Sore itu Raya dan ibunya kembali ke rumah sakit Tiara, sesuai dengan jadwalnya dia harus kembali melakukan cek kesehatan pada ibunya.
Ibu Raya sedang diperiksa oleh Dokter Gunawan di ruangannya. Sedangkan Raya duduk menunggu di depan ruangan. Rumah sakit cukup ramai sore hari ini, orang-orang datang dan pergi dengan tujuannya masing-masing. Dokter-dokter yang sedang bertugas pun sejak tadi terlihat hilir mudik di sekitar tempat duduk Raya.
Ponsel Raya berdering tiba-tiba.
" Halo" ucap Raya pada orang disebrang sana.
" Halo sayang, kau sedang apa?" jawab Raka diseberang sana.
" Aku sedang di rumah sakit, mengantar ibu."
" Hey! berhenti memanggilku sayang." protes Raya.
" Kenapa? Aku suka memanggilmu sayang. Sayang sayang sayang sayang.. " Raka menggoda dengan terus mengatakan itu sambil terkekeh geli.
" Iiishh, dasar!" umpat Raya sambil mematikan ponselnya sebal.
Diseberang sana Raka tampak tersenyum lebar, sambil menatap ponselnya yang telah dimatikan sepihak oleh Raya. Matanya berbinar cerah setelah berhasil menggoda gadisnya itu.
" San, antarkan aku ke mansion terlebih dulu sebelum bertemu dengan para pemegang saham itu." perintah Raka pada asistennya itu.
" Baik Tuan, siap laksanakan!" jawab Sandi disertai senyuman karna senang melihat raut wajah Raka yang cerah.
***
Raya tiba-tiba merasa haus, matanya berkeliling mencari sesuatu yang bisa mengobati rasa hausnya. Dia menemukan vending machine yang berada di salah satu lorong rumah sakit.
Dia menengok sebentar ke ruangan dokter Gunawan, memastikan ibunya masih melakukan pemeriksaan disana. Setelah itu, Raya berjalan untuk menghampiri vending machine tersebut.
Dilihatnya beberapa kaleng dan botol berbagai produk minuman disana, dia menekan salah satu tombol minuman yang ia pilih. Seketika mesin berbunyi, untuk mengeluarkan minuman yang diinginkan Raya.
Ketika dia hendak mengambil minuman yang sudah keluar dari mesin itu, lift yang berada tak jauh dari posisi vending machine berdenting, tanda bahwa lift akan terbuka. Dari dalam lift tersebut, keluarlah lelaki tampan berkacamata yang sempat bersenggolan dengan Raya tempo hari. Dokter Kevin. Dokter bedah sekaligus direktur di rumah sakit ini.
Mereka saling menatap satu sama lain, kemudian Raya melangkah untuk segera kembali menunggu ibunya. Dia memutuskan kontak mata dengan dokter tampan dihadapannya itu.
" Kau sedang berobat? " tanya Dr Kevin menghentikan langkah Raya sejenak.
Raya menoleh melihat kearah dokter tersebut.
" Aku mengantar ibu berobat" jawab Raya datar.
"Oh. Senang bertemu denganmu, aku Kevin." Kevin dengan percaya diri mengenalkan dirinya sambil mengulurkan tangan ke arah Raya yang diam memerhatikannya.
" Ah, iya. Aku Raya." Raya menyambut uluran tangan Kevin.
Kevin menggenggam tangan Raya erat, enggan melepaskan tangannya.
Sejak tabrakan tak sengaja tempo hari, memang Kevin sedikit tertarik pada Raya. Diam-diam dia menantikan pertemuan kembali dengan Raya. Dan ketika dia berhasil bertemu dengan Raya tanpa disengaja lagi seperti saat ini, sudah pasti dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengenal Raya. Dia ingin mencoba mendekati Raya.
" Maaf, tanganku... " ucap Raya sambil menatap Kevin dan tangannya bergantian.
" Ah, maafkan aku. Aku hanya terlalu senang bisa bertemu denganmu." ucap Kevin sambil mengusap tengkuknya.
" Tidak apa-apa, aku harus kembali menunggu ibuku. Permisi. " Raya hendak melangkah menjauh dari Kevin.
" Hey, bisa aku minta nomor ponselmu?" tanyanya pada Raya yang semakin menjauh.
Raya berhenti ditempat, dia kembali melihat ke arah Kevin.
" Maaf, tapi aku tidak bisa." jawab Raya tegas sambil melangkahkan kembali kakinya meninggalkan Kevin yang sedang tersenyum menatapnya pergi.
" Raya.. Raya.." gumam Kevin merapalkan nama Raya. " Sepertinya aku harus cari cara untuk mendekatimu." sambungnya
***
Kevin masih diam di tempat ia bertemu Raya, pikirannya berkelana mencari berbagai kemungkinan yang bisa ia gunakan untuk mendekati Raya.
Sampai akhirnya dia memutuskan untuk beranjak, dan kembali menaiki lift untuk menuju ke ruangannya. Padahal tadi dia turun karna ingin kembali ke Apartemennya, namun pertemuan dengan Raya membuat dia harus kembali ke ruangannya untuk melakukan sesuatu.
Ruangan kerja Kevin terletak di lantai paling atas, beberapa lantai setelah lantai ruang inap vvip. Ruangan minimalis yang bernuansa coklat kayu dengan beberapa dekorasi tanaman membuat ruang kerja itu begitu nyaman. Kevin duduk di sofa yang ada di tengah ruangan itu, dihadapannya sedang duduk pula dokter Gunawan yang sudah selesai dengan pemeriksaannya terhadap ibu Raya.
" Apa yang kau ketahui tentang Raya?" tanya Kevin langsung, sambil menatap menyelidik ke arah dokter Gunawan.
Semula dokter Gunawan terkejut mendapat pertanyaan itu, namun akhirnya dia menceritakan juga apa yang dia ketahui tentang Raya.
Setelah mendapatkan informasi yang dia inginkan, Kevin berdiri mendekati jendela, dengan tangan saling menyilang di dadanya, dia memandang pemandangan malam ibukota yang begitu indah dengan lampu-lampu kecil seperti ladang kunang-kunang.
" Kau boleh pergi." ucapnya Kepada dokter Gunawan tanpa menoleh.
Dokter Gunawan pun beranjak dari tempatnya, melangkah keluar ruangan.
Ruangan menjadi sunyi seketika, Kevin tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
" Ada hubungan apa dia dengan Raka.." gumamnya lirih sambil mengingat kembali pertemuannya dengan Raya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Rosmawati Intan
Akan byk tantangan.dlm kehidupan Raya ..n Raka
2021-07-28
1
Eka Agustina
lanjut mak
2021-02-14
0
Joen Marlina Lengkey
lanjut
2021-02-11
0