Chapter 18 - Kenyataan yang Harus Diterima

Arya berjalan dengan langkah ringan di lorong-lorong Pusat Penelitian seakan-akan ia sudah terbiasa dengan tempat itu, padahal kenyataannya dia masih sering tersesat. Tempat itu masih penuh dengan misteri baginya, ia terus berjalan dan berhenti disalah satu pintu yang ia yakini sebagai tempat yang ia tuju. Lalu ia mulai mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali.

"Masuklah"

Setelah mendengar jawaban dari balik pintu ia segera membukanya dan akhirnya melihat seorang pria paruh baya yang tersenyum ramah padanya. Ia membalas senyuman tersebut dan menundukan badannya sambil berkata.

"Sudah lama tidak bertemu, Ayah"

"Tidak perlu sampai menunduk seperti itu, angkat kepalamu Arya"

Arya segera mengikuti perintah ayah angkakatnya itu, Pak Hartoso tidak terlalu banyak berubah sejak terakhir kali ia bertemu dengan Arya. Hanya saja sepertinya uban dikepalanya lebih banyak dari yang terakhir kali Arya ingat, pria itu terlihat sedikit lelah sepertinya ia sedang banyak pikiran. Arya bisa menyadari hal itu dengan mudah tapi ia sengaja tidak mengatakan apapun karena Pak Hartoso terlihat berusaha untuk menyembunyikannya.

"Bolehkah aku tahu kenapa Ayah tiba-tiba berkunjung ke tempat ini?" tanya Arya akhirnya.

"Aku hanya ingin mengucapkan selamat atas keberhasilanmu, aku menonton pertandingan terakhir dan itu sangat menakjubkan" jawab Pak Hartoso dengan antusias.

"Terimakasih, sebenarnya aku menang hanya karena beruntung" balas Arya sambil menggaruk-garuk kepalanya sambil tersenyum.

"Kau terlalu merendahkan diri Arya, dan juga aku kemari bukan hanya karena ingin mengucapkan selamat. Aku juga ingin bertemu dengan mu, bukan hanya aku sih" kata Pak Hartoso sambil menunjuk ke belakang punggung Arya.

Tepat setelah Pak Hartoso menunjuk kebelakang, pintu yang ada dibelakang Arya tertutup. Arya segera menoleh dan melihat adik angkatnya Reika sedang melihatnya dengan ekspresi aneh. Campuran antara sedih dan marah menjadi satu, matanya berair dan mukanya terlihat merah padam. Ia segera berjalan dengan langkah tangkas kearah Arya lalu mulai memukul-mukul Arya dengan pelan.

"Ah.....halo Reika" sapa Arya dengan suara pelan.

"Kakak jahat.......jahat........jahat......!" isak Reika pelan.

"Jahat? Kenapa aku menjadi orang jahat?" tanya Arya.

Saat Arya menanyakan hal itu seketika Reika meledak.

"Kakak masih bertanya?! Kenapa kakak tidak pernah mengunjungiku? Kenapa kakak tidak pernah memberikan kabar selama tiga bulan terakhir ini? Kakak tahu bagaimana khawatirnya aku? Aku sampai pergi ke rumah kakak tapi ternyata tempat itu sudah disewakan pada orang lain, lalu aku pergi ke sekolah kakak dan ternyata mereka mengatakan kalau kakak sudah berhenti sekolah disana. Kemudian aku sampai mogok makan untuk memaksa Ayah memberitahuku dimana tempat kakak sekarang"

Setelah mengatakan semua itu Reika berhenti, sepertinya ia sedikit kehabisan nafas setelah mengeluarkan semua yang ia simpan selama tiga bulan terakhir ini. Lalu ia melangkah mendekat dan memeluk Arya dengan erat, Arya lalu menepuk-nepuk kepala adik angkatnya itu untuk menenangkannya.

"Maafkan aku karena membuatmu khawatir" kata Arya sambil mengelus kepala Reika.

"Kakak bodoh" balas Reika pelan.

Arya terus mengelus kepala adik angkatnya itu sampai dia tenang, setelah cukup lama Reika lalu menengadahkan kepalanya dan melihat wajah Arya dengan tatapan serius.

"Apa yang sebenarnya kakak lakukan disini?" tanya Reika sambil memiringkan kepalanya.

Arya segera menatap pada Pak Hartoso, Pak Hartoso segera mengedipkan matanya dua kali. Ia langsung mengerti. Seperti yang Arya duga, Reika tidak mengetahui apa yang Arya lakukan disini dan tidak mengetahui bahwa Arya adalah seorang Elementalist. Adiknya itu hanya mengetahui kalau dia sekarang sedang melakukan sesuatu ditempat ini.

"Aku hanya melakukan tugas yang diberikan oleh Ayah" jawabnya dengan wajah semeyakinkan mungkin.

"Tugas seperti apa?" tanya Reika lagi.

"Ra-ha-sia" eja Arya lalu menyentuh hidung adik perempuannya itu.

"Eh? Curang! Kakak tidak boleh merahasiakan sesuatu dariku, kakak tahu setelah Ayah memberitahu bahwa kakak berada disini aku mulai mencari tahu tentang tempat ini. Banyak teman-temanku yang mengatakan bahwa tempat ini adalah tempat penyucian otak dan sebagainya"

"Tenang saja aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh kok" ucap Arya meyakinkan Reika.

Lalu Reika mulai menggelitik Arya, untuk memaksanya mengatakan apa yang sebenarnya ia lakukan. Mereka pun mulai saling menggelitik satu sama lain sambil tertawa. Reika sepertinya sudah mulai tenang, Pak Hartoso hanya tersenyum melihat tingkah laku kedua anaknya itu. Lalu tiba-tiba pintu ruangan itu pun terbuka.

"Arya, Pengawas Astral sedang mencari-----"

Asuna tidak jadi menyelesaikan kalimatnya saat melihat Arya dan Reika saling berpelukan sambil tertawa, seketika Arya juga berhenti tertawa. Dia merasakan hawa dingin dipunggungnya setelah melihat tatapan sinis Asuna.

"Hai Asuna, ini tidak seperti yang kau li---" kata Arya dengan cepat sambil menjauhkan Reika dari tubuhnnya.

"Jelaskan" ucap Asuna pelan.

Tapi sebelum Arya sempat menjelaskan, Reika lebih dulu mendekati Asuna dan menatapnya dari dekat.

"Kau siapa? Kenapa bisa kenal kakakku?" tanya Reika.

"Kakak?! Sebenarnya berapa orang sih yang memanggilmu ka----"

"DIA ADIK PEREMPUANKU!" itulah yang sedang coba Arya katakan tanpa suara kepada Asuna, lalu Arya menunjuk dari Reika kemudian ke arah Pak Hartoso yang berada ditengah ruangan.

"Oh......." kata Asuna pada akhirnya, ia terlihat mengerti.

"Oh?" ulang Reika.

"Ah....halo perkenalkan namaku Asuna, aku adalah rekan kerja kakakmu" jawab Asuna sambil tersenyum.

Arya menghela nafas lega. Dia tadi sempat berpikir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

"Halo Kak Asuna, rekan kerja kakak ya?" ujar Reika dengan wajah terlihat tidak yakin.

"Halo Asuna, kau sudah besar ya?" sapa Pak Hartoso tiba-tiba.

"Halo Tuan Presiden" balas Asuna sambil tersenyum dan membungkuk.

"Eh? Apa kalian saling mengenal?" tanya Arya kaget sambil memandang Pak Hartoso dan Asuna secara bergantian.

"Tentu saja, aku sering bertemu dengan Asuna saat berkunjung ke Perdana Menteri Hiroshi. Kau tumbuh menjadi wanita yang cantik Asuna"

"Terimakasih atas pujiannya Tuan Presiden"

"Oh iya dan terimakasih telah membantu Arya selama berada disini"

"Ah tidak juga, Arya juga sering membantu saya"

"Bukanya yang benar selalu membantu ya?" celetuk Arya pelan.

Segera Asuna meyodok tulang rusuk Arya dengan sikunya. Sepertinya setelah mendengar perkataan dari Ayahnya, Reika mulai percaya bahwa Arya dan Asuna sedang mengerjakan sesuatu ditempat itu sehingga ia tidak bertanya lagi. Arya baru tahu kalau Asuna dan Pak Hartoso saling mengenal, itu membuatnya sedikit terkejut. Tapi itu bukanlah hal yang terlalu penting.

"Kak Asuna?" panggil Reika tiba-tiba.

"Eh? Iya?" jawab Asuna ramah.

"Kakak itu, punyaku" kata Reika dengan ekspresi seperti menyatakan perang.

"Eh ap-----"

"Maafkan aku Ayah dan juga Reika, sepertinya aku harus segera pergi karena aku baru saja dipanggil. Sebenarnya aku cukup sibuk, aku akan segera menghubungi kalian. Dah" potong Arya cepat sambil mendorong Asuna keluar dari ruangan itu.

Arya menutup pintu itu dan mulai berjalan bersama Asuna, Asuna terlihat sedikit kesal.

"Hei bukankah hari ini ayah mu juga berkunjung?" tanya Arya.

"Iya, aku sedang menuju ke tempatnya. Memangnya kenapa?" tanya Asuna cuek.

"Aku akan ikut bersamamu"

Tiba-tiba langkah Asuna berhenti. Arya juga terpaksa berhenti, Arya sudah berada lebih depan berapa langkah dari dia.

"Kenapa kau ingin bertemu dengan ayahku? Jangan-jangan kau mau me-----"

"Me....?" tanya Arya bingung.

"Lupakan" kata Asuna sambil berjalan mendahului Arya.

-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------

Setelah Arya dan Asuna tiba di tempat Perdana Menteri Masamune berada, mereka pun duduk bersebelahan dihadapan ayah angkat Asuna tersebut. Pak Hasamune menatap Arya dengan tatapan ramah, dia sedikit terlihat terkejut saat melihat anak perempuannya datang bersama Arya. Asuna yang duduk disebelah Arya hanya diam dan duduk dengan sopan seakan-akan dia sedang menunggu sesuatu yang penting, Arya sedikit bingung kenapa dia bersikap seperti itu.

"Jadi ada keperluan apa Ketua Elementalist ingin bertemu denganku?" tanya Pak Masamune sambil tersenyum.

"Saya tidak ingin berlama-lama jadi saya akan langsung ke intinya saja, saya ingin meminta sesuatu pada anda Tuan Masamune" jawab Arya dengan serius.

"Tentu, jika aku sanggup maka akan penuhi permintaanmu"

"Ini adalah sesuatu yang penting"

"Sepenting apakah itu?"

"Jadi saya ingin-----"

Asuna dengan cepat menyodok tulang rusuk Arya dengan sikunya sehingga Arya tidak berhasil menyelesaikan kata-katanya, lalu ia mendekatkan bibir ke telinga Arya seraya berbisik.

"Hei! Sebenarnya apa yang ingin kau minta pada ayahku?" desisnya pelan.

"Diam dan dengarkanlah! Kenapa kau menyodok tulang rusukku? Sakit tahu"

"Berisik! Cepat katakan padaku apa yang sebenarnya ingin kau minta pada ayahku, jangan-jangan kau benar-benar ingin mela-----"

"Mela...?" potong Arya dengan ekspresi bingung.

"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Pak Masamune sehingga membuat Arya dan Asuna menghentikan kasak-kusuk mereka.

"Tentu saja semuanya baik-baik saja Ayah" jawab Asuna dengan senyuman terbaik yang bisa ia buat.

"Syukurlah kalau begitu, mari kita dengarkan permintaanmu Arya"

"Begini Tuan Masamune, saya ingin meminta anda untuk mengizinkan Asuna menggunakan rapier dan berlatih Anggar kembali" jawab Arya dengan tegas.

Asuna dan Tuan Masamune terlihat terkejut mendengar permintaan dari Arya, Asuna lalu memandang wajah ayahnya dengan tatapan penasaran. Ia penasaran seperti apa respon ayahnya terhadap permintaan Arya. Tuan Masamune mengangkat sebelah alisnya lalu menatap Arya dengan serius.

"Boleh aku tahu kenapa kau meminta hal tersebut?"

"Anda tentu tahu Asuna pernah tidak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama akibat pertandingan itu bukan? Menurut saya itu karena Asuna memaksakan diri untuk menggunakan panah seperti yang anda minta padanya" jelas Arya.

"Aku tidak ingin Asuna terluka"

"Hal yang menurut anda tidak membuatnya terluka itulah yang sebenarnya membuatnya terluka"

Asuna hanya diam mendengar perdebatan antara Arya dengan Ayahnya, dia tidak tahu harus mengatakan apa.

"Sebenarnya aku mempunyai suatu alasan yang tidak pernah aku beritahukan pada siapapun tentang mengapa aku tidak mengizinkan Asuna bermain Anggar lagi" ucap Tuan Masamune sambil menggulung lengan jasnya.

Arya pun melihat sebuah bekas luka mengerikan pada pergelangan tangan kananya, luka itu sudah sembuh tapi, bekas yang ditinggalkannya masih menunjukan bahwa itu dulu adalah luka yang parah.

"Aku dulu juga bermain Anggar, itulah mengapa aku mendapat luka ini. Luka ini menyebabkan aku tidak bisa memegang rapier lagi, dan karena berlatih Anggar jugalah aku kehilangan kakakku. Itulah sebabnya aku tidak ingin Asuna berlatih Anggar, aku takut dia akan mengalami hal yang sama"

Arya terdiam sejenak mendengar cerita Tuan Masamune, dia harus memikirkan apa yang harus dia katakan selanjutnya. Pria itu terlihat sedikit sedih setelah mengenang masa lalunya.

"Tapi bukankah anda seharusnya mulai percaya pada putri anda? Dia sangat menyukai Anggar dan hebat menggunakan rapier saya berani menjamin hal itu, dia juga bukannya tidak menyukai memanah sih sebenarnya. Jadi bagaimana kalau dia menggunakan kedua senjata itu?" saran Arya.

"Bolehkah aku tahu kenapa kau sangat penduli akan hal ini Arya?" tanya Tuan Masamune.

"Karena saya tidak ingin dia terluka"

Tuan Masamune tersenyum lalu menghela nafas panjang.

"Baiklah aku izinkan, tapi dengan satu syarat kau harus tetap berhati-hati"

"Ayah, terimakasih" teriak Asuna sambil berdiri dari tempat duduknya dan memeluk Ayahnya.

"Sama-sama" ucap Tuan Masamune sambil mengelus kepala anaknya.

Arya tersenyum melihat ayah dan anak itu akhirnya bisa saling mengerti satu sama lain. Setelah itu Tuan Masamune pun segera beranjak dari tempat duduknya untuk segera pergi, karena dia memiliki banyak urusan yang harus dikerjakan. Sebelum keluar dari ruangan dia berhenti dan menoleh pada Arya.

"Arya aku juga mengajukan syarat padamu, tolong jaga Asuna"

"Eh?!!" ucap Asuna terkesiap

"Tentu, akan saya lakukan yang terbaik" jawab Arya sambil menundukan kepalanya.

"Kau adalah orang yang baik Arya, sepertinya Presiden Hartoso mendidik mu dengan baik"

"Saya tidak sebaik itu, anda terlalu berlebihan Tuan"

"Aku bersyukur sekali calon menantuku adalah orang yang sangat baik" ujar Tuan Masamune.

"Eh? Menantu?" ulang Arya bingung.

"Ahahaha Ayah sebaiknya kita segera pergi, bukankah Ayah mempunyai urusan yang harus dikerjakan? Iyakan? Iyakan? Kalau begitu ayo, kita harus bergegas. Arya aku akan mengantarkan Ayahku untuk kembali dulu ya, dah" ucap Asuna dengan tergesa-gesa sambil mendorong ayahnya keluar dari ruangan itu lalu membanting pintu ruangan tersebut dengan keras.

"Keluarga yang aneh" bisik Arya pelan dengan wajah datar sambil memegang dagunya.

-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------

Arya masih mempunyai satu urusan lagi sebelum bertemu dengan Astral, dia melesat menuju pintu ruangan itu dan tanpa permisi langsung masuk saja ke dalam ruangan tersebut. Orang-orang yang berada didalam terkejut saat dia masuk, di dalam ruangan itu terdapat empat orang. Dua orang duduk saling berhadapan dan dua orang lagi berdiri dibelakang salah satu dari dua orang yang sedang duduk.

"Kapten?! Apa yang sedang kau....?" ucap Kevin terkesiap saat melihat Arya masuk tanpa izin.

Arya segera duduk disebelah Kevin dan melihat pria yang ada dihadapanya, pria itu menggunakan jas kerja yang diselimuti sebuah jaket kulit yang terlihat mahal. Dibelakangnya dua orang bodyguard berperawakan besar menggunakan jas yang sama dengan yang dikenakan orang itu, mereka berdua juga menggunakan kacamata hitam. Jujur saja tampang mereka sangat mengintimidasi.

"Oh....ada apa ini? Aku sangat tersanjung Ketua Elementalist datang menemuiku, tapi kelihatanya dia tidak mempunyai sopan santun" kritik George Washington dengan wajah bengis.

"Maaf tapi aku tidak perlu sopan santun untuk bertemu dengan anda Tuan Washington, aku akan langsung ke inti permasalahannya. Hak wali anda atas Kevin telah dicabut" kata Arya dengan tenang.

Seketika semua orang yang berada di ruangan itu terlihat terkejut, Kevin melihat Arya dengan tatapan tidak percaya. Dan Arya sedikit puas melihat senyum sombong menghilang dari wajah Tuan Washington.

"Apa yang kau bicarakan bocah?" tanya Tuan Washington dengan nada dingin.

"Seperti yang anda dengar, hak anda sebagai wali dari Kevin telah dicabut olehku"

"Apa hakmu untuk melakukan itu? Kau pikir siapa dirimu?!" bentak Tuan Washington.

"Aku adalah Ketua Elementalist generasi saat ini, dan sebagai ketua aku berkewajiban untuk menyelesaikan masalah dari Elementalist lainnya" jawab Arya santai.

"Apa alasan kau mencabut hak waliku?!" tanya Tuan Washington dengan ekspresi kesal yang sangat terlihat diwajahnya.

"Kenapa anda masih bertanya? Bukankah anda sudah tahu sendiri alasannya? Anda telah melakukan penelitian ilegal terhadap Elementalist demi kepentingan pribadi anda sendiri, jika Kevin berhasil menjadi Ketua Elementalist anda akan memanfaatkan posisinya untuk meraup untung yang sebesar-besarnya" jelas Arya.

Pelipis Tuan Washington berdenyut-denyut, wajahnya memerah karena kemarahan yang sudah memuncak lalu dia berbisik kepada bodyguardnya.

"Tembak dia" perintah Tuan Washington.

"Ta...tapi Tuan dia adalah........"

"Kubilang tembak dia!!!" bentaknya.

Kejadian itu terjadi sangat cepat, mungkin mata orang biasa tidak bisa melihat apa yang terjadi sebenarnya. Tapi Arya bisa melihat semua kejadian itu dengan seksama, kedua bodyguard itu mengeluarkan kedua pistol mereka dan menembakan peluru ke arah Arya. Tapi Kevin dengan sangat cepat menangkap kedua peluru itu dan menghancurkan senjata yang digunakan oleh kedua bodyguard tersebut serta kembali kesebelah Arya hanya dalam waktu kurang dari satu detik.

"Aku tidak akan memaafkan siapa pun yang menyerang Kapten, bahkan jikalau yang menyerang itu adalah Ayah" ujar Kevin sambil menghancurkan dua peluru yang ada digenggamannya.

"Dasar anak tidak tahu diri! Kau pikir siapa yang membesarkanmu?! Aku akan melaporkan ini, aku pasti akan melaporkan ini pada PBB" kata Tuan Washington sambil berdiri dari tempat duduknya.

"Jadi anda ingin melaporkan aku pada PBB? Silahkan saja, tapi sepertinya anda sedikit terlambat. Aku sudah mengirimkan surat kepada PBB untuk menangkap anda atas tuduhan melakukan penelitian ilegal kepada aset umat manusia yang paling berharga, jadi sebaiknya anda bersiap menerima surat panggilan untuk sidang saat tiba di rumah" ucap Arya sambil tersenyum.

"Aku pasti akan membalasmu! Camkan itu!" teriaknya sambil berjalan keluar ruangan itu diikuti oleh kedua bodyguardnya.

"Sepertinya aku juga harus melaporkannya atas percobaan pembunuhan" ujar Arya sambil menghela nafas.

"Kapten aku......"

"Tidak apa-apa, tidak usah dipikirkan. Aku ada urusan dengan Astral jadi aku pergi dulu, dah" kata Arya sambil menepuk pundak Kevin dan melangkah menjauh meninggalkan Kevin sendirian diruangan tersebut.

-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------

Arya masuk ke Aula Latihan, Asuna berkata bahwa Astral sudah menunggunya di tempat itu. Benar saja dia melihat Astral sedang berdiri menunggu ditengah ruangan tersebut, Astral baru menoleh kearahnya setelah jarak mereka hanya berjarak beberapa meter saja. Lalu dia melihat Arya sambil tersenyum.

"Ada perlu apa anda memanggilku Pengawas?" tanya Arya bingung.

"Sebenarnya tidak ada sesuatu yang khusus, saya hanya ingin memberikan sesuatu pada Anda" jawab Astral sambil merogoh saku jasnya.

Dari saku tersebut Astral mengeluarkan selembar foto yang terihat sudah cukup tua, dia menyodorkannya pada Arya. Arya segera mendekat dan mengambil foto itu dari tangan Astral, difoto tersebut terdapat dua puluh orang. Sepuluh orang dewasa dan sepuluh anak-anak yang menurut Arya berusia sekitar 10-15 tahun.

"Ini......jangan-jangan......" kata Arya sambil menatap Astral.

"Benar, itu adalah foto para Elementalist generasi sebelumnya. Dan ibu anda, Nona Lyan berada ditengah-tengah kerumunan orang tersebut"

Arya memperhatikan foto itu dengan lebih seksama, ia melihat seorang wanita yang sangat cantik berdiri ditengah-tengah orang dewasa lainnya. Dia memiliki mata yang persis seperti Arya, rambutnya terlihat seperti bangsawan dari eropa. Ia mengepang rambutnya dan mengikatkannya melingkar dibelakang kepalanya, wanita itu sedang tersenyum gembira sambil mengacak-acak rambut seorang anak laki-laki yang terlihat sangat tidak ingin difoto. Entah mengapa Arya merasa familiar dengan anak itu.

"Apa ini juga......" ucap Arya sambil menatap Astral lagi.

"Benar sekali, sepuluh anak kecil yang ada difoto itu adalah Kesepuluh Pengawas Ujian saat ini. Dan anak yang sedang diacak-acak rambutnya oleh ibu anda itu adalah saya" jawab Astral sebelum Arya sempat menyelesaikan pertanyaannya.

"Wow, apa laki-laki ini adalah ayah Asuna?" tanya Arya sambil menunjuk pria yang berdiri disebelah ibunya.

"Iya, itu adalah Tuan Alex. Dan bolehkah saya tahu bagaimana cara anda mengetahui beliau adalah ayah dari Nona Asuna?"

"Entahlah, hanya saja saat aku melihat matanya sekilas. Itu terlihat seperti mata Asuna saat sedang marah" jawab Arya sambil tertawa.

"Saya sudah mengetahui alasan anda berada disini, tapi saya minta maaf mungkin hanya inilah yang bisa saya berikan kepada anda"

"Sebenarnya aku sudah lama menyadarinya, ibuku mungkin sudah tidak ada di dunia ini lagi. Tapi aku sangat senang setelah kau memperlihatkan foto ini Pengawas, aku semakin yakin bahwa ibuku adalah orang yang hebat. Terimakasih aku sangat bersyukur bisa berada disini" kata Arya sambil tersenyum dan menyodorkan foto itu kembali pada Astral.

"Bukankah sudah saya katakan bahwa saya ingin memberikan anda sesuatu? Jadi anda tidak perlu mengembalikannya" tolak Astral.

"Tapi bukankah foto ini berharga bagimu?"

"Tentu saja itu berharga, itu adalah salah satu kenangan saya bersama guru saya. Tapi saya tahu bahwa anda lebih berhak memilikinya dari pada saya" kata Astral sambil membungkuk dan melangkah pergi dari Aula Latihan.

Setelah Astral pergi, Arya menghabiskan waktunya untuk mencermati foto itu sambil menebak-nebak siapa saja orang-orang yang ada difoto tersebut. Saking asyiknya ia sampai ketiduran di Aula Latihan, dan terpaksa dibangunkan oleh Asuna dengan ekspresi kesal pada keesokan harinya.

Terpopuler

Comments

Anita

Anita

melamarku

2022-11-29

0

nickname

nickname

y

2021-10-16

2

John Singgih

John Singgih

kesibukan sebagai ketua elementalis yang baru

2021-07-23

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Prolog 0,5
3 Chapter 01 - Elemental City
4 Chapter 02 - Keluarga Angkat
5 Chapter 03 - Pertemuan Pertama
6 Chapter 04 - Panggilan Pusat
7 Chapter 05 - Orang-Orang yang Telah Ditakdirkan
8 Chapter 06 - Kesepuluh Pengawas Ujian
9 Chapter 07 - Pelatihan Dimulai!!!
10 Chapter 08 - Si Putri Malu
11 Chapter 09 - Pengesahan dan Persiapan
12 Chapter 10 - Survive
13 Chapter 11 - Akhir Babak Pertama
14 Chapter 12 - Es vs Cahaya
15 Chapter 13 - Bentrok
16 Chapter 14 - Perbedaan Nasib
17 Chapter 15 - Sebelum Final
18 Chapter 16 - Si Genius vs Si Berbakat
19 Chapter 17 - Pelantikan
20 Chapter 18 - Kenyataan yang Harus Diterima
21 Chapter 19 - Misi Rahasia
22 Chapter 20 - Pertunangan
23 Chapter 21 - Ksatria Pentagram
24 Chapter 22 - Tarian Semanggi Berdaun Tiga
25 Chapter 23 - Kisah Tiga Saudari
26 Chapter 24 - Sang Penjaga Pohon Suci
27 Chapter 25 - Identitas
28 Chapter 26 - Stupid Date
29 Chapter 27 - Tamu Tak Diundang
30 Chapter 28 - Pride Sins
31 Chapter 29 - Pertempuran Fairy Forest
32 Chapter 30 - Reward
33 Chapter 31 - Melanjutkan Perjalanan
34 Chapter 32 - Hewan, Ramuan, dan Bahan
35 Chapter 33 - Polarian
36 Chapter 34 - Dungeon
37 Chapter 35 - Voreia Poles
38 Chapter 36 - Terpisah
39 Chapter 37 - Balas Budi
40 Chapter 38 - Tragedi
41 Chapter 39 - Permintaan
42 Chapter 40 - Mandalika
43 Chapter 41 - Murid Kejutan
44 Chapter 42 - Panggilan Konyol
45 Chapter 43 - Waktunya Perburuan
46 Chapter 44 - U.P
47 Chapter 45 - Axel & Ayra
48 Chapter 46 - Duo Battle Festival
49 Chapter 47 - Bintang Baru
50 Chapter 48 - Benang Merah Muda
51 Chapter 49 - Mole Pathway
52 Chapter 50 - Gadis Menyebalkan
53 Chapter 51 - Winter Hollow
54 Chapter 52 - Kucing dan Rubah
55 Chapter 53 - Soul Reader
56 Chapter 54 - Trio
57 Chapter 55 - Kelabang Ungu Raksasa
58 Chapter 56 - Orange Witch
59 Chapter 57 - Kontrak
60 Chapter 58 - Frostbite
61 Chapter 59 - Pendapat
62 Chapter 60 - Masalah Baru
63 Chapter 61 – Ahli
64 Chapter 62 – Atribut Terakhir
65 Chapter 63 - Sinkronisasi
66 Chapter 64 - Tetua Klan Naga
67 Chapter 65 - Vilhelm
68 Chapter 66 - Peninggalan
69 Chapter 67 - Kelemahan Selena
70 Chapter 68 - Astrid Fire Baths
71 Chapter 69 - Teknik Baru
72 Chapter 70 - Penguji Veteran
73 Chapter 71 - Ayunan Pedang Tunggal
74 Chapter 72 - Wujud Naga
75 Chapter 73 - Sudah Kubilang
76 Chapter 74 - Nasihat
77 Chapter 75 - Mysterious Voices
78 Chapter 76 - Drakenkoningin
79 Chapter 77 - Safira
80 Chapter 78 - Julukan
81 Chapter 79 - Alalea Tiba
82 Chapter 80 - Menepati Janji
83 Chapter 81 - Get Around
84 Chapter 82 - Di Bawah Pohon Kasturi
85 Chapter 83 - Melodi Sendu
86 Chapter 84 - S.O.S
87 Chapter 85 - Kapal Hantu
88 Chapter 86 - Penghuni Lautan Hitam
89 Chapter 87 - Imp Family
90 Chapter 88 - Jihyeui Cheongso
91 Chapter 89 - I Hate Them
92 Chapter 90 - Sektor Birahi
93 Chapter 91 - Kebetulan
94 Chapter 92 - Fakta Menarik
95 Chapter 93 - Minum
96 Chapter 94 - Gejolak
97 Chapter 95 - Red Witch
98 Chapter 96 - Saling Percaya
99 Chapter 97 - Rival
100 Chapter 98 - Kebangkitan Mode Servant
101 Chapter 99 - Tepes War
102 Chapter 100 - Au Revoir
103 Year-End Goal (Bakal Dihapus)
104 Chapter 101 - Oldest Demon
105 Chapter 102 - Biru dan Merah
106 Chapter 103 - Kontrol Diri
107 Chapter 104 - Sepuluh Lusin
108 Chapter 105 - Asal Bicara
109 Chapter 106 - Lunge
110 Chapter 107 - Kesalahpahaman
111 Chapter 108 - Mythical Werebeast
112 Chapter 109 - Dark Side Situation
113 Chapter 110 - Nyanko Kyōdai
114 Chapter 111 - Hobi Aneh
115 Chapter 112 - Bermain
116 Chapter 113 - Fallen
117 Episode 114 - Dasar Jurang
118 Chapter 115 - Kizuna
119 Chapter 116 - Desa Tersembunyi
120 Chapter 117 - Melacak
121 Chapter 118 - Gundah
122 Chapter 119 - Plan
123 Chapter 120 - Tagih
124 Chapter 121 - Senbonzakura
125 Chapter 122 - Zirah Hewan Buas
126 Chapter 123 - Red Smoke
127 Chapter 124 - Jack Frost
128 Chapter 125 - Come Back to Me
129 Chapter 126 - Kecewa
130 Chapter 127 - Pulih
131 Chapter 128 - Tiga Selir
132 Chapter 129 - Gagal Mengakui
133 Chapter 130 - Liburan
134 Chapter 131 - Missing
135 Chapter 132 - Sepuluh Tahun Lalu
136 Chapter 133 - Amira
137 Chapter 134 - Amira II
138 Chapter 135 - Amira III
139 Chapter 136 - Badai Mendekat
140 Chapter 137 - Rage
141 Chapter 138 - Hancur
142 Chapter 139 - You Know I Can't
143 Episode 140 - Ketahuan
144 Chapter 141 - Psychiatric Hospital
145 Chapter 142 - Lagu mu Untuk ku
146 Chapter 143 - My Song for You
147 Chapter 144 - Tanpa Tipe
148 Chapter 145 - Serba Salah
149 Chapter 146 - Berangkat ke Magihavoc
150 Chapter 147 - Dozemary Lake
151 Chapter 148 - Ujian Masuk
152 Chapter 149 - Offer
153 Chapter 150 - Choice
154 Chapter 151 - Licik
155 Chapter 152 - White vs Merlin
156 Chapter 153 - Rahasia Gigi
157 Chapter 154 - Kejutan
158 Chapter 155 - Hubungan
159 Chapter 156 - Five Great Academy
160 Chapter 157 - Taruhan
161 Chapter 158 - Ban
162 Chapter 159 - Roommate
163 Chapter 160 - Pesan Sang Kakak
164 Chapter 161 - Gathering
165 Chapter 162 - The Figment Squadron
166 Chapter 163 - Bakat Mengajar
167 Chapter 164 - Yellow Witch
168 Chapter 165 - Divina Academy Selection
169 Chapter 166 - Wakil
170 Chapter 167 - Pesta Dansa
171 Chapter 168 - Sindrom Bintang Jatuh
172 Chapter 169 - Lima Menit Pembukaan
173 Chapter 170 - Madam of Corpses and Box Prince
174 Chapter 171 - Eleanor
175 Chapter 172 - Life Drain
176 Chapter 173 - Clam Up
177 Chapter 174 - Sihir Kuno
178 Chapter 175 - Kelima Abdi
179 Chapter 176 - Green Witch
180 Chapter 177 - Intens
181 Chapter 178 - Escape
182 Episode 179 - Persea dan Asal Usul Penyihir Hijau
183 Chapter 180 - Dampak
184 Chapter 181 - Hibernasi
185 Chapter 182 - Moment
186 Chapter 183 - Lelaki Tulen
187 Chapter 184 - Regu Ekspedisi Atlantos
188 Chapter 185 - Arun Jeram
189 Chapter 186 - Save The Courier
190 Chapter 187 - Bernafas Dalam Air?
191 Chapter 188 - Diterima
192 Chapter 189 - Sea Faction
193 Chapter 190 - Kondisi Khusus
194 Chapter 191 - Reality
195 Chapter 192 - Wanio vs Arya
196 Chapter 193 - Perubahan Sikap
197 Chapter 194 - Traitor
198 Chapter 195 - Fungsi Tamatebako
199 Chapter 196 - Kemunculan Pusaka Lainnya
200 Chapter 197 - Blue Witch
201 Chapter 198 - Help Arrived
202 Chapter 199 - Berbagi Kesedihan
203 Chapter 200 - Master
204 Chapter 201 - Seperating Enemies
205 Chapter 202 - Kemenangan
206 Chapter 203 - Impian Diondra
207 Chapter 204 - Pink
208 Chapter 205 - Fifth Daughter
209 Chapter 206 - Reiko
210 Chapter 207 - Big Scheme
211 Chapter 208 - Uluran Tangan
212 Chapter 209 - False Vanguard
213 Chapter 210 - Hanguk
214 Chapter 211 - Golden Bullet
215 Chapter 212 - Teddy Bear
216 Chapter 213 - Proyek Rahasia
217 Chapter 214 - Suaraku
218 Chapter 215 - Tekad Ali
219 Chapter 216 - Metal Elementalist Goal
220 Chapter 217 - Julius Caesar
221 Chapter 218 - Veni Vedi Vici
222 Chapter 219 - Kejar
223 Chapter 220 - Almost
224 Chapter 221 - Dalang Kejadian Whitechapel dan Pemburu Wanita Dalam Legenda
225 Chapter 222 - Wakiya Ronin Mode
226 Chapter 223 - Cara Keluar
227 Chapter 224 - Gatekeeper
228 Chapter 225 - Ringkasan
229 Chapter 226 - Switch
230 Chapter 227 - Musuh Tidak Terduga
231 Chapter 228 - Who Are You?
232 Chapter 229 - Crystal And Wind
233 Chapter 230 - Lord
234 Chapter 231 - Kabar Buruk
235 Chapter 232 - Coup D'etat
236 Chapter 233 - Pengecut Bernama Manusia
237 Chapter 234 - Terungkap
238 Chapter 235 - Departure
239 Chapter 236 - Reuni Nista
240 Chapter 237 - Merelakan Segalanya
241 Chapter 238 - Break Through
242 Chapter 239 - Siap Mati
243 Chapter 240 - Tenka Goken
244 Chapter 241 - Pengawal Pribadi
245 Chapter 242 - Nasution Request
246 Chapter 243 - Janji Pasta
247 Chapter 244 - Her True Feeling
248 Chapter 245 - Elemental City Has Fallen
249 Chapter 246 - Doa
250 Chapter 247 - Topan Setelah Badai
251 Chapter 248 - Louis Frost
252 Chapter 249 - Dissent
253 Chapter 250 - Munafik
254 Chapter 251 - Sumpah Hidup-Mati
255 Chapter 252 - Ichiban no Takaramono
256 Chapter 253 - Permulaan
257 Chapter 254 - Show Off
258 Chapter 255 - Pewaris
259 Chapter 256 - Intuisi Orion
260 Chapter 257 - Fatum Bergerak
261 Chapter 258 - Sasageyo
262 Chapter 259 - Invigilator
263 Chapter 260 - Invigilator II
264 Chapter 261 - Invigilator III
265 Chapter 262 - Ancaman
266 Chapter 263 - DLBK
267 Chapter 264 - Target
268 Chapter 265 - Satu Tujuan
269 Chapter 266 - Overwhelmed
270 Chapter 267 - Kesetiaan
271 Chapter 268 - Corrosion
272 Chapter 269 - Patah
273 Chapter 270 - Reason
274 Chapter 271 - Ketemu
275 Chapter 272 - Nothing
276 Chapter 273 - Ungkap
277 Chapter 274 - Ace
278 Chapter 275 - Titipan
279 Chapter 276 - Perfect Artificial Elementalist
280 Chapter 277 - Clairvoyance
281 Chapter 278 - Saran
282 Chapter 279 - Everything
283 Chapter 280 - Lost
284 Chapter 281 - Genting
285 Chapter 282 - Karma
286 Chapter 283 - Rencana Terakhir
287 Chapter 284 - An Eye for An Eye
288 Chapter 285 - Pindah Tangan
289 Chapter 286 - Marah
290 Chapter 287 - Santo Espada
291 Chapter 288 - Unbeatable
292 Chapter 289 - Titah
293 Chapter 290 - Winner
294 Chapter 291 - Gerbang Dimensi
295 Chapter 292 - Farewell
296 Chapter 293 - Pasca
297 Chapter 294 - Sayonara
298 Chapter 295 - Deal
299 Chapter 296 - Mahaguru
300 Chapter 297 - Stranger Things
301 Chapter 298 - Nil
302 Chapter 299 - Harapan dan Impian
303 Chapter 300 - Aitakatta (End)
Episodes

Updated 303 Episodes

1
Prolog
2
Prolog 0,5
3
Chapter 01 - Elemental City
4
Chapter 02 - Keluarga Angkat
5
Chapter 03 - Pertemuan Pertama
6
Chapter 04 - Panggilan Pusat
7
Chapter 05 - Orang-Orang yang Telah Ditakdirkan
8
Chapter 06 - Kesepuluh Pengawas Ujian
9
Chapter 07 - Pelatihan Dimulai!!!
10
Chapter 08 - Si Putri Malu
11
Chapter 09 - Pengesahan dan Persiapan
12
Chapter 10 - Survive
13
Chapter 11 - Akhir Babak Pertama
14
Chapter 12 - Es vs Cahaya
15
Chapter 13 - Bentrok
16
Chapter 14 - Perbedaan Nasib
17
Chapter 15 - Sebelum Final
18
Chapter 16 - Si Genius vs Si Berbakat
19
Chapter 17 - Pelantikan
20
Chapter 18 - Kenyataan yang Harus Diterima
21
Chapter 19 - Misi Rahasia
22
Chapter 20 - Pertunangan
23
Chapter 21 - Ksatria Pentagram
24
Chapter 22 - Tarian Semanggi Berdaun Tiga
25
Chapter 23 - Kisah Tiga Saudari
26
Chapter 24 - Sang Penjaga Pohon Suci
27
Chapter 25 - Identitas
28
Chapter 26 - Stupid Date
29
Chapter 27 - Tamu Tak Diundang
30
Chapter 28 - Pride Sins
31
Chapter 29 - Pertempuran Fairy Forest
32
Chapter 30 - Reward
33
Chapter 31 - Melanjutkan Perjalanan
34
Chapter 32 - Hewan, Ramuan, dan Bahan
35
Chapter 33 - Polarian
36
Chapter 34 - Dungeon
37
Chapter 35 - Voreia Poles
38
Chapter 36 - Terpisah
39
Chapter 37 - Balas Budi
40
Chapter 38 - Tragedi
41
Chapter 39 - Permintaan
42
Chapter 40 - Mandalika
43
Chapter 41 - Murid Kejutan
44
Chapter 42 - Panggilan Konyol
45
Chapter 43 - Waktunya Perburuan
46
Chapter 44 - U.P
47
Chapter 45 - Axel & Ayra
48
Chapter 46 - Duo Battle Festival
49
Chapter 47 - Bintang Baru
50
Chapter 48 - Benang Merah Muda
51
Chapter 49 - Mole Pathway
52
Chapter 50 - Gadis Menyebalkan
53
Chapter 51 - Winter Hollow
54
Chapter 52 - Kucing dan Rubah
55
Chapter 53 - Soul Reader
56
Chapter 54 - Trio
57
Chapter 55 - Kelabang Ungu Raksasa
58
Chapter 56 - Orange Witch
59
Chapter 57 - Kontrak
60
Chapter 58 - Frostbite
61
Chapter 59 - Pendapat
62
Chapter 60 - Masalah Baru
63
Chapter 61 – Ahli
64
Chapter 62 – Atribut Terakhir
65
Chapter 63 - Sinkronisasi
66
Chapter 64 - Tetua Klan Naga
67
Chapter 65 - Vilhelm
68
Chapter 66 - Peninggalan
69
Chapter 67 - Kelemahan Selena
70
Chapter 68 - Astrid Fire Baths
71
Chapter 69 - Teknik Baru
72
Chapter 70 - Penguji Veteran
73
Chapter 71 - Ayunan Pedang Tunggal
74
Chapter 72 - Wujud Naga
75
Chapter 73 - Sudah Kubilang
76
Chapter 74 - Nasihat
77
Chapter 75 - Mysterious Voices
78
Chapter 76 - Drakenkoningin
79
Chapter 77 - Safira
80
Chapter 78 - Julukan
81
Chapter 79 - Alalea Tiba
82
Chapter 80 - Menepati Janji
83
Chapter 81 - Get Around
84
Chapter 82 - Di Bawah Pohon Kasturi
85
Chapter 83 - Melodi Sendu
86
Chapter 84 - S.O.S
87
Chapter 85 - Kapal Hantu
88
Chapter 86 - Penghuni Lautan Hitam
89
Chapter 87 - Imp Family
90
Chapter 88 - Jihyeui Cheongso
91
Chapter 89 - I Hate Them
92
Chapter 90 - Sektor Birahi
93
Chapter 91 - Kebetulan
94
Chapter 92 - Fakta Menarik
95
Chapter 93 - Minum
96
Chapter 94 - Gejolak
97
Chapter 95 - Red Witch
98
Chapter 96 - Saling Percaya
99
Chapter 97 - Rival
100
Chapter 98 - Kebangkitan Mode Servant
101
Chapter 99 - Tepes War
102
Chapter 100 - Au Revoir
103
Year-End Goal (Bakal Dihapus)
104
Chapter 101 - Oldest Demon
105
Chapter 102 - Biru dan Merah
106
Chapter 103 - Kontrol Diri
107
Chapter 104 - Sepuluh Lusin
108
Chapter 105 - Asal Bicara
109
Chapter 106 - Lunge
110
Chapter 107 - Kesalahpahaman
111
Chapter 108 - Mythical Werebeast
112
Chapter 109 - Dark Side Situation
113
Chapter 110 - Nyanko Kyōdai
114
Chapter 111 - Hobi Aneh
115
Chapter 112 - Bermain
116
Chapter 113 - Fallen
117
Episode 114 - Dasar Jurang
118
Chapter 115 - Kizuna
119
Chapter 116 - Desa Tersembunyi
120
Chapter 117 - Melacak
121
Chapter 118 - Gundah
122
Chapter 119 - Plan
123
Chapter 120 - Tagih
124
Chapter 121 - Senbonzakura
125
Chapter 122 - Zirah Hewan Buas
126
Chapter 123 - Red Smoke
127
Chapter 124 - Jack Frost
128
Chapter 125 - Come Back to Me
129
Chapter 126 - Kecewa
130
Chapter 127 - Pulih
131
Chapter 128 - Tiga Selir
132
Chapter 129 - Gagal Mengakui
133
Chapter 130 - Liburan
134
Chapter 131 - Missing
135
Chapter 132 - Sepuluh Tahun Lalu
136
Chapter 133 - Amira
137
Chapter 134 - Amira II
138
Chapter 135 - Amira III
139
Chapter 136 - Badai Mendekat
140
Chapter 137 - Rage
141
Chapter 138 - Hancur
142
Chapter 139 - You Know I Can't
143
Episode 140 - Ketahuan
144
Chapter 141 - Psychiatric Hospital
145
Chapter 142 - Lagu mu Untuk ku
146
Chapter 143 - My Song for You
147
Chapter 144 - Tanpa Tipe
148
Chapter 145 - Serba Salah
149
Chapter 146 - Berangkat ke Magihavoc
150
Chapter 147 - Dozemary Lake
151
Chapter 148 - Ujian Masuk
152
Chapter 149 - Offer
153
Chapter 150 - Choice
154
Chapter 151 - Licik
155
Chapter 152 - White vs Merlin
156
Chapter 153 - Rahasia Gigi
157
Chapter 154 - Kejutan
158
Chapter 155 - Hubungan
159
Chapter 156 - Five Great Academy
160
Chapter 157 - Taruhan
161
Chapter 158 - Ban
162
Chapter 159 - Roommate
163
Chapter 160 - Pesan Sang Kakak
164
Chapter 161 - Gathering
165
Chapter 162 - The Figment Squadron
166
Chapter 163 - Bakat Mengajar
167
Chapter 164 - Yellow Witch
168
Chapter 165 - Divina Academy Selection
169
Chapter 166 - Wakil
170
Chapter 167 - Pesta Dansa
171
Chapter 168 - Sindrom Bintang Jatuh
172
Chapter 169 - Lima Menit Pembukaan
173
Chapter 170 - Madam of Corpses and Box Prince
174
Chapter 171 - Eleanor
175
Chapter 172 - Life Drain
176
Chapter 173 - Clam Up
177
Chapter 174 - Sihir Kuno
178
Chapter 175 - Kelima Abdi
179
Chapter 176 - Green Witch
180
Chapter 177 - Intens
181
Chapter 178 - Escape
182
Episode 179 - Persea dan Asal Usul Penyihir Hijau
183
Chapter 180 - Dampak
184
Chapter 181 - Hibernasi
185
Chapter 182 - Moment
186
Chapter 183 - Lelaki Tulen
187
Chapter 184 - Regu Ekspedisi Atlantos
188
Chapter 185 - Arun Jeram
189
Chapter 186 - Save The Courier
190
Chapter 187 - Bernafas Dalam Air?
191
Chapter 188 - Diterima
192
Chapter 189 - Sea Faction
193
Chapter 190 - Kondisi Khusus
194
Chapter 191 - Reality
195
Chapter 192 - Wanio vs Arya
196
Chapter 193 - Perubahan Sikap
197
Chapter 194 - Traitor
198
Chapter 195 - Fungsi Tamatebako
199
Chapter 196 - Kemunculan Pusaka Lainnya
200
Chapter 197 - Blue Witch
201
Chapter 198 - Help Arrived
202
Chapter 199 - Berbagi Kesedihan
203
Chapter 200 - Master
204
Chapter 201 - Seperating Enemies
205
Chapter 202 - Kemenangan
206
Chapter 203 - Impian Diondra
207
Chapter 204 - Pink
208
Chapter 205 - Fifth Daughter
209
Chapter 206 - Reiko
210
Chapter 207 - Big Scheme
211
Chapter 208 - Uluran Tangan
212
Chapter 209 - False Vanguard
213
Chapter 210 - Hanguk
214
Chapter 211 - Golden Bullet
215
Chapter 212 - Teddy Bear
216
Chapter 213 - Proyek Rahasia
217
Chapter 214 - Suaraku
218
Chapter 215 - Tekad Ali
219
Chapter 216 - Metal Elementalist Goal
220
Chapter 217 - Julius Caesar
221
Chapter 218 - Veni Vedi Vici
222
Chapter 219 - Kejar
223
Chapter 220 - Almost
224
Chapter 221 - Dalang Kejadian Whitechapel dan Pemburu Wanita Dalam Legenda
225
Chapter 222 - Wakiya Ronin Mode
226
Chapter 223 - Cara Keluar
227
Chapter 224 - Gatekeeper
228
Chapter 225 - Ringkasan
229
Chapter 226 - Switch
230
Chapter 227 - Musuh Tidak Terduga
231
Chapter 228 - Who Are You?
232
Chapter 229 - Crystal And Wind
233
Chapter 230 - Lord
234
Chapter 231 - Kabar Buruk
235
Chapter 232 - Coup D'etat
236
Chapter 233 - Pengecut Bernama Manusia
237
Chapter 234 - Terungkap
238
Chapter 235 - Departure
239
Chapter 236 - Reuni Nista
240
Chapter 237 - Merelakan Segalanya
241
Chapter 238 - Break Through
242
Chapter 239 - Siap Mati
243
Chapter 240 - Tenka Goken
244
Chapter 241 - Pengawal Pribadi
245
Chapter 242 - Nasution Request
246
Chapter 243 - Janji Pasta
247
Chapter 244 - Her True Feeling
248
Chapter 245 - Elemental City Has Fallen
249
Chapter 246 - Doa
250
Chapter 247 - Topan Setelah Badai
251
Chapter 248 - Louis Frost
252
Chapter 249 - Dissent
253
Chapter 250 - Munafik
254
Chapter 251 - Sumpah Hidup-Mati
255
Chapter 252 - Ichiban no Takaramono
256
Chapter 253 - Permulaan
257
Chapter 254 - Show Off
258
Chapter 255 - Pewaris
259
Chapter 256 - Intuisi Orion
260
Chapter 257 - Fatum Bergerak
261
Chapter 258 - Sasageyo
262
Chapter 259 - Invigilator
263
Chapter 260 - Invigilator II
264
Chapter 261 - Invigilator III
265
Chapter 262 - Ancaman
266
Chapter 263 - DLBK
267
Chapter 264 - Target
268
Chapter 265 - Satu Tujuan
269
Chapter 266 - Overwhelmed
270
Chapter 267 - Kesetiaan
271
Chapter 268 - Corrosion
272
Chapter 269 - Patah
273
Chapter 270 - Reason
274
Chapter 271 - Ketemu
275
Chapter 272 - Nothing
276
Chapter 273 - Ungkap
277
Chapter 274 - Ace
278
Chapter 275 - Titipan
279
Chapter 276 - Perfect Artificial Elementalist
280
Chapter 277 - Clairvoyance
281
Chapter 278 - Saran
282
Chapter 279 - Everything
283
Chapter 280 - Lost
284
Chapter 281 - Genting
285
Chapter 282 - Karma
286
Chapter 283 - Rencana Terakhir
287
Chapter 284 - An Eye for An Eye
288
Chapter 285 - Pindah Tangan
289
Chapter 286 - Marah
290
Chapter 287 - Santo Espada
291
Chapter 288 - Unbeatable
292
Chapter 289 - Titah
293
Chapter 290 - Winner
294
Chapter 291 - Gerbang Dimensi
295
Chapter 292 - Farewell
296
Chapter 293 - Pasca
297
Chapter 294 - Sayonara
298
Chapter 295 - Deal
299
Chapter 296 - Mahaguru
300
Chapter 297 - Stranger Things
301
Chapter 298 - Nil
302
Chapter 299 - Harapan dan Impian
303
Chapter 300 - Aitakatta (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!