Waktu berlalu tidak membuat perasaan Raka hilang kepada gadis kecilnya. Ternyata obsesinya pada Raya masih ada, bahkan lebih kuat dari dulu, apalagi penampilan Raya kini semakin jelas terlihat menarik, bagai buah yang mencapai masa matangnya dan siap untuk dipetik.
Berbeda dengan dulu, kini dia akan pastikan bahwa Raya akan ada dalam genggaman nya. Raya tidak akan bisa lagi menghilang, sejauh apapun ia bersembunyi Raka sudah bertekad, ia tidak akan kehilangan Raya untuk yang kedua kalinya, sekalipun Raya menolak dan membencinya, Raka tidak peduli. Selama Raya ada dalam kendalinya.
***
Mata seorang gadis mulai terbuka saat matahari mulai beranjak dari singgasananya, semburat senja yang megah mulai nampak di ujung cakrawala.
Raya menatap langit-langit kamar, dia mulai mencoba mengingat kembali apa yang terjadi. Perlahan ia mengangkat tubuhnya untuk duduk dan bersandar pada kepala ranjang yang terasa asing.
" Kau sudah bangun?" suara Raka mengejutkan Raya.
Raya diam tak mampu bersuara, lidahnya keluh oleh perasaan takut dan ngeri. Bayangan pelecehan yang ia alami dimasa silam seolah hadir kembali, memaksa Raya mengingat bagaimana bernafsunya Raka pada dirinya saat itu. Sentuhan jemari Raka disekujur tubuhnya membuatnya menggigil, takut peristiwa jahanam itu terulang kembali.
" Lama tak bertemu Raya, gadis kecilku." ucap Raka sambil menatap Raya, menghampirinya di ranjang dan duduk disamping Raya. Seketika Raya mundur ingin menjauh dari Raka, enggan untuk berdekatan dengan lelaki yang pernah melecehkan dirinya. " Sayang, kenapa kau diam saja? Apa kau belum ingat padaku? " sambung Raka sambil tersenyum miring menatap Raya. Ia tidak tahan ingin menyentuh Raya.
" Lepaskan aku.. " dengan suara bergetar Raya susah payah mengeluarkan suaranya.
" Lepaskan aku, aku mohon. Aku ingin pulang, ibuku pasti mencariku.." sambung Raya tidak bisa menyembunyikan ketakutan yang melingkupi suaranya yang parau.
" Melepaskanmu?! " tanya Raka " Kita baru saja bertemu, aku belum menuntaskan rinduku padamu." sambung Raka mencoba meraih tangan Raya yang kemudian langsung ditepis oleh Raya.
Raya terdiam saat matanya mulai mengeluarkan bulir bulir air mata, isaknya mulai terdengar. Tangannya gemetar menghapus kasar air matanya.
" Oh sayang, jangan menangis. Aku benci melihatmu menangis, itu tidak bagus." ucap Raka hendak menghapus air mata Raya
" Dengarkan aku Raya.. Aku ingin kau menjadi milikku. Jangan pernah coba untuk menjauh atau bahkan berniat untuk menghilang lagi dariku seperti yang kau lakukan dulu." ucap Raka sambil menatap tajam pada Raya yang mulai reda isakan nya.
" Apa sebenarnya maumu? Kau datang tiba -tiba lalu memintaku menjadi milikmu" tanya Raya sambil memandang sinis Raka
" Dengar, kalau kau pikir aku masihlah gadis kecil yang mudah kau tipu dan manfaatkan seperti dulu. Kau salah besar. Aku bukan lagi gadis kecil seperti dulu. Aku bisa membuatmu mendekam dipenjara jika kau berbuat macam-macam lagi kepadaku." Raya berucap dengan berapi-api, dia tidak ingat bahwa lelaki di depannya ini adalah lelaki kaya raya yang mampu membungkam aparat kepolisian.
Perkataan Raya sontak membuat Raka tertawa terpingkal-pingkal, sampai ia harus menyeka sudut matanya yang berair karena tertawa.
" Gadis kecilku sudah semakin besar ternyata.. " ucap Raka disela-sela tawanya.
" Sayang, kau pikir kau sedang berhadapan dengan siapa hah?! Aku bisa melakukan apapun yang aku mau Raya, dan tentunya apapun yang aku mau lakukan bisa aku pastikan tidak akan ada siapapun yang bisa menghalanginya, termasuk aparat kepolisian atau apapun itu." sambung Raka sambil tersenyum licik
" Lagi pula kau sudah tidak bisa menjauh dariku, kau pikir setelah aku menemukanmu, aku tidak mencari tahu semua tentangmu?!.." ucap Raka sambil beranjak dari tempat tidur untuk kemudian melangkah mendekati jendela. Memandang senja yang mulai hilang ditelan malam." aku mengetahui semua tentangmu Raya, tentang susahnya hidupmu, tentang beasiswamu, bahkan aku tahu ibumu itu sekarang sedang sakit sakitan bukan? " lanjut Raka sambil berbalik menatap Raya yang masih diam dengan raut wajah kesal, marah, benci dan takut menjadi satu.
" Jadilah milikku, aku pastikan kau bisa hidup aman, beasiswamu pun akan lancar hingga ke jenjang lebih lanjut jika kau mau. Dan ibumu sudah pasti akan mendapatkan pengobatan yang terbaik hingga sakit yang di deritanya hilang. Bagaimana..?! " Raka menjelaskan tawaran yang dia berikan pada Raya
Raya bingung, disatu sisi dia tidak ingin menjadi milik lelaki itu. Namun disisi lain, dia tidak bisa menampik bahwa apa yabg ditawarkan kepadanya sangat menggiurkan. Terutama mengenai pengobatan untuk ibunya.
Sudah lama ibunya mengidap sakit jantung, Raya baru mengetahui itu saat ia menginjak kelas 2 tahun lalu, ketiadaan biaya membuat ibunya kesulitan untuk memperoleh pengobatan. Sehingga penyakit itu sering kambuh, Raya sudah kehilangan ayahnya, dia tidak ingin kehilangan ibunya.
Raka melihat kebimbangan di raut wajah Raya, hal itu membuat Raka tersenyum seolah kemenangan ada di depan matanya.
" Bagaimana Raya..?" tanya Raka menyadarkan Raya dari kebingungannya.
" Kau akan mengobati ibuku..?" tanya Raya memastikan.
" Ya, akan aku obati ibumu jika kau setuju.. " ucap Raka tidak bisa menyembunyikan senyuman dari wajahnya.
" Apa yang kau inginkan dariku?"
" Seperti yang sudah aku katakan, aku ingin kau menjadi milikku, turuti keinginanku.."
" Apa.. Apa kau akan meniduriku juga? " tanya Raya ragu ragu, dia sadar betul bahwa Raka ingin memiliki Raya dalam konteks seksual.
" Yaaa, sebagai lelaki normal aku ingin. Tapi aku lebih senang jika melakukannya tidak dalam keadaan terpaksa.." ucap Raka sambil mengerlingkan matanya menggoda Raya.
" Tidak.. Aku tidak ingin melakukannya, tolong jangan lakukan itu." Raya memohon sambil menatap nanar pada Raka.
" Baiklah.. Untuk yang satu itu aku akan menunggu hingga kau mau dengan sukarela melakukannya denganku." jawab Raka sambil menghampiri Raya di tempat tidur.
" Jadi bagaimana? Setuju dengan tawaranku?"
Raya mengangguk lemah, dalam hatinya dia benar benar merasa hina. Dia merasa sedang menjual dirinya pada Raka.
" Oke, sekarang aku ingin bukti.. Buktikan bahwa kau bersedia dengan tawaranku.. " tantang Raka
" Bagaimana caranya... " Raya bingung tidak mengerti harus membuktikan dengan cara apa.
Seketika kebingungannya terjawab, Raka mengangkat dagu Raya kemudian mencium bibir Raya. Raya terkejut dan mendorong Raka untuk menjauhkan bibirnya.
" Kau telah setuju menjadi milikku Raya.." Raka mengingatkan.
Raya terdiam. Tidak bisa berbuat apapun saat Raka kembali mencium bibirnya, tangan kiri Raka dengan tangkas menyentuh belakang kepala Raya agar dapat memperdalam ciumannya. Sedang tangan kanan nya bergerak otomatis mengelus bagian paha Raya yang mulai tersingkap rok seragamnya, tangannya begitu lihai bergerak masuk hingga mencapai pinggul dan memberikan tekanan lembut disana.. Tubuh Raya menegang, ketika merasakan sentuhan Raka di pinggulnya.
Hingga akhirnya ciuman itu harus terhenti, ketika Raka melihat Raya hampir kehilangan nafasnya.
Jantung Raya berdetak cepat, nafasnya memburu tak beraturan, bibirnya merekah menggoda dengan saliva membasahi permukaannya. Raka tersenyum gemas, melihat Raya masih seperti gadis kecilnya dulu. Sudah jelas dia tak berpengalaman dengan lelaki manapun, hal itu memberikan rasa kebanggaan tersendiri dalam hati Raka. Jiwa posesif nya muncul mengetahui kebenaran itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Iiq Rahmawaty
sayangnya dsni raka hnya obsesi.. rsa cinta nya blum ada
2022-01-11
0
Rustan Sarny Apul Sinaga
harusnya dinikahi dulu thor, biar makin syahdu ini itunyaaa....nikah siri juga oke kok
2021-12-18
0
Rosmawati Intan
Rasa tegang..cara org kaya suka sma org..mcm buat perdagangan..tawar menawar brang..
2021-07-28
0