Jalanan saat itu tidak begitu ramai, tempat biasa Raka menunggu Raya berada tak jauh dari gang rumah Raya.
Dibawah pohon rimbun dan pencahayaan jalan yang temaram, Raka terduduk santai di belakang kemudi mobil ferarri merah yang ia bawa.
Ya. Raka memutuskan untuk mendatangi Raya seorang diri, sebenarnya hal itu dikarnakan ia ingin mengajak Raya makan malam berdua di apartemennya.
Tok tok tok.. Kaca jendela mobil Raka diketuk, seketika senyum merekah mengembang di bibirnya, matanya berbinar menatap Raya yang sudah berdiri di samping pintu mobil.
" Masuklah. " perintah Raka setelah menurunkan kaca mobilnya untuk bicara kepada Raya.
Raya masuk. Dia duduk di kursi sebelah Raka. Tanpa menunggu lama lagi, Raka menginjak gas mobilnya, Ferarri merah itu melaju melintasi gelapnya jalanan.
" Kita akan kemana? " Tanya Raya setelah beberapa saat tak bersuara.
" Kau akan tau, sayang." ujar Raka tanpa melihat kearah Raya.
Dalam perjalanan, Raya sesekali melihat ke arah Raka. Dia berusaha menebak akan dibawa kemana ia oleh lelaki itu.
" Kenapa kita berhenti disini? " tanya Raya yang mulai menyadari bahwa Raka membawa dirinya ke Apartemen Raka.
" Jelas karna aku ingin menghabiskan malam denganmu, sayang." jawab Raka sambil melepaskan sabuk pengamannya dan sabuk pengaman Raya.
" Kau gila Raka! Kau memintaku keluar rumah hanya untuk membawaku kesini?!" Raya tak bisa menutupi rasa kesalnya pada Raka.
Raka menatap lekat Raya, bibirnya tidak bisa menahan untuk tersenyum menyaksikan raut wajah kesal Raya yang malah membuatnya gemas.
Cup. Raka mengecup bibir Raya.
" Ayo keluar." Ajak Raka sambil membuka pintu mobil meninggalkan Raya yang masih enggan untuk beranjak.
" Ayo sayaaang." ucap Raka ketika melihat Raya masih berada di dalam mobilnya.
" Ya Tuhan.. Selamatkan aku dari lelaki terkutuk itu" Raya bergumam dalam hati sambil membuka pintu mobil.
Mereka berjalan bersama memasuki aparatemen, Raka menggandeng erat tangan Raya. Dia memasukan password apartemennya, kemudian membukakan pintu mempersilahkan Raya untuk masuk.
" Duduklah dulu." Raka mempersilahkan Raya untuk duduk di sofa yang berada ditengah ruangan. Sedangkan Raka berjalan ke arah dapur yang berada tak jauh dari ruang tengah tempat Raya duduk.
Raya melihat kesekitar ruangan, matanya tertuju pada satu figura besar yang menempel di dinding dan figura-figura kecil yang bersusun rapi di buffet tepat dibawah figura besar. Itu adalah foto-foto Raka dengan ayah dan ibunya. Ada beberapa foto juga yang sepertinya diambil saat Raka masih sekolah di luar negeri.
" Sebelum menjemputmu, aku sudah menyiapkan makanan ini." ucapan Raka mengalihkan perhatian Raya dari figura-figura itu.
Raya melihat apa yang Raka bawa. Dia menelan ludahnya ketika melihat 2 piring steak tenderloin lengkap dengan potongan kentang panggang dan brokoli rebus, ditambah dengan lemon tea hangat tersaji dalam sebuah nampan yang dibawa Raka.
" Wah.. Kau sendiri yang membuatnya?" tanya Raya ragu sambil mencoba membantu Raka memindahkan makanan itu ke meja.
" Yah begitulah, meski mungkin tak seenak buatan koki di restoran." jawab Raka sambil ngambil posisi untuk duduk di samping Raya. " Cobalah.." Sambungnya.
Diirisnya steak buatan Raka itu, lalu dilahapnya seketika. Wajahnya terperangah merasakan steak buatan Raka, rasa gurih nikmat berpadu dengan kelembutan daging yang dipanggang dengan waktu yang pas, daging steak ini begitu lembut dan juicy. Benar-benar memanjakan indra perasa Raya.
" Bagaimana?" tanya Raka penasaran melihat Raya begitu bersemangat menyantap makanannya.
" Enak" ucap Raya disela sela mulutnya yang tak berhenti mengunyah, sambil mengacungkan jempolnya ke arah Raka.
Raka tersenyum, hatinya begitu senang melihat Raya memakan masakannya dengan lahap. Sesekali dia menyeka sisi bibir Raya dengan jarinya, ketika melihat ada sisa makanan yang tertinggal disudut bibir gadisnya itu.
Makan malam itu lancar sebagimana yang diinginkan Raka. Kini mereka sudah duduk bersisian di sofa ruang tengah, menghadap layar televisi yang mati.
" Raka, ini sudah sangat malam. Aku ingin pulang." ucap Raya memecahkan keheningan yang sempat tercipta tadi.
Raka tidak menjawab, dia menghadapkan tubuh Raya kearahnya, kemudian menundukan kepalanya untuk meraih bibir mungil Raya yang sedikit terbuka.
Raya sudah tidak terkejut lagi dengan perbuatan Raka ini, semakin lama dia dekat dengan Raka, melakukan berbagai sentuhan-sentuhan fisik dengannya membuat ia menjadi terbiasa dengan hal itu.
Entahlah, perasaan takut dan marah yang dulu ada setiap kali Raka menyentuhnya, kini seolah hilang entah kemana. Yang tersisa hanyalah perasaan nyaman karna Raka selalu memperlakukannya dengan lembut.
Dengan ragu-ragu, Raya mencoba membalas ciuman Raka. Sejenak Raka terdiam, dirasakannya Raka tersenyum dengan posisi bibir yang masih berpagutan. Tak berselang lama Raka menciumnya kembali, kali ini dia memperdalam ciumannya, lidah mereka saling membelit menyalurkan kehangatan sekaligus rasa nikmat bersama. Tangan Raka tak tinggal diam. Diangkatnya hoodie Raya, hingga hanya menyisakan bra putih berenda yang menutupi dadanya.
Raya tak kuasa menerima hujanan belaian di punggung dan area dadanya. Kecupan kecupan kecil Raka bergerak bebas menyusuri permukaan kulit Raya yang setengah telanjang. Meninggalkan beberapa jejak merah disekitar dada dan perut rata Raya. Raka cukup mengerti, meskipun dia sedang berada dibawah kendali nafsunya, dia tidak setega itu untuk meninggalkan jejak ditempat yang mudah terlihat orang lain.
" Raka." ucap Raya lirih
" Ah... Raka, oh no! " Raya seolah terbang menembus awan. Ini adalah perasaan yang baru ia rasakan setelah berbagai usaha penolakan yang ia berikan terhadap Raka.
" Sayang..." Raka bergumam disela kesibukkannya menikmati kedua bukit kembar Raya. Dia mencium kembali bibir Raya, sambil membawa Raya kedalam gendongannya dan melangkah menuju kamarnya.
Diletakkannya Raya di tempat tidur tanpa melepas ciuman mereka. Raka melepas kemejanya. Mereka bertelanjang dada bersama.
" Sayang.. ahhh." Desahan keluar begitu saja dari mulut Raka, ketika Raya dengan malu-malu mengecupi rahang dan lehernya, tangannya sibuk membelai perut sixpack Raka. Raka mengerang, frustasi dengan kenikmatan yang menyiksa.
" Sayang.. bolehkah?" tanya Raka dengan mata yang berkabut gairah. Bagian bawah Raka sudah menegang meminta pelepasan.
Raya berhenti bergerak. Dia mendongak, menatap wajah Raka.
" Maaf Raka, aku belum siap." ucap Raya menghentikan semua gerakannya.
" Oh My Looord! aku bisa mati menegang dibuatnya" gumam Raka dalam hati
" It's ok sayang, tak apa, aku mengerti" jawab Raka sambil membawa Raya kedalam pelukkannya. Dikecupnya beberapa kali puncak kepala Raya.
Akhirnya malam itu Raya terpaksa menginap di apartemen Raka, dan setelah bersusah payah menahan hasratnya, Raka tertidur dengan memeluk Raya dari belakang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Revina Imut
di nikahin diam2 dong Raka,biar kamu puas,gak tersiksa terus, aaach 😛😛😛😛😛
2021-08-05
0
Rosmawati Intan
next
2021-07-28
0
Nini Nur
nanti klo ditanya ibunya, jawab aja kucing tetangga minta tidur bareng🤣
2021-06-15
0