Makasih semua yang sudah memberi like, vote, dan juga komentar. Maaf kalau mungkin novel buatan author tidak sebagus novel-novel buatan author yang lain. Niatan author di sini cuma mau menghibur kalian, jadi jangan dianggap serius ya ceritanya. Ini semua hanya halusinasi author aja. Oh ya makasih lagi kalian mau baca novel dari author ini. Kalian buat author jadi semangat nulis.
Happy reading.
Pagi hari Bima sudah bersiap-siap dengan keranjangnya yang dia gendong dipunggungnya. Dia sedang menunggu Sonia yang sedang bersiap-siap di dalam rumah.
"Sonia jadi ikut gak sih? Keburu siang nih." Teriak Bima dari luar rumah supaya didengar oleh Sonia.
"Iya sebentar, ini sudah selesai kok." Ucap Sonia sambil mengerucutkan bibirnya karena kesal karena Bima yang tidak sabaran. "Ngapain buru-buru sih?" Sambungnya.
"Ini sudah siang, kita juga belum sarapan, lo gak mau sarapan dulu." Seketika mulut yang mengerucut itu tertarik ke kiri dan ke kanan berubah menjadi senyum merekah yang terasa indah bagi seorang Bima. Tak sadar Bima pun ikut tersenyum.
Bima mulai melangkahkan kakinya dengan diikuti oleh Sonia. Bima akan ke tempat di mana para pedagang kaki lima biasa mangkal. Butuh 10 menit untuk sampai ke tujuan.
Bima sekilas menatap ke arah Sonia yang berada di sampingnya. Nampak peluh bercucuran di sekitaran wajah wanita cantik itu.
"Lo capek?" Bima memulai pembicaraan.
Sonia mengangguk tanda mengiyakan ucapan Bima. "Iya gue gak biasa jalan kaki jauh begini." Sonia kemudian mengusap wajahnya untuk menyingkirkan peluh.
"Makanya dibiasain, gak selamanya kita selalu hidup enak, adakalanya kita jatuh dan harus hidup susah, kayak lo saat ini. Kalau kita sudah biasa hidup susah kita tidak akan terlalu merasa menderita saat kita jatuh." Bima menasehati Sonia. Wanita itu hanya mengangguk-anggukkan kepala membenarkan apa yang dikatakan Bima.
'Gak terlalu buruk, dia mau belajar.' Batin Bima.
"Ya sudah lo mau sarapan apa? Kita sudah sampai." Bima menunjukkan deretan pedagang kaki lima di pinggiran jalan raya.
"Terserah lo aja, susuaiin sama duit lo." Jawab Sonia pasrah. Dia tidak ingin membebani Bima.
"Kalau bubur ayam bagaimana?" Bima memberi tawaran.
"Boleh." Sonia.
Mereka melangkahkan kakinya menuju penjual bubur ayam yang sebelumnya ditunjuk oleh Bima. Mereka mendudukkan diri di atas kursi plastik yang di sediakan penjual.
Tak lama pesanan mereka sudah jadi. Sonia dan Bima mulai memakan bubur ayam masing-masing.
"Makan yang banyak! Kita butuh energi yang banyak untuk memungut barang bekas. Kalau kurang nambah aja." Bima memberi maklumat.
"Gak ah, ini sudah cukup. Lagipula apa lo punya uang? Buat ongkos pulang gue aja lo harus ngumpulin dulu." Sonia.
"He he... Iya iya cepetan habisin." Bima.
Tak lama kemudian mangkuk keduanya sudah kosong. Bubur yang tadinya ada di dalamnya sudah ludes tak bersisa. Berpindah ke dalam lambung Bima dan Sonia. Membuat mereka berdua merasa kenyang.
"Lo tunggu di sini dulu! Gue mau bayar buburnya." Ucap Bima sedetik setelah menenggak habis air putih di gelasnya.
"Em.. ya." Sonia sampai menghentikan minumnya untuk menjawab Bima.
…
"Jadi berapa pak?" Bima bertanya kepada penjual bubur itu dengan berbisik.
'Tanda-tanda gak punya duit nih orang, belaga mau bayarin ceweknya pula.' Batin si penjual bubur.
"Totalnya jadi 20 ribu, buat mas 15 ribu saja." Ucap si penjual bubur meremehkan.
"Sebentar pak." Bima menjawab santai tanpa menghiraukan nada bicara penjual bubur yang meremehkannya. Baginya itu sudah biasa, orang-orang hanya melihat orang lain dari covernya saja. Bima merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar uang kertas dengan menggenggamnya kemudian memberikannya pada si penjual bubur kemudian kembali ke tempat di mana Sonia duduk.
"Sudah?" Tanya Sonia saat melihat Bima sudah kembali.
"Sudah. Ayo!" Merekapun pergi menuju tempat di mana mereka akan mencari barang bekas.
Di tempat yang sama, si penjual bubur tengah menganga karena terheran dengan kejadian yang baru saja dia alami. Dia masih menatap selembar uang kerta di telapak tangannya yang baru saja diberi Bima. Dia masih tidak percaya.
…
Sonia dan Bima kini sudah sampai di tempat pembuangan akbir di mana Bima biasa mencari barang bekas untuk di jual ke pengepul.
Awalnya Sonia merasa jijik dengan tempat itu, namun karena dia berpikir ini demi dirinya juga, dia segera menghilangkan pikiran itu.
"Kenapa? Lo jijik?" Tanya Bima yang menyadari perubahan ekspresi di wajah Sonia.
"Eng...enggak kok." Jawab Sonia gugup.
"Beneran?" Tanya Bima memastikan.
"Iya beneran." Sonia.
"Ya sudah lo mungutin botol plastik bekas ya!" Bima memberi perintah.
"Iya." Sonia.
…
Butuh waktu 2 jam sampai keranjang yang dibawa Bima untuk penuh. Bima segera mengajak Sonia untuk berteduh karena sinar matahari sangat menyengat kulit hari ini walaupun masih agak pagi.
"Kita istirahat dulu baru ke tempat pengepul." Ujar Bima sambil menyodorkan botol minum yang sudah dia siapkan daei rumah kepada Sonia. Sonia menerima botol dari Bima kemudian menenggaknya sampai setengah. Mereka tengah beristirahat di tempat yang teduh.
"Pelan-pelan nanti tersedak." Bima takut kalau Sonia sampai tersedak.
"Akhirnya, lega juga, dari tadi tenggorokan gue sudah kering banget." Sonia menutup kembali botol itu lalu mengembalikannya pada Bima.
Semilir angin yang berhembus membuat Sonia mengantuk. Dia menyandarkan punggungnya di tembok pagar tempat itu. Sonia ketiduran dalam posisi menyender di dinding. Bima ikut menyender di dinding kemudian menarik kepala Sonia untuk diletakkannya di bahunya. Bima pun ikut ketiduran di sana.
tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
kiki
kira" gw kalo d tanyain, mau makan apa? sesuaiin aja sama duit aja sama duit lo, kira" tuh laki kesinggung gak yah, berasa ngremehin gt
2021-05-30
1
Maria Dani
ortu Sonia nggak tanya ke Jaka??
2021-04-29
1
Tionar Linda
aku juga mau nemani babang Bima cari rongsokan Thor 🤗
2020-10-30
5