Di Bandara Salman dan Devan menunggu sahabatnya dengan tidak sabar,Salman awalnya tidak ingin kembali ke Jakarta,namun di mempunyai tanggung jawab yang akhirnya dia minta beberapa orang untuk mencari keberadaan sang keponakan.
"lama banget loe!" ucap Devan saat Rayen turun dari sebuah taksi online.
"bawel"
"kelamaaan loe..." kali ini Salman yang mengatakan jadi Rayen tak menjawab,bukan karena takut tapi saat ini pikiran Salman sedang tidak baik baik saja,jadi kalau di ajak ribut malah akan makin bikin tambah ribut.
pejalanan menuju Malang tak banyak yang mereka bicarakan,seua tenggelam dengan pikiran mereka masing masing,pikiran yang sebenarnya sama tipi isi nya yang beda. Salman berfikir untuk mendapatkan Gia sebelum mba Ghina dan keluarga nya yang menemukannya,sedangkan Devan berfikir untuk menemukan Gia secepatnya agar bisa melindunginya,sedangkan Rayen dia malah berfikir apakah orang yang dia minta menjaga bekerja dengan baik.
Sampai di malang mereka pulang ke rumah Salman dan berencana bermalam disana,agar bisa beristirahat lebih panjang. Namun saat sedang makan malam telepon Salman berbunyi,karena bukan no yang dia kenal akhirnya dia mengabaikan panggilan itu,namun no itu terus memanggil dan akhirnya Salman mengangkatnya.
*haloo... Om Salman"*
*Gia???* Salman memandang teman temannya dan menbuat loudspeaker pada ponselnya.
*iya... Om cari aku ya?* suara Gia mulai bergetar tanda dia sedang menangis,dengan gerakan cepat Rayen mengirim pesa kepada orang di sana agar memberikan air hangat pada Gia dan menepuk pundaknya pelan.
*kamu dimana?*
*aku masih di Jakarta om!*
*biar aku jemput kamu sekarang...* Devan antusias mengucapkannya,membuat Ryen sedikit was was.
Sebenarnya Rayen cukup khawatir jika Gia mengatakan kalau dia yang membantu Gia,dia bersiap wanita polos itu keceplosan karena dia tahu jika di tekan oleh Salman,om kesayangannya dia akan jujur secara tiba tiba dan itu membuat Rayen khawatir pastinya.
*om... Aku menghubungi om karena aku mau kasih kabar kalau aku baik baik saja*
*kamu mau om jemput?*
*no... Biarkan aku di sini! Om jangan khawatir disini aku pasti baik baik saja*
*boleh om Minta alamat kamu?*
*tentu... Tapi om tidak bia mengunjungi ku terlalu sering*
*kenapa?*
*om... Aku hanya ingin membuktikan kalau aku bisa menjadi orang,pada orang orang yang menghinaku termasuk tante Ghina dan keluarga,aku ingin membuktikan pada mereka kalau aku tidak seperti yang mereka katakan. Aku tidak manja,aku tidak tergantung padamu dan aku bisa berdiri di kaki ku sendiri*
*baiklah... Pastikan kamu tidak ganti no karena om akan selalu menghubungimu ke no ini.*
*pasti om.... Anytime aku akan mengangkat panggilan mu*
*dengar Gia om tahu kamu akan menjadi seseorang yang berguna,tutup telinga mu untuk kata kata yang menjatuhkan dan merendahkan mu! Boleh om tahu apa yang akan kamu lakukan di sana?*
*mungkin aku akan membuka usaha kecil kecilan om...*
*baiklah... Apa kau membawa tabunganmu?*
*tidak om... Semua aku tinggal di sana dan celegan ku juga di kamar*
*kamar mu aku kunci dan aku sudah minta agar tidak ada yang memasuki nya karena rumah itu peninggalan ibu mu untuk mu jadi jika mereka tidak bisa menerima nya mereka harus angkat kaki dari sana dan aku meminta Bibi dan suami nya untuk menginap di sana dan memastikan rumah dalam keadaan baik baik saja,mereka hanya membereskan rumah tapi tidak melayani Ghina dan keluarganya.*
Gia tersenyum mendengar itu! Percaya atau tidak,bibi adalah orang yang selalu membantu nya saat dia d siksa dengan tante dan anak anak nya,Gia senang jika om nya mempercayai itu pada bibi.
Perbincangan berakhir setelah mereka berbincang berempat mengenai tabungan Gia yang akan Gia pakai untuk usaha dan Devan langsung menawarkan diri untuk membuat kart baru untuk Gia di Jakarta dengan akses salah satu kolega nya yang memang bekerja di bank tersebut jadi Devan bisa membuat kartu baru untuk wanita yang saat ini ada di hatinya,beserta buku rekening nya.
*****
tiga hari berlalu buku tabungan dan kartu nya sudah di tangan Gia,setiap malam di sela sela kesibukkannya mereka selalu menyempatkan diri untuk bervideo call bersama walau sambil bekerja,seperti malam ini mereka sedang video call sambil Gia menjelaskan pada mereka,tentang usaha yang akan dia buat dan mengenalkan dua wanita yang akan membantunya.
*Gia... Ada yang ingin aku tanyakan... Sebenarnya siapa orang yang menolongmu itu? Kenapa dia sampai memberan orang kepercayaan nya juga?* Devan penasaran karena merasa tersaingi.
*kok lu yang repot sih! Bagus dong,Gia jadi gak keluarin banyak uang buat sewa orang atau tempat.* belum sempat Gia menjawab om Salman sudah lebih dahulu menjawabnya.
*dia itu kalian!!* jawab Gia membuat Rayen panas dingin. *maksud ku dia sama seperti kalian... Orang orang yang sangat aku sayangi... Kalian itu kaya cahaya buat hidupku yang gelap gulita* ucapnya lagi membuat Salman tersenyum.
*laki laki?* tanya Devan.
*emang kenapa kalau laki laki?* kali ini Ryen yang nyaut.
*cemburu dia* Salman ikut mengodanya.
Candaan mereka yang selalu dirindukan Gia,dia sangat bersyukur dengan hadirnya mereka yang selalu menjadi penyelamat di hidupnya,walaupun kadang Gia merasa seperti sugar Baby saat bersama mereka.
Setelah mengakhiri percakapan bersama sama,Devan langsung mengirim pesam pribadi unuk wanitanya itu. 'aku tahu mungkin aku bukan laki laki yan paling baik dalam hidup mu,aku tahu aku juga bukan orang yang paling berjasa dalam hidupmu,namun aku ingin ke depannya aku adalah satu satu nya laki laki yang melakukan itu semua untukmu' belum sempat Gia menjawab,ponselnya berdering,tertera nama Salman disana.
*sayang ada yang mau om tanya! Apa tabungan mu itu akan kamu pakai untuk usaha? Kamu tidak mau suntikkan dana dari om?*
*tidak om terima kasih*
*om tidak memberiknya Gia... Om meminjamkan kepadamu,jadi kamu tetap harus mencicilnya dan biarkan tabungan mu utuh*
*tapi om...*
*Gia... kamu jauh dari ku! Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu karena kamu kehabisan uang,aku tahu kamu bukan orang yang akan meminta padaku,jadi ijinkan aku untuk meminjamkannya padamu dan kau akan mulai mencicilnya di bukan kedua,pisahkan tabungan pribadi mu dengan rekening usahamu. Bagaimana?*
*aku kerja sama dengan dua orang lain disini,biar aku bicarakan dulu pada mereka*
*okeh.. Om mau kabarnya besok pagi jika kamu setuju,buatlah bank atas nama mu sana dan itu yang akan menjadi rekening usahamu*
*iya om... Terima kasih untuk selalu ada untukku*
*kapanpun sayang... Kapanpun....* jawabnya lalu mengakhiri perbincangannya.
Baru dia akan membalas lagi pesan dari Devan ponselnya kembali berdering tertera nama Rayen di sana.
*Devan menelponmu?* tanyanya tanpa mengucpkan 'HALO' kata kata yang biasa keluar saat kita menelpon orang lain.
*malam juga om Devan,bukan om Devan yang menelpon tapi om Salman.* ucap Gia menyindir.
Rayen tersenyum dengan sindiran itu,namun dia bersyukur bukan Devan dengan segala jenis rayuannya yang menghubungi Gia,bukan tidak boleh,tapi menurut Rayen ada baiknya jika membiarkan Gia fokus dengan tujuannya terlebih dahulu,jangan di campur adukkan dengan hal lain yang bisa membuat gia jadi merasa tidak enak.
*om... Apa menurut om aku terima aja ya dana suntikkan dari om Salman,jadi aku itungannya tetap meminjam dan terpisah dari rekening pribadi*
*jika kamu merasa itu lebih efektif tidak masalah,kamu yakin dengan usaha yang akan kamu rintis ini kan?*
*karena itu keahlian yang ku punya jadi aku yakin*
*tapi kamu harus paham kalau usaha makanan itu bukan seerti usaha benda mati,kalau makanan hanya akan bertahan seminggu paling lama,jika tidak laku kamu harus mengeluakan modal lagi untuk membeli bahannya lagi.*
*iya om... Makanya aku akan mendaftarkan online terlebih dahulu dan menjualnya dengan jara per menu dengan menu berbeda setiap harinya*
*ide bagus... Dengan rasa masakanmu yang luar biasa aku yakin akan laku*
*terima kasih om*
malam itu Gia malah lupa mebalas pesan Devan,padahal pengirim pesan sangat berharap jika pesannya di balas oleh pujaan hatinya itu. Malam itu Gia pun mengabari Salman jika dia menerima tawaran modal,pagi nya Gia baru membalas pesan Devan,membuat sang pemilik ponsel langsung menelponnya.
*Gia...*
*ya om?*
*bisa tidk memanggilku seperti itu?*
*hahaha... Om Dev teman Om salman,aku tidak ingin dikutuk om Salman karena memanggilmu dengan nama saja*
Kata kata Gia membuat Devan tertawa,ya... Ini lah kelebihan wanita ini,dia selalu pandai membuat orang tertawa,namun dia selalu pandai menyembunyikan lukanya.
Gia menatap ponselnya sambil tersenyum,ada rasa haru dan bangga jadi satu di kelilingi laki laki luar biasa dengan pesona berbeda beda dan jujur Gia menaruh hati pada salah satu nya tapi Gia tahu tidak mungkin dan tidak bisa,karena dia tidak ingin hubungan hangat ini berubah dengan adanya jalinan hungan di dalamnya.
'cahaya cahaya ku... Terima kasih telah mendukungku' ucap Gia dan mengubah nama mereka bertiga dengan menambahkan kata CAHAYA pada nama mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments