Sedari tadi moderator rapat pemegang saham membahas proposal tentang perencanaan pembuatan perusahaan baru, para peserta yang mengikuti rapat ini adalah para pemegang saham yang berpengaruh di negeri ini.
Raka memang tergolong masih muda, namun kepiawaiannya dalam memimpin perusahaan patut diperhitungkan. Mungkin karna sejak usia remaja Raka sudah mulai dilatih untuk menjadi penerus dari perusahaan-perusahaan milik keluarganya, sehingga Raka menjadi sosok yang mumpuni di dunia bisnis. Hal itu terbukti dengan banyaknya pemegang saham yang bergabung dengan perusahaannya, mereka mempercayakan sahamnya untuk dikelola oleh Raka.
" Sedang apa dia sekarang? Apa yang sedang dibuatnya tadi? " Raka terus saja menggumamkan hal yang sama dalam pikirannya.
Raka tenggelam dalam lamunannya tentang Raya, dia mengabaikan suara moderator yang sedari tadi sedang menjelaskan proposal perusahaan barunya.
"..... Jadi bagimana tuan dan nyonya, apakah ada yang ingin disampaikan terkait rencana pendirian perusahaan baru kita ini?" tanya moderator menarik kembali Raka dari lamunannya.
Ketika dilihatnya sebagian besar para pemegang saham memilih diam, sebagian ada yang mengangguk puas atas penjelasan yang disampaikan moderator, itu artinya tak ada lagi yang perlu disampaikan. Semua sudah pas sesuai perhitungan, tinggal menunggu waktu untuk mengeksekusi proyek baru tersebut.
Satu per satu para pemegang saham meninggalkan ruang rapat, hingga akhirnya hanya Raka dan Sandi lah yang masih bertahan di ruangan tersebut.
" Raya sudah pulang?" tanya Raka
" Melihat waktu sudah menunjukan pukul lima sore hari, saya pastikan nona Raya sudah pulang dan sedang berada di rumahnya Tuan."
Berdasarkan penyelidikan dulu mengenai Raya, Sandi tahu bahwa Raya bukan tipe anak sekolah yang akan menghabiskan waktunya untuk bermain. Setelah selesai sekolah, Raya pasti akan langsung pulang ke rumah.
" Barang yang aku suruh kau beli, apakah sudah ada?" tanya Raka sambil mengetuk ngetukan jarinya di meja.
" Sudah Tuan"
" Bagus. Tadinya aku ingin segera menemui Raya. Tapi aku pikir, jika aku mendadak datang kesana, aku khawatir dengan respon ibunya."
" Menurutmu bagaimana? " tanya Raka sambil menengadahkan kepalanya menatap Sandi yang berdiri disampingnya.
" Menurut saya, lebih baik Tuan membiarkan nona Raya beristirahat. Tuan bisa menemuinya besok."
" Kau tahu apa yang terjadi di sekolah tadi? Apa Pak Mamat memberitahukan sesuatu kepadamu?"
" Dessert buatan Nona Raya berhasil menjadi menu tambahan untuk jam makan siang di kantin sekolah mulai pekan depan Tuan." Sandi menjelaskan berdasarkan info yang dia perolah.
" Wow.. Itu bagus. Lalu apa lagi? " tanya Raka tak sabar ingin mendengar berita Raya tadi disekolah.
Memang, sejak Raka berhasil menemukan Raya, Raka meminta Pak Mamat untuk mengawasi Raya. Karna tidak setiap saat Raka ada si sekolah, maka dia membutuhkan Pak Mamat untuk mengawasi dan melaporkan semua kegiatan Raya.
" Nona Raya sempat bersitegang dengan Nona Anastasia."
" Bersitegang bagaimana? " tanya Raka penasaran.
Kemudian Sandi jelaskan semua kejadian di kelas memasak sesuai dengan apa yang dilaporkan Pak Mamat kepadanya. Sampai pada bagian Anastasia yang bermuka merah padam menahan amarah karna ucapan Raya.
Raka tersenyum puas ketika mendengarkan penjelasan dari Sandi.
" Dia, jika dihadapanku seperti seekor kucing penakut. Namun ternyata jika dihadapan orang lain, dia bisa juga menjadi singa betina." ucap Raka sambil menyandarkan kepalanya di kursi
" Aaahh aku semakin rindu ingin melihatnya." ujar Raka seketika sambil merentangkan tangannya.
" Apa aku pergi saja kerumah nya sekarang juga? " tanya Raka tiba-tiba kepada Sandi
" Saya pikir itu akan mengganggu waktu istirahat Nona Raya tuan. "
" Hey! Jadi kau pikir aku pengganggu? " protes Raka
" Saya tidak mengatakan begitu, ta... "
" Sudahlah, kau membuat moodku jadi buruk. " ucap Raka menghentikan ucapan Sandi yang belum selesai.
" Antarkan aku pulang. Aku lelah." sambungnya kemudian yang dijawab dengan anggukan oleh Sandi.
Raka berdiri dari duduknya, melangkah untuk keluar dengan diikuti Sandi dibelakangnya.
" Jika kau pergi menemui Nona Raya, kau akan mengganggu waktu istirahatku juga Tuan." Gumam Sandi dalam hati.
***
Keesokan harinya di tempat biasa Raka menunggu Raya. Raka menunggu dengan tak sabar, pasalnya sedari tadi Raya belum juga terlihat.
" San, coba kau lihat, apa dia sudah ada apa belum? Sudah terlalu lama kita menunggu. "
Sandi keluar dari mobil, dia berdiri menghadap jalan arah kedatangan Raya. Memang dia juga merasa kesal karna terlalu lama menunggu.
Setelah menunggu lama, akhirnya Raya mulai terlihat.
Dari kejauhan dia melihat ke arah mobil Raka, ketika semakin dekat Sandi menghentikan laju sepedanya. Raya berhenti, tepat disebelah pintu mobil Raka.
Sandi tersenyum ramah pada Raya, mempersilahkannya untuk masuk ke dalam mobil. Raya merasa sudah biasa dengan kejadian ini, dia masuk menghampiri Raka yang sedari tadi sudah menunggunya. Sedangkan Sandi masih berdiam diri di luar mobil, menunggu perintah dari Taunnya.
Raka yang sudah didera rindu sedari kemarin langsung memeluk erat Raya,
" Kenapa kau lama sekali?." keluh Raka sambil mencium gemas wajah Raya
" Kenapa kau kemari? " Raya balik bertanya
" Sayang, aku kan ingin berangkat bersamamu."
" Berangkat kemana? Bukankah ini hari libur? Kau tidak lupa hari bukan? " tanya Raya memandang ragu pada Raka, sambil melepaskan pelukannya.
Seketika Raka tersadar. Dia memeluk Raya kembali.
"Oh shit, Sandi bodoh! Kenapa tidak mengingatkanku jika ini hari libur! " Umpat Raka dalam hati.
" Tentu tidak sayang, aku memang sengaja menunggumu. Aku ingin mengajakmu berkeliling." Raka mencoba mencari alasan. Raya tak tahu dibalik rambutnya, Raka sedang menatap punggung Sandi dengan kesal.
" Aku tidak bisa ikut denganmu. " ujar Raya membuat Raka melepas kembali pelukannya.
" Kenapa? "
" Aku ada janji dengan Berlian, dia ingin membeli gaun untuk acara Amal akhir pekan ini."
Sekolah Raya memang selalu mengadakan acara amal setiap tahunnya, ini program sosial yang diadakan untuk membantu orang-orang tidak mampu.
Acara amal itu sendiri diadakan dengan cara melelang barang apapun yang dimiliki siswa. Setiap barang dikumpulkan kepada panitia lelang yang bertugas, kemudian akan dilelang dengan membuka harga awal sesuai dengan kualitas barang lelang.
Jika barang yang akan dilelang kualitasnya bagus, dengan kondisi fisik yang baik. Maka harga awal lelang bisa cukup tinggi. Begitupun sebaliknya.
Berlian berencana untuk melelang salah satu koleksi sepatu basketnya. Dia yakin akan memperoleh harga yang tinggi karna di sepatu tersebut terdapat tanda tangan Michael Jordan, atlet NBA yang sangat terkenal.
" Kau akan datang juga? " Tanya Raka sambil menyisipkan rambut Raya ketelinganya.
" Ya. Semua siswa diwajibkan datang. "
" Kau sudah memiliki gaun? " Tanya Raka
" Tidak. Berlian akan meminjamkan nya untukku nanti. "
" Baiklah, karna sekarang ada aku disampingmu. Biar aku yang menyediakan gaun untukmu. "
" Tidak usah Raka, aku tidak butuh itu. "
" Aku tidak menerima penolakan sayang."
Raya diam. Dia lelah berusaha untuk menolak Raka.
Raka membuka jendela mobilnya, dia memerintahkan Sandi untuk mengantarkannya ke kediaman Berlian.
Di sepanjang perjalanan Raka tak henti-hentinya mencumbu Raya, dia benar-benar menuntaskan rindunya yang sudah berkumpul dan meminta pelepasan.
Direngkuhnya Raya dalam dekapannya, tangannya mulai masuk kedalam baju Raya. Mengelus punggung halus dan lembut Raya berulang kali.
Bibirnya memagut bibir Raya dengan rakus, mendorong mulut Raya untuk terbuka dan memberinya akses untuk menjelajahi rongga mulut Raya yang lembut.
Raka mendesak Raya untuk semakin mundur dan menempel pada sisi pintu, dengan bibir yang saling berpagutan, tangan satu Raka mulai menjelajahi dada mungil Raya. Dirasakannya kedua bukit kembar itu, begitu pas dalam genggamannya, tidak besar tidak pula kecil.
Raya tak kuasa menerima semua sentuhan Raka, dia memalingkan wajah dengan terus menggigit bibir bawahnya.
Rasanya seperti melayang, dadanya berdegub dengan cepat. Ditengah-tengah perasaan yang masih berkabut, Raya berusaha menghentikan Raka yang sedari tadi sibuk menenggelamkan diri di kehangatan dada Raya.
Untung saja mobil itu sudah di design dengan sekat pembatas antara supir dan penumpang. Sehingga Sandi yang bertugas menjadi supir tidak dapat melihat apa yang terjadi di kursi penumpang.
" Raka, berhenti. " ucap Raya sambil memukul punggung Raka pelan.
" Su.. Sudah Raka, Rumah Berlian sudah dekat." ucap Raya sambil menahan erangan karna Raka memainkan puncak dada Raya
Raka mendongak dengan pandangan bernafsu menatap Raya.
" Sayang, aku tidak kuat. Apa aku harus membatalkan kesepakatan kita untuk tidak menyatu denganmu? "
" Tidak tidak. " jawab Raya segera sambil mendorong Raka untuk menjauh.
" Sudah cukup aku membiarkanmu menyentuh seluruh tubuhku Raka, aku tidak cukup gila untuk membiarkan kau merenggut satu-satunya hartaku. " ucap Raya kemudian.
Raka tersenyum sinis, matanya menggelap mendengar penolakan Raya dengan gamblang. Tapi dia tahu, ini bukanlah waktu yang tepat untuk membalas penolakan Raya. Sejauh ini Raya sudah mau patuh mengikuti keinginannya, dia tidak ingin memojokkan Raya dengan keinginannya untuk menguasai diri Raya sepenuhnya. Dia akan bersadar untuk menunggu moment itu.
Raka menghela nafas frustasi.
" Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya. " ucap Raka sambil mengecup lembut bibir Raya
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Mogu
contoh yg tdk baik untk ank2 sklh huft ga gtu z bnyk ank sklh nkl
2021-08-09
0
Rosmawati Intan
thir jgn biar Raya menyerah n mengalah thor
2021-07-28
0
Anies
di nikahin aja ngapa sih .. dari pada tiap ketemu gitu mulu...
2021-07-25
0