Chapter 02 - Keluarga Angkat

"Silahkan duduk" kata Pak Hartoso sambil tersenyum ramah.

Arya pun duduk di kursi yang telah disediakan, ia duduk dengan sangat sopan. Tidak seperti saat dia berada di sekolah, hal ini disebabkan karena dia sangat menghormati pria tua yang tengah tersenyum ramah dari seberang meja kerjanya itu.

"Jadi kenapa anda ingin bertemu dengan saya" tanya Arya.

"Tidak ada alasan khusus, aku hanya ingin menanyakan kabarmu" jawab Pak Hartoso sambil tersenyum.

Arya terdiam sejenak mendengar perkataan pak tua itu, dia memang sudah cukup lama tidak berkunjung ke rumah utama, hal ini bukan dikarenakan keinginanya. Tapi karena banyak hal yang menuntut untuk ia kerjakan, walaupun itu bukan hal-hal yang terlalu penting. Dan juga terkadang ia merasa kurang nyaman berada di rumah utama.

"Jadi, bagaimana dengan sekolah mu?" tanya Pak Hartoso.

Perasaan Arya tidak enak, jangan-jangan ada laporan dari sekolah tentang apa yang dia lakukan tadi pagi, dasar nenek tua sialan pikirnya sambil membayangkan wajah Ibu Rust yang tertawa senang karena telah berhasil melaporkanya kepada walinya. Akan kubalas dia lain kali.

"Mmm tidak ada yang spesial, anda tau kan? Hanya kehidupan sekolah siswa SMA biasa hahaha" jawab Arya sambil berusaha tetap terlihat tenang.

"Sebenarnya aku mendapat telpon dari sekolah" kata Pak Hartoso.

Seketika wajah Arya pucat, dia hanya menundukan wajahnya dan melihat sepatu yang sedang ia kenakan.

"Tapi hal itu........." ucap Pak Hartoso, tapi sebelum dia menyelesaikanya, Arya langsung memotong perkataanya.

"Saya sangat minta maaf Pak Presiden, hanya saja waktu itu saya terbawa suasana sehingga sedikit berlebihan" kata Arya sambil masih tertunduk menyesal.

"Kenapa kau terlihat tegang seperti itu Arya? Tidak apa, aku tidak mempermasalahkan hal itu" kata Pak Hartoso sambil tertawa.

"Eh........... jadi anda tidak masalah akan hal itu?" tanya Arya heran sambil mengangkat kepalanya yang tertunduk dan menatap pria tua itu.

"Tentu saja, dan lagi itu bukan yang pertama kalinya. Aku bahkan sudah lupa ini panggilan yang keberapa kalinya yang aku terima sejak kau masih kecil".

Arya pun menghela nafas lega, ia mulai mengingat-ingat masalah yang telah diperbuatnya, dia memang sering membuat masalah sejak dulu di sekolah. Bukan masalah terhadap teman sebayanya, melainkan kepada guru-gurunya yang membuatnya kesal, seperti Ibu Rust contohnya. Tapi sekarang karena dia sudah merasa dewasa dan tinggal sendiri di Distik Perak, ia merasa malu kepada Pak Hartoso yang selalu dia repotkan karena masalah-masalah yang ia perbuat.

"Aku lebih tau dari siapapun bahwa kau itu adalah anak yang jenius, itulah sebabnya kau selalu tertidur di kelas dan memojokan guru-guru yang membuatmu kesal. Yah...walaupun nilai matematikamu......."

"Saya mohon jangan bahas itu" potong Arya cepat.

"Hahahah tidak apa Arya, matematika itu tidak menentukan kesuksesan seseorang. Tapi tidak ada salahnya mencoba......"

"Saya tidak suka, terima kasih atas saranya" potong Arya lagi.

Arya kembali ke sifatnya yang tenang dan tidak terlalu peduli, setelah ia mengetahui bahwa apa yang dia lakukan di sekolah tadi tidak membuat Pak Hartoso kerepotan.

"Hah.....iya iya kau selalu mengatakan hal itu dari dulu, kau mempunyai otak yang cerdas karena kau suka membaca, tapi matematika itu tidak bisa hanya dibaca lo" kata Pak Hartoso sambil menghela nafas.

Kalau dipikir-pikir lagi ada benarnya juga, dia memang sangat suka membaca. Karena dia mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi akan dunia yang berada di luar Elemental City, hal inilah yang membuatnya sering mengunjungi Perpustakaan Kota dan bahkan memilih untuk tinggal di Distrik Perak sendirian. Dia bahkan hampir telah membaca semua buku yang ada di Perpustakaan Kota Elemental bahkan ia meminta pada Pak Hartoso untuk mendapatkan izin mengakses buku-buku yang tidak sembarang orang bisa membacanya di perpustakaan tersebut, buku-buku yang ada di bagian Rahasia. Dia hanya tidak mau menyentuh buku-buku yang ada di bagian matematika.

"Lalu bagaimana dengan latihan bela diri mu?" tanya Pak Hartoso.

"Saya selalu datang untuk latihan" jawab Arya.

"Tapi aku dengar, kau tidak mau berlatih tanding dengan teman-teman seperguruan mu?"

"Ehh......ee.....itu karena anda tau kan? Saya hanya ingin berlatih dengan yang terbaik"

"Dan itu berarti berlatih dengan pemilik perguruan itu sendiri?" tanya Pak Hartoso terheran-heran.

"Iyaaa...... begitulah hahahahaha" jawab Arya sambil tertawa dan menggaruk-garuk kepalanya.

Mungkin dia memang terlihat seperti kutu buku yang selalu berada di perpustakaan. Tapi jangan salah, dia juga sangat terampil dalam berolahraga. Bahkan disekolah dia selalu mendapat nilai tertinggi dalam pelajaran ini. entah kenapa, Dia merasa bisa melakukan hal-hal yang sulit bagi kebanyakan anak seumuranya. Sehingga dia mulai merasa bosan dalam berolahraga karena merasa tidak mempunyai tandingan dalam berolahraga.

Kemudian Pak Hartoso menyuruhnya untuk belajar bela diri, pada awalnya dia merasa tidak perlu karena dia merasa tanpa bela diri pun tidak ada yang bisa melawanya, tapi karena terus dipaksa oleh beliau. Ia memutuskan untuk mengikuti dua ilmu bela diri yaitu, Kendo dan Taekwondo. Dia memilih belajar Kendo karena dia sering menonton karakter anime yang menggunakan pedang, sedangkan Taekwondo adalah bela diri cadangan bila ia tidak membawa senjata. Hal ini juga adalah permintaan Pak Hartoso yang memintanya untuk menguasai satu bela diri dengan senjata dan satu bela diri dengan tangan kosong. Sampai sekarang dia tidak tahu kenapa Pak Hartoso memaksanya berlatih bela diri.

Pada awal latihan bela dirinya, seperti yang ia duga. Dia belajar dengan sangat cepat, sehingga anak-anak seperguruanya tidak ada yang berani melawanya. Kendo maupunn Taekwondo, karena hal ini dia mulai menantang kakak tingkatnya. Tapi sama saja, mereka hanya berani pada awalnya saja. setelah itu dia mulai menantang instruktur-instruktur pengajar yang mengajarkanya Kendo maupun Taekwondo. Lagi-lagi mereka hanya bertahan beberapa hari meladeninya, lalu saking merasa bosanya dia tidak mau berlatih Kendo dan Taekwondo lagi.

Pada akhirnya kedua pemilik perguruan Kendo dan Taekwondo tersebutlah yang turun tangan untuk bertanding dengan Arya. Kedua gurunya inilah yang bisa menandingi dam bahkan mengalahkan Arya dalam Kendo dan Taekwondo, hal inilah yang membuat dia rajin datang berlatih bela diri, dan kedua gurunya ini adalah salah satu dari sedikit orang yang disegani oleh Arya selain Pak Hartoso.

"Aku dengar kau menggunakan kekuatanmu lagi Arya?" tanya Pak Hartoso serius.

"Ehhh apa anda mendengar itu dari Pak Tora?" kata Arya balik bertanya.

"Iyaa, sebaiknya kau jangan terlalu sering menggunakan kekuatan itu Arya, kau tau sendiri kan efek samping bagi tubuhmu seperti apa?"

"Baiklah Pak Presiden, akan saya ingat itu" jawab Arya.

"Baguslah kalau begitu"

"Apa hanya hal itu yang ingin anda tanyakan Pak Presiden?" tanya Arya.

"Iya, tapi sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin aku minta padamu" kata Pak Hartoso.

"Apa itu?"

"Bisakah kau tidak terlalu formal saat berbicara padaku"

Arya terbengong dan tidak bisa berkata apa-apa atas perkataan Pak Hartoso itu.

"Maksud anda?"

"Berhentilah memanggil ku dengan Presiden dan anda, aku adalah ayah mu"

"Anda adalah wali saya" jawab Arya singkat.

"Aku adalah ayah angkatmu Arya"

"Bukankah kita sudah sering membicarakan hal ini? Saya akan melakukan hal itu jika anda memberitahukan kepada saya tentang ibu saya" jawab Arya sambil menatap mata pria tua itu.

Pak Hartoso pun terdiam, sudah sejak lama Arya ingin mengetahui tentang ibunya. Tetapi Pak Hartoso tidak pernah memberitahukan kepadanya tentang ibu kandungnya, bahkan sampai saat ini. Pria tua itu tertunduk sedih.

"Belum saatnya kau mengetahui tentang ibu mu" ucap pria tua itu.

"Lalu kapan saat itu tiba?" tanya Arya.

"Segera, sungguh saat itu akan segera tiba" jawab Pak Hartoso dengan yakin

Arya dapat melihat keyakinan yang ada di mata ayah angkatnya itu. Lalu memutuskan untuk mengalah dan menghela nafas panjang.

"Baiklah ayah, aku akan berbicara seperti biasa mulai sekarang" kata Arya.

"Hahaha begitu lebih baik" jawab Pak Hartoso sambil tersenyum.

Kemudian tiba-tiba pintu ruang kerja itu terbuka, dan Arya merasakan sesuatu yang berat menggantung pada lehernya, sesosok tubuh kecil itu memeluk dan bergelantung pada leher Arya.

"Kakak.........!!!" teriaknya.

Kemudian Arya melihatnya, ternyata sosok kecil itu tidak lain dan tidak bukan adalah anak kandung dari Pak Hartoso yang berarti saudara angkat dari Arya.

"Reika?" kata Arya kaget.

Reika masih memeluknya dengan erat, Reika adalah anak perempuan yang enerjik. Dia mempunyai rambut hitam yang diikat twintail, dia lebih muda 2 tahun dari Arya. Jadi dia masih berada di Sekolah Menengah Pertama, tingginya hanya sampai bahu Arya. Itulah sebabnya ia sering bergelantung di leher Arya.

"Kakak......kakak.....kenapa kakak jarang sekali berkunjung" tanyanya sambil masih memeluk dengan erat.

"Hehehe kau tau banyak hal yang harus dilakukan"

"Tetap saja harusnya kakak datang menengok Reika" jawabnya manja.

Anak ini pikir Arya, dia selalu seperti ini. Hal inilah salah satu alasan Arya terkadang malas untuk menuju Rumah Utama, ada adik angkatnya yang sangat manja kepadanya.

"Yosh yosh bisakah kau melepaskan kakak mu ini?" kata Arya sambil mengelus-elus kepala Reika.

"Tidak mau, nanti kakak pergi lagi" jawabnya sambil menengadah dan menatap mata Arya.

Imutnya pikir Arya, tapi dia langsung menampar dirinya sendiri sambil berkata dalam hati. Sadar kawan dia itu adikmu.

"Kenapa kakak menampar diri kakak sendiri?"

"Ahh tidak ada, hanya mengetes daya tahan pipiku saja" jawab Arya sambil mengelus pipinya yang memerah karena sakit.

"Enaknya......Reika ayah juga mau dong dipeluk" celetuk Pak Hartoso.

"Ogah........., Reika mendingan peluk Kak Arya daripada Ayah" jawab Reika ketus.

"Ehhh kenapa?"

"Ayah bau, gak pernah mandi wekk........" kata Reika sambil menjulurkan lidah.

"Ehhh.....apa? sungguh? Betulkah itu Arya?" kata Pak Hartoso sambil mencium-cium badanya sendiri.

"E.....itu aku tidak tahu menahu soal itu yah" jawab Arya sambil menahan tawa.

Salah satu kelemahan Pak Hartoso adalah anak perempuan semata wayangnya ini, jika Reika ada pasti Pak Hartoso yang notabenenya adalah pemimpin satu negara akan terlihat konyol di depan anaknya.

"Kak......Kak Arya?" celetuk Reika.

"Ada apa?" jawab Arya sambil tersenyum.

"Reika mempunyai tugas yang sulit dari sekolah, kakak bantuin dong, iyaa ya ya"

"Serius, jangan bercanda Reika. Kamu itu salah satu anak paling pintar di sekolahmu kan?" jawab Arya curiga.

"Iyaa serius, jadi kakak tolong bantu Reika ya? Reika mohon" katanya dengan wajah memelas.

"Hah......iya-iya kakak bantu. Eitsss tapi tunggu dulu, bukan matematika kan?"

"Hahaha iya tenang saja bukan matematika kok" jawabnya riang.

Kenapa dia bisa kalah dengan permohonan Reika, apa dia tertular dari Pak Hartoso yaa?.

"Ayah aku akan menemani Reika untuk mengerjakan tugas sekolahnya, dan mungkin nanti akan langsung pulang"

"Baiklah, hati-hati di jalan" jawab Pak Hartoso sambil tersenyum.

"Dahh......Ayah" kata Reika sambil melambaikan tangan pada ayahnya.

Reika menggandeng tangan Arya dan menyeretnya menuju kamarnya. Arya yang sudah pasrah hanya mengikuti kemana kakinya membawanya melangkah. Kamar Reika berada tepat disamping ruang kerja Pak Hartoso, mungkin karena dia ingin mengawasi anak tercintanya.

Sesampainya di kamar Reika. Arya disuruh duduk di meja belajar yang berada ditengah-tengah kamar, Arya melihat sekeliling kamar adiknya itu. Sama seperti ruang kerja Pak Hartoso, tidak ada yang berubah. Persis seperti yang ada diingatanya.

"Ini dia tugasnya kak" kata Reika memecahkan lamunan Arya.

"Sini kakak lihat, Ohh ini sih gampang caranya itu......" kata Arya mulai menjelaskan.

Setelah beberapa lama menjelaskan dengan panjang lebar Arya menyadari kalau Reika tidak memerhatikan apa yang dia jelaskan.

"Reika.....sudah ku duga kau itu tidak mungkin tidak bisa mengerjakan tugas seperti ini" kata Arya.

"Ehh.....memangnya kenapa? Tugas ini memang sulit kok" jawabnya dengan wajah tidak bersalah.

"Kau memintaku untuk membantu mu hanya untuk melihat wajahku dari dekat kan?" kata Arya kesal.

"Tehee ketauan ya? Kakak tau saja" jawabnya sambil menjulurkan lidah.

"Tehee dengkul mu" jawab Arya sambil memandang lurus pada mata adiknya.

"Kenapa kakak melihat Reika seperti itu? Reika jadi malu tau"

"Reika......jangan-jangan kamu itu.........Brocon ya?"

Reaksi Reika seperti tersambar petir mendengar perkataan dari kakaknya itu, dia pun pura-pura memasang wajah sedih.

"Kakak jahat deh, bilang kalau Reika Brocon padahal kan Kakak itu saudara angkat Reika jadi bukan Brocon dong namanya tehee.." katanya sambil menjulurkan lidahnya lagi.

"Berhenti berkata tehee sambil bersifat sok imut begitu" kata Arya sambil menjitak kepala adiknya itu.

"Awww........sakit kak" kata Reika sambil memegang kepalanya dan memasang muka cemberut.

"Makanya berhenti menggoda iman kakakmu ini"

"Ini tugasnya sudah kakak selesaikan walaupun kakak tau kamu pasti bisa mengerjakanya sendiri" kata Arya lagi sambil menyodorkan kertas tugas itu pada Reika.

"Ayeye kapten, terimakasih banyak" kata Reika sambil memberi hormat.

"Kakak pergi dulu yaa" kata Arya sambil berdiri dari tempat duduknya.

"EHHH.........kenapa cepat sekali kak?" tanyanya sambil cemberut.

"Ada banyak hal yang harus aku kerjakan Reika"

"Reika tidak akan membiarkan kakak pulang begitu saja" katanya juga sambil dari tempat duduknya.

Belum sempat ia berdiri Arya dengan cepat melesat menuju pintu kamarnya dan menutupnya dari luar. Kemudian dengan cepat Arya membekukan engsel-engsel pada pintu tersebut agar tidak dapat dibuka dengan mudah.

"Kakak.......kakak......kak Arya........kenapa kakak selalu melakukan ini pada pintunya?" kata Reika sambil memukul-mukul pintu kamarnya.

"Bukankah sudah jelas? Agar kamu tidak menghalangi aku untuk pulang" jawab Arya sambil tertawa.

"Ishhh kakak..........buka........buka pintunya..........!!!" teriaknya kesal.

"Hahaha teruslah berusaha" kata Arya sambil melangkah menjauh dari pintu.

"Bye-bye Onii-chan"

Seketika Arya menghentikan langkah kakinya, dia berbalik dan kembali ke depan pintu kamar. Dia mendekatkan telinganya pada pintu kamar Reika, tidak salah lagi suara tadi adalah suara Reika. Tapi, sejak kapan dia bisa bahasa Jepang?

"Reika........Reika?" panggil Arya.

"Ehh apakah kakak memutuskan untuk tidak jadi pergi?" sahutnya antusias.

"Teruslah bermimpi adiku, aku ingin menanyakan sesuatu padamu"

"Ehh.......apa yang ingin kakak tanyakan?" suaranya terdengar kecewa.

"Apa kau...........belajar bahasa Jepang?" tanya Arya

.

"Bahasa Jepang? Apa itu? Apakah salah satu bahasa asing? Reika tidak pernah mendengarnya kak"

"Ohh begitu ya....baiklah kalau begitu"

"Memangnya kenapa kakak menanyakan hal itu?'

"Tidak apa-apa, tak usah kau pikirkan. Dah........Reika"

Arya yakin dia tadi mendengar Reika memanggilnya dengan panggilan "Onii-chan", tapi kenapa dia seakan-akan tidak mengetahui bahasa yang dia gunakan? Apakah dia sengaja? Sepertinya tidak, hal ini bukan pertama kalinya terjadi. Kadang-kadang Arya merasa berbicara dengan Reika yang sama sekali berbeda dari biasanya. Bukan adiknya yang manja, melainkan orang lain dengan tubuh Reika itu sendiri. Tapi ya sudahlah jangan terlalu dipikirkan, mungkin itu hanya perilaku usil lainya dari Reika.

Arya berjalan keluar dari Rumah Utama, beberapa pelayan ikut mengantarnya sampai ke pintu gerbang. Mereka menunduk memberi hormat padanya, Arya memutuskan sebelum pulang ia ingin membeli minuman di salah satu Supermarket dekat situ. Dia merasa haus karena harus meladeni adik angkatnya yang manja itu.

Sesampainya di Supermarket sebelum mengambil minuman ia menuju bagian yang menyediakan koran, dia juga suka membaca koran. Karena biasanya koran itu berisi tentang berita-berita terkini yang terjadi di masyarakat, terutama di koran kesukaanya. Daily Elemental.

Dia membalik-balik halaman koran itu dengan cepat, berusaha mencari-cari berita yang dapat menarik perhatianya. Dan pada akhirnya dia berhenti di sebuah halaman dengan artikel berjudul "Saatnya Kemunculan Para Elementalist Baru", dia membaca isi artikel itu dengan seksama. Elementalist, itu kata semua orang menyebut mereka, tentu saja dia tau apa itu Elementalist. Mereka adalah sepuluh orang manusia yang dianugerahi kemampuan oleh Tuhan untuk mengendalikan sepuluh elemen yang ada di dunia.

Hanya itu, hanya itulah yang dia ketahui soal mereka, padahal dia sudah sering kali mencoba mencari tau tentang Elementalist di Perpustakaan Kota. Tapi hasilnya nihil, dia tidak menemukan apapun tentang Elementalist. Seakan-akan keberadaan informasi tentang Elementalist itu sengaja dihapuskan dari sana. Bahkan di bagian buku-buku terlarang sekalipun.

Kenapa ia tertarik dengan Elementalist? Tentu saja karena kekuatanya ini, apakah kekuatanya ini ada hubunganya dengan para Elementalist. Dan dia juga merasa yakin, jika dia bisa memecahkan masalah Elementalist ini ia dapat menjawab misteri tentang ibunya sendiri. Orang yang paling ingin dia temui saat ini.

Untuk beberapa saat dia memalingkan pandangan ke arah luar etalase Supermarket itu, kemudian dia melihatnya, berdiri menunggu di halte bus dekat Supermarket. Anak perempuan cantik dengan rambut panjang berwarna hitam, dengan mata berwarna merah seperti buah apel, dia mengenakan seragam sekolah wanita yang tidak pernah Arya lihat sebelumnya. Sepertinya seragam sekolah Distrik Emas. Entah kenapa perempuan itu terasa familiar di mata Arya, seperti dia pernah melihatnya di suatu tempat, tapi ia lupa di mana itu. Saat Arya masih terpesona akan pemandangan yang ada di depanya, lamunanya terpecah oleh celetukan dari suara yang sangat dia kenal.

"Ehhh tidak kusangka kau tertarik dengan berita seperti ini kawan" kata suara itu.

Arya pun kaget dan secepat kilat menoleh kearah sumber suara tersebut, disitu berdiri orang yang sangat dia tidak ingin temui saat ini. Yang tidak lain adalah Ryan, dia mengenakan pakaian kaos dan celana jins. Pakaian santai yang biasa ia kenakan.

"Kenapa kau ada disini Wibu sialan?" tanya Arya kesal.

"Kenapa? Bukankah sudah jelas, aku tinggal dekat sini kawan"

Arya menempelkan tanganya di kepala, ia lupa bahwa si Wibu brengsek ini juga tinggal di Distrik Emas, dia pun menghela nafas panjang sambil berpikir. Kenapa dia selalu bertemu dengan Wibu ini disaat-saat tidak terduga. Lalu Arya kembali memalingkan wajahnya ke halte bus tempat perempuan dengan mata merah tadi berada. Tapi, dia sudah tidak ada disana lagi.

"Apa yang sedang kau lihat?" tanya Ryan.

"Bukan urusanmu, tadi aku melihat anak perempuan cantik, tapi karena kau datang dia menghilang" jawab Arya ketus.

"Anak perempuan? Anak perempuan dengan seragam sekolah mahal itu?" tanya Ryan kaget.

"Iyaa memangnya kenapa? Kau melihatnya juga ya? Apa kau mengenalnya?"

"Anak perempuan dengan rambut hitam dan mata merah?" tanya Ryan masih dengan ekspresi terkejut di wajahnya.

"Iyaa.........memangnya kenapa? Kenapa kau terlihat sangat terkejut" kata Arya balik bertanya.

"Mmm tidak ada sih" jawabnya misterius.

"Hey kau tau, sepertinya aku pernah melihatnya" kata Arya sambil berpikir.

"Perempuan itu? Memangnya dimana kau melihatnya?" tanya Ryan.

"Tidak hanya saja..........Ahhh itu dia kau tau tadi pagi saat aku mengigau di sekolah?" kata Arya antusias.

"Iya lalu, apa hubunganya dengan perempuan itu?" tanya Ryan bingung.

"Aku melihatnya di dalam mimpiku"

"Dalam mimpimu? Sungguh?"

"Iyaa dan bukan hanya itu saja, di mimpiku perempuan itu melemparkan bola api melalui tanganya"

Seketika wajah Ryan terlihat pucat, dia terlihat shock mendengar apa yang dikatakan Arya barusan. Arya pun heran melihat tingkah sahabatnya itu.

"Kau kenapa? Kenapa wajahmu pucat seperti itu?" tanya Arya khawatir.

"Mmm tidak ada, tidak kusangka kalian bisa saling menarik layaknya magnet" kata Ryan sambil tersenyum misterius.

"Apa maksudmu?" tanya Arya bingung sambil memiringkan kepalanya.

"Tidak usah kau pikirkan, itu tidak penting, kau mau pulang kan? Kapan-kapan mampirlah ke rumah" katanya sambil menjauh dan melambaikan tangan pada Arya.

"Teruslah bermimpi" sahut Arya.

Saat Ryan berjalan menjauh, tiba-tiba ia berhenti dan menoleh kepada Arya sambil berkata dengan wajah serius.

"Dan, Arya? Sebaiknya kau hati-hati saat perjalanan pulang. Dah....." katanya sambil berlalu meninggalkan Arya yang bingung tentang apa yang dikatakan Ryan padanya.

Terpopuler

Comments

Betty Februarti

Betty Februarti

Author ini sangat hebat!
Dia sudah merangkai ceritanya sangat jauh sebelum menulis..

2024-04-09

2

◌⑅⃝Shiro⑅◌

◌⑅⃝Shiro⑅◌

setelah baca berulang ulang. akhirnya aku sadar.
bahwa tidak ada penjelasan mengenai pasangan Elementalist generasi ketiga

2023-05-12

1

~•√Alfharyzie™

~•√Alfharyzie™

Oh iya pas baca ulang baru inget aing. Pasti itu kepribadian gandanya sireika yang bernama Reiko ntar dia jadi musuh elementalis dan siReika wafat. Huhuhu. 😭😭

2021-12-12

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Prolog 0,5
3 Chapter 01 - Elemental City
4 Chapter 02 - Keluarga Angkat
5 Chapter 03 - Pertemuan Pertama
6 Chapter 04 - Panggilan Pusat
7 Chapter 05 - Orang-Orang yang Telah Ditakdirkan
8 Chapter 06 - Kesepuluh Pengawas Ujian
9 Chapter 07 - Pelatihan Dimulai!!!
10 Chapter 08 - Si Putri Malu
11 Chapter 09 - Pengesahan dan Persiapan
12 Chapter 10 - Survive
13 Chapter 11 - Akhir Babak Pertama
14 Chapter 12 - Es vs Cahaya
15 Chapter 13 - Bentrok
16 Chapter 14 - Perbedaan Nasib
17 Chapter 15 - Sebelum Final
18 Chapter 16 - Si Genius vs Si Berbakat
19 Chapter 17 - Pelantikan
20 Chapter 18 - Kenyataan yang Harus Diterima
21 Chapter 19 - Misi Rahasia
22 Chapter 20 - Pertunangan
23 Chapter 21 - Ksatria Pentagram
24 Chapter 22 - Tarian Semanggi Berdaun Tiga
25 Chapter 23 - Kisah Tiga Saudari
26 Chapter 24 - Sang Penjaga Pohon Suci
27 Chapter 25 - Identitas
28 Chapter 26 - Stupid Date
29 Chapter 27 - Tamu Tak Diundang
30 Chapter 28 - Pride Sins
31 Chapter 29 - Pertempuran Fairy Forest
32 Chapter 30 - Reward
33 Chapter 31 - Melanjutkan Perjalanan
34 Chapter 32 - Hewan, Ramuan, dan Bahan
35 Chapter 33 - Polarian
36 Chapter 34 - Dungeon
37 Chapter 35 - Voreia Poles
38 Chapter 36 - Terpisah
39 Chapter 37 - Balas Budi
40 Chapter 38 - Tragedi
41 Chapter 39 - Permintaan
42 Chapter 40 - Mandalika
43 Chapter 41 - Murid Kejutan
44 Chapter 42 - Panggilan Konyol
45 Chapter 43 - Waktunya Perburuan
46 Chapter 44 - U.P
47 Chapter 45 - Axel & Ayra
48 Chapter 46 - Duo Battle Festival
49 Chapter 47 - Bintang Baru
50 Chapter 48 - Benang Merah Muda
51 Chapter 49 - Mole Pathway
52 Chapter 50 - Gadis Menyebalkan
53 Chapter 51 - Winter Hollow
54 Chapter 52 - Kucing dan Rubah
55 Chapter 53 - Soul Reader
56 Chapter 54 - Trio
57 Chapter 55 - Kelabang Ungu Raksasa
58 Chapter 56 - Orange Witch
59 Chapter 57 - Kontrak
60 Chapter 58 - Frostbite
61 Chapter 59 - Pendapat
62 Chapter 60 - Masalah Baru
63 Chapter 61 – Ahli
64 Chapter 62 – Atribut Terakhir
65 Chapter 63 - Sinkronisasi
66 Chapter 64 - Tetua Klan Naga
67 Chapter 65 - Vilhelm
68 Chapter 66 - Peninggalan
69 Chapter 67 - Kelemahan Selena
70 Chapter 68 - Astrid Fire Baths
71 Chapter 69 - Teknik Baru
72 Chapter 70 - Penguji Veteran
73 Chapter 71 - Ayunan Pedang Tunggal
74 Chapter 72 - Wujud Naga
75 Chapter 73 - Sudah Kubilang
76 Chapter 74 - Nasihat
77 Chapter 75 - Mysterious Voices
78 Chapter 76 - Drakenkoningin
79 Chapter 77 - Safira
80 Chapter 78 - Julukan
81 Chapter 79 - Alalea Tiba
82 Chapter 80 - Menepati Janji
83 Chapter 81 - Get Around
84 Chapter 82 - Di Bawah Pohon Kasturi
85 Chapter 83 - Melodi Sendu
86 Chapter 84 - S.O.S
87 Chapter 85 - Kapal Hantu
88 Chapter 86 - Penghuni Lautan Hitam
89 Chapter 87 - Imp Family
90 Chapter 88 - Jihyeui Cheongso
91 Chapter 89 - I Hate Them
92 Chapter 90 - Sektor Birahi
93 Chapter 91 - Kebetulan
94 Chapter 92 - Fakta Menarik
95 Chapter 93 - Minum
96 Chapter 94 - Gejolak
97 Chapter 95 - Red Witch
98 Chapter 96 - Saling Percaya
99 Chapter 97 - Rival
100 Chapter 98 - Kebangkitan Mode Servant
101 Chapter 99 - Tepes War
102 Chapter 100 - Au Revoir
103 Year-End Goal (Bakal Dihapus)
104 Chapter 101 - Oldest Demon
105 Chapter 102 - Biru dan Merah
106 Chapter 103 - Kontrol Diri
107 Chapter 104 - Sepuluh Lusin
108 Chapter 105 - Asal Bicara
109 Chapter 106 - Lunge
110 Chapter 107 - Kesalahpahaman
111 Chapter 108 - Mythical Werebeast
112 Chapter 109 - Dark Side Situation
113 Chapter 110 - Nyanko Kyōdai
114 Chapter 111 - Hobi Aneh
115 Chapter 112 - Bermain
116 Chapter 113 - Fallen
117 Episode 114 - Dasar Jurang
118 Chapter 115 - Kizuna
119 Chapter 116 - Desa Tersembunyi
120 Chapter 117 - Melacak
121 Chapter 118 - Gundah
122 Chapter 119 - Plan
123 Chapter 120 - Tagih
124 Chapter 121 - Senbonzakura
125 Chapter 122 - Zirah Hewan Buas
126 Chapter 123 - Red Smoke
127 Chapter 124 - Jack Frost
128 Chapter 125 - Come Back to Me
129 Chapter 126 - Kecewa
130 Chapter 127 - Pulih
131 Chapter 128 - Tiga Selir
132 Chapter 129 - Gagal Mengakui
133 Chapter 130 - Liburan
134 Chapter 131 - Missing
135 Chapter 132 - Sepuluh Tahun Lalu
136 Chapter 133 - Amira
137 Chapter 134 - Amira II
138 Chapter 135 - Amira III
139 Chapter 136 - Badai Mendekat
140 Chapter 137 - Rage
141 Chapter 138 - Hancur
142 Chapter 139 - You Know I Can't
143 Episode 140 - Ketahuan
144 Chapter 141 - Psychiatric Hospital
145 Chapter 142 - Lagu mu Untuk ku
146 Chapter 143 - My Song for You
147 Chapter 144 - Tanpa Tipe
148 Chapter 145 - Serba Salah
149 Chapter 146 - Berangkat ke Magihavoc
150 Chapter 147 - Dozemary Lake
151 Chapter 148 - Ujian Masuk
152 Chapter 149 - Offer
153 Chapter 150 - Choice
154 Chapter 151 - Licik
155 Chapter 152 - White vs Merlin
156 Chapter 153 - Rahasia Gigi
157 Chapter 154 - Kejutan
158 Chapter 155 - Hubungan
159 Chapter 156 - Five Great Academy
160 Chapter 157 - Taruhan
161 Chapter 158 - Ban
162 Chapter 159 - Roommate
163 Chapter 160 - Pesan Sang Kakak
164 Chapter 161 - Gathering
165 Chapter 162 - The Figment Squadron
166 Chapter 163 - Bakat Mengajar
167 Chapter 164 - Yellow Witch
168 Chapter 165 - Divina Academy Selection
169 Chapter 166 - Wakil
170 Chapter 167 - Pesta Dansa
171 Chapter 168 - Sindrom Bintang Jatuh
172 Chapter 169 - Lima Menit Pembukaan
173 Chapter 170 - Madam of Corpses and Box Prince
174 Chapter 171 - Eleanor
175 Chapter 172 - Life Drain
176 Chapter 173 - Clam Up
177 Chapter 174 - Sihir Kuno
178 Chapter 175 - Kelima Abdi
179 Chapter 176 - Green Witch
180 Chapter 177 - Intens
181 Chapter 178 - Escape
182 Episode 179 - Persea dan Asal Usul Penyihir Hijau
183 Chapter 180 - Dampak
184 Chapter 181 - Hibernasi
185 Chapter 182 - Moment
186 Chapter 183 - Lelaki Tulen
187 Chapter 184 - Regu Ekspedisi Atlantos
188 Chapter 185 - Arun Jeram
189 Chapter 186 - Save The Courier
190 Chapter 187 - Bernafas Dalam Air?
191 Chapter 188 - Diterima
192 Chapter 189 - Sea Faction
193 Chapter 190 - Kondisi Khusus
194 Chapter 191 - Reality
195 Chapter 192 - Wanio vs Arya
196 Chapter 193 - Perubahan Sikap
197 Chapter 194 - Traitor
198 Chapter 195 - Fungsi Tamatebako
199 Chapter 196 - Kemunculan Pusaka Lainnya
200 Chapter 197 - Blue Witch
201 Chapter 198 - Help Arrived
202 Chapter 199 - Berbagi Kesedihan
203 Chapter 200 - Master
204 Chapter 201 - Seperating Enemies
205 Chapter 202 - Kemenangan
206 Chapter 203 - Impian Diondra
207 Chapter 204 - Pink
208 Chapter 205 - Fifth Daughter
209 Chapter 206 - Reiko
210 Chapter 207 - Big Scheme
211 Chapter 208 - Uluran Tangan
212 Chapter 209 - False Vanguard
213 Chapter 210 - Hanguk
214 Chapter 211 - Golden Bullet
215 Chapter 212 - Teddy Bear
216 Chapter 213 - Proyek Rahasia
217 Chapter 214 - Suaraku
218 Chapter 215 - Tekad Ali
219 Chapter 216 - Metal Elementalist Goal
220 Chapter 217 - Julius Caesar
221 Chapter 218 - Veni Vedi Vici
222 Chapter 219 - Kejar
223 Chapter 220 - Almost
224 Chapter 221 - Dalang Kejadian Whitechapel dan Pemburu Wanita Dalam Legenda
225 Chapter 222 - Wakiya Ronin Mode
226 Chapter 223 - Cara Keluar
227 Chapter 224 - Gatekeeper
228 Chapter 225 - Ringkasan
229 Chapter 226 - Switch
230 Chapter 227 - Musuh Tidak Terduga
231 Chapter 228 - Who Are You?
232 Chapter 229 - Crystal And Wind
233 Chapter 230 - Lord
234 Chapter 231 - Kabar Buruk
235 Chapter 232 - Coup D'etat
236 Chapter 233 - Pengecut Bernama Manusia
237 Chapter 234 - Terungkap
238 Chapter 235 - Departure
239 Chapter 236 - Reuni Nista
240 Chapter 237 - Merelakan Segalanya
241 Chapter 238 - Break Through
242 Chapter 239 - Siap Mati
243 Chapter 240 - Tenka Goken
244 Chapter 241 - Pengawal Pribadi
245 Chapter 242 - Nasution Request
246 Chapter 243 - Janji Pasta
247 Chapter 244 - Her True Feeling
248 Chapter 245 - Elemental City Has Fallen
249 Chapter 246 - Doa
250 Chapter 247 - Topan Setelah Badai
251 Chapter 248 - Louis Frost
252 Chapter 249 - Dissent
253 Chapter 250 - Munafik
254 Chapter 251 - Sumpah Hidup-Mati
255 Chapter 252 - Ichiban no Takaramono
256 Chapter 253 - Permulaan
257 Chapter 254 - Show Off
258 Chapter 255 - Pewaris
259 Chapter 256 - Intuisi Orion
260 Chapter 257 - Fatum Bergerak
261 Chapter 258 - Sasageyo
262 Chapter 259 - Invigilator
263 Chapter 260 - Invigilator II
264 Chapter 261 - Invigilator III
265 Chapter 262 - Ancaman
266 Chapter 263 - DLBK
267 Chapter 264 - Target
268 Chapter 265 - Satu Tujuan
269 Chapter 266 - Overwhelmed
270 Chapter 267 - Kesetiaan
271 Chapter 268 - Corrosion
272 Chapter 269 - Patah
273 Chapter 270 - Reason
274 Chapter 271 - Ketemu
275 Chapter 272 - Nothing
276 Chapter 273 - Ungkap
277 Chapter 274 - Ace
278 Chapter 275 - Titipan
279 Chapter 276 - Perfect Artificial Elementalist
280 Chapter 277 - Clairvoyance
281 Chapter 278 - Saran
282 Chapter 279 - Everything
283 Chapter 280 - Lost
284 Chapter 281 - Genting
285 Chapter 282 - Karma
286 Chapter 283 - Rencana Terakhir
287 Chapter 284 - An Eye for An Eye
288 Chapter 285 - Pindah Tangan
289 Chapter 286 - Marah
290 Chapter 287 - Santo Espada
291 Chapter 288 - Unbeatable
292 Chapter 289 - Titah
293 Chapter 290 - Winner
294 Chapter 291 - Gerbang Dimensi
295 Chapter 292 - Farewell
296 Chapter 293 - Pasca
297 Chapter 294 - Sayonara
298 Chapter 295 - Deal
299 Chapter 296 - Mahaguru
300 Chapter 297 - Stranger Things
301 Chapter 298 - Nil
302 Chapter 299 - Harapan dan Impian
303 Chapter 300 - Aitakatta (End)
Episodes

Updated 303 Episodes

1
Prolog
2
Prolog 0,5
3
Chapter 01 - Elemental City
4
Chapter 02 - Keluarga Angkat
5
Chapter 03 - Pertemuan Pertama
6
Chapter 04 - Panggilan Pusat
7
Chapter 05 - Orang-Orang yang Telah Ditakdirkan
8
Chapter 06 - Kesepuluh Pengawas Ujian
9
Chapter 07 - Pelatihan Dimulai!!!
10
Chapter 08 - Si Putri Malu
11
Chapter 09 - Pengesahan dan Persiapan
12
Chapter 10 - Survive
13
Chapter 11 - Akhir Babak Pertama
14
Chapter 12 - Es vs Cahaya
15
Chapter 13 - Bentrok
16
Chapter 14 - Perbedaan Nasib
17
Chapter 15 - Sebelum Final
18
Chapter 16 - Si Genius vs Si Berbakat
19
Chapter 17 - Pelantikan
20
Chapter 18 - Kenyataan yang Harus Diterima
21
Chapter 19 - Misi Rahasia
22
Chapter 20 - Pertunangan
23
Chapter 21 - Ksatria Pentagram
24
Chapter 22 - Tarian Semanggi Berdaun Tiga
25
Chapter 23 - Kisah Tiga Saudari
26
Chapter 24 - Sang Penjaga Pohon Suci
27
Chapter 25 - Identitas
28
Chapter 26 - Stupid Date
29
Chapter 27 - Tamu Tak Diundang
30
Chapter 28 - Pride Sins
31
Chapter 29 - Pertempuran Fairy Forest
32
Chapter 30 - Reward
33
Chapter 31 - Melanjutkan Perjalanan
34
Chapter 32 - Hewan, Ramuan, dan Bahan
35
Chapter 33 - Polarian
36
Chapter 34 - Dungeon
37
Chapter 35 - Voreia Poles
38
Chapter 36 - Terpisah
39
Chapter 37 - Balas Budi
40
Chapter 38 - Tragedi
41
Chapter 39 - Permintaan
42
Chapter 40 - Mandalika
43
Chapter 41 - Murid Kejutan
44
Chapter 42 - Panggilan Konyol
45
Chapter 43 - Waktunya Perburuan
46
Chapter 44 - U.P
47
Chapter 45 - Axel & Ayra
48
Chapter 46 - Duo Battle Festival
49
Chapter 47 - Bintang Baru
50
Chapter 48 - Benang Merah Muda
51
Chapter 49 - Mole Pathway
52
Chapter 50 - Gadis Menyebalkan
53
Chapter 51 - Winter Hollow
54
Chapter 52 - Kucing dan Rubah
55
Chapter 53 - Soul Reader
56
Chapter 54 - Trio
57
Chapter 55 - Kelabang Ungu Raksasa
58
Chapter 56 - Orange Witch
59
Chapter 57 - Kontrak
60
Chapter 58 - Frostbite
61
Chapter 59 - Pendapat
62
Chapter 60 - Masalah Baru
63
Chapter 61 – Ahli
64
Chapter 62 – Atribut Terakhir
65
Chapter 63 - Sinkronisasi
66
Chapter 64 - Tetua Klan Naga
67
Chapter 65 - Vilhelm
68
Chapter 66 - Peninggalan
69
Chapter 67 - Kelemahan Selena
70
Chapter 68 - Astrid Fire Baths
71
Chapter 69 - Teknik Baru
72
Chapter 70 - Penguji Veteran
73
Chapter 71 - Ayunan Pedang Tunggal
74
Chapter 72 - Wujud Naga
75
Chapter 73 - Sudah Kubilang
76
Chapter 74 - Nasihat
77
Chapter 75 - Mysterious Voices
78
Chapter 76 - Drakenkoningin
79
Chapter 77 - Safira
80
Chapter 78 - Julukan
81
Chapter 79 - Alalea Tiba
82
Chapter 80 - Menepati Janji
83
Chapter 81 - Get Around
84
Chapter 82 - Di Bawah Pohon Kasturi
85
Chapter 83 - Melodi Sendu
86
Chapter 84 - S.O.S
87
Chapter 85 - Kapal Hantu
88
Chapter 86 - Penghuni Lautan Hitam
89
Chapter 87 - Imp Family
90
Chapter 88 - Jihyeui Cheongso
91
Chapter 89 - I Hate Them
92
Chapter 90 - Sektor Birahi
93
Chapter 91 - Kebetulan
94
Chapter 92 - Fakta Menarik
95
Chapter 93 - Minum
96
Chapter 94 - Gejolak
97
Chapter 95 - Red Witch
98
Chapter 96 - Saling Percaya
99
Chapter 97 - Rival
100
Chapter 98 - Kebangkitan Mode Servant
101
Chapter 99 - Tepes War
102
Chapter 100 - Au Revoir
103
Year-End Goal (Bakal Dihapus)
104
Chapter 101 - Oldest Demon
105
Chapter 102 - Biru dan Merah
106
Chapter 103 - Kontrol Diri
107
Chapter 104 - Sepuluh Lusin
108
Chapter 105 - Asal Bicara
109
Chapter 106 - Lunge
110
Chapter 107 - Kesalahpahaman
111
Chapter 108 - Mythical Werebeast
112
Chapter 109 - Dark Side Situation
113
Chapter 110 - Nyanko Kyōdai
114
Chapter 111 - Hobi Aneh
115
Chapter 112 - Bermain
116
Chapter 113 - Fallen
117
Episode 114 - Dasar Jurang
118
Chapter 115 - Kizuna
119
Chapter 116 - Desa Tersembunyi
120
Chapter 117 - Melacak
121
Chapter 118 - Gundah
122
Chapter 119 - Plan
123
Chapter 120 - Tagih
124
Chapter 121 - Senbonzakura
125
Chapter 122 - Zirah Hewan Buas
126
Chapter 123 - Red Smoke
127
Chapter 124 - Jack Frost
128
Chapter 125 - Come Back to Me
129
Chapter 126 - Kecewa
130
Chapter 127 - Pulih
131
Chapter 128 - Tiga Selir
132
Chapter 129 - Gagal Mengakui
133
Chapter 130 - Liburan
134
Chapter 131 - Missing
135
Chapter 132 - Sepuluh Tahun Lalu
136
Chapter 133 - Amira
137
Chapter 134 - Amira II
138
Chapter 135 - Amira III
139
Chapter 136 - Badai Mendekat
140
Chapter 137 - Rage
141
Chapter 138 - Hancur
142
Chapter 139 - You Know I Can't
143
Episode 140 - Ketahuan
144
Chapter 141 - Psychiatric Hospital
145
Chapter 142 - Lagu mu Untuk ku
146
Chapter 143 - My Song for You
147
Chapter 144 - Tanpa Tipe
148
Chapter 145 - Serba Salah
149
Chapter 146 - Berangkat ke Magihavoc
150
Chapter 147 - Dozemary Lake
151
Chapter 148 - Ujian Masuk
152
Chapter 149 - Offer
153
Chapter 150 - Choice
154
Chapter 151 - Licik
155
Chapter 152 - White vs Merlin
156
Chapter 153 - Rahasia Gigi
157
Chapter 154 - Kejutan
158
Chapter 155 - Hubungan
159
Chapter 156 - Five Great Academy
160
Chapter 157 - Taruhan
161
Chapter 158 - Ban
162
Chapter 159 - Roommate
163
Chapter 160 - Pesan Sang Kakak
164
Chapter 161 - Gathering
165
Chapter 162 - The Figment Squadron
166
Chapter 163 - Bakat Mengajar
167
Chapter 164 - Yellow Witch
168
Chapter 165 - Divina Academy Selection
169
Chapter 166 - Wakil
170
Chapter 167 - Pesta Dansa
171
Chapter 168 - Sindrom Bintang Jatuh
172
Chapter 169 - Lima Menit Pembukaan
173
Chapter 170 - Madam of Corpses and Box Prince
174
Chapter 171 - Eleanor
175
Chapter 172 - Life Drain
176
Chapter 173 - Clam Up
177
Chapter 174 - Sihir Kuno
178
Chapter 175 - Kelima Abdi
179
Chapter 176 - Green Witch
180
Chapter 177 - Intens
181
Chapter 178 - Escape
182
Episode 179 - Persea dan Asal Usul Penyihir Hijau
183
Chapter 180 - Dampak
184
Chapter 181 - Hibernasi
185
Chapter 182 - Moment
186
Chapter 183 - Lelaki Tulen
187
Chapter 184 - Regu Ekspedisi Atlantos
188
Chapter 185 - Arun Jeram
189
Chapter 186 - Save The Courier
190
Chapter 187 - Bernafas Dalam Air?
191
Chapter 188 - Diterima
192
Chapter 189 - Sea Faction
193
Chapter 190 - Kondisi Khusus
194
Chapter 191 - Reality
195
Chapter 192 - Wanio vs Arya
196
Chapter 193 - Perubahan Sikap
197
Chapter 194 - Traitor
198
Chapter 195 - Fungsi Tamatebako
199
Chapter 196 - Kemunculan Pusaka Lainnya
200
Chapter 197 - Blue Witch
201
Chapter 198 - Help Arrived
202
Chapter 199 - Berbagi Kesedihan
203
Chapter 200 - Master
204
Chapter 201 - Seperating Enemies
205
Chapter 202 - Kemenangan
206
Chapter 203 - Impian Diondra
207
Chapter 204 - Pink
208
Chapter 205 - Fifth Daughter
209
Chapter 206 - Reiko
210
Chapter 207 - Big Scheme
211
Chapter 208 - Uluran Tangan
212
Chapter 209 - False Vanguard
213
Chapter 210 - Hanguk
214
Chapter 211 - Golden Bullet
215
Chapter 212 - Teddy Bear
216
Chapter 213 - Proyek Rahasia
217
Chapter 214 - Suaraku
218
Chapter 215 - Tekad Ali
219
Chapter 216 - Metal Elementalist Goal
220
Chapter 217 - Julius Caesar
221
Chapter 218 - Veni Vedi Vici
222
Chapter 219 - Kejar
223
Chapter 220 - Almost
224
Chapter 221 - Dalang Kejadian Whitechapel dan Pemburu Wanita Dalam Legenda
225
Chapter 222 - Wakiya Ronin Mode
226
Chapter 223 - Cara Keluar
227
Chapter 224 - Gatekeeper
228
Chapter 225 - Ringkasan
229
Chapter 226 - Switch
230
Chapter 227 - Musuh Tidak Terduga
231
Chapter 228 - Who Are You?
232
Chapter 229 - Crystal And Wind
233
Chapter 230 - Lord
234
Chapter 231 - Kabar Buruk
235
Chapter 232 - Coup D'etat
236
Chapter 233 - Pengecut Bernama Manusia
237
Chapter 234 - Terungkap
238
Chapter 235 - Departure
239
Chapter 236 - Reuni Nista
240
Chapter 237 - Merelakan Segalanya
241
Chapter 238 - Break Through
242
Chapter 239 - Siap Mati
243
Chapter 240 - Tenka Goken
244
Chapter 241 - Pengawal Pribadi
245
Chapter 242 - Nasution Request
246
Chapter 243 - Janji Pasta
247
Chapter 244 - Her True Feeling
248
Chapter 245 - Elemental City Has Fallen
249
Chapter 246 - Doa
250
Chapter 247 - Topan Setelah Badai
251
Chapter 248 - Louis Frost
252
Chapter 249 - Dissent
253
Chapter 250 - Munafik
254
Chapter 251 - Sumpah Hidup-Mati
255
Chapter 252 - Ichiban no Takaramono
256
Chapter 253 - Permulaan
257
Chapter 254 - Show Off
258
Chapter 255 - Pewaris
259
Chapter 256 - Intuisi Orion
260
Chapter 257 - Fatum Bergerak
261
Chapter 258 - Sasageyo
262
Chapter 259 - Invigilator
263
Chapter 260 - Invigilator II
264
Chapter 261 - Invigilator III
265
Chapter 262 - Ancaman
266
Chapter 263 - DLBK
267
Chapter 264 - Target
268
Chapter 265 - Satu Tujuan
269
Chapter 266 - Overwhelmed
270
Chapter 267 - Kesetiaan
271
Chapter 268 - Corrosion
272
Chapter 269 - Patah
273
Chapter 270 - Reason
274
Chapter 271 - Ketemu
275
Chapter 272 - Nothing
276
Chapter 273 - Ungkap
277
Chapter 274 - Ace
278
Chapter 275 - Titipan
279
Chapter 276 - Perfect Artificial Elementalist
280
Chapter 277 - Clairvoyance
281
Chapter 278 - Saran
282
Chapter 279 - Everything
283
Chapter 280 - Lost
284
Chapter 281 - Genting
285
Chapter 282 - Karma
286
Chapter 283 - Rencana Terakhir
287
Chapter 284 - An Eye for An Eye
288
Chapter 285 - Pindah Tangan
289
Chapter 286 - Marah
290
Chapter 287 - Santo Espada
291
Chapter 288 - Unbeatable
292
Chapter 289 - Titah
293
Chapter 290 - Winner
294
Chapter 291 - Gerbang Dimensi
295
Chapter 292 - Farewell
296
Chapter 293 - Pasca
297
Chapter 294 - Sayonara
298
Chapter 295 - Deal
299
Chapter 296 - Mahaguru
300
Chapter 297 - Stranger Things
301
Chapter 298 - Nil
302
Chapter 299 - Harapan dan Impian
303
Chapter 300 - Aitakatta (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!