Arya berjalan dengan langkah ringan di lorong-lorong Pusat Penelitian seakan-akan ia sudah terbiasa dengan tempat itu, padahal kenyataannya dia masih sering tersesat. Tempat itu masih penuh dengan misteri baginya, ia terus berjalan dan berhenti disalah satu pintu yang ia yakini sebagai tempat yang ia tuju. Lalu ia mulai mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali.
"Masuklah"
Setelah mendengar jawaban dari balik pintu ia segera membukanya dan akhirnya melihat seorang pria paruh baya yang tersenyum ramah padanya. Ia membalas senyuman tersebut dan menundukan badannya sambil berkata.
"Sudah lama tidak bertemu, Ayah"
"Tidak perlu sampai menunduk seperti itu, angkat kepalamu Arya"
Arya segera mengikuti perintah ayah angkakatnya itu, Pak Hartoso tidak terlalu banyak berubah sejak terakhir kali ia bertemu dengan Arya. Hanya saja sepertinya uban dikepalanya lebih banyak dari yang terakhir kali Arya ingat, pria itu terlihat sedikit lelah sepertinya ia sedang banyak pikiran. Arya bisa menyadari hal itu dengan mudah tapi ia sengaja tidak mengatakan apapun karena Pak Hartoso terlihat berusaha untuk menyembunyikannya.
"Bolehkah aku tahu kenapa Ayah tiba-tiba berkunjung ke tempat ini?" tanya Arya akhirnya.
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat atas keberhasilanmu, aku menonton pertandingan terakhir dan itu sangat menakjubkan" jawab Pak Hartoso dengan antusias.
"Terimakasih, sebenarnya aku menang hanya karena beruntung" balas Arya sambil menggaruk-garuk kepalanya sambil tersenyum.
"Kau terlalu merendahkan diri Arya, dan juga aku kemari bukan hanya karena ingin mengucapkan selamat. Aku juga ingin bertemu dengan mu, bukan hanya aku sih" kata Pak Hartoso sambil menunjuk ke belakang punggung Arya.
Tepat setelah Pak Hartoso menunjuk kebelakang, pintu yang ada dibelakang Arya tertutup. Arya segera menoleh dan melihat adik angkatnya Reika sedang melihatnya dengan ekspresi aneh. Campuran antara sedih dan marah menjadi satu, matanya berair dan mukanya terlihat merah padam. Ia segera berjalan dengan langkah tangkas kearah Arya lalu mulai memukul-mukul Arya dengan pelan.
"Ah.....halo Reika" sapa Arya dengan suara pelan.
"Kakak jahat.......jahat........jahat......!" isak Reika pelan.
"Jahat? Kenapa aku menjadi orang jahat?" tanya Arya.
Saat Arya menanyakan hal itu seketika Reika meledak.
"Kakak masih bertanya?! Kenapa kakak tidak pernah mengunjungiku? Kenapa kakak tidak pernah memberikan kabar selama tiga bulan terakhir ini? Kakak tahu bagaimana khawatirnya aku? Aku sampai pergi ke rumah kakak tapi ternyata tempat itu sudah disewakan pada orang lain, lalu aku pergi ke sekolah kakak dan ternyata mereka mengatakan kalau kakak sudah berhenti sekolah disana. Kemudian aku sampai mogok makan untuk memaksa Ayah memberitahuku dimana tempat kakak sekarang"
Setelah mengatakan semua itu Reika berhenti, sepertinya ia sedikit kehabisan nafas setelah mengeluarkan semua yang ia simpan selama tiga bulan terakhir ini. Lalu ia melangkah mendekat dan memeluk Arya dengan erat, Arya lalu menepuk-nepuk kepala adik angkatnya itu untuk menenangkannya.
"Maafkan aku karena membuatmu khawatir" kata Arya sambil mengelus kepala Reika.
"Kakak bodoh" balas Reika pelan.
Arya terus mengelus kepala adik angkatnya itu sampai dia tenang, setelah cukup lama Reika lalu menengadahkan kepalanya dan melihat wajah Arya dengan tatapan serius.
"Apa yang sebenarnya kakak lakukan disini?" tanya Reika sambil memiringkan kepalanya.
Arya segera menatap pada Pak Hartoso, Pak Hartoso segera mengedipkan matanya dua kali. Ia langsung mengerti. Seperti yang Arya duga, Reika tidak mengetahui apa yang Arya lakukan disini dan tidak mengetahui bahwa Arya adalah seorang Elementalist. Adiknya itu hanya mengetahui kalau dia sekarang sedang melakukan sesuatu ditempat ini.
"Aku hanya melakukan tugas yang diberikan oleh Ayah" jawabnya dengan wajah semeyakinkan mungkin.
"Tugas seperti apa?" tanya Reika lagi.
"Ra-ha-sia" eja Arya lalu menyentuh hidung adik perempuannya itu.
"Eh? Curang! Kakak tidak boleh merahasiakan sesuatu dariku, kakak tahu setelah Ayah memberitahu bahwa kakak berada disini aku mulai mencari tahu tentang tempat ini. Banyak teman-temanku yang mengatakan bahwa tempat ini adalah tempat penyucian otak dan sebagainya"
"Tenang saja aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh kok" ucap Arya meyakinkan Reika.
Lalu Reika mulai menggelitik Arya, untuk memaksanya mengatakan apa yang sebenarnya ia lakukan. Mereka pun mulai saling menggelitik satu sama lain sambil tertawa. Reika sepertinya sudah mulai tenang, Pak Hartoso hanya tersenyum melihat tingkah laku kedua anaknya itu. Lalu tiba-tiba pintu ruangan itu pun terbuka.
"Arya, Pengawas Astral sedang mencari-----"
Asuna tidak jadi menyelesaikan kalimatnya saat melihat Arya dan Reika saling berpelukan sambil tertawa, seketika Arya juga berhenti tertawa. Dia merasakan hawa dingin dipunggungnya setelah melihat tatapan sinis Asuna.
"Hai Asuna, ini tidak seperti yang kau li---" kata Arya dengan cepat sambil menjauhkan Reika dari tubuhnnya.
"Jelaskan" ucap Asuna pelan.
Tapi sebelum Arya sempat menjelaskan, Reika lebih dulu mendekati Asuna dan menatapnya dari dekat.
"Kau siapa? Kenapa bisa kenal kakakku?" tanya Reika.
"Kakak?! Sebenarnya berapa orang sih yang memanggilmu ka----"
"DIA ADIK PEREMPUANKU!" itulah yang sedang coba Arya katakan tanpa suara kepada Asuna, lalu Arya menunjuk dari Reika kemudian ke arah Pak Hartoso yang berada ditengah ruangan.
"Oh......." kata Asuna pada akhirnya, ia terlihat mengerti.
"Oh?" ulang Reika.
"Ah....halo perkenalkan namaku Asuna, aku adalah rekan kerja kakakmu" jawab Asuna sambil tersenyum.
Arya menghela nafas lega. Dia tadi sempat berpikir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Halo Kak Asuna, rekan kerja kakak ya?" ujar Reika dengan wajah terlihat tidak yakin.
"Halo Asuna, kau sudah besar ya?" sapa Pak Hartoso tiba-tiba.
"Halo Tuan Presiden" balas Asuna sambil tersenyum dan membungkuk.
"Eh? Apa kalian saling mengenal?" tanya Arya kaget sambil memandang Pak Hartoso dan Asuna secara bergantian.
"Tentu saja, aku sering bertemu dengan Asuna saat berkunjung ke Perdana Menteri Hiroshi. Kau tumbuh menjadi wanita yang cantik Asuna"
"Terimakasih atas pujiannya Tuan Presiden"
"Oh iya dan terimakasih telah membantu Arya selama berada disini"
"Ah tidak juga, Arya juga sering membantu saya"
"Bukanya yang benar selalu membantu ya?" celetuk Arya pelan.
Segera Asuna meyodok tulang rusuk Arya dengan sikunya. Sepertinya setelah mendengar perkataan dari Ayahnya, Reika mulai percaya bahwa Arya dan Asuna sedang mengerjakan sesuatu ditempat itu sehingga ia tidak bertanya lagi. Arya baru tahu kalau Asuna dan Pak Hartoso saling mengenal, itu membuatnya sedikit terkejut. Tapi itu bukanlah hal yang terlalu penting.
"Kak Asuna?" panggil Reika tiba-tiba.
"Eh? Iya?" jawab Asuna ramah.
"Kakak itu, punyaku" kata Reika dengan ekspresi seperti menyatakan perang.
"Eh ap-----"
"Maafkan aku Ayah dan juga Reika, sepertinya aku harus segera pergi karena aku baru saja dipanggil. Sebenarnya aku cukup sibuk, aku akan segera menghubungi kalian. Dah" potong Arya cepat sambil mendorong Asuna keluar dari ruangan itu.
Arya menutup pintu itu dan mulai berjalan bersama Asuna, Asuna terlihat sedikit kesal.
"Hei bukankah hari ini ayah mu juga berkunjung?" tanya Arya.
"Iya, aku sedang menuju ke tempatnya. Memangnya kenapa?" tanya Asuna cuek.
"Aku akan ikut bersamamu"
Tiba-tiba langkah Asuna berhenti. Arya juga terpaksa berhenti, Arya sudah berada lebih depan berapa langkah dari dia.
"Kenapa kau ingin bertemu dengan ayahku? Jangan-jangan kau mau me-----"
"Me....?" tanya Arya bingung.
"Lupakan" kata Asuna sambil berjalan mendahului Arya.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Setelah Arya dan Asuna tiba di tempat Perdana Menteri Masamune berada, mereka pun duduk bersebelahan dihadapan ayah angkat Asuna tersebut. Pak Hasamune menatap Arya dengan tatapan ramah, dia sedikit terlihat terkejut saat melihat anak perempuannya datang bersama Arya. Asuna yang duduk disebelah Arya hanya diam dan duduk dengan sopan seakan-akan dia sedang menunggu sesuatu yang penting, Arya sedikit bingung kenapa dia bersikap seperti itu.
"Jadi ada keperluan apa Ketua Elementalist ingin bertemu denganku?" tanya Pak Masamune sambil tersenyum.
"Saya tidak ingin berlama-lama jadi saya akan langsung ke intinya saja, saya ingin meminta sesuatu pada anda Tuan Masamune" jawab Arya dengan serius.
"Tentu, jika aku sanggup maka akan penuhi permintaanmu"
"Ini adalah sesuatu yang penting"
"Sepenting apakah itu?"
"Jadi saya ingin-----"
Asuna dengan cepat menyodok tulang rusuk Arya dengan sikunya sehingga Arya tidak berhasil menyelesaikan kata-katanya, lalu ia mendekatkan bibir ke telinga Arya seraya berbisik.
"Hei! Sebenarnya apa yang ingin kau minta pada ayahku?" desisnya pelan.
"Diam dan dengarkanlah! Kenapa kau menyodok tulang rusukku? Sakit tahu"
"Berisik! Cepat katakan padaku apa yang sebenarnya ingin kau minta pada ayahku, jangan-jangan kau benar-benar ingin mela-----"
"Mela...?" potong Arya dengan ekspresi bingung.
"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Pak Masamune sehingga membuat Arya dan Asuna menghentikan kasak-kusuk mereka.
"Tentu saja semuanya baik-baik saja Ayah" jawab Asuna dengan senyuman terbaik yang bisa ia buat.
"Syukurlah kalau begitu, mari kita dengarkan permintaanmu Arya"
"Begini Tuan Masamune, saya ingin meminta anda untuk mengizinkan Asuna menggunakan rapier dan berlatih Anggar kembali" jawab Arya dengan tegas.
Asuna dan Tuan Masamune terlihat terkejut mendengar permintaan dari Arya, Asuna lalu memandang wajah ayahnya dengan tatapan penasaran. Ia penasaran seperti apa respon ayahnya terhadap permintaan Arya. Tuan Masamune mengangkat sebelah alisnya lalu menatap Arya dengan serius.
"Boleh aku tahu kenapa kau meminta hal tersebut?"
"Anda tentu tahu Asuna pernah tidak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama akibat pertandingan itu bukan? Menurut saya itu karena Asuna memaksakan diri untuk menggunakan panah seperti yang anda minta padanya" jelas Arya.
"Aku tidak ingin Asuna terluka"
"Hal yang menurut anda tidak membuatnya terluka itulah yang sebenarnya membuatnya terluka"
Asuna hanya diam mendengar perdebatan antara Arya dengan Ayahnya, dia tidak tahu harus mengatakan apa.
"Sebenarnya aku mempunyai suatu alasan yang tidak pernah aku beritahukan pada siapapun tentang mengapa aku tidak mengizinkan Asuna bermain Anggar lagi" ucap Tuan Masamune sambil menggulung lengan jasnya.
Arya pun melihat sebuah bekas luka mengerikan pada pergelangan tangan kananya, luka itu sudah sembuh tapi, bekas yang ditinggalkannya masih menunjukan bahwa itu dulu adalah luka yang parah.
"Aku dulu juga bermain Anggar, itulah mengapa aku mendapat luka ini. Luka ini menyebabkan aku tidak bisa memegang rapier lagi, dan karena berlatih Anggar jugalah aku kehilangan kakakku. Itulah sebabnya aku tidak ingin Asuna berlatih Anggar, aku takut dia akan mengalami hal yang sama"
Arya terdiam sejenak mendengar cerita Tuan Masamune, dia harus memikirkan apa yang harus dia katakan selanjutnya. Pria itu terlihat sedikit sedih setelah mengenang masa lalunya.
"Tapi bukankah anda seharusnya mulai percaya pada putri anda? Dia sangat menyukai Anggar dan hebat menggunakan rapier saya berani menjamin hal itu, dia juga bukannya tidak menyukai memanah sih sebenarnya. Jadi bagaimana kalau dia menggunakan kedua senjata itu?" saran Arya.
"Bolehkah aku tahu kenapa kau sangat penduli akan hal ini Arya?" tanya Tuan Masamune.
"Karena saya tidak ingin dia terluka"
Tuan Masamune tersenyum lalu menghela nafas panjang.
"Baiklah aku izinkan, tapi dengan satu syarat kau harus tetap berhati-hati"
"Ayah, terimakasih" teriak Asuna sambil berdiri dari tempat duduknya dan memeluk Ayahnya.
"Sama-sama" ucap Tuan Masamune sambil mengelus kepala anaknya.
Arya tersenyum melihat ayah dan anak itu akhirnya bisa saling mengerti satu sama lain. Setelah itu Tuan Masamune pun segera beranjak dari tempat duduknya untuk segera pergi, karena dia memiliki banyak urusan yang harus dikerjakan. Sebelum keluar dari ruangan dia berhenti dan menoleh pada Arya.
"Arya aku juga mengajukan syarat padamu, tolong jaga Asuna"
"Eh?!!" ucap Asuna terkesiap
"Tentu, akan saya lakukan yang terbaik" jawab Arya sambil menundukan kepalanya.
"Kau adalah orang yang baik Arya, sepertinya Presiden Hartoso mendidik mu dengan baik"
"Saya tidak sebaik itu, anda terlalu berlebihan Tuan"
"Aku bersyukur sekali calon menantuku adalah orang yang sangat baik" ujar Tuan Masamune.
"Eh? Menantu?" ulang Arya bingung.
"Ahahaha Ayah sebaiknya kita segera pergi, bukankah Ayah mempunyai urusan yang harus dikerjakan? Iyakan? Iyakan? Kalau begitu ayo, kita harus bergegas. Arya aku akan mengantarkan Ayahku untuk kembali dulu ya, dah" ucap Asuna dengan tergesa-gesa sambil mendorong ayahnya keluar dari ruangan itu lalu membanting pintu ruangan tersebut dengan keras.
"Keluarga yang aneh" bisik Arya pelan dengan wajah datar sambil memegang dagunya.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Arya masih mempunyai satu urusan lagi sebelum bertemu dengan Astral, dia melesat menuju pintu ruangan itu dan tanpa permisi langsung masuk saja ke dalam ruangan tersebut. Orang-orang yang berada didalam terkejut saat dia masuk, di dalam ruangan itu terdapat empat orang. Dua orang duduk saling berhadapan dan dua orang lagi berdiri dibelakang salah satu dari dua orang yang sedang duduk.
"Kapten?! Apa yang sedang kau....?" ucap Kevin terkesiap saat melihat Arya masuk tanpa izin.
Arya segera duduk disebelah Kevin dan melihat pria yang ada dihadapanya, pria itu menggunakan jas kerja yang diselimuti sebuah jaket kulit yang terlihat mahal. Dibelakangnya dua orang bodyguard berperawakan besar menggunakan jas yang sama dengan yang dikenakan orang itu, mereka berdua juga menggunakan kacamata hitam. Jujur saja tampang mereka sangat mengintimidasi.
"Oh....ada apa ini? Aku sangat tersanjung Ketua Elementalist datang menemuiku, tapi kelihatanya dia tidak mempunyai sopan santun" kritik George Washington dengan wajah bengis.
"Maaf tapi aku tidak perlu sopan santun untuk bertemu dengan anda Tuan Washington, aku akan langsung ke inti permasalahannya. Hak wali anda atas Kevin telah dicabut" kata Arya dengan tenang.
Seketika semua orang yang berada di ruangan itu terlihat terkejut, Kevin melihat Arya dengan tatapan tidak percaya. Dan Arya sedikit puas melihat senyum sombong menghilang dari wajah Tuan Washington.
"Apa yang kau bicarakan bocah?" tanya Tuan Washington dengan nada dingin.
"Seperti yang anda dengar, hak anda sebagai wali dari Kevin telah dicabut olehku"
"Apa hakmu untuk melakukan itu? Kau pikir siapa dirimu?!" bentak Tuan Washington.
"Aku adalah Ketua Elementalist generasi saat ini, dan sebagai ketua aku berkewajiban untuk menyelesaikan masalah dari Elementalist lainnya" jawab Arya santai.
"Apa alasan kau mencabut hak waliku?!" tanya Tuan Washington dengan ekspresi kesal yang sangat terlihat diwajahnya.
"Kenapa anda masih bertanya? Bukankah anda sudah tahu sendiri alasannya? Anda telah melakukan penelitian ilegal terhadap Elementalist demi kepentingan pribadi anda sendiri, jika Kevin berhasil menjadi Ketua Elementalist anda akan memanfaatkan posisinya untuk meraup untung yang sebesar-besarnya" jelas Arya.
Pelipis Tuan Washington berdenyut-denyut, wajahnya memerah karena kemarahan yang sudah memuncak lalu dia berbisik kepada bodyguardnya.
"Tembak dia" perintah Tuan Washington.
"Ta...tapi Tuan dia adalah........"
"Kubilang tembak dia!!!" bentaknya.
Kejadian itu terjadi sangat cepat, mungkin mata orang biasa tidak bisa melihat apa yang terjadi sebenarnya. Tapi Arya bisa melihat semua kejadian itu dengan seksama, kedua bodyguard itu mengeluarkan kedua pistol mereka dan menembakan peluru ke arah Arya. Tapi Kevin dengan sangat cepat menangkap kedua peluru itu dan menghancurkan senjata yang digunakan oleh kedua bodyguard tersebut serta kembali kesebelah Arya hanya dalam waktu kurang dari satu detik.
"Aku tidak akan memaafkan siapa pun yang menyerang Kapten, bahkan jikalau yang menyerang itu adalah Ayah" ujar Kevin sambil menghancurkan dua peluru yang ada digenggamannya.
"Dasar anak tidak tahu diri! Kau pikir siapa yang membesarkanmu?! Aku akan melaporkan ini, aku pasti akan melaporkan ini pada PBB" kata Tuan Washington sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Jadi anda ingin melaporkan aku pada PBB? Silahkan saja, tapi sepertinya anda sedikit terlambat. Aku sudah mengirimkan surat kepada PBB untuk menangkap anda atas tuduhan melakukan penelitian ilegal kepada aset umat manusia yang paling berharga, jadi sebaiknya anda bersiap menerima surat panggilan untuk sidang saat tiba di rumah" ucap Arya sambil tersenyum.
"Aku pasti akan membalasmu! Camkan itu!" teriaknya sambil berjalan keluar ruangan itu diikuti oleh kedua bodyguardnya.
"Sepertinya aku juga harus melaporkannya atas percobaan pembunuhan" ujar Arya sambil menghela nafas.
"Kapten aku......"
"Tidak apa-apa, tidak usah dipikirkan. Aku ada urusan dengan Astral jadi aku pergi dulu, dah" kata Arya sambil menepuk pundak Kevin dan melangkah menjauh meninggalkan Kevin sendirian diruangan tersebut.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Arya masuk ke Aula Latihan, Asuna berkata bahwa Astral sudah menunggunya di tempat itu. Benar saja dia melihat Astral sedang berdiri menunggu ditengah ruangan tersebut, Astral baru menoleh kearahnya setelah jarak mereka hanya berjarak beberapa meter saja. Lalu dia melihat Arya sambil tersenyum.
"Ada perlu apa anda memanggilku Pengawas?" tanya Arya bingung.
"Sebenarnya tidak ada sesuatu yang khusus, saya hanya ingin memberikan sesuatu pada Anda" jawab Astral sambil merogoh saku jasnya.
Dari saku tersebut Astral mengeluarkan selembar foto yang terihat sudah cukup tua, dia menyodorkannya pada Arya. Arya segera mendekat dan mengambil foto itu dari tangan Astral, difoto tersebut terdapat dua puluh orang. Sepuluh orang dewasa dan sepuluh anak-anak yang menurut Arya berusia sekitar 10-15 tahun.
"Ini......jangan-jangan......" kata Arya sambil menatap Astral.
"Benar, itu adalah foto para Elementalist generasi sebelumnya. Dan ibu anda, Nona Lyan berada ditengah-tengah kerumunan orang tersebut"
Arya memperhatikan foto itu dengan lebih seksama, ia melihat seorang wanita yang sangat cantik berdiri ditengah-tengah orang dewasa lainnya. Dia memiliki mata yang persis seperti Arya, rambutnya terlihat seperti bangsawan dari eropa. Ia mengepang rambutnya dan mengikatkannya melingkar dibelakang kepalanya, wanita itu sedang tersenyum gembira sambil mengacak-acak rambut seorang anak laki-laki yang terlihat sangat tidak ingin difoto. Entah mengapa Arya merasa familiar dengan anak itu.
"Apa ini juga......" ucap Arya sambil menatap Astral lagi.
"Benar sekali, sepuluh anak kecil yang ada difoto itu adalah Kesepuluh Pengawas Ujian saat ini. Dan anak yang sedang diacak-acak rambutnya oleh ibu anda itu adalah saya" jawab Astral sebelum Arya sempat menyelesaikan pertanyaannya.
"Wow, apa laki-laki ini adalah ayah Asuna?" tanya Arya sambil menunjuk pria yang berdiri disebelah ibunya.
"Iya, itu adalah Tuan Alex. Dan bolehkah saya tahu bagaimana cara anda mengetahui beliau adalah ayah dari Nona Asuna?"
"Entahlah, hanya saja saat aku melihat matanya sekilas. Itu terlihat seperti mata Asuna saat sedang marah" jawab Arya sambil tertawa.
"Saya sudah mengetahui alasan anda berada disini, tapi saya minta maaf mungkin hanya inilah yang bisa saya berikan kepada anda"
"Sebenarnya aku sudah lama menyadarinya, ibuku mungkin sudah tidak ada di dunia ini lagi. Tapi aku sangat senang setelah kau memperlihatkan foto ini Pengawas, aku semakin yakin bahwa ibuku adalah orang yang hebat. Terimakasih aku sangat bersyukur bisa berada disini" kata Arya sambil tersenyum dan menyodorkan foto itu kembali pada Astral.
"Bukankah sudah saya katakan bahwa saya ingin memberikan anda sesuatu? Jadi anda tidak perlu mengembalikannya" tolak Astral.
"Tapi bukankah foto ini berharga bagimu?"
"Tentu saja itu berharga, itu adalah salah satu kenangan saya bersama guru saya. Tapi saya tahu bahwa anda lebih berhak memilikinya dari pada saya" kata Astral sambil membungkuk dan melangkah pergi dari Aula Latihan.
Setelah Astral pergi, Arya menghabiskan waktunya untuk mencermati foto itu sambil menebak-nebak siapa saja orang-orang yang ada difoto tersebut. Saking asyiknya ia sampai ketiduran di Aula Latihan, dan terpaksa dibangunkan oleh Asuna dengan ekspresi kesal pada keesokan harinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 303 Episodes
Comments
Anita
melamarku
2022-11-29
0
nickname
y
2021-10-16
2
John Singgih
kesibukan sebagai ketua elementalis yang baru
2021-07-23
1