Matahari tak lagi sembunyi pagi ini. Laksana dewa Zues yg agung, gagah bersinar terang dilangit biru. Terpaan angin sejuk menyapu wajah manusia yang bergerak mencari penyambung hidup. Pagi adalah waktu yang tepat memulai hidup, waktu yang tepat untuk mengepakkan harapan baru setelah semalam terbuai dalam bunga tidur.
Pagi ini di sekolah Nusantara akan berlangsung acara amal, siswa dari berbagai kelas sibuk dengan persiapannya masing-masing. Di kelas basket, mereka akan mengadakan perlombaan dengan hadiah utama sejumlah uang yang dihasilkan dari sumbangan anggota kelas itu sendiri. Di kelas tari dan drama, mereka berencana untuk membuat pentas pertunjukan yang hanya dapat dilihat ketika kita membeli tiket masuk saja. Di kelas modeling, mereka membuat fashion show dengan busana dari berbagai merek terkenal yang bisa dibeli langsung oleh siswa. Begitupun dengan kelas memasak, mereka berencana menjual beberapa makanan yang mereka buat sendiri.
Sejak pagi sebelum jam menunjukan pukul tujuh, Raya sudah sibuk dikelas memasak, dengan beberapa siswa lain yang juga menyiapkan makanan untuk mereka jual. Tepat pukul 8 acara amal akan dimulai, para siswa akan mulai menjajakan makanannya untuk menghasilkan pundi pundi rupiah.
Sesuai dengan rencana awal, Raya akan menjajakan makanan favoritnya, colenak dan batagor. Melihat sekeliling ruangan, Raya tersenyum senang. Aroma kue yang baru keluar dari oven, wangi vanilla yang lembut, dan berbagai aroma menyenangkan lainnya benar-benar memanjakan indra penciuman Raya. Raya menyukai suasana ini.
Saat ini Raya ada pada suasana hati yang begitu baik, Anastasia pun saat ini sedang sibuk dengan masakannya, dia tidak membuat ulah seperti kemarin. Entah makanan apa yang akan dia buat, semoga saja tidak mengalami kegagalan lagi.
Tak terasa waktu pembukaan acara amal sebentar lagi akan dimulai. Para siswa sudah mulai membawa beberapa makanannya di depan kelas dan menaruhnya di atas beberapa meja yang sudah disiapkan sebelumnya.
Meja itu menjadi penuh dengan berbagai makanan, ada makanan khas Turki, Arab, Spanyol, Korea, Indonesia, dan lainnya. Semuanya begitu menggugah selera.
Ditengah kesibukannya menyusun makanan yang hendak dijual. Tanpa Raya ketahui, Ana menatapnya diam-diam disudut ruangan yang mulai ramai, dia tersenyum licik tak kala mengingat akan rencananya untuk mengagalkan penjualan Raya.
Kemarin setelah insiden pertengkarannya dengan Raya, Anastasia dibantu kedua temannya menghasut siswa-siswa yang lain untuk tidak membeli makanan Raya. Dia mengatakan bahwa makanan Raya, makanan kampung yang tak layak untuk dijual di sekolah Nusantara ini, bahan makanannya tidak higienis, mengandung zat berbahaya dan fitnah lainnya lagi.
Raya mengetahui itu, pengalaman selama bersekolah di sekolah elit dengan berbagai sikap teman-teman yang menjengkelkan, membuat Raya selalu waspada. Dia akan cepat mengetahui apa yang hendak temannya lakukan kepadanya. Untuk kesekian kalinya Raya menolak untuk ditindas. Kali ini pun begitu, Raya mengetahui rencana Ana dan dia sudah memikirkan rencana apa yang akan dia lakukan.
Tanpa sepengetahuan orang lain. Raya pergi menuju belakang kelas. Dia hendak menghubungi Raka.
" Halo." Sapanya setengah berbisik
" Sayaaang, wah aku senang kau menghubungi ku" Raka tersenyum senang mendengar suara Raya.
" Kau dimana? Jadikan datang ke sekolah?" tanyanya masih dengan suara berbisik.
Raya ingat semalam Raka menghubunginya dan berkata akan mulai mengajar lagi.
" Iya sayang, ini aku sedang dijalan. Mungkin sebentar lagi sampai."
" Oke. Raka dengarkan aku.."
" Ya aku mendengarkan, ada apa sayang?" tanyanya penasaran
" Aku membuat makanan untuk dijual, aku ingin kau mencobanya." suara Raya tiba-tiba berubah sedikit manja.
Raka terkejut mendengarnya, tidak biasanya Raya yang selalu tegas berubah menjadi manja.
" Sayang, ada apa denganmu?" tanyanya ragu.
" Iiishh, aku ingin kau mencoba makananku nanti!" suara Raya kembali tegas seperti biasa. Dia tadinya ingin merayu Raka untuk mencoba makanannya, tapi sepertinya malah terdengar aneh.
Seketika Raka tertawa mendengar suara tegas tak terbantahkan yang keluar dari mulut Raya.
" Hahaha iya sayang, tenang saja. Akan aku coba makananmu, kalau perlu aku habiskan semuanya." ucapnya
" Ya sudah, aku akan kembali ke kelas." jawab Raya sambil mematikan ponselnya.
Raka melihat ke arah jendela mobil, dia mendesah pelan saat menyadari jarak yang ditempuh masih lumayan lama untuk sampai ke sekolah Nusantara.
" Sandi, kau lambat sekali" Raka tak sabar untuk segera sampai dan bertemu gadisnya.
" Ini sudah dibatas maksimum, Tuan." jawabnya tenang. " Lagipula biarkan saja Nona Raya menunggumu lebih lama, bukankah itu akan menambah kadar kerinduannya kepadamu?" sambung Sandi menggoda tuannya.
" Kau ini bicara apa?! Kekasih saja kau tidak punya." Raka terkekeh mendengar ucapan asistennya yang sok tahu.
" Sial! Kena lagi!" gumam Sandi dalam hati.
***
Saat itu suasana semakin ramai di sekolah Nusantara, para siswa sibuk berkeliling untuk mendatangi kelas-kelas ekstrakulikuler lainnya. Di barisan kelas memasak, makanan yang di jajakan mulai sedikit demi sedikit tandas, menciptakan beberapa ruang kosong di atas meja.
Makanan Raya masih utuh, sejauh ini hanya Berlian yang membelinya sebelum dia kembali ke kelas basket untuk bertanding. Sementara Anastasia yang sedari tadi berada disana, tersenyum puas melihat kearah Raya.
" Aku sudah katakan, makananmu tidak akan terjual." suara bernada mencemooh keluar dari mulut Anastasia.
Raya terlihat tak menghiraukannya.
" Lebih baik kau bawa pulang makananmu itu, udik!" sambung Ana sambil terkekeh bersama kedua temannya.
" Makananmu pun masih banyak yang tak terjual Ana. Lebih baik kau bujuk teman-temanmu itu untuk membelinya." ucap Raya mengingat kembali teman-teman Ana yang tadi dipaksa untuk membeli makanannya.
" Tetap saja makananku terjual, daripada makananmu...."
" Raya!" Suara Raka menghentikan ucapan Ana.
Raya tersenyum senang melihat kedatangan Raka, Raka yang tidak tahu apa-apa menyalah artikan senyuman Raya. Dia mengira Raya tersenyum senang karna begitu merindukannya.
" Pak Raka.." sapa Raya senang.
Raka yang sadar akan dimana mereka berada, secara otomatis bersikap selayaknya guru yang bijaksana.
" Apa yang kau jual?" tanyanya basa basi
" Ini Pak." Raya menyodorkan makanannya dengan senang hati.
" Sial! Aku ingin bibirnya." gumam Raka ketika memperhatikan bibir mungil Raya yang tersenyum senang.
Belum sempat Raka mengambil makanan Raya, Anastasia bergerak menghalangi Raka dari meja makanan Raya.
" Pak Raka, bapak lebih baik tidak mencoba makanan itu. Itu makanan kampung pak, tidak higienis." ucapnya berbisik kepada Raka.
Raka yang sepertinya sudah sadar akan situasi Raya, menyeringai menatap Anastasia.
" Oh ya? Tapi kenapa terlihat lebih menggoda." ucap Raka sambil melirik makanan Raya.
" Bisakah kau minggir, bapak ingin mencobanya."
" Tapi pak..." Ana tidak bisa meneruskan ucapannya karna Raka sudah mendorongnya ke arah samping, agar dia bisa menghampiri Raya.
Raya tersenyum puas melihat itu, dia mengambilkan Raka 2 piring kecil untuk masing-masing makanannya, sementara sudut matanya melihat banyak siswa yang sedang khidmat menyaksikan Raka mulai mencoba makanannya.
Ini yang dia tunggu. Sosok Raka yang merupakan guru baru dengan wajah super tampan mampu menjadi magnet untuk siswa lain. Tanpa mereka sadari, langkah kakinya mulai mendekati meja Raya. Mata mereka fokus menatap guru tampan yang sedang menikmati makanannya.
" Waaaah, ini enak sekali Raya." ucapan yang ditunggu Raya akhirnya keluar dari mulut Raka. Raka tak berhenti melahap makanannya. Colenak dan batagor tadi langsung tandas di perutnya.
Hal itu memancing siswa lain untuk bergerak membeli makanan Raya. Mereka ingin merasakan apa yang Raka makan. Seketika, Raya menjadi sibuk menghadapi para pembeli. Sementara Raka bergerak mundur untuk memberi ruang pada gadisnya melayani pembeli.
" Ckckck, tidak salah aku mencintaimu sayang. Kau begitu pandai memanfaatkan situasi." gumam Raka dalam hati, dia tersenyum bangga melihat kecerdikan gadisnya.
Sementara itu, Anastasia menghentakkan kakinya kesal melihat meja Raya ramai oleh pembeli. Dia melangkah tergesa untuk meninggalkan kelas memasak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Iiq Rahmawaty
bneran cinta apa hnya obsesi nii
2022-01-12
0
Wakhidah Dani
ana oh ana masih punya malu ngga ya?
2022-01-11
0
Dessi Ratna Sari
cerdas2,...gak oleng ternyata raya
2022-01-06
0