Cogan Baru

Semua mata menatap ke pintu. Di sana telah berdiri seorang cowok, yang tidak dikenal oleh Yuki. Namun, semua gadis yang memandangnya terkesima akan ketampanan lelaki itu.

"Psst, gantengnya ...." ujar Rachel menunjukkan ketertarikan. Jika kartun, udah ada gambar hati di matanya.

"Iya, dia ketua BEM fakultas kita, Kak Ferry," ujar Anggi pelan.

"Hey, bukankah kamu naksir Kak Ferry, Nggi?" bisik Wenny.

"Diem kamu!" bentak Anggi. Dalam hatinya gadis itu kesal karena cowok yang telah lama disukainya itu malah membela Yuki.

"Atas dasar apa Kakak membayarkan uang dana sosial Kiki?" tanya Queensya pada Ferry.

"Dia nggak punya uang, 'kan? Apa salahnya aku membayarkannya? Nggak boleh? Besok akan kulunasi milik gadis itu!" ujar Ferry sambil berlalu dari depan ruang kuliah.

Kelas menjadi gempar. Semua berbisik-bisik membicarakan kedatangan ketua BEM di kelas dan penasaran apa hubungan Yuki dengannya.

"Hey! Apa hubunganmu dengan Kak Ferry??" tanya Anggi pada Yuki dengan nada marah.

Yuki yang memang nggak tau siapa itu Ferry, menggelengkan kepalanya.

"Aku nggak kenal, siapa itu Kak Ferry?" jawabnya masih kebingungan.

"Bohong! Kalo nggak kenal, ngapain dia mau membayarkan dana sosialmu sebanyak dua juta rupiah??" cecar Anggi. Gadis itu tidak terima kalo gebetannya direbut oleh Yuki.

"Aku benar-benar nggak kenal!" seru Yuki.

"Munafik!" teriak Anggi.

"Hey! Dosen datang!" ujar seorang mahasiswi di ruang itu. Semua kembali ke bangku masing-masing.

"Awas ya, kalo kamu berani mendekati Kak Ferry! Aku akan membuat perhitungan denganmu!" ancam Anggi pada Yuki yang masih mengerutkan dahinya karena bingung.

Kuliah berlangsung dengan baik. Namun, ada yang mengganggu pikiran Yuki. Siapa sebenarnya Ferry itu?

Yuki segera memberesi buku-bukunya. Dia harus bergegas menyiapkan tugas Pak Frans untuk mahasiswa semester tiga. Dia mengabaikan ancaman Anggi yang terus menerornya habis-habisan seolah lupa akan hukuman skors bulan lalu.

"Ah, ngapain aku ngurusin itu anak! Kenal aja nggak sama yang namanya Ferry itu!" gumam Yuki pelan.

Yuki telah membawa beberapa modul yang di dalamnya ada tugas dari Pak Frans. Dia masuk ke ruang semester tiga. Semua mahasiswa telah berada di ruangan itu. Yuki merasa sangat nervous.

"Selamat pagi menjelang siang Kakak-kakak, ada tugas dari Pak Frans, untuk membuat rangkuman pada modul halaman sembilan belas sampai tiga puluh, diketik pada selembar kertas HVS ukuran A4 lalu dikumpulkan siang ini."

Semua orang berbisik membicarakan gadis di depan mereka. Yuki merasa tambah canggung, baru kali ini dia menyampaikan tugas dari dosen untuk kakak semesternya. Dia berpikir tak ada yang salah dari dirinya, tapi kenapa semua berbisik seperti itu sambil melihatnya.

Yuki menoleh ke pintu, ketika Kak Ferry masuk.

Oh, sepertinya ini yang mereka bicarakan.

Ketika Ferry masuk, bertambah riuh lah perbincangan mereka.

Ferry mendatangi Yuki. "Aku mau bicara denganmu. Ayo keluar dulu," ajaknya.

"Kak, aku hanya asisten Pak Frans yang menyampaikan tugas."

"Iya, aku tau. Kamu ada kuliah siang ini?"

Yuki menggeleng.

"Ayo ke kantin!" ajak Ferry. Cowok itu langsung berjalan ke arah kantin tanpa memperdulikan Yuki yang kebingungan dengan sikapnya. Yuki terpaksa mengikuti cowok itu karena dia sendiri penasaran dengan Ferry. Yuki tak menyangkal bahwa wajah Ferry memang cukup tampan. Namun, tetap tak bisa mengalahkan pesona Rangga di hati Yuki.

"Kakak nggak mengerjakan tugas?" tanya Yuki.

"Udah ada yang bantu aku mengerjakan tugasku," tukas Ferry yang berjalan tanpa memperdulikan tugas yang telah diyakini dikerjakan oleh 'ajudannya'.

Mereka sampai di kantin. Pagi menjelang siang itu, kantin cukup ramai. Mereka memilih untuk duduk di pojokan, dimana tak banyak orang akan mengganggu dengan berlalu lalang.

"Makan apa?" tawar Ferry.

"Nggak, Kak, aku hanya mau tanya- ...." tolak Yuki.

"Kamu pesan, temeni aku makan. Nanti aku jawab pertanyaanmu. Aku yang traktir, tenang aja," potong Ferry.

Cowok itu menyodorkan daftar menu ke depan Yuki. Gadis itu menghela napas. Dia memang lapar saat itu setelah kuliah pagi dan belum sempat memakan bekalnya.

"Roti bakar dan teh manis," gumam Yuki sambil menulis di kertas pesanan.

"Aku nasi goreng babat sama es jeruk." Kata Ferry seperti menyuruh Yuki untuk sekalian menuliskan pesanannya.

Yuki mendengarkan sebentar, lalu akhirnya dia menuliskan juga apa yang didengarnya. Setelah memberikan pada pelayan, Yuki melanjutkan pertanyaan yang mengganjal.

"Kak, sebelumnya aku minta maaf, tapi aku nggak habis pikir kenapa Kakak mau membayarkan dana sosialku? Uang dua juta tidak sedikit, Kak. Lagian aku juga nggak kenal sama kamu," tutur Yuki panjang lebar.

"Panggil aja aku Ferry. Kenapa aku mau membayarkan dana sosial itu? Karena aku kasihan melihatmu dibully oleh keempat anak itu," terang Ferry.

"Ha-hanya itu alasannya membayarkanku??" tanya Yuki tidak percaya.

"Iya. Kenapa?"

"Kak Ferry tidak mengenalku, 'kan? Coba pikir lagi sebelum membantu orang yang belum Kakak kenal."

"Udah aku pikirkan."

Ih, orang ini .... Keras kepala!

"Nggak. Nanti aku balikin uang Kakak. Meski nyicil!" ujar Yuki.

"Aku ikhlas bantu kamu," kata Ferry.

Yuki berpikir sebentar. Dia nggak akan menerima bantuan dari orang yang tidak dikenalnya, dia curiga akan hal itu.

Pesanan datang. Pelayan meletakkan piring berisi nasi goreng yang baunya sedap dan piring roti bakar yang juga menarik, serta dua gelas, satu teh manis, yang satu es jeruk.

"Makanlah, jangan bahas apa-apa dulu. Aku lapar," ujar Ferry.

Yuki belum melihat cowok itu tersenyum sejak pertama dia melihatnya. Dia memasukkan roti ke dalam mulutnya. Sesekali dia memperhatikan Ferry makan. Cowok itu benar-benar lapar. Dalam sekejap, makanan yang ada di hadapannya langsung ludes tak bersisa.

"Kiki, kamu kerja jadi asisten rumah tangga?" tanya Ferry usai makan sambil mengelap mulutnya dengan selembar tissue.

"Iya, Kak. Kok tau?"

"Tau lah. Dimana rumah asalmu?" selidik Ferry.

"Jauh, Kak. Aku nggak bisa bilang sekarang."

"Mm ... Baiklah. Kalo ada masalah, terutama dengan keempat gadis itu, hubungi aku aja. Ini kartu namaku."

Cowok itu meletakkan sebuah kartu nama di atas meja Yuki.

Ya, aku butuh tiga puluh juta rupiah. Apa kamu mau memberiku tidak hanya dua juta rupiah??

Ingin sekali Yuki mengatakan batinnya, tapi dia hanya tertawa dalam hati menyadari kekonyolannya. Gadis itu meraih kartu yang ada di atas meja, lalu memasukkannya ke dalam tas.

"Makasih Kak atas bantuannya. Namun, suatu saat nanti akan aku ganti uang Kak Ferry."

Yuki tetap tidak percaya akan maksud Ferry yang entah tulus atau tidak untuk memberinya bantuan.

"Hahaha, sudahlah. Uang itu nggak penting. Kamu nggak usah mikirin hal itu lagi, ya?" Cowok itu menyeruput es jeruknya.

Yuki mengangguk. Dia tersenyum senang. Baru kali ini dia melihat Ferry tertawa. Gadis itu merasa agak lega. Masih ada satu orang lagi yang mau memperhatikan dirinya.

Terpopuler

Comments

gedang Sewu

gedang Sewu

mungkin di ferri anaknya pak dekan kali ya..🤔🤔

2024-04-13

0

Novianti Ratnasari

Novianti Ratnasari

fery ky nya mulai curiga am identitas kiki dech.

2022-01-31

0

тια

тια

mas Rangga terdepan🤣

2022-01-30

0

lihat semua
Episodes
1 Pura-pura Miskin
2 Sikap Galak Majikan
3 Gara-gara Ayam
4 Queensya and the Geng
5 Bertemu Dosen
6 Si Cantik Alami
7 Asisten Dosen
8 Menjaga Toko
9 Keponakan Majikan
10 Makan Bareng
11 Mengantar ke Dokter
12 Curhatan Rangga
13 Sahabat
14 Ikut Demo
15 Terima Gaji
16 Ulah Queensya
17 Cogan Baru
18 Perhatian Rangga
19 Perhatian Rangga 2
20 Mengerjakan Tugas
21 Berangkat ke Desa
22 Rangga yang Mempesona
23 Rencana Buruk
24 Malam Naas
25 Pertolongan
26 Pengakuan Ferry
27 Kelicikan Queensya
28 Kepulangan Yuki
29 Kembali ke Rumah Bu Yayah
30 Rehat Tujuh Hari
31 Mengerjakan Tugas
32 Bertemu Sonny
33 Sekolah Aurel
34 Kembali ke Kampus
35 Dies Natalis
36 Dies Natalis #2
37 Usai Acara
38 Dhea Muncul
39 Rahasia
40 Kepergian Rangga
41 Pertemuan Dengan Dhea
42 Kita Putus!!
43 Orderan dan Ujian
44 Ujian Tengah Semester
45 Kebaikan Mama Nana
46 Magang
47 Kekacauan Kantor
48 Persoalan Rangga
49 Tidak Beres
50 Cecilia
51 Calon Suami?
52 Menelepon Papi
53 Terkuak
54 Ungkapan Terima Kasih
55 KB
56 Ambyar
57 Selangkah ke Depan
58 Hanya Pembantu
59 Tekad Rangga
60 Usaha Yuki
61 Penolakan
62 Tiga Puluh Juta Rupiah
63 Perubahan Yuki
64 Memasak
65 Menyewa Tempat
66 Kembali ke Rumah Majikan
67 Usaha Berbuah Manis
68 Kesan Queensya di Bakery
69 Pesta Ulang Tahun
70 Buka Cabang
71 Datang ke Rumah Rangga Untuk Kedua Kalinya
72 Rumah Tuan Bhanu
73 Persiapan Perayaan
74 Ejekan Queensya
75 Bagai Petir di Siang Bolong
76 Dhea Bicara
77 Kedatangan Rangga
78 Bertemunya Kedua Keluarga
79 Yuki Pingsan
80 Hadiah
81 Tunangan
82 Wisuda
83 Dipingit
84 Indah Pada Waktunya
85 Mari Buat Generasi Baru!
86 Epilog
87 Say Thanks and Promosi Yaa ....
88 PROMO BUKAN UP
89 NOVEL BARU DI NT
Episodes

Updated 89 Episodes

1
Pura-pura Miskin
2
Sikap Galak Majikan
3
Gara-gara Ayam
4
Queensya and the Geng
5
Bertemu Dosen
6
Si Cantik Alami
7
Asisten Dosen
8
Menjaga Toko
9
Keponakan Majikan
10
Makan Bareng
11
Mengantar ke Dokter
12
Curhatan Rangga
13
Sahabat
14
Ikut Demo
15
Terima Gaji
16
Ulah Queensya
17
Cogan Baru
18
Perhatian Rangga
19
Perhatian Rangga 2
20
Mengerjakan Tugas
21
Berangkat ke Desa
22
Rangga yang Mempesona
23
Rencana Buruk
24
Malam Naas
25
Pertolongan
26
Pengakuan Ferry
27
Kelicikan Queensya
28
Kepulangan Yuki
29
Kembali ke Rumah Bu Yayah
30
Rehat Tujuh Hari
31
Mengerjakan Tugas
32
Bertemu Sonny
33
Sekolah Aurel
34
Kembali ke Kampus
35
Dies Natalis
36
Dies Natalis #2
37
Usai Acara
38
Dhea Muncul
39
Rahasia
40
Kepergian Rangga
41
Pertemuan Dengan Dhea
42
Kita Putus!!
43
Orderan dan Ujian
44
Ujian Tengah Semester
45
Kebaikan Mama Nana
46
Magang
47
Kekacauan Kantor
48
Persoalan Rangga
49
Tidak Beres
50
Cecilia
51
Calon Suami?
52
Menelepon Papi
53
Terkuak
54
Ungkapan Terima Kasih
55
KB
56
Ambyar
57
Selangkah ke Depan
58
Hanya Pembantu
59
Tekad Rangga
60
Usaha Yuki
61
Penolakan
62
Tiga Puluh Juta Rupiah
63
Perubahan Yuki
64
Memasak
65
Menyewa Tempat
66
Kembali ke Rumah Majikan
67
Usaha Berbuah Manis
68
Kesan Queensya di Bakery
69
Pesta Ulang Tahun
70
Buka Cabang
71
Datang ke Rumah Rangga Untuk Kedua Kalinya
72
Rumah Tuan Bhanu
73
Persiapan Perayaan
74
Ejekan Queensya
75
Bagai Petir di Siang Bolong
76
Dhea Bicara
77
Kedatangan Rangga
78
Bertemunya Kedua Keluarga
79
Yuki Pingsan
80
Hadiah
81
Tunangan
82
Wisuda
83
Dipingit
84
Indah Pada Waktunya
85
Mari Buat Generasi Baru!
86
Epilog
87
Say Thanks and Promosi Yaa ....
88
PROMO BUKAN UP
89
NOVEL BARU DI NT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!