Kembalinya Gia ke Jakarta langsung di sibukkan dengan semua kegiatan yang menyangkut dengan usahanya dan dalam waktu satu bulan Gia sudah mencari tempat karena pesanan yang dia tangani sudah di atas 300 porsi perharinya,namun dari dia kembali ke Jakarta dia belum pernah menghubungi Rayen secara pribadi,selalu video call bersama dan Rayen selalu terlihat sangat sibuk. Malam ini rencana nya dia akan mengatakan jika dia mencari kontrakan rumah yang tidak jauh dari apartemen.
*hai hai....* sapa Gia saat telpon nya sudah tersambung.
*hai sayang...* Devan menyapa balik dengan sangat semangat,Gia tak klarifikasi tapi dia hanya tersenyum.
*najis... Jijik tahu!* kali ini Salman yang menyahut.
Cukup lama mereka berbincang hingga akhirnya Gia mengatakan maksudnya malam ini jika dia mau meminta ijin untuk menyewa sebuah rumah di area apartemen dan kata kata itu berhasil membuat Rayen yang selalu terlihat sibuk hampir setiap hari mereka video call menoleh dengan banyak tanda tanya.
"kenapa?" tanya Salman
"mmmmm... Mungkin supaya lebih nyaman" ucap
"maksudnya gimana?" Devan yang penasaran.
"mungkin aku akan lebih nyaman jika aku tidak ada di tempat milik orang" ucapnya kembali menggantung,kali ini Rayen merespon setelah hampir sebuan ini dia selalu video call dalam keadaan sibuk.
"ada yang menganggu mu di sana hingga membuat mu tak nyaman?" Rayen berusaha mencari tahu.
"tidak semua baik baik saja" setelah mengatakan itu telpon terputus dan itu membuat 3 pria itu hampir Gila berusaha menelpon Gia.
Semua chat dan telpon tak di respon sama sekali,Rayen yang memiliki no telpon Yuli langsung mencoba menghubunginya dan Salman menghubungi Bibi,Yuli tidak merespon karena jam memang hampir menunjukkan pukul 12 malam,namun bibi memberi respon hanya saja tidak bisa menelpon karena bibi sedang telpon anaknya di kampung.
'bi... Apa bibi bersama Gia'
'tidak den...'
'apa saya bisa menelpon bibi?'
'maaf den... Bibi sedang menelpon anak di kampung,seminggu ini gak saya telpon dari tadi gak mau berenti ngomong'
'seminggu?'
'iya den'
'memang nya bibi abis ngapain?'
Setelah balasan itu bibi tidak langsung menjawab karena teringat apa yang di katakan Gia kalau tidak bisa mengatakannya pada siapapun,termasuk para om nya itu,akhirnya bibi memutuskan tidak membalas agar tidak terjadi kesalahan.
Gia tetap tidur dengan nyaman di samping Yuli sambil tak berhenti tersenyum karena mengerjai ketiga lelaki itu,dia pun tak berhenti tertawa saat ponsel Yuli menyala da tertera nama Rayen di sana.
*Gia... Jika kautidak mengangkat telponnya juga,aku akan berangkat malam ini juga kesana unuk meminta penjelasan atas keputusan yang kau ambil.* pesan itum masuk ke ponsel Yuli yang memang di pinjam Gia dengan alasan ponselnya sedang digunakan untuk bermain.
Gia langsung mengangkatnya di saat ponsel Yuli yang ada di tangannya menyala, *ambil ponsel mu dan aktifkan* ucap orang yang di sebrang sana dengan nada yang sangat dingin kemudian mematikannya.
Tanpa melawan Gia melakukannya,sehingga 15 menit kemudian telpon tersebut berdering dan tanpa hrus di tanya lagi kita sudah tau siapa yang menelpon.
*apa yang terjadi di sana? Setahu ku kalian baik baik saja,apa yang membuat mu memtuskan untuk pindah? Apa ada yang membuat mu tak nyaman? Mereka mulai mengetahui tempat persembunyian mu?* tanya Rayen tanpa bisa dia rem.
*it's oke om... Semua baik baik saja*
*kamu jangan bercanda Gia! Kami disini khawatir karena kamu jauh dari kami*
*kami? Kami atau kamu?*
*kami... Aku dan om om mu yang lain!*
*aku baik baik saja!* ucap nya lalu menutup telpon itu.
Sementara itu Salman yang melihat pesannya sudah terbaca Gia , buru buru menelpon,pertama di luar jangkauan,kedua di panggilan lain dan yang ketiga di angkat sang keponakan dan dia langsung mengomel padanya.
*Gia... Jangan membuatku khawatir* ucapnya lembut,terdengar suara tawa yang dipaksa oleh ponakannya itu. *are you okay?*
*yes,I'm good*
*really?*
*ya...eh iya om aku mau kabarin sesuatu buat om* ucapnya mengalihkan pembicaraan. *jadi gini om... Mulai bulan depan aku dapet pesanan rutin untuk makan siang dari salah satu perusahaan setiap harinya dengan menu yang berbeda beda,jadi aku butuh tempat yang baru supaya bibi dan yang lain tidak perlu naik turun,makanya aku akan mencari tempat di daerah sini.* ceritanya pada Salman.
*jadi itu yang membuat mu mengatakan akan mencari tempat baru?*
*iya*
*kamu itu kenapa sih,suka nya ngerjain orang?*
*hahahaha aku bukan ngerjain,tapi mau ngasih tahu! Eh malahan pada heboh banget,kan jadi males kasih tahunya.*
*mana ada... Kamu ngomong cuma setengah terus matiin hp,pasti Rayen udah cariin*
*biarin... Sekali kali,kan belum pernah*
*dasar kamu tuh!*
malam itu seperti Rayen benar benar berangkat ke Malang hanya demi mendapatkan jawaban dari Gia dan tepat pukul 3 pagi dia sampai di sana mengagetkan mereka yang sedang memasak untuk pesanan.
"den Rayen....pagi den..." sapa bibi yang bertemu dengan Rayen saat akan ke arah depan"
"dimana Gia bi?"
"di dapur den"
Rayen tidak perlu mengetuk pintu karena dia punya kunci apartemen itu,dia berjalan kearah dapur dan langsung menatap sang keponakan.
"masuk" ucap nya pada sang keponakan yang sudah menatapnya dengan pucat.
Gia mengikuti ke arah mana Rayen pergi setelah sebelumnya menitipkan pesanannya pada Yuli yang sekarang sudah full membantu Gia karena kontraknya di apartemen habis,Gia megikuti sambil menunduk.
"ada apa kamu tiba tiba mau pindah gak ada omongan apa apa kaya gini"
"biar lebih nyaman aja om!"
"apa yang bikin kamu gak nyaman disini?"
"mungkin karena bukan punya ku sendiri"
"apa ada kata kata om yang menyingung kamu?"
"tidak"
"lalu kenapa tiba tiba kamu mau pindah?"
"aku dapat pesanan yang lebih banyak dan itu setiap hari kasian bibi dan ibu kalau harus naik turun,biar habis belanja langsung turunnya di depan,jadi mereka tidak terlalu lelah,apalagi mereka juga membantu ku masak saat subuh"
"kenapa sih kalau kasih kabar harus setengah kaya gitu? Aku sudah mikir kalau ada sesuatu yang aku lakukan hingga menyinggung kamu."
"hahaha.... Maaf maaf.... Aku gak maksud beneran..." ucanya sambil tertawa,lalu berjalan ke arah balkon kamarnya.
'kenapa tawanya tidak mengambarkan kata kata nya? apa ada kelakuan atau ucapanku yang benar benar menyinggung nya ... ' guman Rayen saat melihat tawa Gia yang benar benar terlihat di paksakan.
Mereka berdiri berdampingan di balkon itu dan berbincang sedikit mengenai pesanan yang di terima Gia baru baru ini,Rayen cukup terkejut dengan beberapa PT yang disebutkan,tapi memang masakan aman ini mempunyai test yang luar biasa,hingga membuat orang yang memakannya ingin mencicipinya terus menerus.
"kamu gak mau coba bikin resto aja"
"hah? Ngaco..... Belum berani aku om"
"kenapa?"
"entah"
"itu yang susah... Kamu sebagai pemilik harus pede duluan hingga membuat pengujung mu nanti yakin untuk berkunjung"
"mungkin..." saat Gia akan kembali menjawab pintu di ketuk dan tak lama Yuli msuk membawa 2 cangkir teh.
"kamu sejak kapan malah nurut dia bukan saya?" kali ini dia bertanya pada Yuli.
"itu mas... Apa nama nya Gi..." Yuli yang gugup malah menanyakan jawabannya pada Gia. "eh... Maksudnya mba Gia... Eh... Kok,itu mas saya... Hp saya sama mba Gia" ucapnya membela diri.
"udah gak usah di dengerin mba Yuli... eh gimana udah rapi?"
"udah mba.."
"udah packing?" tanya nya heran.
"maksudnya lagi di packing mbak"
"ohh... Dateng kan mereka?"
"dateng mbak.. Lagi bantu di depan... Mas Rayen mau saya bikinini makanan?" tanya nya namun menghadap ke arah Gia.
"tanya orangnya dong! Kok malah tanya saya"
"gak usah... Saya mau istirahat" Rayen langsung menyeruput teh nya,
"yaudah mba... Nant kalau udah rapi saya belum keluar,panggil ya,biar saya pesenin kurirnya."
"iya mba"
Setelah Yuli keluar Gia mengajak ayen untuk duduk menikmati teh nya,Rayen sempat menanyakan soal anak anak yang dia bilang tadi dan Gia menjelaskan kalau ini adalah salah satu alasan kenapa dia ingin punya tempat sendiri,karena dia akan tambah personil,pihak apartemen pasti tidak mengijinkan jika terlalu banyak orang keluar masuk dan banyaknya pesanan akan membuat mereka lebih sering mondar mandir.
"jadi berhasil jadi boss sekarang?"
"hahaha... Belum om"
"pencapaian kamu sudah sangat luar biasa."
"ya... Berkat doa,bantuan dan dukungan dari kalian"
"hasil kerja kerasmu juga"
pukul 5 pagi pas Gia meminta Rayen untuk istirahat dan Rayen memilih tidak keluar dari kamar ponakannya itu dan tertidur di sana,Gia yang baru keluar dari kamar mandi hanya mengeleng melihat Rayen telah terlelap.
Gia sedang berkutat di dapur sendirian karena bibi dan ibu ke pasar,sedangkan Yuli dan beberapa anak baru berpencar mengantarkan pesanan. Gia membeku saat ada sebuah tangan yang merangkul perutnya dan berbisik. "biarin begini sebentar aja!"
Gia sempat terkejut,namun dia mencoba menetralkan degup jantungnya yang terasa hampir lepas,Rayen merasa bersalah saat merasa getaran pada tubuh wanita yang ada dalam pelukanya.
"Gia... Sorry sorry...om tidak ada maksud apapun" ucapnya membalik tubuh gadis itu agar menempel di dadanya.
"gak apa apa om" Gia melepaskan diri dari Rayen.
"Gia... Om minta maaf... Om benar benar gak ada maksud bikin kamu takut kaya gitu" ucapnya lagi menunduk hingga sejajar dengan ponakannya.
Gia berusaha tersenyum agar Rayen tidak terlalu khawatir walaupun senyuman itu terlihat kaku,Gia memeluk Rayen unuk menjawab kalau semua baik baik saja. "ayo sarapan yuk
"yakin?"
"iya" sambil tersenyum.
mereka berjalan ke arah meja makan,lalu sarapan karena Rayen harus kembali ke Malang pagi ini,layaknya sebuah keluarga GIa melayaninya dengan sangat baik.
Tring...tring....
Ponsel Gia berbunyi tertera CAHAYA SATU
Rayen menoleh karena ponsel itu persis di sampingnya Gia mengangkat dan mengaktifkan speakernya.
*pagi sayang....* terdengar suara Devan dari sebrang dan itu membuat Rayen menoleh.
*pagi om*
*sudah sarapan*
*ini lagi sarapan sama...* Rayen mengeleng saat Gia akan menyebutkan namanya. "sama bibi"
*wah... Yaudah... Sarapan dulu gih! Nanti aku telpon kamu lagi.*
*oke...*
*bye sayang...*
*bye om...*
Akhirnya sarapan kali itu di temani keheningan setelah Devan menelpon,setelah sarapan tidak ada pembicaraan apapun hingga Gia mengantar Rayen ke bandara.
Gia merasakan suasana yang kurang enak saat perjalanan,entah bagaimana dia harus memulai pembicaraan,jadi dia memilih untuk diam.
"kamu suah memulai hubungan baik dengan Devan?"
"ya... Begitulah... Biar bagaimana pun kan kalian sahabat om Salman."
*****
Setelah hari itu Rayen kembali berubah,lebih banyak diam dan kedekatan Gia dan Devan pun semakin melengket walau hanya jarak jauh,Gia pun sudah ketemu rumah yang akan mereka tempati untuk catering yang mereka jalan kan dan Gia pun mulai sibuk dengan usahanya dan mulai jarang menghubungi mereka,tidak seperti sebelumnya yang tiap malam kali ini hanya di saat Gia ingat dan itu pun hanya chat digrup. Ketiga pria itu pun semakin sibuk karena sudah menuju akhir tahun jadi mereka akan semakin sibuk lagi.
Awal keberhasilan yang sangat memuaskan untuk Gia dan itu menjadi awal dimana maslah demi masalah harus dia hadapi ke depannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments