GIa benar benar terheran dengan apa yang di lakukan sepupunya itu,apalagi kalimat yang dia ucapkan yang terkesan cukup sering bermain dengan kedua orang itu.
"kenapa wajahmu seperti itu? Terkejut? Kami bahkan bisa melakukannya setiap hari! Tapi kali ini sepertinya aku ada target baru untuk melakukannya setiap hari!" ucapnya lalu meremas dada Gia dengan tangan yang satu sementara tangan yang lain memegang kedua tangan Gia.
Tubuhnya yang imut membuat dia selalu tidak bisa berkutik karena sepupu sepupu nya mengikuti gen ayahnya yang berpostur tinggi besar,Gia terus berusaha melepaskan diri dari sepupunya,apalagi saat sang sepupu memainkan mulutnya di sana,seakan jijik pada diri sendiri,Gia terus berusaha melepaskan diri.
sementara itu di Jakarta Salman dan Devan mengalami hal yang sama,Salman menjatuhkan foto nya bersama sang keponakan saat kelulusan dan Devan menjatuhkan foto Gia yang dia ambil secara diam diam saat menjaganya ketika sakit.
Keduanya pun langsung mencoba menghubungi ponsel Gia namun tak ada jawaban,membuat semakin khawatir,namun Salman ingat jika hari ini jadwal keponakannya kursus komputer,jadi dia berusaha berfikir positif untuk hal itu,walau perasaannya semakin tidak enak.
'om... Om Salman benar om... Aku salah,sesuatu yang buruk terjadi padaku... Aku mohon datanglah Cahaya hidupku' ucap Gia dalam hatinya.
Salman yang semakin tak tenang akhirnya meminta salah satu sahabatnya yang bekerja di salah satu maskapai untuk menyediakan tiket untuknya ke Malang. "dimana loe? Bisa bantu gua sediakan tiket?"
"mau kemana loe?"
"Malang"
"apa ada yeng terjadi?kenapa mendadak?"
"gak tahu perasaan gua gak enak sama Gianna"
"sudah hubungi dia?"
"kalau belum gua gak akan minta loe sediakan tiket"
"oke oke... Sabar... Loe itu kenapa kalau urusan dia selalu gak bisa di ajak bercanda kaya gitu sih"
"Rayen! Loe bisa cepat atau gua ambil maskapai lain?"
"iya.. Iya...ini lagi gua cek!"
"jangan bilang Devan!"
"dapet satu setengah jam lagi... Apa lu sudah ready?"
"jangan bilang Devan!" Salman tahu karakter para sahabatnya,jadi dia tahu kalau Rayen sengaja tidak menjawabnya dan dia tahu betul kalau Devan menyukai keponakan nya.
"sudahlah...cepat berangkat sebelum ketinggalan pesawat" balas Rayen tanpa menjawab hal lain.
"setidaknya jangan kasih tahu sekarang biar gua pastikan kenapa... Setelah itu gak masalah kalau lu mau kasih tahu dia kabar itu." ucap Salman menyerah,karena dia tahu sahabatnya sedang pegang pekerjaan yang cukup besar.
"oke" jawab sahabatnya itu dengan cepat.
*****
sesampai di Malang,Salman langsung menuju rumah sang kakak untuk mencari keponakannya,betapa terkejutnya dia saat dia melihat rumah yang berantakan dan darah yang berceceran.
Dia langsung menerobos masuk ke kamar keponakannya,dia mencari dengan membabi buta,bahkan dia langsung membuka pintu tanpa mengetuk pintu nya terlebih dahulu.
"Gia...dimana kamu? Gianna..." teriak Salman menggelegar.
Bukan Gianna yang muncul,tapi ART di sana... "mba Gia pergi mas... Bibi mohon mas,cari mba Gia! Kasian dia pergi hanya memakai baju seadanya."
"apa yang terjadi bi?"
"bibi kurang tahu pastinya mas,bibi diminta ke pasar sama bapak tapi pas bibi pulang mba Intan marah marah karena bapak dan aden memperkosa mba Gianna"
"APA???" Salman tak dapat menahan rasa sakit hatinya sehingga dia menangis.
"maafin bibi mas... Bibi gak tahu kalau bapak balik lagi ke rumah tadi bibi sudah liat bapak pergi makanya bibi berani tinggal"
"Gia sekarang kemana bi?"
"bibi gak tahu mas... Bibi datang mba Gia sudah gak ada bibi cuma sempet denger kata kata itu dari mba intan."
Salman bahkan tidak sanggup mengangkat badannya,dia hanya bisa terduduk sambil menangis.
Persahabatan Rayen,Salman dan Devan yang begitu kuat membuat dua sahabat yang berada di Ibu Kota merasakan sesuatu yang lain dan membuat mereka memutuskan menyusul,bahkan 2 jam setelah sahabatnya terbang,mereka menyusul ke sana.
Rayen menelpon Salman namun tak ada respon,hinga ketujuh kalinya barulah ada yang mengangkatnya.
*Bray... Jemputlah... Gua di bandara nih!*
*eemmm mas ini bibi*
*lho mana Salman bi?*
*den Salman gak bisa di ajak bicara mas*
*hah? Kenapa dia?*
*mas Rayen dan mas Devan kesini saja! Bibi gak bisa jelasinnya.*
*yaudah bi.... Saya ke sana*
sesampainya di sana mereka tercengan dengan kondisi rumah yang jauh dari kata rapi,bahkan banyak darah disana,tiba-tiba mereka mendengar suara teriakkan,mereka langsung berlari ke asal suara. Sampai di kamar itu mereka dibuat semakin bingung,bagimana tidak sahabatnya tergeletak berantakan seperti telah melewati badai.
"ada apa ini bi?"
"mas... Minta tolong angkat mas Salman dulu gak ?"
Kedua nya mengangkat Salman yang sudah seperti orang Gila lalu mereka menanyakan lagi pada bibi dan bibi menceritakannya sesuai dengan apa yang dia ceritakan pada Salman.
Devan sangat marah mendengar cerita bibi,ingin rasanya saat ini dia langsung meninju wajah om Anto. Dimana ada seorang om yang beusaha memperkosa keponakannya sendiri,benar ketakutan Salman saat Gia mengatakan tentang keinginannya tinggal bersama sang tante,ahkan dia rela menjual seluruh asetnya kau bisa ia tuker dengan Gia saat itu.
"mau kemana?" tanya Rayen saat melihat Devan hendak pergi setelah Salman di periksa dokter.
"gua gak mungkin diem aja di sini"
"sabar van! jangan gegabah,yang ada kita akan ketemu sama Gianna"
"dia pasti lagi ketakutan"
Rayen diam mendengar itu,tapi semua itu Salman yang tahu kita gak mungkin pergi tanpa tujuan di kampung orang,dia juga sebenarnya sama khawatirnya dengan dua orag sahabatnya,tak lama bibi datang dengan minuman hangat dan sebuah kabar yang akan mencengangkan semua orang.
"aden aden... Bibi mau kasih kabar kalau pak Anto ayahnya non Intan meninggal dunia,jenazah sudah di perjalanan menuju ke sini."
"terima kasih buat info ya bi..."
setelah kepergian bibi mereka di kejutkan dengan tawa Salman yang cukup menggelegar. "mamp*s kalian! Itu balasan yang setimpal untuk kalian... Kalian harusnya mengurusnya dengan baik bukan malah menyakitinya hahahahaha"
Kedua sahabatnya bukan ikut senang malah sedih melihat sang sahabat sepeti itu,karena dari mereka semua Salman memang yang paling sabar,hal ini membuktikan bagaimana berartinya Gianna untuk sahabat mereka.
"hancur... Hancur... Semuanya hancur! mereka berhasil menghancurkan keluarga ini dan berhasil menghancurkan hidupku" teriaknya sambil memukul kepalanya sendiri.
Kedua sahabat nya dengan sigap mendekati memegang tangannya dan memeluknya,momen langka yang hanya akan dilihat saat mereka hancur dan saat ini adalah patah hati terburuk untuk mereka,karena wantia paling mereka sayangi menghilang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments