Malam itu Gia tidak bisa tidur,karena dia memang bukan type yang bisa membohongi om kesayangannya itu,saat di rumah sakit om nya sebenarnya sudah sempat bertanya orang yang menolongnya saat ini,seperti yang kita tahu orang Jakarta terkenal cuek dengan apa yang terjadi di sekitarnya dan sebenarnya yang sangat di takutkan kalau Gia terpengaruh dengan pergaulan bebas disini.
Gia terus membolak balik badannya membuat orang yang ada di sampingnya sadar jika sang keponakan sedang gelisah. "ada apa?" tanyanya lembut membalikkan badan menghadap sang keponakan, "kamu butuh sesuatu?" Gia hanya mengeleng, terus kenapa?" dia tetap mengeleng.
Salman akhirnya bangun dari tidurnya dan meminta sang keponakan melakukan hal yang sama, "kamu inget gak kapan pertama kali ketemu aku?"
"ya... Umur 5 atau 6 tahun"
"apa yang rasakan saat itu?"
"takut"
"ya...lalu apa kamu terus takut?"
"tidak setelah itu aku sangat dekat dengan mu"
"dari umur 6 tahun aku selalu mengujungimu 6 bulan sekali dan kau selalu tidur dengan ku selama aku libur di Jakarta,lalu dari kamu kelas 4 SD hingga lulus SMA tangan ku inilah yang membesarkan mu,menanyakan bagaimana sekolah mu,mengantarmu sekolah menjadi Wali mu di sekolah bersama oma,melihat seluruh pertunjukkan mu dan lain sebagainya. Apa hal itu tidak membuatku mengenalmu? Aku mengenalmu Gia bahkan aku sangat mengenalmu!"
Gia tak menjawab namun dia langsung memeluk Om nya itu "I love you... I love you so much"
"hei... Bisa kau katakan apa yang sebenarnya terjadi? Apa banyak hal kau sembunyikan dari ku?"
"I'm so sorry... I'm really sorry"
"It's okay honey... But...." belum selesai kalimat itu Gia sudah memotongnya.
"aku... Aku hanya tidak ingin merepotkan mu,aku tidak ingin kalian di sakiti dan aku hanya ingin membahagiakan kalian,karena kalian telah banyak memberikan cahaya buat aku,kalian bertiga adalah cahaya cahaya untuk hidupku"
"apa aku pernah megatakan padamu jika kamu merepotkan? Atau kedua sahabatku menyinggung mu?"
"tidak om... Tidak"
"Gia... Kau wanita terbaik dalam hidup kami bertiga,kau pun cahaya untuk kami"
"aku hanya ingin berusaha jadi pengusaha seperti kalian..."
"jangan mengalihkan pembicaraan... Bisa kau jelaskan apa yang terjadi?"
Gia turun dari ranjangnya menuju balkon,dia menatap pemandangan terangnya malam sang ibu kota,sebenarnya dia tahu jika ini akan terjadi,dia hanya tidak pernah menyangka kalau terjainya akan secepat ini,bukan di saat ia sukses nanti.
"aku bingung cerita nya dari mana....malam itu tante Ghina datang mengunjungi ku setelah 40 hari Oma dan memberi tahu aku tentang waris yang di tinggalkan untuk ku,untuk mu dan untuk nya dari ibu. ada tertulis jika tante Ghina akan mendapatkan 50% waris Ibu jika ak tinggal bersama nya dan dia meminta ku agar mau tinggal bersama nya,karena jika tidak dia akan menghancurkan usaha kalian,kalian bertiga,aku tidak mau itu terjadi,kalian adalah bagian dari hidupku,kalian adalah cahaya di dalam kegelapanku yang tidak sama sekali merasakan punya kedua orang tua." air mata mulai turun,Salman merangkul keponakannya itu,dia pun menghadap ke arah pemandangan di depannya,namun dia teringat sesuatu tapi dia mencoba mengesampingkan itu karena sedang mendengarkan cerita keponakannya.
"aku tidak mau sesuatu terjadi padamu,Om Rayen atau pun Om Devan makanya aku mengambil keputusan untuk tinggal bersamanya dan ternyata setelah bersama mereka kehidupan ku benar benar menjadi gelap. Mereka tidak pernah menyekolahkan ku,mereka tidak pernah memperlakukan ku layaknya saudara,Bibi lah yang selama ini selalu menolongku,aku makan layaknya binatang,aku hanya mendapat sisa sisa makanan dari mereka yang terkadang jika tidak ku makan mereka yang akan memasukkan makanan itu ke dalam mulut ku hingga terkadang Bibi sengaja menelpon ponselku yang ada pada mereka dan membuat mereka segera mengurungkan niat nya dan Bibi juga yang selalu menyisihan makanan untukku di dalam toilet dapur."
"kamu makan di toilet?" potong Salman.
Gia menganggukan kepalanya."ya... Itulah yang selama ini terjadi,aku hanya takut jika mereka berbuat sesuatu pada kalian."
tanpa terasa ada dua pasang mata lain yang sudah meneteskan air matanya,yaitu Salman dan Rayen,tanpa Salma dan Gia ketahui,sebelum mereka berdiri di balkon sebenanya sudah ada Rayen yang sedang berbaring di kursi malas,sebenarnya dia ingin masuk saat mendengar obrolan dari balkon sebelah,tapi sangat tidak mungkin jika tiba tiba dia masuk ke dalam kamar karna itu akan berbunyi,makanya dia memutuskn tetap di sana dan secara tidak sengaja mendengar semua cerita yang di ceritakan Gia pada Salman,tanpa dia sadari pun air matanya menetes.
"jadi? Selama ini kau membohongiku??"
"ya... And I'm so sorry..."
"jadi foto foto mu di kampus?"
"Intan yang mengirimnya dan itu perintah tante Ghina,agar kamu percaya jika mereka menyekolahkan ku"
"kamu pikir kamu hebat menanggung semua ni sendiri?" ucap Salman sambil memukul pelan pipi keponakannya,"kau merasa kuat sekarang? Kau merasa keren? Kamu bodoh Gia bodoh! Om gak mau kamu disini,kamu harus ikut om pulang ke Malang" dia kesal dengan semua cerita yang dia terima dari Gia tak jauh dari situ ada dua tangan juga yang sudah mengepal mendengar itu semua.
"om... Rumah itu peninggalan mama dan oma untuk aku... Aku mau kembali rumah itu,aku mau ambil kembali itu dengan hasil ku sendiri... Aku mohon om biarin aku disini"
"tidak"
"om... Usaha ku sudah berjalan dan itu sangat ramai... Aku berjani tidak akan ada kebohongan lagi selanjutnya,om bisa memantauku dan bisa mengirim orang untuk bersama ku disini tapi jangan minta aku meninggalkan tempat ini,aku hanya ingin apa yang menjadi milik ibuku kembali,setelah itu aku akan kembali ke Malang.
"baik om setuju dengan beberapa syarat yang mau tidak mau kamu harus setuju."
"oke... asal om biarkan aku menyelesaikan misi ku"
"pertama kembali sekolah,kedua kamu harus jujur apapun yang terjadi pada mu,om ga mau kecolongan lagi,bibi akan om tempatkan disini bersama mu,menurut... Aku mohon menurutlah padaku tanpa membantah dan yang terakhir siapa sebenarnya yang menolong mu dan apa yang terjadi pada Anto." ucap Salman dan itu membuat orang yang sedang berbaring di balkon sebelah kebingungan.
"om Rayen.... Aku sudah berjanji akan jujur padamu,om Rayen adalah orang yang menolong ku,jangan salahkan dia karena aku yang meminta agar dia tak memberitahukannya padamu."
"Rayen??"
"ya... Dia yang membantu ku dan yang terhadi padaku dan om Anto..."
Gia menceritakan seperti yang dia ceritakan pada Rayen,bahkan ada beberapa part yang tidak Gia ceritakan pada Rayen mungkin karena malu tapi dia ceritakan pada om nya sendiri secara gamblang dan penuh dengan air mata. Kedua pria yang berada di tempat yang berbeda itu ikut menangis mendengar cerita gamblang itu,hati nya seakan teriris karena tidak berhasil menjaga Gia dengan baik.
"berjanjilah kau tidak akan marah padanya"
"pada siapa?"
"om Rayen..."
"untuk apa? Aku malah berterima kasih padanya karena menolongmu,mengantikan tugas ku" lalu Salman kembali menatap pemandangan di depannya. Dari tadi sebenarnya aku sedang berfikir "pemandangan ini seperti pernah ku lihat sebelumnya dan sekarang aku baru mengingatnya setelah kau sebutkan nama pria Gila yang membawamu pergi dari ku,dia sempat video call dengan pemandangan ini d belakangnya. Kalian tidak sekamar bukan?"
"tidak... Biasa om Rayen di kamar sebelah dan ada di balkon itu jika dia tidak bisa tidur." jawabnya jujur.
Salman hanya menganggukkan kepala mendengarnya.
*****
Ke esokkan paginya Salman langsung menghampiri Rayen di dalam kamarnya setelah sebelumnya melihat Devan keluar membelikan sarapan untuk mereka semua,walau ada Yuli dan ibu nya bukan berarti mereka menyuruh seenaknya.
"bisa bisa nya lu umpetin ponakan gua dari gua" Salman kesal.
"Gia tahu lu ke sini?"
"gak"
"pantes aja..."
"kenapa bahas yang lain! Jawab aja pertanyaan gua!"
"gua harus jawab apa? Dia sendiri yang minta itu"
"lu jauh lebih dewasa dari dia,lu tahu sendiri kan gimana gua cari dia dar ujung ke ujung,lupa makan lupa tidur"
Belum sempat Rayen menjawab pintu kamar sudah di gedor berulang kali dan di susul teriakkan Gia dari sana. "om Salman... Om Salman keluar... Aku tahu om di dalem... Kalau om gak keluar aku akan pergi bahkan kalian bertiga gak akan ada yang tahu aku dimana" ancam Gia dari luar sana membuat Salman akhirnya membuka pintu dan merangkul sahabatnya sambil berjalan keluar.
"om lagi bantu Rayen pasang celana"
Jawaban itu bukan hanya membuat Devan dan Yuli ternganga,bahkan Gia dan Rayen sangat terkejut dengan kalimat itu,namun si pencetus malah tertawa liat reaksi wajah orang orang yang ada di sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments