Ternyata Salman melakukan panggilan grup,namun Rayen tak mengangkatnya hanya mengirim pean di grup itu kalau dirinya masih berada di keramaian,namun gia dan Devan mengangkatnya.
*kamu dimana?* Salman heran melihat ruangan asing... Bukan seperti apartemen teman keponakannya itu.
*kaya rumah sakit ya* ucap Devan memperhatikan Gia.
Gia menyorot ke arah tiang infus membuat kedua nya mengumpat dan langsung di berondong pertanyaan oleh kedua nya,sepert apa yang terjadi?sakit apa? Dari kapan? Kenapa bisa begitu? Apa kata dokter dan lain sebagainya membuat Gia tidak menjawab satupun karena bingung.
*tenang... Ini salah satu tantangan aku yang lagi berusaha untuk jadi pengusaha... Seperti kalian bertiga* ucap Gia dengan tenang nya.
*jangan bercanda Gia! Ini bukan waktunya!* Salman membalasnya serius,membuat nyali Gia menciut.
Gia menundukkan kepalanya *aku...aku...*
*apa kata dokter?*
belum sempat Gia menjawab seorang suster datang untuk mengambil piring yang baru saja di habiskan oleh Gia dan menganti infus itu,Salman langsung bersuara menanyakan diagnosa dari dokter kepada suster itu yang membuat Gia tak berkutik.
Suster itu menjawab jika Gia kekurangan cairan,kelelahan dan terlalu banyak aktivitas,bahkan dia mengatakan jika Yuli yang menemaninya,namun dia tidak sama sekali tidak mengatakan mengenai Rayen,ternyata Rayen lah yang meminta nya ke sana agar tidak ada suster lain yang membuat sahabatnya akhirnya tahu keberaaannya.
tak lama Rayen bergabung dalam video call tersebut membuat Gia lumayan terkejut dan membulatkan mata dengan sempurna.
*hai... Gimana gimana...? Lagi ngomongin apa?*
*lha lu dimana itu?* Devan yang duluan merespon keberadaan Rayen,
*kepo lu!*
*serius gw,lu dimana? Kaya terang bener*
*di semarang gw!*
*tugas? Bawa cewe ga lu?*
*heh! Tolong mulut kondisikan!!! Ada ponakan gw ini*
*oh iya... * Devan nyengir.
*kalian itu... Suka main perempuan ya??*
*sering* Rayen menjawab dengan cepat padahal di antara mereka hanya Devan yang beberapa kali berganti pacar tapi tak melakukan apapun,katanya hanya ingin terlihat laku dan nakal,katanya kalau nakal itu keren.
*gak usah percaya mereka... kamu sendiri tahu kan om seperti apa...* sanggah Salman.
Perbincangan mereka berakhir namun tanpa sepengetahuan Gia mereka akan menuju Jakarta malam itu juga.
'kalian sudah pesan tiket?' Devan mengirim ke dua sahabatnya.
'gua udah otw bandara' dari Salman.
'gua dari Bandung' dari Rayen.
Mereka langsung membuat saling menghubungi saat tahu Gia sakit dan berencana akan menjenguk.
Rayen lebih dahulu sampai disana,karena memang dia sebenarnya dia di kota yang sama dengan yang sahabatnya tuju,setengah jam kemudian Salman datang di susul Devan dengan pesawat yang berbeda,setelah saling menyapa mereka meluncur ke rumah sakit tempat Gia di rawat dan membuat orang yang di sana terkejut.
"kalian..." Gia cukup syok melihatnya, "kalian ini apa apaan sih... Dateng ga ada yang kasih tau sama sekali!"
"emang mau ngapain kalau kita bilang?" tanya Devan yang langsung menghampirinya dan memeriksa keadaan Gia,namun Gia mundur karena takut.
Salman yang melihat itu langsung mengambil alih posisi dan itu membuat Devan seikit tersinggung,bukan Devan namanya kalau dia tidak secara langsung dan ceplas ceplos tanya.
"emang Gua bau ya gi?" tanya nya membuat Rayen tidak bisa menahan tawa nya.
"kenapa sih! Pertanyaan lu harus aneh gitu?" ucap Rayen di sela tawa nya.
"ya kan gua cuma tanya aja!"
"bukan gitu om... itu kan..." Gia sampai bingung menjawab pertanyaan nya.
"udah gak usah di jawab! Biarin aja" Rayen menjauh dari tempat tidur Gia.
Sementara Salman mengurus dan menanyakan keadaan Gia kepada dokter jaga yang saat itu datang,Rayen dan Devan berbincang di sofa sudut di ruangan itu,pembicaraan antara dokter dan Salman cukup terdengar oleh Rayen jadi dia juga bisa menyampaikan pada Yuli dan ibu nya,apa saja yang di perbolehkan dan di larang.
"Gia kenapa jadi takut gitu sama kita?" bisik Devan.
"kita?? perasaan gua sama lu aja deh!"
"sialan lu!!!"
"hahaha... Lagian yang deketin dia tadi kan lu,gua belum... Siapa tahu sama gua gak,lu main klaim sama kita aja"
"sama aja..."
"inget kan cerita nya dia kemaren? Mungkin trauma aja"
"iya juga... B*ngs*t emang dia"
Rayen yang diam diam mendengar percakapan dokter langsung mengirim pesan pada Yuli dan meminta Yuli untuk ke rumah sakit terlebih dahulu besok pagi pagi sekali,Yuli menurut karena Rayen juga sudah di jelaskan apa saja yang di lakukan.
'pak Rayen itu kenapa ya,seneng anget bikin susah diri sendiri,padahal tinggal bilang saja dia yang menolong mba Gia kan kalau kaya git beres urusan' guman Yuli saat menerima pesan terakhir dari pak Rayen dan atas ijin dari beliau juga Yuli mengambil dua orang lagi yang akan membantu mereka selama tidak ada Gia dan kemungkinan akan di pakai terus jika Gia setuju serta mereka tidak membuat kesalahan.
*****
Besok sore nya Gia di ijinkan pulang dengan catatan tidak boleh kelelahan atau banyak kegiatan untuk dua minggu ke depan.
"silahkan masuk pak... Maaf ya seadanya... Ini tempat saya dan mba Gia tinggal hanya kami bertiga yang ada disini,apartemen ini...." ucap Yuli seakan mengarahkan mereka
"apa kalian keberatan jika kami di sini juga?" Salman menanyakan agar jika Yul kurang nyaman dengan kehadiran mereka,mereka akan mencari tempat menginap yang lain untuk tiga hari kedepan.
"tidak pak... Tidak masalah di sini ada 3 kamar,saya dan ibu saya terbiasa dengan kamar yang di belakang,jadi masih ada dua kamar lagi yang kosong" Yuli mengatakan dengan ramah.
"terima kasih sebelumnya... saya bisa satu kamar dengan keponakan saya dan mereka berdua di kamar lain" ucap Salman sambil menunjuk kedua sahabatnya,Rayen biasa saja hanya Devan yang langsung protes dengan keputusan Salman.
"kok loe yang sama Gia? Kan harus nya gua!"
"gak ada ya!"
"yaelah... Loe mah kan pelor! Kebo lagi kalau tidur,nanti kalau Gia butuh sesuatu ga ada yang tolongin"
"loe mau di sini atau gua taro lu di lobby tadi?" Salman yang sudah lelah dengan protes yang di lakukan sahabatnya itu.
"lu mah man... Gak mendukung sahabat lu banget! Gua kan lagi mau kasih perhatian penuh sama Gia,namanya juga pendekatan."
Rayen yang sangat sadar jika situasi sudah memanas buru buru membawa Devan ke kamar lain,namun sebelum dia di tarik jauh dari sana dia sempatkan diri mengucapkan selamat tidur untuk wanita nya itu.
"Gia... Om bobo di kamar itu ya,kalau kamu butuh sesuatu kamu call om,om akan jaga kamu dari jauh"
Ucapan Devan benar membuat Rayen mengelengkan kepala,sampai sekarang sebenarnya dia juga heran kenapa orang sedingin Salman dan secuek dirinya bisa bersahabat dengan manusia aneh seperti Devan,namun dia harus menerima kalau kenyataannya memang harus ada orang sehumoris Devan di antara mereka.
*****
Malam itu Gia tidak bisa tidur,karena dia memang bukan type yang bisa membohongi om kesayangannya itu,saat di rumah sakit om nya sebenarnya sudah sempat bertanya orang yang menolongnya saat ini,seperti yang kita tahu orang Jakarta terkenal cuek dengan apa yang terjadi di sekitarnya dan sebenarnya yang sangat di takutkan kalau Gia terpengaruh dengan pergaulan bebas disini.
Gia terus membolak balik badannya membuat orang yang ada di sampingnya sadar jika sang keponakan sedang gelisah. "ada apa?" tanyanya lembut membalikkan badan menghadap sang keponakan, "kamu butuh sesuatu?" Gia hanya mengeleng, terus kenapa?" dia tetap mengeleng.
Salman akhirnya bangun dari tidurnya dan meminta sang keponakan melakukan hal yang sama, "kamu inget gak kapan pertama kali ketemu aku?"
"ya... Umur 5 atau 6 tahun"
"apa yang rasakan saat itu?"
"takut"
"ya...lalu apa kamu terus takut?"
"tidak setelah itu aku sangat dekat dengan mu"
"dari umur 6 tahun aku selalu mengujungimu 6 bulan sekali dan kau selalu tidur dengan ku selama aku libur di Jakarta,lalu dari kamu kelas 4 SD hingga lulus SMA tangan ku inilah yang membesarkan mu,menanyakan bagaimana sekolah mu,mengantarmu sekolah menjadi Wali mu di sekolah bersama oma,melihat seluruh pertunjukkan mu dan lain sebagainya. Apa hal itu tidak membuatku mengenalmu? Aku mengenalmu Gia bahkan aku sangat mengenalmu!"
Gia tak menjawab namun dia langsung memeluk Om nya itu "I love you... I love you so much"
"hei... Bisa kau katakan apa yang sebenarnya terjadi? Apa banyak hal kau sembunyikan dari ku?"
"I'm so sorry... I'm really sorry"
"It's okay honey... But...." belum selesai kalimat itu Gia sudah memotongnya.
"aku... Aku hanya tidak ingin merepotkan mu,aku tidak ingin kalian di sakiti dan aku hanya ingin membahagiakan kalian,karena kalian telah banyak memberikan cahaya buat aku,kalian bertiga adalah cahaya cahaya untuk hidupku"
"apa aku pernah megatakan padamu jika kamu merepotkan? Atau kedua sahabatku menyinggung mu?"
"tidak om... Tidak"
"Gia... Kau wanita terbaik dalam hidup kami bertiga,kau pun cahaya untuk kami"
"aku hanya ingin berusaha jadi pengusaha seperti kalian..."
"jangan mengalihkan pembicaraan... Bisa kau jelaskan apa yang terjadi?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments