"Apa karena Sonia dulu suka berkuda ya Pa Ma? Sonia jadi begini." Ucap Sonia setelah Monica selesai membacakan hasil konsultasinya dengan dokter. Sonia ingat masa lalunya.
Kedua orangtua Sonia memandang anaknya. Membuka lembaran-lembaran masa lalu yang sudah usang itu. Merekapun akhirnya juga ingat tentang hobi Sonia saat SMP. Namun mereka tidak dapat menyimpulkan akan hal itu. Biarkan Monica saja yang menjelaskan lebih rinci lagi.
"Bisa jadi nona. Seperti yang sudah saya jelaskan barusan, berkuda bisa membuat selaput dara robek jika sering dilakukan. Banyak wanita yang tidak mengetahui tentang hal ini, karena kasusnya juga tidak terlalu sering terjadi. Apalagi bagi seorang pria, mereka mana mau tahu tentang hal ini. Jadi wajar saja kalau Pak Jaka salah paham dengan anda." Ucap Monica saat kedua orangtua Sonia hanya diam tak menjawab pertanyaan dari putrinya.
"Tapi tak seharusnya Jaka memperlakukan Sonia seperti itu. Dia harus dibalas." Bima angkat bicara. Dia orang yang pertama kali mendengar cerita dari Sonia. Dan dia orang yang paling tidak terima akan hal itu.
"Sabar nak Bima, saya tahu perasaan anda. Saya juga selaku ibunya Sonia tidak terima putri saya diperlakukan seperti itu." Ujar Nyonya Sonya untuk menenangkan situasi. Dia dapat menangkap betapa besarnya kemarahan yang ada dalam diri Bima, begitupun dirinya yang juga marah terhadap perlakuan Jaka kepada Sonia. Namun dia hanya bisa pasrah dan berharap Tuhan yang akan membalas apa yang Jaka perbuat.
"Saya setuju sama nak Bima. Saya gak rela dia masih bisa berkeliaran dengan bahagia sedangkan putri saya menderita." Berbeda dengan istrinya yang lebih memilih pasrah, Pak Basuki sangat-sangat ingin membalas perlakuan Jaka pada Sonia.
"Iya om, tapi om gak usah repot-repot mengotori tangan om, biar saya saja yang membalas dendam." Bima.
"Nak Bima jangan gegabah, jangan sampai nak Bima mendapatkan masalah karena masalah Sonia ini." Ucap nyonya Sonya menasehati. Sonia pun ikut terpancing untuk angkat bicara menanggapi perkataan Bima.
"Iya Bim, kamu tak perlu melakukan itu, aku gak mau kamu kenapa-kenapa." Ucap Sonia khawatir.
"Kamu tenang aja ya, aku gak akan kenapa-kenapa, justru si brengs ek itu yang akan kenapa-kenapa." Ujar Bima meyakinkan.
"Ya sudah, om restui nak Bima untuk balas dendam. Tapi nak Bima harus hati-hati. Jangan sampai nak Bima kena masalah." Dengan senang hati pak Basuki mengucapkan itu. Hatinya masih dongkol dengan Jaka. Namun dia mengatakannya dengan halus agar tidak dicurigai oleh istri dan anaknya.
"Eh sudahlah, tegang terus dari tadi pembicaraannya. Monica haus om tante. Apalagi tadi habis baca lumayan banyak. Tenggorokan Monica jadi kering nih." Ucap Monica sambil mengelus-elus lehernya yang langsung mendapatkan pelototan mata dari Bima dan tatapan dari semua mata yang ada di situ. Monica sudah tak tahan lagi. Tenggorokannya sudah kering. Apalagi dia habis membaca file yang lumayan panjang dan belum sempat minum.
"Eh iya sampai lupa. Silahkan diminum. Maaf sampai gak sadar." Ucap Nyonya Sonya merasa bersalah.
Mereka pun minum minumannya masing-masing. Secangkir teh celup sari harum yang tidak terlalu manis namun tidak pahit. Keheningan pun hadir sesaat.
…
"Jadi Sonia, apakah kamu sudah bertemu lagi dengan Jaka setelah kejadian itu?" Tanya nyonya Sonya membuka suara.
"Pagi ini ma, pagi ini Sonia ketemu Jaka di jalan. Dia ngasih surat gugatan cerai buat Sonia ma." Sonia murung saat mengucapkan itu. Nyonya Sonya sudah menebak cepat lambat pasti Jaka akan melakukannya. Sedangkan Pak Basuki, jangan ditanya. Pria tua itu mengeraskan rahangnya karena semakin marah.
"Kapan sidang perceraiannya?" Pak Basuki yang tak tahan, akhirnya bertanya.
"Minggu depan Pa." jawab Sonia singkat.
"Bagus, gak perlu ada mediasi, lebih cepat kamu cerai dengan dia akan lebih baik." Ujar Pak Basuki yang membuat Sonia senang sekaligus sedih. Benar apa kata Pak Basuki, lebih cepat dia pisah dengan Jaka lebih baik, namun dia sedih akan nasib buruk yang menimpanya, harus bercerai saat umur pernikahannya baru satu minggu. Eh bahkan sebenarnya dia sudah ditalak dimalam, hari pernikahannya.
"Kamu yang sabar ya nak." ucap nyonya Sonya sambil memeluk Sonia. Tangannya mengusap-usap punggung Sonia. Semua melihat interaksi antara ibu dan anak itu. Ya walupun Sonia hanya anak angkat nyonya Sonya, namun dia sudah dianggap anak kandung oleh nyonya Sonya.
Setelah merasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Bima dan Monica pamit untuk undur diri dari tempat itu. Pak Basuki mengantar mereka berdua sampai di depan rumah setelah menyuruh istrinya untuk mengantarkan Sonia ke kamarnya. Sebelumnya Sonia sempat menolak perintah papanya karena dia juga ingin mengantarkan Bima sampai depan, tapi karena bujuk rayu yang mamanya berikan, akhirnya Sonia menurut.
Di depan rumah, Pak Basuki tidak lantas membiarkan Bima melenggang begitu saja. Dia mengajak Bima untuk bicara empat mata, dua mulut, satu tujuan. Tapi apa yang mereka bicarakan masih menjadi rahasia mereka berdua. Entah mereka bicara apa, author juga gak dikasih tahu gaesss.
…
Kini Bima, Monica dan Sam sudah berada di dalam mobil dalam perjalan pulang ke rumah Bima. Karena jalanan yang macet memunculkan kesempatan Bima untuk mengucapkan kata-kata yang ada dipikirannya.
"Sam? Apakah kau sudah mendapatkan apa yang aku minta?" tanya Bima dari kursi belakang. Matanya fokus pada ponselnya yang menampilkan foto-foto tokoh Joker. Hm.. apa ya maksudnya.
Sam menoleh ke belakan sebentar lalu kembali fokus ke arah jalan.
"Maaf tuan, saya belum mendapatkan apa yang anda minta. Namun saya sudah menyebar informasi yang anda minta di dark web. Hanya saja belum ada yang berniat untuk mengambil pekerjaan ini mengingat resiko yang akan mereka tanggung." Jawaban Sam membuat Bima berpikir sejenak.
"Hm... Kau tambahkan saja bayarannya jadi 20 M. Aku yakin akan banyak yang tertarik dengan penawaran ini." Bima.
"Baik tuan akan segera saya kerjakan." jawab Sam tegas.
Kini pandangan Bima tertuju kepada wanita yang duduk di sebelah Sam. Ya, dia adalah Monica. Monica hanya memandang ke luar jendela samping enggan mendengar pembicaraan para lelaki itu. Dia tidak paham apa yang sedang mereka bicarakan. Lebih baik dia melihat keluar memperhatikan kendaraan yang sedang terjebak kemacetan. Baginya itu lebih baik.
"Monica?" Ucap Bima yang berhasil membuat Monica gelagapan. Dia takut Bima marah karena dia tadi tidak menyimak pembicaraan Bima dengan Sam.
"Em.. i..iya Bim." Aduh saking gugupnya dia lupa menyebut Bima dengan nama saja. Bima jadinyakan marah beneran kan. Dia melotot pada Monica.
Monica mengintip ekspresi Bima melalui kaca di atas kepalanya. Dan benar saja, Bima sedang menampilkan muka singanya yang akan menerkam mangsa. Dengan takut Monica menoleh ke belakang sambil menunjukkan muka memelasnya lengkap dengan mata puppy eyes nya.
"Huh, jangan diulangi lagi! Ingat kau panggil nama hanya di depan Sonia saja, selain itu jangan sekali kali kau melakukannya!" Bima menyerah dengan muka memelas Monica, dia tidak jadi marah. "Sebenarnya tadi aku ingin memuji kinerjamu, aku juga akan menambahkan bonus untukmu. Tapi gak jadi ah." sambung Bima.
Sontak Monica langsung cemberut akan hal itu. Bibirnya maju 1 inchi. Diam-diam Sam memperhatikan Monica. Entah kenapa setiap kali melihat tingkah laku Monica, Sam merasa ada rasa aneh di dalam lubuk hatinya. Padahal dia sangat dingin terhadap wanita. Namun beda saat dirinya dengan Monica, dia selalu gugup saat berbicara dengannya.
"Apa kau tidak terima dengan keputusanku, Monica?" Tanya Bima dengan seringai liciknya namun Monica tidak melihat itu karena terlalu takut.
"Ti...ti...tidak tuan. Saya menerimanya." jawab Monica gugup.
Sebenarnya Bima hanya mengerjai Monica. Dia mana ada niatan untuk memotong gaji Monica. Bima sangat menghargai kesetiaan Monica selama ini. Hal demikian juga berlaku bagi Sam. Bima menspesialkan dua bawahannya itu.
Sam segera melajukan mobil yang dikemudikannya setelah melewati kemacetan. Dengan kecepatan sedang dia mengemudi menuju arah tujuan yang tuannya inginkan.
Sam menghentikan mobil tepat di depan gerbang sebuah mansion. Dibunyikannya klakson mobil sebanyak dua kali. Terlihat dari dalam seorang satpam berlari dan membukakan gerbang itu. Sam kembali melajukan mobil memasuki area mansion.
TBC.
Jangan lupa like dan votenya ya. Yang terakhir sangat dianjurkan hehe...
Oh ya berkat dukungan kalian, novel author bisa sampai bab 20. Makasih buat yang masih setia membaca novel author yang tidak karuan ini. Entah semua murni hanya halusinasi author.
Sudah ya buat hari ini.
Bye bye
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
kiki
menurutku cara bima blz dendam kurang sedikit elegan
2021-05-30
1
andhis
ceritanya beda, ga bertele2, untung nemuny udh end, jd ga tersiksa krn nunggu up😂
2021-02-22
1
nnaaaaaaaaaa...
nyesel baru nemu novelnya 😔
tapi banyak seneng nya, jadi nggak nunggu up🤣🤣
2021-02-17
2