Mereka berempat kembali ke mobil, melanjutkan perjalanan. Tanpa terasa sore itu telah berubah menjadi gelap. Yuki terperanjat. Teringat bahwa dia akan pergi ke tempat rental pengetikan komputer untuk mengerjakan tugas kuliahnya.
"Mas Rangga, kita bisa pulang sekarang?" pinta Yuki.
"Kenapa? Kamu lapar? Kita bisa kok mampir ke rumah makan," ujar Rangga.
"Eh, bukan itu Mas. Aku ada- ...." Kalimat Yuki terpotong oleh rengekan kedua anak Bu Yayah.
"Mas Rangga, Wildan lapar!"
"Aurel juga!"
Kedua anak itu berteriak kelaparan. Rangga menatap Yuki, seolah meminta pendapatnya tentang persoalan perut kedua anak kecil itu.
"Hmm, baiklah, ikut Mas Rangga aja maunya gimana," jawab Yuki mengalah.
"Kita makan dulu ya? Mau di mana makannya??" tanya Rangga pada anak-anak itu dengan tersenyum.
"Di restoran pak tua berkacamata!" ujar mereka.
"Hahaha, oh ya," jawab Rangga memutar mobilnya ke arah restoran yang dimaksud.
Yuki nampak gusar. Pasti kalo kemalaman, aku nggak bisa menyelesaikan tugas karena pasti rental komputer udah tutup. Fyuh!
"Kenapa kamu terlihat cemas? Nggak usah cemas, ibu mereka nggak akan marah kalo kamu pulang malam denganku dan anak-anaknya. Mereka pun udah mandi. Nanti mereka pulang langsung tidur, kan?"
Ah, Mas Rangga, kamu kebapakan sekali.
"Nggak apa-apa, Mas. Ayo kita masuk. Anak-anak udah lapar!" ajak Yuki, membuat Rangga kembali tersenyum.
Kok, ini seperti adegan suami-istri dan anak-anaknya di sinetron ya?
Yuki menggandeng kedua anak itu masuk ke restoran, lalu memilih tempat duduk dekat jendela. Tempat favoritnya.
Mereka memesan beberapa paket makanan dan langsung dibayar oleh Rangga. Kedua anak itu harus makan sambil disuapi. Untunglah Wildan dan Aurel mau makan dengan duduk tenang. Yuki menyuapi kedua anak itu dengan sabar. Baru kali ini dia menyuapi dua orang anak kecil. Dia sendiri menunggu kedua anak itu menghabiskan makan mereka, barulah dia sendiri akan mulai makan.
Rangga memperhatikan kesabaran gadis itu. Sementara Yuki tak memperhatikan Rangga karena sibuk menyuapi dua anak majikannya. Sampai-sampai Yuki mengikat rambut ikalnya ke atas agar tak mengenai saus di atas piring.
Setelah selesai, Rangga menyuruhnya untuk makan.
"Makan dulu, anak-anak biar aku yang urus. Ayo Wildan, Aurel, kita mainan dulu! Kalian menghabiskan makanan dengan baik, jadi sebagai bonusnya kalian boleh mainan sepuasnya di tempat bermain!"
Rangga mengedipkan matanya pada Yuki tanda bahwa dia bisa makan dengan tenang dan anak-anak akan aman bersamanya.
"Asyiiiikkk!! Ayo Mas Rangga!" teriak kedua anak itu sangat senang.
Yuki tersenyum melihat mereka.
"Manisnyaa ... keluarga yang bahagia. Ah, andaikan saja ...." gumamnya sendiri sesaat melupakan tugas kuliahnya.
Yuki segera memakan paket nasinya yang telah dingin. Saat dia selesai makan, Rangga dan anak-anak belum juga kembali. Dia melirik jam tangannya. Sudah pukul tujuh malam, satu jam lagi anak-anak itu akan mengantuk. Terlebih lagi, dia pun harus menyelesaikan tugasnya. Itu yang membuat kepalanya pusing.
Akhirnya sepuluh menit kemudian, Rangga turun bersama anak-anak. Mereka membawa dua buah balon dengan riang.
"Yuk, kita pulang dulu!" ujar Rangga.
Yuki beranjak dari duduk, lalu menggandeng Wildan, sementara Aurel sedang digendong oleh Rangga.
Ini ... seperti iklan Keluarga Berencana.
Yuki menyamakan dirinya dengan gambar-gambar di kampung Bu Yayah. Kampung Bu Yayah ditunjuk sebagai kampung KB. Jadi, beberapa tembok digambari dengan sebuah keluarga yang terdiri dari bapak, ibu dan dua anak dengan posisi sama dengannya saat ini. Bapak menggendong seorang anak, dan ibu menggandeng anak satunya lagi.
Pikiran Yuki buyar ketika mereka telah berada di sebelah mobil Rangga. Kedua anak-anak meminta untuk duduk di depan. Mereka berebut jok depan.
"Aku mau duduk depan!" ujar Wildan sengit.
"Aku yang duduk depan!!" teriak Aurel tak kalah sengit.
"Ya udah, kalian duduk depan, tapi jangan bertengkar!" lerai Yuki.
"Aku mau dipangku Mbak Kiki!!" seru Aurel.
"Pokoknya aku mau duduk depan!" ujar Wildan tak mau kalah.
Nggak jadi harmonis.
"Hayo, jangan bertengkar. Wildan duduk depan. Aurel, dipangku Mas Rangga, ya?" Kalimat Rangga mampu mengalihkan pertengkaran keduanya.
"Mas Rangga, apa nggak ganggu nyetirnya?" tutur Yuki ragu.
"Nggak, asal Aurel janji kalo selama perjalanan nggak boleh usil, ya?" pesan Rangga pada Aurel.
"Iya! Mbak Kiki duduk mana?" tanya bocah itu lugu.
"Mbak Kiki di belakang. Kan Mas Wildan udah besar, kalo sebelahan sama Mbak Kiki, nanti sempit," terang Yuki.
"Oh, ya."
Akhirnya drama berantem kedua anak itu tak jadi meledak. Mereka patuh. Selama perjalanan tak ada yang usil. Mereka berdua jadi anak yang manis dan tenang.
Mereka berempat sampai di rumah setengah jam kemudian. Bu Yayah dan Pak Hendra menyambut anak-anak mereka yang riuh bercerita tentang acara jalan-jalan sore tadi.
Yuki masuk dan melihat rumah berantakan oleh beberapa piring dan panci yang rupanya dipakai oleh Pak Hendra dan Bu Yayah untuk makan malam. Gadis itu sebenarnya ingin segera pamit keluar, tapi kalau melihat rumah berantakan, pikirannya pun belum tenang, karena itu adalah tugasnya di rumah. Akhirnya dia memutuskan untuk mencuci piring-piring dan panci kotor dulu. Setumpuk baju kering dan bersih yang diangkat oleh Pak Hendra di atas sofa pun mengganggu pikirannya. Dia melipat dulu baju-baju dulu.
Yuki hampir menangis melihat jam di dinding. Dia segera mengangkat lipatan baju ke dalam kamarnya untuk nanti disetrika, lalu beranjak menemui majikannya untuk berpamitan ke rental komputer.
"Bu, saya mau ijin ke rental komputer," ujarnya sopan.
"Kok malem-malem?? Anak gadis keluar jam segini, mau pulang jam berapa??! Kamu tau bahaya, kan?? Jangan-jangan kamu mau ketemuan sama cowok kayak waktu itu!!" seru Bu Yayah.
"Nggak, Bu. Saya mau mengerjakan tugas buat besok pagi."
"Huh, kamu bohong, ya? Mana ada rental komputer yang buka jam segini??" Bu Yayah melotot pada gadis itu.
Yuki menghela napas. "Ya udah, Bu."
Gadis itu berbalik. Kedua pelupuk matanya menghangat. Bulir-bulir air tak dapat ia tahan. Dia mengusap air mata yang terjun bebas di kedua pipinya. Rasanya kecewa, sedih dan kesal berkecamuk di hatinya. Sebuah tugas begitu berarti untuk seorang yang bertanggung jawab seperti dirinya.
Langkah Yuki terhenti saat di depannya sudah berdiri seorang cowok yang sudah dia sangka, Rangga.
"Kenapa menangis? Ini yang kedua kalinya aku melihatmu menangis. Masa seorang Kiki menyerah begitu aja! Pakailah laptopku!" ujar Rangga.
Yuki menatap Rangga.
Kenapa hari ini aku begitu beruntung?? Apa Dewi Fortuner sedang berpihak padaku??
Yuki teringat dengan mobil baru Rangga bermerk seperti yang dia sebut Dewi tadi.
"Makasih banyak, Mas Rangga!" ucap Yuki membungkukkan badan.
"Tapi kamu ngerjain tugasnya di kamarku, karena printernya tak boleh terguncang."
Aaapaaa??!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
riani syifa
Fortuna.... 😂😂
2022-09-09
1
тια
kaya keluarga bahagia 😆
2022-01-30
0
💜LAVENDER💜
Kata 'mainan' sebaiknya diganti dengan kata 'bermain' Kak 😁
2021-10-17
0