"Silahkan duduk" kata Pak Hartoso sambil tersenyum ramah.
Arya pun duduk di kursi yang telah disediakan, ia duduk dengan sangat sopan. Tidak seperti saat dia berada di sekolah, hal ini disebabkan karena dia sangat menghormati pria tua yang tengah tersenyum ramah dari seberang meja kerjanya itu.
"Jadi kenapa anda ingin bertemu dengan saya" tanya Arya.
"Tidak ada alasan khusus, aku hanya ingin menanyakan kabarmu" jawab Pak Hartoso sambil tersenyum.
Arya terdiam sejenak mendengar perkataan pak tua itu, dia memang sudah cukup lama tidak berkunjung ke rumah utama, hal ini bukan dikarenakan keinginanya. Tapi karena banyak hal yang menuntut untuk ia kerjakan, walaupun itu bukan hal-hal yang terlalu penting. Dan juga terkadang ia merasa kurang nyaman berada di rumah utama.
"Jadi, bagaimana dengan sekolah mu?" tanya Pak Hartoso.
Perasaan Arya tidak enak, jangan-jangan ada laporan dari sekolah tentang apa yang dia lakukan tadi pagi, dasar nenek tua sialan pikirnya sambil membayangkan wajah Ibu Rust yang tertawa senang karena telah berhasil melaporkanya kepada walinya. Akan kubalas dia lain kali.
"Mmm tidak ada yang spesial, anda tau kan? Hanya kehidupan sekolah siswa SMA biasa hahaha" jawab Arya sambil berusaha tetap terlihat tenang.
"Sebenarnya aku mendapat telpon dari sekolah" kata Pak Hartoso.
Seketika wajah Arya pucat, dia hanya menundukan wajahnya dan melihat sepatu yang sedang ia kenakan.
"Tapi hal itu........." ucap Pak Hartoso, tapi sebelum dia menyelesaikanya, Arya langsung memotong perkataanya.
"Saya sangat minta maaf Pak Presiden, hanya saja waktu itu saya terbawa suasana sehingga sedikit berlebihan" kata Arya sambil masih tertunduk menyesal.
"Kenapa kau terlihat tegang seperti itu Arya? Tidak apa, aku tidak mempermasalahkan hal itu" kata Pak Hartoso sambil tertawa.
"Eh........... jadi anda tidak masalah akan hal itu?" tanya Arya heran sambil mengangkat kepalanya yang tertunduk dan menatap pria tua itu.
"Tentu saja, dan lagi itu bukan yang pertama kalinya. Aku bahkan sudah lupa ini panggilan yang keberapa kalinya yang aku terima sejak kau masih kecil".
Arya pun menghela nafas lega, ia mulai mengingat-ingat masalah yang telah diperbuatnya, dia memang sering membuat masalah sejak dulu di sekolah. Bukan masalah terhadap teman sebayanya, melainkan kepada guru-gurunya yang membuatnya kesal, seperti Ibu Rust contohnya. Tapi sekarang karena dia sudah merasa dewasa dan tinggal sendiri di Distik Perak, ia merasa malu kepada Pak Hartoso yang selalu dia repotkan karena masalah-masalah yang ia perbuat.
"Aku lebih tau dari siapapun bahwa kau itu adalah anak yang jenius, itulah sebabnya kau selalu tertidur di kelas dan memojokan guru-guru yang membuatmu kesal. Yah...walaupun nilai matematikamu......."
"Saya mohon jangan bahas itu" potong Arya cepat.
"Hahahah tidak apa Arya, matematika itu tidak menentukan kesuksesan seseorang. Tapi tidak ada salahnya mencoba......"
"Saya tidak suka, terima kasih atas saranya" potong Arya lagi.
Arya kembali ke sifatnya yang tenang dan tidak terlalu peduli, setelah ia mengetahui bahwa apa yang dia lakukan di sekolah tadi tidak membuat Pak Hartoso kerepotan.
"Hah.....iya iya kau selalu mengatakan hal itu dari dulu, kau mempunyai otak yang cerdas karena kau suka membaca, tapi matematika itu tidak bisa hanya dibaca lo" kata Pak Hartoso sambil menghela nafas.
Kalau dipikir-pikir lagi ada benarnya juga, dia memang sangat suka membaca. Karena dia mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi akan dunia yang berada di luar Elemental City, hal inilah yang membuatnya sering mengunjungi Perpustakaan Kota dan bahkan memilih untuk tinggal di Distrik Perak sendirian. Dia bahkan hampir telah membaca semua buku yang ada di Perpustakaan Kota Elemental bahkan ia meminta pada Pak Hartoso untuk mendapatkan izin mengakses buku-buku yang tidak sembarang orang bisa membacanya di perpustakaan tersebut, buku-buku yang ada di bagian Rahasia. Dia hanya tidak mau menyentuh buku-buku yang ada di bagian matematika.
"Lalu bagaimana dengan latihan bela diri mu?" tanya Pak Hartoso.
"Saya selalu datang untuk latihan" jawab Arya.
"Tapi aku dengar, kau tidak mau berlatih tanding dengan teman-teman seperguruan mu?"
"Ehh......ee.....itu karena anda tau kan? Saya hanya ingin berlatih dengan yang terbaik"
"Dan itu berarti berlatih dengan pemilik perguruan itu sendiri?" tanya Pak Hartoso terheran-heran.
"Iyaaa...... begitulah hahahahaha" jawab Arya sambil tertawa dan menggaruk-garuk kepalanya.
Mungkin dia memang terlihat seperti kutu buku yang selalu berada di perpustakaan. Tapi jangan salah, dia juga sangat terampil dalam berolahraga. Bahkan disekolah dia selalu mendapat nilai tertinggi dalam pelajaran ini. entah kenapa, Dia merasa bisa melakukan hal-hal yang sulit bagi kebanyakan anak seumuranya. Sehingga dia mulai merasa bosan dalam berolahraga karena merasa tidak mempunyai tandingan dalam berolahraga.
Kemudian Pak Hartoso menyuruhnya untuk belajar bela diri, pada awalnya dia merasa tidak perlu karena dia merasa tanpa bela diri pun tidak ada yang bisa melawanya, tapi karena terus dipaksa oleh beliau. Ia memutuskan untuk mengikuti dua ilmu bela diri yaitu, Kendo dan Taekwondo. Dia memilih belajar Kendo karena dia sering menonton karakter anime yang menggunakan pedang, sedangkan Taekwondo adalah bela diri cadangan bila ia tidak membawa senjata. Hal ini juga adalah permintaan Pak Hartoso yang memintanya untuk menguasai satu bela diri dengan senjata dan satu bela diri dengan tangan kosong. Sampai sekarang dia tidak tahu kenapa Pak Hartoso memaksanya berlatih bela diri.
Pada awal latihan bela dirinya, seperti yang ia duga. Dia belajar dengan sangat cepat, sehingga anak-anak seperguruanya tidak ada yang berani melawanya. Kendo maupunn Taekwondo, karena hal ini dia mulai menantang kakak tingkatnya. Tapi sama saja, mereka hanya berani pada awalnya saja. setelah itu dia mulai menantang instruktur-instruktur pengajar yang mengajarkanya Kendo maupun Taekwondo. Lagi-lagi mereka hanya bertahan beberapa hari meladeninya, lalu saking merasa bosanya dia tidak mau berlatih Kendo dan Taekwondo lagi.
Pada akhirnya kedua pemilik perguruan Kendo dan Taekwondo tersebutlah yang turun tangan untuk bertanding dengan Arya. Kedua gurunya inilah yang bisa menandingi dam bahkan mengalahkan Arya dalam Kendo dan Taekwondo, hal inilah yang membuat dia rajin datang berlatih bela diri, dan kedua gurunya ini adalah salah satu dari sedikit orang yang disegani oleh Arya selain Pak Hartoso.
"Aku dengar kau menggunakan kekuatanmu lagi Arya?" tanya Pak Hartoso serius.
"Ehhh apa anda mendengar itu dari Pak Tora?" kata Arya balik bertanya.
"Iyaa, sebaiknya kau jangan terlalu sering menggunakan kekuatan itu Arya, kau tau sendiri kan efek samping bagi tubuhmu seperti apa?"
"Baiklah Pak Presiden, akan saya ingat itu" jawab Arya.
"Baguslah kalau begitu"
"Apa hanya hal itu yang ingin anda tanyakan Pak Presiden?" tanya Arya.
"Iya, tapi sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin aku minta padamu" kata Pak Hartoso.
"Apa itu?"
"Bisakah kau tidak terlalu formal saat berbicara padaku"
Arya terbengong dan tidak bisa berkata apa-apa atas perkataan Pak Hartoso itu.
"Maksud anda?"
"Berhentilah memanggil ku dengan Presiden dan anda, aku adalah ayah mu"
"Anda adalah wali saya" jawab Arya singkat.
"Aku adalah ayah angkatmu Arya"
"Bukankah kita sudah sering membicarakan hal ini? Saya akan melakukan hal itu jika anda memberitahukan kepada saya tentang ibu saya" jawab Arya sambil menatap mata pria tua itu.
Pak Hartoso pun terdiam, sudah sejak lama Arya ingin mengetahui tentang ibunya. Tetapi Pak Hartoso tidak pernah memberitahukan kepadanya tentang ibu kandungnya, bahkan sampai saat ini. Pria tua itu tertunduk sedih.
"Belum saatnya kau mengetahui tentang ibu mu" ucap pria tua itu.
"Lalu kapan saat itu tiba?" tanya Arya.
"Segera, sungguh saat itu akan segera tiba" jawab Pak Hartoso dengan yakin
Arya dapat melihat keyakinan yang ada di mata ayah angkatnya itu. Lalu memutuskan untuk mengalah dan menghela nafas panjang.
"Baiklah ayah, aku akan berbicara seperti biasa mulai sekarang" kata Arya.
"Hahaha begitu lebih baik" jawab Pak Hartoso sambil tersenyum.
Kemudian tiba-tiba pintu ruang kerja itu terbuka, dan Arya merasakan sesuatu yang berat menggantung pada lehernya, sesosok tubuh kecil itu memeluk dan bergelantung pada leher Arya.
"Kakak.........!!!" teriaknya.
Kemudian Arya melihatnya, ternyata sosok kecil itu tidak lain dan tidak bukan adalah anak kandung dari Pak Hartoso yang berarti saudara angkat dari Arya.
"Reika?" kata Arya kaget.
Reika masih memeluknya dengan erat, Reika adalah anak perempuan yang enerjik. Dia mempunyai rambut hitam yang diikat twintail, dia lebih muda 2 tahun dari Arya. Jadi dia masih berada di Sekolah Menengah Pertama, tingginya hanya sampai bahu Arya. Itulah sebabnya ia sering bergelantung di leher Arya.
"Kakak......kakak.....kenapa kakak jarang sekali berkunjung" tanyanya sambil masih memeluk dengan erat.
"Hehehe kau tau banyak hal yang harus dilakukan"
"Tetap saja harusnya kakak datang menengok Reika" jawabnya manja.
Anak ini pikir Arya, dia selalu seperti ini. Hal inilah salah satu alasan Arya terkadang malas untuk menuju Rumah Utama, ada adik angkatnya yang sangat manja kepadanya.
"Yosh yosh bisakah kau melepaskan kakak mu ini?" kata Arya sambil mengelus-elus kepala Reika.
"Tidak mau, nanti kakak pergi lagi" jawabnya sambil menengadah dan menatap mata Arya.
Imutnya pikir Arya, tapi dia langsung menampar dirinya sendiri sambil berkata dalam hati. Sadar kawan dia itu adikmu.
"Kenapa kakak menampar diri kakak sendiri?"
"Ahh tidak ada, hanya mengetes daya tahan pipiku saja" jawab Arya sambil mengelus pipinya yang memerah karena sakit.
"Enaknya......Reika ayah juga mau dong dipeluk" celetuk Pak Hartoso.
"Ogah........., Reika mendingan peluk Kak Arya daripada Ayah" jawab Reika ketus.
"Ehhh kenapa?"
"Ayah bau, gak pernah mandi wekk........" kata Reika sambil menjulurkan lidah.
"Ehhh.....apa? sungguh? Betulkah itu Arya?" kata Pak Hartoso sambil mencium-cium badanya sendiri.
"E.....itu aku tidak tahu menahu soal itu yah" jawab Arya sambil menahan tawa.
Salah satu kelemahan Pak Hartoso adalah anak perempuan semata wayangnya ini, jika Reika ada pasti Pak Hartoso yang notabenenya adalah pemimpin satu negara akan terlihat konyol di depan anaknya.
"Kak......Kak Arya?" celetuk Reika.
"Ada apa?" jawab Arya sambil tersenyum.
"Reika mempunyai tugas yang sulit dari sekolah, kakak bantuin dong, iyaa ya ya"
"Serius, jangan bercanda Reika. Kamu itu salah satu anak paling pintar di sekolahmu kan?" jawab Arya curiga.
"Iyaa serius, jadi kakak tolong bantu Reika ya? Reika mohon" katanya dengan wajah memelas.
"Hah......iya-iya kakak bantu. Eitsss tapi tunggu dulu, bukan matematika kan?"
"Hahaha iya tenang saja bukan matematika kok" jawabnya riang.
Kenapa dia bisa kalah dengan permohonan Reika, apa dia tertular dari Pak Hartoso yaa?.
"Ayah aku akan menemani Reika untuk mengerjakan tugas sekolahnya, dan mungkin nanti akan langsung pulang"
"Baiklah, hati-hati di jalan" jawab Pak Hartoso sambil tersenyum.
"Dahh......Ayah" kata Reika sambil melambaikan tangan pada ayahnya.
Reika menggandeng tangan Arya dan menyeretnya menuju kamarnya. Arya yang sudah pasrah hanya mengikuti kemana kakinya membawanya melangkah. Kamar Reika berada tepat disamping ruang kerja Pak Hartoso, mungkin karena dia ingin mengawasi anak tercintanya.
Sesampainya di kamar Reika. Arya disuruh duduk di meja belajar yang berada ditengah-tengah kamar, Arya melihat sekeliling kamar adiknya itu. Sama seperti ruang kerja Pak Hartoso, tidak ada yang berubah. Persis seperti yang ada diingatanya.
"Ini dia tugasnya kak" kata Reika memecahkan lamunan Arya.
"Sini kakak lihat, Ohh ini sih gampang caranya itu......" kata Arya mulai menjelaskan.
Setelah beberapa lama menjelaskan dengan panjang lebar Arya menyadari kalau Reika tidak memerhatikan apa yang dia jelaskan.
"Reika.....sudah ku duga kau itu tidak mungkin tidak bisa mengerjakan tugas seperti ini" kata Arya.
"Ehh.....memangnya kenapa? Tugas ini memang sulit kok" jawabnya dengan wajah tidak bersalah.
"Kau memintaku untuk membantu mu hanya untuk melihat wajahku dari dekat kan?" kata Arya kesal.
"Tehee ketauan ya? Kakak tau saja" jawabnya sambil menjulurkan lidah.
"Tehee dengkul mu" jawab Arya sambil memandang lurus pada mata adiknya.
"Kenapa kakak melihat Reika seperti itu? Reika jadi malu tau"
"Reika......jangan-jangan kamu itu.........Brocon ya?"
Reaksi Reika seperti tersambar petir mendengar perkataan dari kakaknya itu, dia pun pura-pura memasang wajah sedih.
"Kakak jahat deh, bilang kalau Reika Brocon padahal kan Kakak itu saudara angkat Reika jadi bukan Brocon dong namanya tehee.." katanya sambil menjulurkan lidahnya lagi.
"Berhenti berkata tehee sambil bersifat sok imut begitu" kata Arya sambil menjitak kepala adiknya itu.
"Awww........sakit kak" kata Reika sambil memegang kepalanya dan memasang muka cemberut.
"Makanya berhenti menggoda iman kakakmu ini"
"Ini tugasnya sudah kakak selesaikan walaupun kakak tau kamu pasti bisa mengerjakanya sendiri" kata Arya lagi sambil menyodorkan kertas tugas itu pada Reika.
"Ayeye kapten, terimakasih banyak" kata Reika sambil memberi hormat.
"Kakak pergi dulu yaa" kata Arya sambil berdiri dari tempat duduknya.
"EHHH.........kenapa cepat sekali kak?" tanyanya sambil cemberut.
"Ada banyak hal yang harus aku kerjakan Reika"
"Reika tidak akan membiarkan kakak pulang begitu saja" katanya juga sambil dari tempat duduknya.
Belum sempat ia berdiri Arya dengan cepat melesat menuju pintu kamarnya dan menutupnya dari luar. Kemudian dengan cepat Arya membekukan engsel-engsel pada pintu tersebut agar tidak dapat dibuka dengan mudah.
"Kakak.......kakak......kak Arya........kenapa kakak selalu melakukan ini pada pintunya?" kata Reika sambil memukul-mukul pintu kamarnya.
"Bukankah sudah jelas? Agar kamu tidak menghalangi aku untuk pulang" jawab Arya sambil tertawa.
"Ishhh kakak..........buka........buka pintunya..........!!!" teriaknya kesal.
"Hahaha teruslah berusaha" kata Arya sambil melangkah menjauh dari pintu.
"Bye-bye Onii-chan"
Seketika Arya menghentikan langkah kakinya, dia berbalik dan kembali ke depan pintu kamar. Dia mendekatkan telinganya pada pintu kamar Reika, tidak salah lagi suara tadi adalah suara Reika. Tapi, sejak kapan dia bisa bahasa Jepang?
"Reika........Reika?" panggil Arya.
"Ehh apakah kakak memutuskan untuk tidak jadi pergi?" sahutnya antusias.
"Teruslah bermimpi adiku, aku ingin menanyakan sesuatu padamu"
"Ehh.......apa yang ingin kakak tanyakan?" suaranya terdengar kecewa.
"Apa kau...........belajar bahasa Jepang?" tanya Arya
.
"Bahasa Jepang? Apa itu? Apakah salah satu bahasa asing? Reika tidak pernah mendengarnya kak"
"Ohh begitu ya....baiklah kalau begitu"
"Memangnya kenapa kakak menanyakan hal itu?'
"Tidak apa-apa, tak usah kau pikirkan. Dah........Reika"
Arya yakin dia tadi mendengar Reika memanggilnya dengan panggilan "Onii-chan", tapi kenapa dia seakan-akan tidak mengetahui bahasa yang dia gunakan? Apakah dia sengaja? Sepertinya tidak, hal ini bukan pertama kalinya terjadi. Kadang-kadang Arya merasa berbicara dengan Reika yang sama sekali berbeda dari biasanya. Bukan adiknya yang manja, melainkan orang lain dengan tubuh Reika itu sendiri. Tapi ya sudahlah jangan terlalu dipikirkan, mungkin itu hanya perilaku usil lainya dari Reika.
Arya berjalan keluar dari Rumah Utama, beberapa pelayan ikut mengantarnya sampai ke pintu gerbang. Mereka menunduk memberi hormat padanya, Arya memutuskan sebelum pulang ia ingin membeli minuman di salah satu Supermarket dekat situ. Dia merasa haus karena harus meladeni adik angkatnya yang manja itu.
Sesampainya di Supermarket sebelum mengambil minuman ia menuju bagian yang menyediakan koran, dia juga suka membaca koran. Karena biasanya koran itu berisi tentang berita-berita terkini yang terjadi di masyarakat, terutama di koran kesukaanya. Daily Elemental.
Dia membalik-balik halaman koran itu dengan cepat, berusaha mencari-cari berita yang dapat menarik perhatianya. Dan pada akhirnya dia berhenti di sebuah halaman dengan artikel berjudul "Saatnya Kemunculan Para Elementalist Baru", dia membaca isi artikel itu dengan seksama. Elementalist, itu kata semua orang menyebut mereka, tentu saja dia tau apa itu Elementalist. Mereka adalah sepuluh orang manusia yang dianugerahi kemampuan oleh Tuhan untuk mengendalikan sepuluh elemen yang ada di dunia.
Hanya itu, hanya itulah yang dia ketahui soal mereka, padahal dia sudah sering kali mencoba mencari tau tentang Elementalist di Perpustakaan Kota. Tapi hasilnya nihil, dia tidak menemukan apapun tentang Elementalist. Seakan-akan keberadaan informasi tentang Elementalist itu sengaja dihapuskan dari sana. Bahkan di bagian buku-buku terlarang sekalipun.
Kenapa ia tertarik dengan Elementalist? Tentu saja karena kekuatanya ini, apakah kekuatanya ini ada hubunganya dengan para Elementalist. Dan dia juga merasa yakin, jika dia bisa memecahkan masalah Elementalist ini ia dapat menjawab misteri tentang ibunya sendiri. Orang yang paling ingin dia temui saat ini.
Untuk beberapa saat dia memalingkan pandangan ke arah luar etalase Supermarket itu, kemudian dia melihatnya, berdiri menunggu di halte bus dekat Supermarket. Anak perempuan cantik dengan rambut panjang berwarna hitam, dengan mata berwarna merah seperti buah apel, dia mengenakan seragam sekolah wanita yang tidak pernah Arya lihat sebelumnya. Sepertinya seragam sekolah Distrik Emas. Entah kenapa perempuan itu terasa familiar di mata Arya, seperti dia pernah melihatnya di suatu tempat, tapi ia lupa di mana itu. Saat Arya masih terpesona akan pemandangan yang ada di depanya, lamunanya terpecah oleh celetukan dari suara yang sangat dia kenal.
"Ehhh tidak kusangka kau tertarik dengan berita seperti ini kawan" kata suara itu.
Arya pun kaget dan secepat kilat menoleh kearah sumber suara tersebut, disitu berdiri orang yang sangat dia tidak ingin temui saat ini. Yang tidak lain adalah Ryan, dia mengenakan pakaian kaos dan celana jins. Pakaian santai yang biasa ia kenakan.
"Kenapa kau ada disini Wibu sialan?" tanya Arya kesal.
"Kenapa? Bukankah sudah jelas, aku tinggal dekat sini kawan"
Arya menempelkan tanganya di kepala, ia lupa bahwa si Wibu brengsek ini juga tinggal di Distrik Emas, dia pun menghela nafas panjang sambil berpikir. Kenapa dia selalu bertemu dengan Wibu ini disaat-saat tidak terduga. Lalu Arya kembali memalingkan wajahnya ke halte bus tempat perempuan dengan mata merah tadi berada. Tapi, dia sudah tidak ada disana lagi.
"Apa yang sedang kau lihat?" tanya Ryan.
"Bukan urusanmu, tadi aku melihat anak perempuan cantik, tapi karena kau datang dia menghilang" jawab Arya ketus.
"Anak perempuan? Anak perempuan dengan seragam sekolah mahal itu?" tanya Ryan kaget.
"Iyaa memangnya kenapa? Kau melihatnya juga ya? Apa kau mengenalnya?"
"Anak perempuan dengan rambut hitam dan mata merah?" tanya Ryan masih dengan ekspresi terkejut di wajahnya.
"Iyaa.........memangnya kenapa? Kenapa kau terlihat sangat terkejut" kata Arya balik bertanya.
"Mmm tidak ada sih" jawabnya misterius.
"Hey kau tau, sepertinya aku pernah melihatnya" kata Arya sambil berpikir.
"Perempuan itu? Memangnya dimana kau melihatnya?" tanya Ryan.
"Tidak hanya saja..........Ahhh itu dia kau tau tadi pagi saat aku mengigau di sekolah?" kata Arya antusias.
"Iya lalu, apa hubunganya dengan perempuan itu?" tanya Ryan bingung.
"Aku melihatnya di dalam mimpiku"
"Dalam mimpimu? Sungguh?"
"Iyaa dan bukan hanya itu saja, di mimpiku perempuan itu melemparkan bola api melalui tanganya"
Seketika wajah Ryan terlihat pucat, dia terlihat shock mendengar apa yang dikatakan Arya barusan. Arya pun heran melihat tingkah sahabatnya itu.
"Kau kenapa? Kenapa wajahmu pucat seperti itu?" tanya Arya khawatir.
"Mmm tidak ada, tidak kusangka kalian bisa saling menarik layaknya magnet" kata Ryan sambil tersenyum misterius.
"Apa maksudmu?" tanya Arya bingung sambil memiringkan kepalanya.
"Tidak usah kau pikirkan, itu tidak penting, kau mau pulang kan? Kapan-kapan mampirlah ke rumah" katanya sambil menjauh dan melambaikan tangan pada Arya.
"Teruslah bermimpi" sahut Arya.
Saat Ryan berjalan menjauh, tiba-tiba ia berhenti dan menoleh kepada Arya sambil berkata dengan wajah serius.
"Dan, Arya? Sebaiknya kau hati-hati saat perjalanan pulang. Dah....." katanya sambil berlalu meninggalkan Arya yang bingung tentang apa yang dikatakan Ryan padanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 303 Episodes
Comments
Betty Februarti
Author ini sangat hebat!
Dia sudah merangkai ceritanya sangat jauh sebelum menulis..
2024-04-09
2
◌⑅⃝Shiro⑅◌
setelah baca berulang ulang. akhirnya aku sadar.
bahwa tidak ada penjelasan mengenai pasangan Elementalist generasi ketiga
2023-05-12
1
~•√Alfharyzie™
Oh iya pas baca ulang baru inget aing. Pasti itu kepribadian gandanya sireika yang bernama Reiko ntar dia jadi musuh elementalis dan siReika wafat. Huhuhu. 😭😭
2021-12-12
0