Setelah pemeriksaan fisik yang menyeluruh dilakukan, termasuk pemeriksaan Elektrokardiogram (EKG) yang dilakukan untuk melihat aliran listrik dan irama jantung ibu Raya, dokter Gunawan mencatat beberapa obat yang harus diminum rutin oleh ibu Raya. Kemudian meminta perawat yang sedari tadi mendampingi pemerikaaan untuk langsung membawakan obat-obatan yang sudah dicatat tersebut dari apotik rumah sakit.
" Kondisi untuk saat ini saya pastikan dalam kondisi baik, obat yang saya resepkan juga harus diminum tepat waktu. Dan ibu Raya harus melakukan pemeriksaan rutin mulai dari sekarang. " Dokter Gunawan mencoba menjelaskan dengan ramah pada Ibu Raya yang menatapnya sendu.
" Maaf dokter, apakah benar pengobatan saya ini karna bantuan sosial? Karna anak saya mengatakan bahwa dia memperoleh bantuan pengobatan gratis dari rumah sakit ini. " tanya ibu Raya yang sedari tadi tidak tahan ingin menanyakan kebenaran bantuan pengobatan yang Raya katakan itu.
Dokter Gunawan membelakakan matanya sesaat ketika mendengar pertanyaan ibu Raya. Namun langsung dapat menguasai keterkejutannya kembali saat dilihatnya raut wajah Raya yang seolah-olah memberikan dokter Gunawan kode rahasia. Dengan tersenyum ramah dokter Gunawan memberikan anggukan, tanda bahwa apa yang disampaikan Raya kepada ibunya benar adanya.
" Iya bu, anggap saja pengobatan ibu mulai saat ini dan seterusnya sebagai bantuan pengobatan. " ujar Dokter Gunawan, tersenyum penuh arti menatap Raya yang mulai merasa gugup.
" Jadi, ibu tidak perlu khawatir masalah biaya pengobatan ini." sambungnya
Ibu Raya yang mendengar penuturan dari dokter Gunawan menghela nafas lega, sambil mengelus dadanya yang sejak tadi dilanda kekhawatiran.
" Syukurlah kalo begitu. " ucap Ibu Raya sambil mengusap lengan Raya yang duduk disampingnya.
Tak lama setelah itu perawat yang diperintahkan untuk membawa obat-obatan itu tiba, diberikannya obat tersebut pada dokter Gunawan yang kemudian dokter Gunawan jelaskan kembali dosis dan waktu yang tepat untuk meminum obat kepada ibu Raya.
Setelah semuanya selesai, Raya dan ibunya undur diri pamit.
" Sudah selesai tuan. Ibu nona Raya telah saya periksa dan beri obat. Sekarang mereka sudah pulang. " ucap dokter Gunawan menjawab panggilan telpon dari Raka tak lama setelah Raya keluar ruang pemeriksaan.
" Bagus, laporkan secara berkala setiap kali mereka melakukan pemeriksaan. Berikan penanganan terbaik yang bisa rumah sakit kalian berikan kepada mereka. " perintah Raka yang kemudian langsung menutup ponselnya tanpa mendengar jawaban dari dokter Gunawan.
Dia tersenyum membayangkan kembali wajah Raya yang sangat senang ketika dia memberitahu bahwa ibunya sudah bisa dibawa berobat ke rumah sakit.
Rumah sakit itu adalah rumah sakit langganan Raka. Ketika dia memerlukan pengobatan tertentu, sudah pasti dia akan datang ke rumah sakit itu. Bahkan dia telah menjadi salah satu anggota vvip disana dalam kurun waktu yang cukup lama. Hal ini menyebabkan Raka mendapatkan perlakuan khusus dari seluruh staff di rumah sakit tersebut. Terlebih direktur rumah sakit ini adalah teman Raka sendiri.
***
Lorong rumah sakit yang tadi hening mendadak ramai oleh kesibukan dokter juga perawat. Tampak dari kejauhan terdapat iring-iringan dokter yang berjalan keluar dari lift khusus para petinggi rumah sakit ini.
Dibarisan paling depan terlihat seperti pemimpin rombangan dengan para dokter lain mengiringi di samping dan belakangnya. Pemimpin rombongan itu tampak lebih muda daripada dokter-dokter lain. Wajahnya tampan blasteran dengan rambut tersisir rapi. Hidung mancung dan badan yang tinggi atletis menjadi daya tarik tersendiri, itu lah alasannya mengapa di sepanjang lorong terdengar bisik-bisik perawat yang mulai mengagumi ketampanan dokter tersebut.
Raya berjalan bersama ibunya, dia tidak memperdulikan kehadiran iring-iringan orang itu. Ketika hendak menuju pintu keluar, salah seorang security mencegahnya.
" Permisi nona, anda tidak bisa lewat lebih dulu. Direktur utama rumah sakit akan melewati pintu ini, silahkan nona lewat pintu keluar sebelah sana. " ucap security itu menjelaskan dan menunjukan pintu lain yang cukup jauh dari pintu keluar dihadapan Raya saat ini.
"Apa-apaan ini, untuk keluar saja harus menunggu direktur rumah sakit keluar lebih dulu." gumam Raya dalam hati. Namun begitu, Raya yang ingin segera pulang menuruti arahan security tersebut.
Ketika berbalik badan ingin pergi ke pintu yang ditunjukan untuknya, tiba-tiba Raya menabrak dada seseorang.
" Aduh!" Raya mengaduh sambil memegangi jidatnya.
" Maaf tidak sengaja" ucap Raya kemudian tanpa melihat siapa yang dia tabrak.
" Tidak apa-apa." terdegar suara bariton menjawab permintaan maaf Raya.
Raya menengadahkan kepala ingin melihat wajah dari suara itu. Seketika matanya melebar, itu adalah suara dari orang yang menjadi sumber kekaguman di kalangan perawat tadi. Lelaki itu!.
Lelaki itu tersenyum pada Raya, dia membuka kacamata nya. Menatap Raya yang tampak terkejut dihadapannya.
Elusan tangan ibunyalah yang kemudian menyadarkan Raya dari keterkejutannya.
" Ayo Raya" Ajak Ibunya sambil menarik tangan Raya, Raya bergerak mengikuti.
" Mari tuan Kevin, tuan harus bertemu dengan tuan besar sebentar lagi. " salah satu dokter pendamping mempersilahkan lelaki itu untuk melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
" Baiklah" jawab lelaki itu. Namun sebelum dia melangkahkan kaki untuk keluar rumah sakit, sejenak dia melihat kembali ke arah Raya yang tampak mulai menjauh.
" Cantik juga.." gumamnya dalam hati sambil tersenyum dan memasang kembali kacamatanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Rosmawati Intan
Raka ..kmu ada saingan cinta..
2021-07-28
0
Yanti thea
sampe sini masih nyimak,
👍👍👍
2021-07-10
0
Puturidho Waseso
wahhh pasti ni temen Raka....sekaligus saingan cintanya....
2021-06-22
0