"Makanan sudah siap" Ucap Sonia yang baru keluar dari dapur dengan senyum manisnya, tangannya membawa nampan yang di atasnya ada 2 mangkuk berisi mie rebus yang masih panas. Terdapat juga irisan sosis serta sayuran berupa sawi, tomat, dan wortel.
Ditaruhnya 1 mangkuk itu di depan Bima yang sedang duduk bersila di atas tikar. Kemudian ia balik lagi ke dapur untuk mengambil air minum.
Barulah mereka memulai makan malamnya setelah Sonia balik membawa air minum dalam teko serta dua gelas berbahan plastik.
Mereka makan dengan lahapnya karena memang sudah lapar sedari tadi. Tadi siang perut mereka hanya diganjal satu bungkus roti.
15 menit kemudian mereka sudah menyelesaikan acara makannya. Sonia langsung membawa mangkok kotor ke belakang lalu di cucinya.
Bima senyum-senyum sendiri pada apa yang dia jalani sekarang. Mereka sudah seperti suami istri saja.
Tak sampai memakan wantu lama, Sonia sudah balik dari mencuci mangkok. Mangkoknya juga sudah dia letakkan di rak.
"Nih!" Bima memberikan uang 30 ribu yang didapatnya tadi siang kepada Sonia.
"Apa ini Bim." Sonia bingun dengan maksud Bima memberinya uang itu.
"Ini hasil kita jual barang bekas hari ini." Jawab Bima halus.
"Gak usah Bim, gue udah dikasih sendiri tadi." Sonia menolak secara halus pemberian Bima itu.
Bima tersenyum. "Kamu terima aja, kamu simpen buat ongkos pulang. Kamu pengen cepet pulang kan?"
"Tapi Bim. Gue gak enak sama lo. Lo udah baik banget sama gue. Gue gak tahu gimana balesnya."
"Aku ikhlas kok. Tapi kalau kamu mau bales, aku punya permintaan sama kamu." Bima.
"Apa Bim? Kalau gue sanggup, gue pasti turutin permintaan lo itu." Ujar Sonia.
"Pertama kamu terima uang ini. Kedua, mulai sekarang jangan pakai lo-gue lagi, tapi pakai aku-kamu. Dan yang terakhir..." Bima menjeda ucapannya saat akan memberitahu permintaannya yang terakhir. Hal ini membuat Sonia fokus untuk mendengarkannya. Namun dia membatalkan untuk mengatakannya. Dia masih ingin memantapkannya untuk yang itu.
"Untuk yang terakhir masih aku pikirkan." Kata itulah yang akhirnya keluar dari mulut Bima.
"Ih ditunggu serius-serius juga malah belum dipikirin." Sonia sebal sambil mencubit pinggang Bima membuat si empunya meringis kesakitan.
"Auw...ah...auw... sakit Sonia.. Sakit.." Pekik Bima karena rasa sakit di pinggangnya akibat cubitan Sonia.
"Makanya jangan rese." Dalam hati Sonia dia merasa senang sekaligus sedih mengingat kejadian ini. Hal ini sering dia lakukan dengan Jaka. Dia sedih karena Jaka sudah tidak ada untuknya lagi. Namun tingkah Bima saat ini membuatnya bisa menyunggingkan bibirnya lagi setelah kejadian itu.
"Ampun Sonia. Lepasin dong." Pinta Bima memelas.
"Iya iya gue lepasin." Sonia melepas cubitannya. Di balik kaos Bima, kulitnya sudah ungu kehitaman bekas dicubit Sonia. Sonia cubitannya tidak becanda dia serius.
"Gimana kamu mau kan?" Tanya Bima memastikan Sonia mau menerima permintaannya masih sambil meringis menahan sakit bekas cubitan Sonia.
"Em..." Sonia tampak berpikir. Jari telunjuk kanannya ia taruh di dagunya. "Ok gu...."
"Ish... AKU Sonia, A-K-U, Aku." Potong Bima saat Sonia akan menggunakan lo-gue lagi. Dia sampai mengeja kata aku supaya Sonia ingat.
"Iya, Aku. Aku turutin permintaan el-, eh kamu." Sonia memutar bola matanya malas.
Bima bersorak gembira dalam hatinya. Rencana pendekatan terhadap Sonia maju satu langkah.
"Ini berarti kamu simpen." Bima memberikan uang itu langsung ke telapak tangan Sonia. Mau tak mau Sonia menyimpannya.
"Terima kasih." Ucap Sonia.
"Mungkin perlu beberapa hari lagi buat ngumpulin ongkos pulangnya." Ujar Bima.
"Hem. Gak papa kok." Sonia.
"Kamu gak papa kan agak lama di sini?" Tanya Bima.
"Gak papa kok, aku sudah mulai adaptasi." Jawab Sonia.
Mereka melanjutkan ngobrolnya sampai pukul sepuluh malam. Setelah itu barulah mereka tidur karena besok pagi mereka harus mulai aktivitas lagi.
…
Esok harinya Bima dan Sonia melakukan aktivitas seperti biasanya, mencari barang bekas untuk mereka jual.
Setelah sarapan pagi mereka melangkahkan kaki beriringan ke tempat pembuangan akhir.
Saat diperjalanan, sebuah mobil sport warna hitam yang melaju cukup kencang tiba-tiba saja berhenti 15 meter di depan mereka. Sebuah kaki beralas sepatu pantofel mahal serta berbalut kain bahan warna hitam menjulur keluar tak lama setelah pintu mobil terbuka. Sesosok pria muncul setelahnya sambil merapikan jas hitamnya. Pria itu memakai kaca mata hitam namun wajah itu tak asing bagi Sonia. Pria itu berjalan mendekat ke mereka.
"Hm.. Kebetulan gue ketemu lo di sini." Ucap pria itu sinis. Kaca mata yang ia pakai ia lepas lalu ia sampirkan di saku jasnya. "Gue jadi gak perlu ke rumah lo." Sambungnya.
Bima tahu betul pria yang sedang ada di hadapannya, Jaka Wisnutama, pria yang sangat ia benci untuk saat ini. Namun ia memilih diam menunggu apa yang akan dia lakukan ke Sonia.
Buug, sebuah amplop coklat mendarat di dada Sonia. Selum jatuh, Sonia dengan cekatan menangkapnya. "Apa ini Jaka?" Tanya Sonia yang bingun akan isi amplop itu.
"Surat gugatan cerai, sidang 1 minggu lagi." Ujar Jaka. "Lo jangan mengharap lo bisa balik sama gue lagi." Nyles. Setitik bulir air lolos dari kelopak mata Sonia. Bukannya dia masih cinta dengan Jaka, namun rasanya dia seperti wanita yang tidak ada harga dirinya sama sekali. Bima masih diam.
"Huh, lo nangis. Jangan bilang lo masih ngarep balikan sama gue! Najis gue mau balikan sama ja lang kaya lo." Ucap Jaka merendahkan Sonia.
Cukup! Bima sudah tak tahan lagi. Wanitanya sudah direndahkan orang lain di hadapannya sendiri. Di tatapnya Jaka dengan amarah yang membara. Ingin rasanya dia membalas Jaka sekarang. Dipeluknya Sonia dari samping dengan satu tangannya sambil mengusap-usap punggung Sonia. Sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk menghapus air mata Sonia.
"Oh...oh.. oh... Apa ini cowok yang udah tidur sama lo, huh?" Ucap Jaka sambil tepuk tangan. "O.... Gue tau sekarang. Lo sama gue cuma mau morotin gue aja kan? Habis itu lo mau kabur sama cowok ini." Tebak Jaka dengan segala pemikiran buruknya tentang sonia.
"Enggak Jak, enggak. Kamu salah paham, gue..." Ucapan Sonia buru-buru diputus Jaka.
"Sekali JA LANG, ya tetap JA LANG!!!" Bentak Jaka dengan menekankan kata ja lang.
Buk...bukk..bukk.. Dua pukulan mendarat di kedua pipi Jaka dan satu di perutnya membuat Jaka langsung tersungkur di atas trotoar. Kedua sudut bibirnya robek mengalirkan darah segar dari keduanya.
"An Jing lo. Awas aja gue tuntut lo." Ancam Jaka, dia mengelap sudut bibirnya yang berdarah dengan punggung tangannya.
"Silahkan, gue gak takut." Jawab Bima enteng tanpa takut sama sekali dengan ancaman Jaka.
Bima memilih pergi saja, digandengnya tangan Sonia agar mengikutinya. Kalau tidak dia tak akan pergi dari tempat itu karena masih setia dengan....
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
tangisannya.
"Ba jingan Si alan!!!!!" Jaka mengumpat sejadi-jadinya.
TBC
Yah... kemarin views nya kok turun. Bikin males nulis aja. Author gak bayaran loh. Author semangat nulis kalau banyak yang baca karya author ini.
Makanya kalau mau author tetap nulis, kalian bantu share karya author dong! Biar author semangat. Biar nulisnya lancar juga.
Makasih bagi yang sudah baca karya author ini🙏🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
🌸nofa🌸
🌹🌹
2021-02-17
2
Oka Luthfia
semNgat kak
2021-02-17
2
nnaaaaaaaaaa...
cemungut... tho😁😁
2021-02-17
1