Sonia keluar sambil membawa baskom berisi air hangat serta sabuah kain yang ia temukan di dalam rumah.
"Bim." Panggil Sonia, kemudian ia duduk di samping Bima.
"Sudah selesai?" Tanya Bima.
"Sudah. Sini gue kompresin luka lo." Sonia mencelupkan kain tadi ke air hangat lalu memerasnya. Kemudian ia menempelkannya ke bagian luka di wajah Bima.
"Aw..aw... pelan-pelan, sakit tau." Bima memekik kesakitan saat kompresan itu menyentuh lukanya.
"Tadi pas berantem gak sakit, sekarang baru gini aja udah teriak-teriak." Sindir Sonia.
"Tadi gak berasa." Bima mengelak.
"Ya sudah tahan dulu, biar gak bengkak." Sonia.
Setelah selesai mengompres Bima, Sonia membawa sisa air dan baskom ke belakang. Di sana dia melihat setumpuk piring kotor dan juga beberapa gelas. 'Berapa hari dia tidak mencuci piring?' Gumam Sonia.
Karena kasihan dan merasa sudah dibantu, Sonia mulai mencucikan piring kotor itu. Lagian tidak terlalu banyak juga. Perlu waktu 15 menit untuk menyelesaikannya.
Setelah selesai Sonia kembali ke depan untuk menemui Bima. Namun yang ingin ditemui justru sedang tertidur.
Sebenarnya Sonia ingin pamitan untuk pergi, namun berhubung Bimanya malah tidur, dia mengurungkan niatnya itu. Sonia mendudukkan dirinya di samping pria itu.
Lama duduk di samping Bima, Sonia mulai merasakan perutnya yang keroncongan. Dia sampai lupa terakhir kali nasi yang memasuki perutnya adalah tadi malam.
Tak kuat menahan lapar Sonia memberanikan diri mencari bahan makanan di dalam rumah Bima. Namun nihil tidak ada makanan matang sama sekali. Meskipun ada beras, namun untuk lauknya tidak ada.
Sonia berjalan sampai di belakang rumah. Di sana dia melihat kebun milik Bima. Banyak tertanam sayuran di sana. Tanpa ragu Sonia memetik bayam serta terong di kebun tersebut dan membawanya ke dapur sederhana di rumah itu.
Sonia mulai menaruh air di panci kemudian meletakkannya di atas tungku. Kemudian dia memasukkan bumbu yang sudah dia siapkan sebelumnya.
Sambil menunggu air mendidih, Sonia mengirisi bumbu dan terong untuk menu keduanya. Rencananya dia akan memasak sayur bayam dan tumis terong.
Air mendidih, Sonia kemudian memasukkan daun bayam ke dalam panci. Merasa sudah matang dia mengangkat panci dari atas tungku dan menggantinya dengan wajan berisi minyak sayur. Oh ya dia juga tak lupa mengaduk nasi setengah matang yang dia masak di tungku satunya kemudian dia mematikan api di tungku itu menyisakan bara api saja karena dia tinggal menanak nasinya.
Sonia mulai memasak tumis terongnya. Selah matang dia memindahkannya di piring. Sayur bayam juga sudah berpindah ke mangkuk. Kini dia tinggal menunggu nasi yang belum matang.
Setelah nasi matang dia memindahkan nasi itu ke tempat nasi. Hidangan pun siap.
"Akhirnya selesai juga. Tinggal bawa ke depan." Sonia membawa masakannya satu per satu ke depan. Kemudian dia membangunkan Bima untuk makan bersama.
"Bim, Bima, ayo bangun gue udah masak buat lo, ayo makan." Sonia menepuk-nepuk pipi Bima.
Bima mulai menggeliat dan tak lama sudah membuka matanya.
Tanpa aba-aba, Bima justru membawa Sonia ke dalam pelukannya. Seakan tak ingin melepaskannya, Bima semakin mempererat pelukannya.
"Bim bangun Bim! Lepasin gue." Bima sadar ternyata dia sudah di dunia nyata. Tadinya dia kira masih mimpi. Ya, dia sedang bermimpi, dan di mimpinya ada Sonia.
"Eh maaf, kirain masih mimpi." Ucap Bima jujur.
"Gakpapa, ayo makan, gue udah masak." Sonia.
Merekapun duduk berhadapan di atas tikar dipisahkan hidangan yang akan mereka santap.
"Lo ambil ini dari belakang?" Tanya Bima setelah melihat masakan Sonia.
"Iya, maaf ya ga ijin ke lo dulu." Wajah Sonia seperti anak kecil yang sedang merayu agar tidak disalahkan.
'Ya ampun, tambah cantik aja' batin Bima.
"Bim? Gakpapa kan?" Sonia.
"Iya gakpapa itu kebun gue kok." Bima.
Sonia mulai menyendokkan nasi ke piring serta menambahkan sayur bayam dan tumis terong buatannya kemudian menyerahkannya ke Bima.
'Ya ampun kaya' suami istri aja' batin Bima.
"Ayo dicobain masakan gue." Sonia.
"Eh iya." Bima mulai memakan masakan Sonia. Sonia juga melakukan hal yang sama.
Tak butuh waktu lama, kini mereka sudah selesai makan. Sonia membereskan sisa makanan ke dapur. Kemudian dia kembali duduk bersama Bima.
"Masakan lo enak banget." Bima memuji masakan Sonia.
"Ah biasa aja." Sonia merendah.
"Beneran." Bima.
"Terima kasih." Sonia.
"Sama-sama." Bima. "Oh ya satelah ini lo mau ke mana?" Tanya Bima.
"Gue mau balik ke rumah gue." Jawab Sonia.
"Emang di mana? Terus tadi kenapa lo bisa telan jang gitu." Bima.
"Gue tinggal di komplek KJ." Sonia.
" Wah itu jauh banget dari sini, bisa 3 hari kalau jalan kaki. Kalau lo mau lo tinggal dulu di sini, besok gue cariin uang dulu kalau sudah dapet nanti gue anterin lo pulang gimana?" Bima memberi tawaran. Namun sebenarnya dia hanya belum ingin berpisah dengan Sonia.
"Gue gak ngerepotin lo?" Tanya Sonia.
"Gak sama sekali, niat gue nolong lo aja." Bima berbohong.
"Ya gue mau." Sonia setuju.
"Oh ya yang soal lo telan jang gi mana?" Tanya Bima penasaran.
Seketika muka Sonia menjadi sedih, dia teringat kejadian buruk yang menimpanya.
"Gakpapa kalau lo gak mau cerita." Bima menyadari perubahan raut wajah Sonia.
"Gak papa gue mau cerita. Jadi kemarin hari pernikahan gue. blablablabla....." Sonia menceritakan semuanya sampai saat dia bertemu dengan Bima.
…
tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
kiki
sonia gak takut d jahatin bima gt, baru kenal langsung akrab gt
2021-05-30
1
mom mikayla
Sonia udh mau d perkosa tp gk ada rasa trauma ya..🤔
2021-03-21
1
dunia maya
siapa bima ? sampai2 memimpikan sonia, hmmm adakah kenangan masa lalu diantara mereka thor🤔
2021-03-13
1