Perhatian Rangga 2

Mereka berempat kembali ke mobil, melanjutkan perjalanan. Tanpa terasa sore itu telah berubah menjadi gelap. Yuki terperanjat. Teringat bahwa dia akan pergi ke tempat rental pengetikan komputer untuk mengerjakan tugas kuliahnya.

"Mas Rangga, kita bisa pulang sekarang?" pinta Yuki.

"Kenapa? Kamu lapar? Kita bisa kok mampir ke rumah makan," ujar Rangga.

"Eh, bukan itu Mas. Aku ada- ...." Kalimat Yuki terpotong oleh rengekan kedua anak Bu Yayah.

"Mas Rangga, Wildan lapar!"

"Aurel juga!"

Kedua anak itu berteriak kelaparan. Rangga menatap Yuki, seolah meminta pendapatnya tentang persoalan perut kedua anak kecil itu.

"Hmm, baiklah, ikut Mas Rangga aja maunya gimana," jawab Yuki mengalah.

"Kita makan dulu ya? Mau di mana makannya??" tanya Rangga pada anak-anak itu dengan tersenyum.

"Di restoran pak tua berkacamata!" ujar mereka.

"Hahaha, oh ya," jawab Rangga memutar mobilnya ke arah restoran yang dimaksud.

Yuki nampak gusar. Pasti kalo kemalaman, aku nggak bisa menyelesaikan tugas karena pasti rental komputer udah tutup. Fyuh!

"Kenapa kamu terlihat cemas? Nggak usah cemas, ibu mereka nggak akan marah kalo kamu pulang malam denganku dan anak-anaknya. Mereka pun udah mandi. Nanti mereka pulang langsung tidur, kan?"

Ah, Mas Rangga, kamu kebapakan sekali.

"Nggak apa-apa, Mas. Ayo kita masuk. Anak-anak udah lapar!" ajak Yuki, membuat Rangga kembali tersenyum.

Kok, ini seperti adegan suami-istri dan anak-anaknya di sinetron ya?

Yuki menggandeng kedua anak itu masuk ke restoran, lalu memilih tempat duduk dekat jendela. Tempat favoritnya.

Mereka memesan beberapa paket makanan dan langsung dibayar oleh Rangga. Kedua anak itu harus makan sambil disuapi. Untunglah Wildan dan Aurel mau makan dengan duduk tenang. Yuki menyuapi kedua anak itu dengan sabar. Baru kali ini dia menyuapi dua orang anak kecil. Dia sendiri menunggu kedua anak itu menghabiskan makan mereka, barulah dia sendiri akan mulai makan.

Rangga memperhatikan kesabaran gadis itu. Sementara Yuki tak memperhatikan Rangga karena sibuk menyuapi dua anak majikannya. Sampai-sampai Yuki mengikat rambut ikalnya ke atas agar tak mengenai saus di atas piring.

Setelah selesai, Rangga menyuruhnya untuk makan.

"Makan dulu, anak-anak biar aku yang urus. Ayo Wildan, Aurel, kita mainan dulu! Kalian menghabiskan makanan dengan baik, jadi sebagai bonusnya kalian boleh mainan sepuasnya di tempat bermain!"

Rangga mengedipkan matanya pada Yuki tanda bahwa dia bisa makan dengan tenang dan anak-anak akan aman bersamanya.

"Asyiiiikkk!! Ayo Mas Rangga!" teriak kedua anak itu sangat senang.

Yuki tersenyum melihat mereka.

"Manisnyaa ... keluarga yang bahagia. Ah, andaikan saja ...." gumamnya sendiri sesaat melupakan tugas kuliahnya.

Yuki segera memakan paket nasinya yang telah dingin. Saat dia selesai makan, Rangga dan anak-anak belum juga kembali. Dia melirik jam tangannya. Sudah pukul tujuh malam, satu jam lagi anak-anak itu akan mengantuk. Terlebih lagi, dia pun harus menyelesaikan tugasnya. Itu yang membuat kepalanya pusing.

Akhirnya sepuluh menit kemudian, Rangga turun bersama anak-anak. Mereka membawa dua buah balon dengan riang.

"Yuk, kita pulang dulu!" ujar Rangga.

Yuki beranjak dari duduk, lalu menggandeng Wildan, sementara Aurel sedang digendong oleh Rangga.

Ini ... seperti iklan Keluarga Berencana.

Yuki menyamakan dirinya dengan gambar-gambar di kampung Bu Yayah. Kampung Bu Yayah ditunjuk sebagai kampung KB. Jadi, beberapa tembok digambari dengan sebuah keluarga yang terdiri dari bapak, ibu dan dua anak dengan posisi sama dengannya saat ini. Bapak menggendong seorang anak, dan ibu menggandeng anak satunya lagi.

Pikiran Yuki buyar ketika mereka telah berada di sebelah mobil Rangga. Kedua anak-anak meminta untuk duduk di depan. Mereka berebut jok depan.

"Aku mau duduk depan!" ujar Wildan sengit.

"Aku yang duduk depan!!" teriak Aurel tak kalah sengit.

"Ya udah, kalian duduk depan, tapi jangan bertengkar!" lerai Yuki.

"Aku mau dipangku Mbak Kiki!!" seru Aurel.

"Pokoknya aku mau duduk depan!" ujar Wildan tak mau kalah.

Nggak jadi harmonis.

"Hayo, jangan bertengkar. Wildan duduk depan. Aurel, dipangku Mas Rangga, ya?" Kalimat Rangga mampu mengalihkan pertengkaran keduanya.

"Mas Rangga, apa nggak ganggu nyetirnya?" tutur Yuki ragu.

"Nggak, asal Aurel janji kalo selama perjalanan nggak boleh usil, ya?" pesan Rangga pada Aurel.

"Iya! Mbak Kiki duduk mana?" tanya bocah itu lugu.

"Mbak Kiki di belakang. Kan Mas Wildan udah besar, kalo sebelahan sama Mbak Kiki, nanti sempit," terang Yuki.

"Oh, ya."

Akhirnya drama berantem kedua anak itu tak jadi meledak. Mereka patuh. Selama perjalanan tak ada yang usil. Mereka berdua jadi anak yang manis dan tenang.

Mereka berempat sampai di rumah setengah jam kemudian. Bu Yayah dan Pak Hendra menyambut anak-anak mereka yang riuh bercerita tentang acara jalan-jalan sore tadi.

Yuki masuk dan melihat rumah berantakan oleh beberapa piring dan panci yang rupanya dipakai oleh Pak Hendra dan Bu Yayah untuk makan malam. Gadis itu sebenarnya ingin segera pamit keluar, tapi kalau melihat rumah berantakan, pikirannya pun belum tenang, karena itu adalah tugasnya di rumah. Akhirnya dia memutuskan untuk mencuci piring-piring dan panci kotor dulu. Setumpuk baju kering dan bersih yang diangkat oleh Pak Hendra di atas sofa pun mengganggu pikirannya. Dia melipat dulu baju-baju dulu.

Yuki hampir menangis melihat jam di dinding. Dia segera mengangkat lipatan baju ke dalam kamarnya untuk nanti disetrika, lalu beranjak menemui majikannya untuk berpamitan ke rental komputer.

"Bu, saya mau ijin ke rental komputer," ujarnya sopan.

"Kok malem-malem?? Anak gadis keluar jam segini, mau pulang jam berapa??! Kamu tau bahaya, kan?? Jangan-jangan kamu mau ketemuan sama cowok kayak waktu itu!!" seru Bu Yayah.

"Nggak, Bu. Saya mau mengerjakan tugas buat besok pagi."

"Huh, kamu bohong, ya? Mana ada rental komputer yang buka jam segini??" Bu Yayah melotot pada gadis itu.

Yuki menghela napas. "Ya udah, Bu."

Gadis itu berbalik. Kedua pelupuk matanya menghangat. Bulir-bulir air tak dapat ia tahan. Dia mengusap air mata yang terjun bebas di kedua pipinya. Rasanya kecewa, sedih dan kesal berkecamuk di hatinya. Sebuah tugas begitu berarti untuk seorang yang bertanggung jawab seperti dirinya.

Langkah Yuki terhenti saat di depannya sudah berdiri seorang cowok yang sudah dia sangka, Rangga.

"Kenapa menangis? Ini yang kedua kalinya aku melihatmu menangis. Masa seorang Kiki menyerah begitu aja! Pakailah laptopku!" ujar Rangga.

Yuki menatap Rangga.

Kenapa hari ini aku begitu beruntung?? Apa Dewi Fortuner sedang berpihak padaku??

Yuki teringat dengan mobil baru Rangga bermerk seperti yang dia sebut Dewi tadi.

"Makasih banyak, Mas Rangga!" ucap Yuki membungkukkan badan.

"Tapi kamu ngerjain tugasnya di kamarku, karena printernya tak boleh terguncang."

Aaapaaa??!

Terpopuler

Comments

riani syifa

riani syifa

Fortuna.... 😂😂

2022-09-09

1

тια

тια

kaya keluarga bahagia 😆

2022-01-30

0

💜LAVENDER💜

💜LAVENDER💜

Kata 'mainan' sebaiknya diganti dengan kata 'bermain' Kak 😁

2021-10-17

0

lihat semua
Episodes
1 Pura-pura Miskin
2 Sikap Galak Majikan
3 Gara-gara Ayam
4 Queensya and the Geng
5 Bertemu Dosen
6 Si Cantik Alami
7 Asisten Dosen
8 Menjaga Toko
9 Keponakan Majikan
10 Makan Bareng
11 Mengantar ke Dokter
12 Curhatan Rangga
13 Sahabat
14 Ikut Demo
15 Terima Gaji
16 Ulah Queensya
17 Cogan Baru
18 Perhatian Rangga
19 Perhatian Rangga 2
20 Mengerjakan Tugas
21 Berangkat ke Desa
22 Rangga yang Mempesona
23 Rencana Buruk
24 Malam Naas
25 Pertolongan
26 Pengakuan Ferry
27 Kelicikan Queensya
28 Kepulangan Yuki
29 Kembali ke Rumah Bu Yayah
30 Rehat Tujuh Hari
31 Mengerjakan Tugas
32 Bertemu Sonny
33 Sekolah Aurel
34 Kembali ke Kampus
35 Dies Natalis
36 Dies Natalis #2
37 Usai Acara
38 Dhea Muncul
39 Rahasia
40 Kepergian Rangga
41 Pertemuan Dengan Dhea
42 Kita Putus!!
43 Orderan dan Ujian
44 Ujian Tengah Semester
45 Kebaikan Mama Nana
46 Magang
47 Kekacauan Kantor
48 Persoalan Rangga
49 Tidak Beres
50 Cecilia
51 Calon Suami?
52 Menelepon Papi
53 Terkuak
54 Ungkapan Terima Kasih
55 KB
56 Ambyar
57 Selangkah ke Depan
58 Hanya Pembantu
59 Tekad Rangga
60 Usaha Yuki
61 Penolakan
62 Tiga Puluh Juta Rupiah
63 Perubahan Yuki
64 Memasak
65 Menyewa Tempat
66 Kembali ke Rumah Majikan
67 Usaha Berbuah Manis
68 Kesan Queensya di Bakery
69 Pesta Ulang Tahun
70 Buka Cabang
71 Datang ke Rumah Rangga Untuk Kedua Kalinya
72 Rumah Tuan Bhanu
73 Persiapan Perayaan
74 Ejekan Queensya
75 Bagai Petir di Siang Bolong
76 Dhea Bicara
77 Kedatangan Rangga
78 Bertemunya Kedua Keluarga
79 Yuki Pingsan
80 Hadiah
81 Tunangan
82 Wisuda
83 Dipingit
84 Indah Pada Waktunya
85 Mari Buat Generasi Baru!
86 Epilog
87 Say Thanks and Promosi Yaa ....
88 PROMO BUKAN UP
89 NOVEL BARU DI NT
Episodes

Updated 89 Episodes

1
Pura-pura Miskin
2
Sikap Galak Majikan
3
Gara-gara Ayam
4
Queensya and the Geng
5
Bertemu Dosen
6
Si Cantik Alami
7
Asisten Dosen
8
Menjaga Toko
9
Keponakan Majikan
10
Makan Bareng
11
Mengantar ke Dokter
12
Curhatan Rangga
13
Sahabat
14
Ikut Demo
15
Terima Gaji
16
Ulah Queensya
17
Cogan Baru
18
Perhatian Rangga
19
Perhatian Rangga 2
20
Mengerjakan Tugas
21
Berangkat ke Desa
22
Rangga yang Mempesona
23
Rencana Buruk
24
Malam Naas
25
Pertolongan
26
Pengakuan Ferry
27
Kelicikan Queensya
28
Kepulangan Yuki
29
Kembali ke Rumah Bu Yayah
30
Rehat Tujuh Hari
31
Mengerjakan Tugas
32
Bertemu Sonny
33
Sekolah Aurel
34
Kembali ke Kampus
35
Dies Natalis
36
Dies Natalis #2
37
Usai Acara
38
Dhea Muncul
39
Rahasia
40
Kepergian Rangga
41
Pertemuan Dengan Dhea
42
Kita Putus!!
43
Orderan dan Ujian
44
Ujian Tengah Semester
45
Kebaikan Mama Nana
46
Magang
47
Kekacauan Kantor
48
Persoalan Rangga
49
Tidak Beres
50
Cecilia
51
Calon Suami?
52
Menelepon Papi
53
Terkuak
54
Ungkapan Terima Kasih
55
KB
56
Ambyar
57
Selangkah ke Depan
58
Hanya Pembantu
59
Tekad Rangga
60
Usaha Yuki
61
Penolakan
62
Tiga Puluh Juta Rupiah
63
Perubahan Yuki
64
Memasak
65
Menyewa Tempat
66
Kembali ke Rumah Majikan
67
Usaha Berbuah Manis
68
Kesan Queensya di Bakery
69
Pesta Ulang Tahun
70
Buka Cabang
71
Datang ke Rumah Rangga Untuk Kedua Kalinya
72
Rumah Tuan Bhanu
73
Persiapan Perayaan
74
Ejekan Queensya
75
Bagai Petir di Siang Bolong
76
Dhea Bicara
77
Kedatangan Rangga
78
Bertemunya Kedua Keluarga
79
Yuki Pingsan
80
Hadiah
81
Tunangan
82
Wisuda
83
Dipingit
84
Indah Pada Waktunya
85
Mari Buat Generasi Baru!
86
Epilog
87
Say Thanks and Promosi Yaa ....
88
PROMO BUKAN UP
89
NOVEL BARU DI NT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!