Setelah sesi perkenalan selesai pak Mamat meninggalkan pak Raka untuk kemudian memberikan pelajaran pagi hari ini. Pak Mamat mengundurkan diri dari kelas sambil membungkukan badannya sopan pada pak Raka.
Didepan kelas pak Raka berdiri dengan santai, ditatapnya wajah siswa-siswanya yang sedari tadi berbinar senang melihat ke arahnya.
" Hari ini kita akan belajar mengenai sajak, sebelum bapa jelaskan apa itu sajak. Bapa ingin kalian membuat sajak terlebih dahulu, judulnya bebas, ekspresi kan kebebasan kalian dalam sajak yang kalian buat.. " perintah pak Raka
Seketika suasana ruang kelas menjadi hening, siswa siswa sibuk dengan imajinasi nya masing-masing, mencoba merangkai kata, mengubahnya lalu merangkai lagi. Begitu seterusnya, hingga mereka larut dalam pekerjaannya, sedangkan pak Raka berkeliling mengitari tiap baris tempat duduk siswa-siswanya.
Hingga tiba di tempat Raya, pak Raka dengan sengaja mengelus punggung Raya lembut sambil mencondongkan badannya untuk berbisik lirih ditelinga Raya.
" Lama tidak bertemu, gadis kecil.. " bisiknya pelan
Seketika, punggung Raya menegang. Matanya memancarkan sinar ketakutan dengan wajah yang perlahan mulai memucat. Raya mengenali sentuhan itu, dia hafal betul suara itu. Dia tahu panggilan itu. Panggilan yang ingin dia hapus selama-lamanya dari ingatannya.
Raka menegakkan kembali badannya, dengan tersenyum licik ia melangkah melewati Raya. Ketika berbalik badan dan melihat Raya, senyum puas tidak bisa lepas dari bibirnya. Seolah-olah ia merasakan kemenangan karna berhasil menemukan barangnya yang hilang.
Raya semakin gelisah, ketika Raka melihatnya dengan tajam. Dia bahkan mengabaikan pertanyaan berlian mengenai tugas sajaknya yang belum selesai.
" Raya.. Ya..!" Berlian menyadarkan Raya dari lamunannya.
" Ah, ya lian.. Kenapa?" tanya Raya gugup
" Iiishh, kenapa sih kamu? Dari tadi aku panggil ga nyahut nyahut" tanya berlian kesal
" Ah, engga.. engga apa-apa" jawab Raya sambil membuka kembali buku tulisnya
" Engga apa-apa gimana, dari tadi aku panggil ga nyahut, kamu sakit Ya? Wajahmu pucat sekali." tanya berlian sambil menempelkan telapak tangannya pada kening Raya
" Engga, aku engga sakit. Tadi pusing aja mau tulis apa di buku.. "
" Ya ampun, kamu aja pusing. Apalagi aku Rayaaa." sambil memasang wajah memelasnya
Raya tidak bisa konsentrasi dengan tugasnya, dibalik tampilannya yang mencoba tetap tenang. Raya menyembunyikan ketakutannya sendiri, sesekali ia melirik pada Raka. Dengan tatapan kaget dan ngeri yang coba ia sembunyikan, sialnya Raka menatapnya kembali, pada saat Raya menatapnya, keduanya saling menatap. Yang satu menatap dengan senyuman liciknya, sementara yang satu lagi menatap dengan perasaan takut dan gelisah. Pandangan keduanya terkunci satu sama lain, hingga pandangan itu terputus oleh suara seorang siswa.
" Pak, tugasku sudah selesai." ucap Ana, salah satu siswi cantik, anak dari salah satu pengusaha kaya raya di ibukota. " Oh iya, namaku Anastasia Laurent. Panggil saja Ana." Ana memperkenalkan dirinya sendiri tanpa diminta. Lalu tersenyum manis pada Raka sebelum membalikkan badan kembali ke tempat duduknya.
Raka hanya memberikan anggukan sambil lalu. Dia mengenal baik orang tua Anastasia, siapa yang tidak tahu keluarga Laurent, mereka adalah salah satu keluarga pengusaha yang memiliki beberapa perusahaan besar di bidang pangan. Namun sayang, watak Anastasia tidak secantik wajahnya. Ia cenderung manja dan egois, terlebih Raka tidak menyukainya karna bisa dilihat dari sikapnya bahwa Ana adalah gadis yang sombong. Hal itu juga lah yang membuatnya berkali-kali menolak untuk menerima perjodohan dengan Anastasia.
Ya, Raka adalah anak dari salah satu konglomerat di indonesia, perusahaan yang dimilikinya begitu banyak dengan melintasi beberapa bidang, eletronik, pertambangan, otomotif, sampai pada tingkat pariwisata dia miliki. Bahkan sekolah Raya pun sebenarnya adalah milik Raka, setelah ia beli saham pemilik sekolah Nusantara sebelumnya beberapa waktu yang lalu, pada saat mengetahui bahwa gadis kecilnya ternyata bersembunyi di sekolah ini. Dan hal itu hanya diketahui oleh beberapa orang saja, termasuk pak Mamat.
Raka yang terbilang masih muda, memang jarang sekali terekspos keberadaan nya oleh media. Selama ini orang orang awan hanya mengetahui bahwa Sebastian Fernando, konglomerat terkenal di indonesia memiliki satu orang anak lelaki yang sedang melanjutkan pendidikan di luar negeri, tanpa mengetahui bagaimana tampang dari anaknya tersebut. Dan hal inilah yang menguntungkan bagi Raka, tidak ada yang mengetahui identitas dirinya yang sebenarnya. Seperti saat ini ketika dia menyamar menjadi seorang guru sastra.
Raka menyamar menjadi guru hanya untuk menemui Raya, gadis kecil yang membuatnya terobsesi sejak pertama kali bertemu beberapa tahun yang lalu.
Raka dan Raya bertemu saat mereka di bandung. Sebelum pindah ke ibukota, Raya dan keluarganya memang tinggal di bandung. Pada saat ayah Raya meninggal tepat sebelum acara pelepasan kelulusan, Raya dan ibunya memutuskan mengadu nasib di ibukota. Tanpa sepengetahuan ibunya ternyata Raya berhasil mendapatkan beasiswa di sekolah swasta Nusantara. Hal itu memantapkan niat untuk hijrah, terlebih memang Raya ingin pindah karna ingin menjauh dari jangkauan Raka.
Tiga tahun berselang, setelah Raka hampir putus asa mencari gadis kecil nya tanpa disengaja Raka melihat Raya sedang mengayuh sepeda keluar dari gerbang sekolah Nusantara, karna Raka hanya melihat sambil lewat ia tidak bisa berhenti memastikan bahwa gadis yang mengayuh sepeda itu adalah gadis kecilnya dahulu. Akhirnya ia menyuruh bawahannya untuk menyelidiki Raya, hingga akhirnya dia dapatkan informasi lengkap mengenai Raya dan Ibunya.. Dari situlah jiwa obsesi posesifnya muncul kembali. Dia harus mendapatkan Raya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Ayuna
lanjut
2023-01-28
0
Iiq Rahmawaty
brpa tahun thor raka nya ??
ko bisa di jodohin sma di laurent itu yg notaben nya msih sekola?
2022-01-11
0
Rosmawati Intan
teropsesi..sbb cinta atau hya sekedar mengangumi nya
2021-07-28
0