dalam salat tersebut Waktu terus berjalan dan tampa terasa Gianna sudah beranjak dewasa dan mulai duduk di bangku SMA,Gianna tumbuh menjadi anak yang kuat bersama om Salman dan oma Lili. hingga tiba tiba pagi itu saat Gia akan berangkat sekolah dan om Salman akan bekerja.
tiba tiba saja Oma Lili pingsan,mba yuli yang beberapa waktu belakangan ini mendampingi oma berusaha menangkap tubuh oma,hingga mba yuli tertimpa tubuh omah,sebenarnya mba yuli sudah curiga karena tahu Oma belum terlihat memakan sesuatu semenjak kemaren malam hingga pagi ini.
aku dan om Salman panik dan langsung membawa oma ke RS, mba yuli tetap di rumah menunggu kabar dari kami. oma di nyatakan kritis pada pukul 10 pagi dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 14.11
pintu ruang gawat darurat terbuka,om Salman dan Gia langsung menghampiri, "maaf kami sudah melakukan sebisa dan semampu kami."
"tidak.... tidak.... oma...." teriak Gia histeris om Salman langsung memeluknya,Gia yang awalnya memberontak dalam pelukan itu,hingga badannya lemas tak bertenaga.
"kamu harus kuat sayang... kita harus kuat"
Mereka terus berpelukan hingga seorang suster menepuk pelan kedua bahu mereka, "maaf ka... ini ada di kantong baju itu" ucapnya lalu memberikan barang yang ada dalam genggaman nya.
ada 2 buah amplop yang satu berisi surat dan satu lagi berisi 3 buah gelang emas putih satu kalung dan 2 buah cincin.
*Gianna.... Salman.... oma tidak punya apapun untuk kalian barang ini peninggalan oma untuk kalian berdua, oma mohon jaga barang kesayangan oma ini. Salman jangan lupa bawa Gia melihat ibu nya dan Gia... apapun yang terjadi maafkanlah ibumu, dia punya alasan meninggalkanmu. jika nanti aku benar benar pergi,jangan pernah salahkan siapapun... ikhlaskan kepergian aku....semangat anak anak oma....*
air mata turun tanpa bisa di tahan,Salman kembali memeluk keponakannya dengan erat,tak lama Gia pingsan dalam pelukannya, dalam hatinya dia bertanya tanya maksud kalimat terakhir yang oma katakan.
******
pemakaman oma berjalan dengan lancar,Gia langsung kembali ke kamar setelah pemakaman,namun tidak dengan Salman,sebagai seorang pria dia lebih tegar walau hatinya sungguh rapuh,masih ada beberapa kerabat di sana dan tentunya tante Ghina adik dari mama Ghaida dia hadir saat om Salman memberikan kabar jika oma telah tiada.
entah hanya pura pura atau memang mereka sedih dengan kepergian oma Lili,yang pasti masih membekas dalam ingatan Gia bagaimana kelakuan tante nya tersebut pada sang ibu, makanya dari mulai kedatangannya Gia tidak menyambut.
"dimana kamar ku?" tanya tante Ghina dengan judes nya kepada om Salman, aku yang mendengar itu langsung berdiri di belakang pintu.
"Mba boleh tidur dimana saja yang mba mau..."
"kalau begitu aku dan suamiku di kamar tidur mu sama"
"boleh mba boleh"
aku mendengar itu langsung keluar dari kamar untuk menemani om Salman,Tante Ghina yang melihat ku keluar, langsung menatapku dengan sinis. om Salman yang mengetahui itu langsung menghampiri ku, merangkul pundakku.
"kamu lapar?"
"tidak om..."
"tapi kamu belum makan sayang..."
"aku belum rasa lapar"
"kalau begitu temani aku makan ya? "
Gia tak menjawab hanya tersenyum dan mengangguk kepalanya,tante Ghina yang melihat itu langsung menyinyir. "cih... dasar tidak tahu diri...dipungut saja masih sok bergaya"
aku dan om Salman tidak memperdulikannya, bukan karena takut tapi berdebat dengan dia hanya membuat kami kesal, karena jawabannya selalu tidak nyambung dan merembet kemana mana.
tante Ghina dan om Anton suaminya beranjak ke kamar om Salman,dulu mereka berdua pernah menghina kedua orang tua ku karena usaha ayah ku yang tak berkembang saat itu akibat ulah dari nenek yang memblok jalannya karena tidak menikah dengan pilihannya,saat itu om Anton punya pekerjaan yang cukup baik dan setahuku 2 tahun belakangan ini om Anton di berhentikan dari pekerjaan nya karena ketahuan bermain uang.
"sayang... kamu yakin gak makan? "
"aku minum teh anget aja..."
mba Yuli yang batu datang membawa makanan langsung menegurku, "jangan atuh de... ade kan dari kemaren oma masuk RS tidak ada apa apa yang masuk."
"tuh... bener kata mba Yuli... setiap orang pasti bakal pergi karena umur kita sudah ada yang atur, hidup kita sudah ada di skenario Tuhan." ucap Salman lembut,mba Yuli yang melihat interaksi kedua nya ikut tersenyum.
Gianna akhirnya mengalah dan lebih memilih makan bahkan mereka mengajak serta mba Yuli di meja yang sama,sebelumnya sebenarnya itu selalu di lakukan,namun mba Yuli selalu menolak dan kali ini dia menerima karena sangat merasa di hargai oleh majikan majikannya itu, bukan hanya pada saat ada sang nenek tapi saat tidak ada pun mereka tetap menghargai mba yuli.
*****
7 hari berlalu setelah kepergian oma dan setelah ibadat 7 hari oma berlangsung entah apa yang ada di pikiran mereka,tiba tiba saja tante Ghina mengatakan sesuatu yang sebenarnya sudah kami duga.
"aku mau ambil rumah oma yang di sini... Aku anaknya,aku yang lebih berhak atas semua itu"
"tapi mba... masih ada mba Ghaida"
"aku tahu... di kota ini bukan hanya ada rumah tapi ada tanah,aku juga akan ambil sebagian perhiasan oma yang menjadi bagian ku! ingat Salman... kau hanya anak angkat ibu ku, dia menyekolahkan mu saja sudah cukup,warisan yang beliau tinggalkan bukan milikmu!"
"saya paham mba... tapi ada baiknya jika mba menemui mba Ghaida terlebih dahulu"
"kau tidak perlu mengajarkan ku soal itu!! aku jauh lebih berpendidikan dari mu"
Gia yang tadinya sedang fokus dengan pembicaraan yang menyebut nama sang ibu juga,langsung kesal saat om Salman di perlakukan demikian.
om Salman langsung mendekati ku dan menggenggam tangan ku,aku meremas tangan itu dengan kuat, om Salman sangat mengerti aku,rasa kesal ku saat mereka muncul di rumah sakit,saat mereka meraung raung seakan sangat kehilangan, padahal... merekalah yang membuang oma sehingga oma tidak tinggal dengan mereka.
"sabar sayang..."
"kenapa sih om gak pernah mau lawan mereka?"
"bukan om gak mau lawan..." ucapnya mengelus lembut pundak keponakannya, "om cuma mau berdamai... om gak mau ribut,om sadar diri om ini siapa,tapi satu yang harus kamu tahu,walaupun om tidak ada ikatan darah sama kamu tapi om sangat menyayangi kamu! om sangat berharap kamu bisa menerima rasa sayang om padamu! om sangat menyayangi kalian walau kita bukan dari darah yang sama" ucapnya sangat lembut hingga membuat merasa dia lebih dari sekedar yang terikat darah.
malam itu juga om Salman mengatakan keberadaan ibuku dan mengapa ibu ku di sana, ternyata yang terjadi saat itu adalah ibu ku membunuh ayah saat ayah menyakitiku,dia lebih memilih menghancurkan rasa cinta nya pada ayah dari pada menyakitiku dan dia rela membunuh ayah yang membuat kaki ku hancur dan mengunakan kaki palsu sekarang.
aku menangis mendengar cerita itu,om Salman tak melepas pelukannya untuk menenangkan ku,bahkan aku berteriak di dada nya melampiaskan kekesalan dan kemarahan ku. ternyata aku menangis hingga aku tertidur,om Salman membawaku ke kamar dan om Salman tidur di sofa di kamarku,dia memang selalu seperti itu setiap kali tahu kalau aku tidak dalam keadaan tenang.
*****
saat libur sekolah om Salman benar benar mengajakku bertemu dengan ibu, kami mengunjungi nya di ibu kota, wajah nya yang menua tak menghilangkan tatapan hangat seorang ibu,namun sayang mereka terpisah sebuah dinding kaca yang memisahkan mereka.
ibu melihat Gia dengan tatapan penuh cinta dan rasa rindu yang sangat dalam,begitu pula sebaliknya,hanya ada air mata yang terus turun tanpa bisa di tahan. mereka hanya di beri waktu 45 menit,selama itu pula ibu nya tak berhenti mengucapkan maaf dan terimakasih pada kami berdua, kami hanya menjawabnya dengan anggukan,banyak kalimat dan kata yang tidak dapat keluar saat ini.
"waktu kalian selesai..." tiba tiba salah satu petugas sudah membuka pintu dan memisahkan mereka.
"aku akan lebih sering ke sini" ucap Gia menghibur sang ibu.
lokasi yang berada di luar kota membuat Salman memutuskan untuk menginap,Salman memesan 1 kamar dengan 2 bed di dalamnya, awal Gia menolak namun akhirnya dia mengerti rasa khawatir om nya itu sungguh besar,makanya Gia mengalah.
besok siang mereka kembali ke kota Malang karena besok om Salman masih harus bekerja,Gia dan Salman menjalani kehidupan seperti biasanya, mereka menyempatkan 2 minggu sekali untuk mengunjungi ibu Gia di penjara ibu kota,sampai saat Gia ujian kenaikan kelas dari kelas 2 ke 3 SMA.
sebelum ujian kenaikkan om Salman sengaja mengajak Gia ke ibu kota agar Gia lebih fokus saat ujian nanti, karena sudah beberapa hari ini dia selalu memimpikan sang ibu.
"apa ibu baik baik saja?" tanya Gia yang saat itu di ijin kan makan bersama sang ibu di area taman.
"ya..." jawabnya dengan senyum yang sangat terlihat di paksakan, "ada apa kamu bertanya seperti itu?"
"tidak bu... aku hanya memastikan ibu baik baik saja..." ucapnya lalu memeluk.
"ka... kakak bener gak apa apa? " kali ini om Salman yang bertanya dan pertanyaan itu bukan tanpa alasan,tapi karena dia melihat sesuatu yang janggal pada sang kakak.
"kalian itu kenapa sih?" tanya sang kakak lagi lalu melihat ke arah anak satu satu nya. "kamu suatu saat juga pasti harus dan akan menikah,kalau sampai saat itu benar benar terjadi lalu setelah aku tidak berada dekatnya,biarlah dia menjadi anak yang mandiri karena didikanmu yang luar biasa" ucapnya lalu tersenyum pada sang anak yang berjalan ke arah mereka.
"jaga dia untukku"
"pasti ka"
setelah kunjungan itu Gia disibukkan dengan sekolahnya dan Salman sibuk dengan pekerjaannya hingga tiba tiba suatu malam seminggu setelah ujian sekolah Gia berakhir,saat itu Gia dan om Salman baru saja selesai makan malam.
"om... telpon" ucap Gia yang saat melewati ponsel setelah mencuci piring.
om Salman yang melihat tangan ponakan nya basah langsung mengambil alih ponsel itu,saat menerima telepon yang entah dari siapa, raut wajahnya berubah,membuat Gia yang saat itu di sana bingung.
"baik pak... saya akan ke sana" ucap nya masih dalan raut wajah yang sama aku yang penasaran akhirnya bertanya.
"ada apa?"
Om Salman tidak menjawab namun dia memandang ku seperti ada sesuatu yang terjadi,aku melihat raut kesedihan pada wajah om Salman dan itu membuatku yakin kalau ada sesuatu yang terjadi.
"om...."
"sayang... kamu.... kamu sayang sama om kan?"
"ada apa? pertanyaan jenis apa itu? "
"Gi... mama... mama mu di temukan bunuh diri di sel nya"
Gia yang mendengar kalimat itu langsung terduduk lemas,om Salman langsung memeluk Gia dan secara otomatis air matanya turun dengan deras, mereka saling memeluk dan menguatkan bohong kalau tidak syok,karena mereka sangat terpukul dengan kejadian ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments