Rayen tak kuasa menahan tawa mendengar pertengkaran itu Devan yang tak berani kalau Salman tahu langsung buru buru menutup mulutnya menatap Rayen tajam karena sang sahabat masih tertawa tanpa henti. Tawa itu baru berhenti saat Salman hendak beranjak membawa keponakannya ke kamar dan setelah berbagai macam perdebatan,akhirnya mereka berempatan ada di kamar yang sama,namu bukan beristirahat mereka malah berbincang dan meluapkan emosi mereka di sana saling menguatkan dan saling memberikan dukungan untuk keadepnnnya nanti.
"om... Aku titip om Salman ya..." ucap Gia menatap Devan dan Rayen bergantian.
"pasti sayang... Kamu harus tiap hari berkabar sama kita ya,sekecil apapun kejadiannya om minta kamu bilang sama kita" ucapnya memeluk tubuh mungil keponakan sahabatnya itu.
"janji ya...jangan biarin dia dia minum terlalu banyak"
"iya....sayang"
"kalian berdua memang om terbaik!!!"
"kita bertiga jadi terbaik karena kita punya kamu yang terbaik juga" kali ini Devan yang bicara dan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memeluknya gadis itu,namun sialnya sang om kesayangannya datang saat Devan sedang memeluk keponakannya itu.
"ngapain sih lu??" Salman menarik Devan cukup keras.
"Om..." Gia dengan lembut memanggilnya.
"kamu juga mau aja di peluk ber*k satu ini"
"ga boleh gitu om"
"lu man... Ponakan lu aja gak masalah!" Devan sewot.
"sana lu... Jauh...."
Malam itu di penuhi dengan segala pesan dan wejangan dari ketiga pria itu dan beberapa pesan dari wanita imut dan mungil yangakan mereka tinggal di kota ini bersama seseorang yang katanya adalah Tante kandungnya.
"aku janji hanya pergi sebentar dari kalian dan aku akan kembali lagi sama kalian" ucap Gia di penghujung malam itu.
*****
dua minggu sudah Gia di ibu kota dan sesuai dengan pejanjian Salman boleh mengunjunginya kapan pun ia mau,seperti hari ini Salman dan teman teman nya datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu,disaat mereka datang Gia sedang menyetrika pakaian yang pagi itu baru saja di keluarkan Ghina dari kamarnya. Ghina yang saat itu ada di kamar mandi sama sekali tidak mengetahui kedatangan pria itu.
"kamu ngapain de?" Salman terkejut dn melihat baju yang sudah di strika keponakannya itu sudah hampir 6 keranjang.
"hai... Kalian datang? Kok ga bilang?" Gia menghentikan kegiatannya dan menghampiri mereka,belum sampai di Salman Gia sudah terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Salman buru buru menghampirinya dan mengangkatnya ke atas kasur yang ada di kamar itu juga,tak lama kawan kawannya sampai di kamar yang sama dan terkejut mendapati Salman yang sedang berusaha menyadarkan Gia.
"kenapa?" Rayen bertanya.
"lu liat aja baju yang ada di keranjang keranjang itu! Apa gak kira kira ngerjainnya?"
Kedua sahabatnya menoleh kaget, "gila... Dia yang kerjain sendiri?" Rayen yang duluan sadar.
"ya menurut lu gimana?"
"gua panggil dokter ya" Devan menengahi.
Tak lama muncul Ghina yang terkejut dengan keberadaan para lelaki itu disana,ketiga pria itu menatapnya dengan tajam. "kalian apakan keponakan ku?"
"harusnya aku yang menanyakan itu pada mbak? Apa yang kalian lakukan pada wanita ku?" ucap Salman kesal.
Kata kata Salman sebenar membuat dua sahabatnya itu menatap penuh arti,Ghina yang saat ini hanya di rumah sendiri sedikit takut karena dia merasa di kepung. "aku... Aku.... Tidak melakukan apapun"
"lalu apa yang bisa mba jelakan dengan pekerjaan yang dia lakukan ini?" sahut Salman lagi.
"aku tidak memintanya!! Dia yang mau sendiri!"
"mba pikir aku..." belum selesai Salman mengatakannya dokter datang membuat pertengkaran itu terhenti.
semua laki laki di minta keluar oleh dokter,hanya ada Ghina di dalam sana,Ghina sempat meminta dokter bekerja sama denganya tapi dia lupa jika dokter tersebut adalah bawaan Salman dan dia menolak permintaan Ghina.
"habislah aku... Mana sendirian di rumah"
Ketiga pria itu langsung mendekat saat melihat dokter keluar,mereka langsung menanyakan keadaan gadis itu. "begini pak... Kemungkinan adik ini kelelahan kemungkinan dia melakukan kegiatan itu sudah 7 jam sampai delapan jam dan tidak ada sama sekali minuman atau makanan yang masuk dan dia berdiri sudah lebih dari 10 jam,ada baiknya adik di bawa ke rumah sakit untuk istirahat total atau mungkin bapak bisa meminta pihak rumah sakit untuk memberikan adik izin untuk rawat jalan di rumah dengan perawatan dari rumah sakit."
akhirnya keputusan mereka Gia dirawat agar kondisi nya cepat pulih dengan pantauan ketiga pria tersebut,Ghina tidak bisa berkutik karena sura perjanjian dimana dia menyetujui semua yang tertulis pada surat Ghaida sang kakak.
"dok kalau begitu kami ingin di rawat di rumah saja dengan peawatan dari rumah sakit,tapi mungkin keponakan saya akan saya pindahkan ke kamarnya." mendengar perkataan Salman membuat Ghina semakin panas dingin pasalnya Gia sudah tidak menempati kamarnya. "van minta panggilin teh iis dong,mau bantu pindahin Gianna"
"oke"
Rayen yang sedari tadi menangkap gerak gerik Ghina mencoba menahan saat dia ingin mengantikan Devan memanggil iis,setelah memanggil mereka menuju ke sana bersamaan.
"baik mas..." mba Iis segera membawa mereka ke kamar Gia.
Salman buru buru memanggil teh Iis saat dia tidak membelok menuju tangga melainkan ke arah belakang, "teh kita mau ke kamar bukan dapur"
"iy mas"
"tapi ini ke belakang"
"kamar non Gia memang di belakang dekat dengan dapur"
"hah???" ketiganya kaget mendengar itu,Rayen memang sengaja selalu mepet pada wanita itu agar dia tidak kabur kemanapun. "apalagi ini mba?" ucapnya dengan penekanan, "terus di atas siapa teh?"
"mba Intan mas"
"mba... Yang bener aja! Ini rumah Gia mba! Suruh Intan keluar dari kamar itu malam ini juga untuk sementara dia akan ada di kamarku!" ucap Salman saat kembali ke depan Ghina.
sore itu saat Intan kembali,ibunya langsung meminta nya mengemaskan barang barang dan pindah ke kamar tamu yang ada di lantai satu,awal Intan menolak,namun saat melihat tatapan mengerikan dari laki laki yang dia tahu adalah adik dari ibu nya,dia pun tidak membantah dan langsung mengerjakan apa yang ibu nya minta tadi dan malam itu juga kamar Gia di rapihkan oleh mereka di bawah pengawasan Salman dan teman temannya yang sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga Gia juga.
singkat cerita selama satu minggu Salman merawat Gia,sementara teman temannya telah kembali ke kota Malang. Beberapa kali Gia mengatakan kalau dirinya baik baik saja namun Salman tetap bersih keras untuk merawatnya tanpa perduli apapun yang dikatakan keponakannya itu.
"mana janji mu akan baik baik saja?" tanya Salman padanya.
"aku baik baik saja om... Apalagi kalian tiba tiba datang seperti ini,aku makin baik baik saja"
"kamu melanggar janjimu Gia..."
"om... Percayalah mereka memperlakukan ku dengan sangat baik,percayalah... Semua akan baik baik saja"
"sudah diamlah...aku tidak ingin mendengar janji janji mu yang lain!!"
10 hari di Jakarta membuat Salman menelantarkan cukup banyak pekerjaan malam sebelum dia pulang,dia membuat semua orang berkumpul terkecuali keponakan kesayangannya.
"malam ini terakhir saya disini,tapi saya mohon pada kalian,aku tidak ingin hal seperti ini terjadi padanya,mba Ghaida menitipkan dia padaku agar aku merawatnya dan dia minta mba dan keluarga untuk turut serta merawatnya bukan malah menyiksanya... Ingat mba... Di dalam surat itu kakak bilang mba akan tetap dapat peninggalan kakak seperti yang di surat jika mba dan Anto merawatnya dengan baik" ucap Salman langsung di depan Ghina.
Ghina yang mendengar itu gelagapan, "apa dimataku ini sangat terlihat jika aku menginginkan harganya" ucapnya dalam hati.
Intan dan Ridwan hanya menganggukkan kepala tanda mengerti. "aku akan menuntut kalian jika ini terjadi lagi padanya! Dan aku tidak akan melepaskan kalian jika dia tergores,walau itu hanya sedikit"
besok pagi nya sebelum kembali kembali ke kota Malang Salman masuk kembali ke kamar Gianna untuk pamit.
"om... terima kasih telah menjaga ku" ucapnya saat melihat Salman masuk dengan pakaian rapi.
"ingat janji mu... Aku tidak ingin membunuh orang dalam waktu dekat ini"
"om... Sudahlah..."
"aku hanya mengingatkanmu,tentang janji yang pernah kau ucapkan kalau dengan mengijinkan mu di sini,kamu akan baik baik saja bersama mereka."
"aku akan ingat janji itu dan aku tidak akan mengingkarinya,suatu saat aku mencari mu untuk membuktikannya."
Salman memeluk nya dan mencium kening nya untuk berpamitan dengan "aku akan kembali mungkin bulan depan,karena banyak pekerjaan yang sudah aku tinggalkan,aku mohon untuk tidak menjadi wanita lemah!"
"ya om... Hati hati di jalan dan jangan lupa jaga kesehatan mu,maaf aku tidak bisa masak makanan untuk membawa pulang,next aku akan masak lagi untuk mu"
Salman pergi di antar Gia sampai di depan rumah,diiringi tatapan kesal dari para sepupu dan tante nya.
"ingat janjimu!" ucap Salman tegas saat masuk ke mobil jemputannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments