Ulah Queensya

Keesokan harinya, Yuki terbangun pagi-pagi sekali. Dia menggeliat lalu cepat-cepat bangun, melipat selimutnya dan merapikan kamarnya sendiri. Sebulan ini pekerjaannya telah tertata dengan teratur. Yuki berlatih keras untuk mendisiplinkan dirinya sendiri. Sepertinya usaha Yuki telah berhasil.

Gadis itu membuka pintu kamarnya lalu berjalan ke dapur untuk mencuci piring. Selalu seperti itu. Namun, dia mengerjakannya dengan perasaan senang dan puas melihat segalanya menjadi bersih di tangannya, meski rasanya cukup melelahkan bagi seorang nona muda yang nggak pernah menyentuh pekerjaan di rumah.

"Kiki," panggil seseorang di pintu dapur.

Yuki mendengar suara yang tak asing, lalu cepat menoleh. Dia berdebar saat melihat Rangga sudah berada di pintu.

"M-Mas Rangga? Kok udah bangun?" tanya gadis itu kaget.

"Iya. Eh, semalam aku dengar suara tangis dari kamarmu saat aku lewat untuk ke kamar mandi. Apa kamu menangis?" tanya Rangga.

"Nggak," kilah Yuki.

"Mata kamu sembab, kenapa?" cerca Rangga.

"Nggak apa-apa, Mas Rangga. Eh, aku mau menyapu lantai rumah dulu," elak Yuki bergegas melangkah meninggalkan dapur agar menghindar dari pertanyaan Rangga.

"Tunggu, Kiki! Eh - ...."

Kalimat lelaki itu tercekat saat mendengar pintu kamar bibinya terbuka.

Rangga berbalik, menyadari bahwa Bu Yayah telah keluar dari kamarnya, menguap dan mengangkat tangan ke atas lalu berjalan ke arah dapur.

Lelaki itu mengambil handuk lalu melangkah ke kamar mandi sebelum bibinya itu melihat dia di depan kamar Yuki. Gadis itu pun merasa agak lega karena ada hal yang menyelamatkannya dari situasi itu.

"Fyuh! Untung aja Bu Yayah keluar dari kamar. Kalo nggak, gimana aku menjawab pertanyaan Mas Rangga bahwa aku menangis karena harus mengumpulkan uang begitu lama?" desisnya sambil mulai menggerakkan sapu di lantai ruang tamu.

"Kiki!! Kenapa ini piring-piring belum selesai kamu cuci??!" teriak Bu Yayah dari dapur.

Yuki segera menghentikan acara menyapunya lalu berlari ke arah dapur. "Maaf, Bu! Nanti saya bereskan. Saya akan menyapu lantai dulu."

"Harusnya kamu bersihkan dulu yang di dapur, baru menyapu! Ya udah, cepetan nyapunya! Trus urusin dapur! Keburu pada bangun cari sarapan!"

"Iya, Bu!"

Yuki segera membersihkan lantai, lalu kembali ke dapur untuk mencuci piring lalu memasak sarapan keluarga.

Beberapa saat kemudian, rumah telah ramai karena semua anggota keluarga telah bangun dan berada di ruang makan. Pak Hendra telah bersiap untuk berangkat kerja. Rangga pun telah siap untuk kuliah. Dia menyisir rambutnya ke belakang, menambah kadar ketampanannya di hadapan Yuki. Yuki pun telah bersiap untuk berangkat kuliah.

Namun, di meja makan, gadis itu tak berani menatap Rangga karena pertanyaan lelaki itu tadi pagi. Mata tajam Rangga sesekali menatap ke arah gadis itu, membuat Yuki salah tingkah.

"Bu Yayah, maaf saya berangkat kuliah dulu," pamitnya di sela sarapan. Dia merasa itu saat yang tepat untuk pergi ketika semua orang belum selesai sarapan.

"Kamu nggak sarapan??" tanya Bu Yayah.

"Saya bawa bekal, Bu."

"Oh ... ya udah, sana berangkat. Pulangnya jangan mampir-mampir. Ingat tugasmu!" pesan Bu Yayah.

"Baik, Bu!"

Gadis itu segera menyambar tas lalu bergegas pergi keluar, menghindari tatapan Rangga yang masih penasaran dengan apa yang terjadi malam itu pada Yuki.

Yuki berjalan ke kampusnya, menikmati udara segar di sekitar pinggir jalan yang ditanami pepohonan.

Pluk!

Sebuah bungkus snack melayang ke wajah Yuki disertai tertawaan dari dalam mobil yang lewat.

"Sialan! Itu Queensya dan geng! Jahat banget sih! Ngapain coba, buang sampah sembarangan lagi!" keluh Yuki sambil melanjutkan jalannya.

Yuki berjalan ke kantor Pak Frans. Pria paruh baya itu telah duduk menunggunya.

"Kiki, nanti saya pergi, tolong beri tugas-tugas untuk jam kuliah saya, ya?" pesannya.

"Baik, Pak."

"Ini catatannya. Oh ya, ini sedikit uang saku buatmu karena telah membantu saya selama ini," ujar Pak Frans seraya menyerahkan sebuah amplop pada Yuki.

"Terima kasih, Pak!" ucapnya riang.

Dia berjalan keluar dari kantor. Diintipnya beberapa lembar uang merah yang berjumlah delapan lembar saja.

"Delapan ratus ribu rupiah," desisnya.

"Satu tahun tak akan bisa untuk bertemu papi mami ...."

Air mata mulai akan menggenang di kedua matanya, tapi dia langsung menarik napas agar air mata itu tak jadi mengalir. Gadis itu mengalihkan pikirannya ke jalannya lagi.

"Bukan Yuki kalo cengeng! Aku harus bersemangat! Semua hal yang besar berawal dari hal kecil dan melalui proses! Aku sedang berproses. Ini awal yang baik. Belum tentu orang lain bisa mendapat kesempatan baik seperti ini! Semangat!" desis Yuki, menyemangati dirinya sendiri.

"Hey, lihat itu! Si Miskin terima amplop! Kayaknya gajian dia! Aku ada ide, kita kerjain yuk!" ajak Queensya dan geng saat mengintip dari balik tembok.

Mereka berbisik-bisik agak lama di balik tembok, lalu tertawa jahat. Ada sebuah rencana kegiatan fakultas yang telah dipersiapkan untuk bulan ini. Namun, rencana licik terselip saat mereka melihat Yuki mendapatkan bayaran dari dosen karena telah menjadi asistennya.

Suasana ruang kuliah masih agak tenang sebelum Queensya dan geng masuk ke kelas. Namun, begitu mereka masuk, terjadi kehebohan dengan pengumuman yang mereka sampaikan.

"Dengerin semua! Nantinya akan ada kegiatan bakti sosial di desa. Queensya adalah ketuanya, dan kami bertiga adalah panitia acara itu. Minggu depan akan kita laksanakan kegiatan ini. Maka dari itu, semua mahasiswa harus mengumpulkan dana sosial minimal sebesar dua juta rupiah untuk didonasikan untuk desa itu!" ujar Anggi sebagai juru bicara.

Semua di ruang kuliah berbisik-bisik, mereka tidak protes karena uang itu tak begitu jadi soal untuk mereka. Namun, tidak dengan Yuki.

Yuki membelalak mendengarnya. "Apa?? Dua juta rupiah??"

Dia sontak berdiri untuk protes. "Protes! Apakah dana sosial itu harus ditentukan jumlahnya?? Kalo ada yang nggak mampu, gimana??!"

Queensya tertawa. Hal inilah yang dia harapkan untuk mempermalukan gadis itu.

"Oh, jadi kamu nggak mampu? Siapa yang nggak mampu lagi selain dia??" tanya Queensya sambil melipat tangannya di depan dada.

Tak ada yang menjawab maupun mengangkat tangannya. Dalam ruang kuliah ini, semua mendahulukan gengsi mereka. Queensya dan geng terlihat sangat puas dengan keadaan itu.

"Lihat aja sendiri, nggak ada yang protes. Itu berarti sembilan puluh sembilan persen menyetujui keputusan ini, 'kan? Jika ada yang nggak mau, maka nilai untuk semester ini nggak akan keluar sebelum mengulang acara bakti sosial tahun depan, karena semua yang ikut akan mendapat sertifikat sebagai peserta dari universitas!" tegas Queensya seraya tersenyum licik.

Yuki menghela napas kencang. Dia mengepalkan tangannya, tak tau apa yang harus dia katakan lagi.

"Ehm! Kalo gitu, aku akan membayarkan kewajiban Kiki."

Sebuah suara seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka di ambang pintu, memecahkan keheningan di ruangan itu.

Terpopuler

Comments

Novianti Ratnasari

Novianti Ratnasari

candra

2022-01-31

0

Harullah Thahir Diwolu

Harullah Thahir Diwolu

Untung ada penolong..

2021-09-18

0

snoop

snoop

v

2021-08-26

1

lihat semua
Episodes
1 Pura-pura Miskin
2 Sikap Galak Majikan
3 Gara-gara Ayam
4 Queensya and the Geng
5 Bertemu Dosen
6 Si Cantik Alami
7 Asisten Dosen
8 Menjaga Toko
9 Keponakan Majikan
10 Makan Bareng
11 Mengantar ke Dokter
12 Curhatan Rangga
13 Sahabat
14 Ikut Demo
15 Terima Gaji
16 Ulah Queensya
17 Cogan Baru
18 Perhatian Rangga
19 Perhatian Rangga 2
20 Mengerjakan Tugas
21 Berangkat ke Desa
22 Rangga yang Mempesona
23 Rencana Buruk
24 Malam Naas
25 Pertolongan
26 Pengakuan Ferry
27 Kelicikan Queensya
28 Kepulangan Yuki
29 Kembali ke Rumah Bu Yayah
30 Rehat Tujuh Hari
31 Mengerjakan Tugas
32 Bertemu Sonny
33 Sekolah Aurel
34 Kembali ke Kampus
35 Dies Natalis
36 Dies Natalis #2
37 Usai Acara
38 Dhea Muncul
39 Rahasia
40 Kepergian Rangga
41 Pertemuan Dengan Dhea
42 Kita Putus!!
43 Orderan dan Ujian
44 Ujian Tengah Semester
45 Kebaikan Mama Nana
46 Magang
47 Kekacauan Kantor
48 Persoalan Rangga
49 Tidak Beres
50 Cecilia
51 Calon Suami?
52 Menelepon Papi
53 Terkuak
54 Ungkapan Terima Kasih
55 KB
56 Ambyar
57 Selangkah ke Depan
58 Hanya Pembantu
59 Tekad Rangga
60 Usaha Yuki
61 Penolakan
62 Tiga Puluh Juta Rupiah
63 Perubahan Yuki
64 Memasak
65 Menyewa Tempat
66 Kembali ke Rumah Majikan
67 Usaha Berbuah Manis
68 Kesan Queensya di Bakery
69 Pesta Ulang Tahun
70 Buka Cabang
71 Datang ke Rumah Rangga Untuk Kedua Kalinya
72 Rumah Tuan Bhanu
73 Persiapan Perayaan
74 Ejekan Queensya
75 Bagai Petir di Siang Bolong
76 Dhea Bicara
77 Kedatangan Rangga
78 Bertemunya Kedua Keluarga
79 Yuki Pingsan
80 Hadiah
81 Tunangan
82 Wisuda
83 Dipingit
84 Indah Pada Waktunya
85 Mari Buat Generasi Baru!
86 Epilog
87 Say Thanks and Promosi Yaa ....
88 PROMO BUKAN UP
89 NOVEL BARU DI NT
Episodes

Updated 89 Episodes

1
Pura-pura Miskin
2
Sikap Galak Majikan
3
Gara-gara Ayam
4
Queensya and the Geng
5
Bertemu Dosen
6
Si Cantik Alami
7
Asisten Dosen
8
Menjaga Toko
9
Keponakan Majikan
10
Makan Bareng
11
Mengantar ke Dokter
12
Curhatan Rangga
13
Sahabat
14
Ikut Demo
15
Terima Gaji
16
Ulah Queensya
17
Cogan Baru
18
Perhatian Rangga
19
Perhatian Rangga 2
20
Mengerjakan Tugas
21
Berangkat ke Desa
22
Rangga yang Mempesona
23
Rencana Buruk
24
Malam Naas
25
Pertolongan
26
Pengakuan Ferry
27
Kelicikan Queensya
28
Kepulangan Yuki
29
Kembali ke Rumah Bu Yayah
30
Rehat Tujuh Hari
31
Mengerjakan Tugas
32
Bertemu Sonny
33
Sekolah Aurel
34
Kembali ke Kampus
35
Dies Natalis
36
Dies Natalis #2
37
Usai Acara
38
Dhea Muncul
39
Rahasia
40
Kepergian Rangga
41
Pertemuan Dengan Dhea
42
Kita Putus!!
43
Orderan dan Ujian
44
Ujian Tengah Semester
45
Kebaikan Mama Nana
46
Magang
47
Kekacauan Kantor
48
Persoalan Rangga
49
Tidak Beres
50
Cecilia
51
Calon Suami?
52
Menelepon Papi
53
Terkuak
54
Ungkapan Terima Kasih
55
KB
56
Ambyar
57
Selangkah ke Depan
58
Hanya Pembantu
59
Tekad Rangga
60
Usaha Yuki
61
Penolakan
62
Tiga Puluh Juta Rupiah
63
Perubahan Yuki
64
Memasak
65
Menyewa Tempat
66
Kembali ke Rumah Majikan
67
Usaha Berbuah Manis
68
Kesan Queensya di Bakery
69
Pesta Ulang Tahun
70
Buka Cabang
71
Datang ke Rumah Rangga Untuk Kedua Kalinya
72
Rumah Tuan Bhanu
73
Persiapan Perayaan
74
Ejekan Queensya
75
Bagai Petir di Siang Bolong
76
Dhea Bicara
77
Kedatangan Rangga
78
Bertemunya Kedua Keluarga
79
Yuki Pingsan
80
Hadiah
81
Tunangan
82
Wisuda
83
Dipingit
84
Indah Pada Waktunya
85
Mari Buat Generasi Baru!
86
Epilog
87
Say Thanks and Promosi Yaa ....
88
PROMO BUKAN UP
89
NOVEL BARU DI NT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!