Sonia masuk ruangan setelah selesai mandi. Pakaiannya pun sudah berganti. Sengaja dia langsung ganti di kamar mandi karena ia kira tamu Bima masih di sana. Namun dugaannya salah. Untung juga masih ada pakaian dalamnya yang masih ada di jemuran di luar. Awalnya dia sudah panik karena ia lupa membawa ganti pakaian dalam, yang dia bawa ke kamar mandi hanya baju pemberian dari tamunya Bima.
"Tamu kamu pada ke mana Bim?" Tanya Sonia yang menyadari tak ada lagi kehadiran mereka.
"Mereka ada di luar." Jawab Bima, Bima memikirkan kiranya apalagi yang akan Sonia tanyakan. Semoga jawaban yang sudah dia siapkan akan berguna.
"Sebenarnya mereka siapa Bim? Kok mereka ngasih kita baju bagus begini." Tanya Sonia penasaran ternyata bukan hanya dia yang diberi baju tapi Bima pun juga dikasih.
Deg. Benar seperti yang ada dipikirannya, Sonia menanyakan tentang Monica dan Sam. Untung Bima sudah menyiapkan jawabannya.
"Mereka teman-teman aku. Kebetulan kemarin aku ketemu mereka, jadi aku minta mereka supaya bisa nganterin kamu pulang." Jawab Bima terpaksa bohong. Dia belum mau berkata jujur mengenai siapa dirinya sebenarnya.
Sonia tak bertanya lagi karena terlalu senang. Walaupun sebenarnya aneh ada seorang pemulung yang berteman dangan orang kaya, tapi rasa senang itu sudah meruntuhkan semua kejanggalan itu, Sonia percaya saja ucapan Bima.
"Tapi kamu jadi ikut sama aku kan? Nanti biar papa kasih kerjaan ke kamu." Sonia menanyakan rencana awalnya apakah akan tetap berjalan.
"Aku akan antar kamu tapi nanti aku akan balik lagi ke sini. Aku gak bisa tinggal di rumah kamu." Ucap Bima memberi pengertian pada Sonia.
Meskipun berat menerima keputusan Bima, Sonia tetap harus menerimanya. Yang dia bisa lakukan nantinya hanya mengunjungi Bima di sini sering-sering.
"Ayo berangkat sekarang. Kasian mereka menunggu." Peh.. males banget banget Bima ngucapin itu, namun demi sandiwaranya terpaksa ia lakukan.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil yang menuju rumah Sonia. Setelah memberitahu Sonia alamat rumahnya pada Sam, Sampun mulai melajukan mobilnya.
Di sisi Sam ada Monica dan di belakang ada Sonia dan Bima. Sonia hanya memandang keluar jendela selama perjalanan. Ia membayangkan semua kejadian yang beberapa hari lalu menimpanya.
Mulai dari pernikahannya dangan Jaka yang gagal total karena badai yang tiba-tiba datang. Makan malam romantis dengan Jaka walaupun hanya dengan masakannya yang sederhana. Bercinta dengan Jaka walaupun hanya setengah jalan sampai dia harus diusir oleh Jaka tanpa ada alasan yang jelas.
Memikirkan dia yang harus telan jang menyusuri kota untuk sampai ke rumah. Dia sangat malu saat itu ketika mata semua orang yang ditemuinya bisa melihat tubuhnya dengan jelas. Apalagi mata laki-laki yang memandangnya dengan nafsu. Kepiran untuk mencuri pakaian milik orang yang sedang dijemur sampai ia ketahuan dan sempat dipukul rotan di dadanya. Sonia memegang dadanya ketika mengingat kejadian itu.
Teringat saat ia hampir diperkosa oleh tiga pria yang tiba-tiba menghalangi jalannya. Untung saat itu ada Bima yang menolongnya. Bima bagaikan seorang malaikat bagi Sonia. Bima yang mengizinkannya tinggal di rumahnya. Bima yang perhatian kepadanya. Bima membelanya saat Jaka datang dan merendahkannya. Bima yang memeluknya saat ia menangis. Dan yang terakhir Bima yang mengantarkannya ke rumah. Bima, Bima, Bima. Semua tentang Bima. Semua kebaikan Bima tak akan mampu Sonia balas. Tanpa sadar Sonia meneteskan air matanya. Sebentar lagi dia akan berpisah dengan Bima.
Bima yang melihat Sonia menangis langsung merangkul pundak Sonia dan menariknya agar mendekat kepadanya. Membiarkan Sonia bersandar di pundaknya. Tanpa sadar Sonia melingkarkan tangannya di perut Bima. Di peluknya erat perut Bima seakan tak ingin melepaskannya. Si empunya hanya bisa tersenyum. Bima bahagia dipeluk Sonia walaupun membuat napasnya jadi agak sesak karena Sonia memeluknya sangat kuat. Terpaksa ia jadi menggunakan pernapasan dada.
Butuh waktu 4 jam untuk sampai di rumah Sonia. Mereka sempat terjebak macet yang lumayan panjang. Sonia dalam keadaan tidur saat tiba di rumahnya. Bukan hal gawat karena selain Sonia sudah memberitahu alamat rumahnya sebelum berangkat, Bima sebenarnya sudah tahu persih di mana keberadaan rumah keluarganya Sonia berada.
Mobil berhenti tepat di depan gerbang. Sam membunyikan klakson mobil beberapa kali. Seorang satpam muncul membuka gerbang sedikit untuk ia lewati lalu mendekati mobil yang dikemudikan oleh Sam.
"Permisi, ada keperluan apa anda ke sini?" Tanya si Satpam sopan. Dia membungkuk untuk mensejajarkan tubuhnya dengan ketinggian mobil.
"Maaf kami hanya ingin mengantarkan tuan kami dan nona Anda." Jawab Sam sama sopannya.
Satpam itu mengedarkan pandangannya ke seisi mobil. Pertama dia menemukan Monica yang langsung tersenyum sambil menganggukkan kepala saat pandangan mata mereka bertemu. Selanjutnya memang benar ada nona Sonia di sana yang tengah tertidur. Dan satu orang lagi. 'Siapa dia kenapa nona memeluknya?' batin Satpam itu.
"Bagaimana kami boleh masuk?" Tanya Sam sopan.
"Em, yah boleh. Sebentar saya bukakan dulu gerbangnya." Satpam itu langsung berlari ke arah gerbang untuk membukanya. Sam melajukan lagi mobilnya saat gerbang sepenuhnya terbuka. Dia menghentikan mobil di depan rumah 2 lantai itu.
Monica turun lalu membantu membukakan pintu mobil untuk Bima karena Bima akan membopong Sonia yang tengah terlelap. Sam melajukan mobil ke tempat parkir sesudah ke tiga orang itu turun.
Setelah menutup gerbang satpam yang bernama Marno itu menghampiri mereka. Dia membukakan pintu rumah, mempersilahkan mereka masuk.
Di dalam ternyata sudah ada Mbok Siska yang sedang menyapu lantai. Dia kaget dengan kedatangan nonanya yang ia kira pingsan bersama orang asing. Hal-hal buruk sudah memenuhi otaknya.
"Di mana kamar Sonia?" Bima bertanya kepada Mbok Siska.
"Di atas tuan, mari saya antar." Jawab Mbok Siska, dia segera berjalan mendahului Bima menuju kamar Sonia yang berada di lantai dua.
Sesampainya di kamar Bima langsung merebahkan Sonia di atas ranjang. Dia memandang Mbok Siska yang tampak panik.
"Sonia tidak apa-apa. Dia hanya tidur." Ujar Bima saat menyadari raut khawatir di wajah Mbok Siska. "Di mana tuanmu berada?" Lanjutnya.
"Tuan sedang ada di taman belakang bersama nyonya." Jawab Mbok Siska.
"Tolong panggilkan, saya akan tunggu di ruang tamu. Apakah boleh?" Tanya Bima sopan.
"Baik tuan, tunggu sebentar akan saya oanggilkan."
Merekapun keluar dari kamar Sonia. Bima menuju ruang tamu dan Mbok Siska menuju taman belakang.
TBC.
Jangan lupa like, komen, dan votenya ya
🙏🙏🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
R⃟ Silu ✰͜͡w⃠🦃🍆(OFF)
lanjuuuuut
2020-10-25
1
Ani
makin penasaran
2020-10-22
1
Umi Yan
Semangat kak..., ditunggu lagi up terbarunya😊
Salam dari "Cinta Sang Desainer" terimakasih🙏
2020-10-22
1