sebenarnya dari pagi om nya pun sudah mengatakan agar dia beristirahat saja,tapi itulah Gia.
"mba... Ibu ngapain kalau mba yang kerjain semuanya...?" tanya bu Mar.
"ibu kan di minta jagain aku ibu... Bukan masakin aku"
"mba mah.. Ibu serius malah bercanda,masa ibu makan gaji buta" ucap bu Mar terptong karena Om Rayen keluar dari kamar.
"pagi pak" sapa bu Mar ramah
"pagi bu... "
"bu Mar.. Om Salman jangan di panggil bapak,dia belum kain,panggilaja akang"
"ah... Masa sih neng! Padahal pak Rayen ganteng ya,,"
"iya bu... Jangan panggil pak ya... Nama aja biar akrab,kan saya nitip anak nakal ini ke ibu,jadi anggap aja kita keluarga."
"jangan pak... Gak sopan,bapak kan bos saya! Gimana kalau saya panggil mas saja?"
"boleh... Lumayan muda dikit" bukan Rayen tapi Gia yang menjawab. "ini bekel nya om" ucap Gia pada Rayen.
"kamu... Inget ya,lakukan yang terbaik aku yakin kamu akan memulai sesuatu yang baru, jaga dirimu,aku menanti keputusan mu tetang ke depannya dan aku akan menunggu mu" ucapnya lembut sambil pamit.
"hati hati di jalan.. Jaga dirimu dan mereka ,jangan suka mengerjai mereka terus"
"hahahaha... Oke... Untuk mu aku akan mengurangi mengerjai mereka"
*****
Di Bandara Salman dan Devan menunggu sahabatnya dengan tidak sabar,Salman awalnya tidak ingin kembali ke Jakarta,namun di mempunyai tanggung jawab yang akhirnya dia minta beberapa orang untuk mencari keberadaan sang keponakan.
"lama banget loe!" ucap Devan saat Rayen turun dari sebuah taksi online.
"bawel"
"kelamaaan loe..." kali ini Salman yang mengatakan jadi Rayen tak menjawab,bukan karena takut tapi saat ini pikiran Salman sedang tidak baik baik saja,jadi kalau di ajak ribut malah akan makin bikin tambah ribut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments