"Jadi kemarin hari pernikahan gue. Di hari itu gue baru mengetahui fakta bahwa gue anak angkat dari orang tua gue." Sonia memulai cerita.
"Terus?" Tanya Bima penasaran.
"Habis nikahan gue langsung pindah ke apartemen suami gue. Namanya Jaka." Sonia melanjutkan ceritanya.
"Jaka?" Bima menggantung ceritanya. Dia seperti tak asing dengan nama itu. Tapi ah sudahlah mungking hanya namanya saja yang sama.
"Iya. Kami sudah pacaran 3 tahun, sejak masih sekolah. Dia baik orangnya, tapi waktu malam pertama, gue gak tahu dia tiba-tiba berubah 180°. Dia ngusir gue, bahkan dia gak ngijinin gue untuk mengambil pakaian gue dulu." Pengakuan Sonia membuat rahang Bima mengeras, urat-urat di pelipisnya menegang, dan tangannya mengepal seketika. Dia tidak terima atas perlakuan Jaka terhadap Sonia.
"Keterlaluan, memang apa alasan dia melakukan itu?" Bima bicara seperti orang yang akan memakan orang.
"Gue kurang tahu, ta-..." Sonia menggantungkan ceritanya. Dia ragu apakah dia harus menceritakannya pada Bima, Bima masih asing baginya. Tetapi dia orang yang sudah menolongnya.
"Tapi apa?" Bima penasaran.
"Dia bilang gue udah gak perawan sebelum gue nikah sama dia." Sonia mulai sedih.
"Kok bisa? Lo sudah pernah berhubungan sama orang lain." Bima.
"Hiks...hiks... sekalipun gak pernah. Gue sangat menjaga mahkota gue buat dia. Gue tahu dia gak suka sama cewek yang dengan mudahnya ngasih mahkotanya ke lelaki yang bukan suaminya, tapi gue berani sumpah gue gak pernah melakukannya sebelum dengannya." Sonia bercerita diiringi isakan tangisnya.
Merasa iba akan kisah Sonia, Bima memeluk Sonia untuk menenangkannya. Setelah beberapa saat, Sonia sudah berhenti menangis. Menyadari itu, Bima melepas pelukannya kemudian menghapus sisa air mata di pipi Sonia dengan ibu jarinya.
'Tak akan kubiarkan lelaki itu masih bisa menikmati indahnya dunia. Akan kubuat dia sengsara.' Batin Bima.
"Lo jangan nangis lagi ya, gue bakalan balas perbuatan dia." Bima.
"Jangan Bim! Lo gak tahu siapa dia. Orang tuanya merupakan orang paling kaya nomer 10 di kota ini. Kita gak akan sanggup menghadapi uang mereka." Sonia melarang Bima membalas perbuatan Jaka mengingat kekuasaan orang tua Jaka.
'C I H, hanya nomer 10' Batin Bima.
"Mending sekarang lo istirahat, lo kelihatan capek banget." Ucap Bima setelah melihat muka lelah Sonia.
Sonia menuruti perintah Bima, dia memang sangat lelah, badannya sakit semua, mungkin masuk angin. Sonia mulai berbaring di atas tikar, tak ada kasur di sana, dia memejamkan matanya dan tak lama setelah itu dia sudah masuk ke alam mimpinya.
Setelah memastikan Sonia sudah tidur, Bima bangkit dan pergi ke luar rumah. Di luar rumah dia merogoh saku celananya dan mengambil benda berlogo buah apel yang digigit dan memiliki tiga buah kamera di belakangnya. Wah kenapa dia bisa memiliki benda mahal itu?
Dicari kontak dengan nama S. Monica di sana. Setelah ketemu dia memencet nama itu kemudian memilih icon berwarna hijau. Tak lama terdengar suara wanita di balik sana.
Bima mulai berbicara dengan wanita itu di balik telponya. Entah apa yang mereka bicarakan sampai Bima menutup telponnya kemudian menyunggingkan bibirnya tanda dia sedang senang. Bima menyimpan kembali ponselnya ke saku celana.
Setelah itu Bima pergi untuk melakukan pekerjaannya seperti biasa disore hari yaitu mencari kayu bakar. Namun dia kembali masuk ke rumahnya lagi untuk mengecek kondisi Sonia terlebih dahulu. Tampak senyum di bibir Bima merekah melihat Sonia yang tidur dengan nyenyaknya. Namun dia juga kasian melihat Sonia yang tidur hanya beralaskan tikar.
Setelah memastikan kondisi Sonia barulah Bima pergi untuk mencari kayu bakar.
…
…
Sonia bangun setelah puas dengan tidurnya. Ternyata hari sudah petang. Matanya menyapu sekeliling ruangan untuk mencari sosok lelaki yang sudah menolongnya, Bima.
Tak mendapati Bima di sana, Sonia berdiri dan mulai melangkahkan kakinya ke dapur. Ternyata Bima sedang di sana di depan tungku yang menyala. Tampak senyum di bibir pria itu setelah menyadari kehadirannya. Sonia membalas senyum itu.
"Sudah bangun?" Bima.
"Hm." Sonia mengangguk.
"Langsung mandi aja, gue udah panasin air buat lo, bentar tapi gue siapin dulu." Bima.
"Eh gak usah, gue bisa sendiri." Tolak Sonia secara halus.
"Gak papa lo kan tamu, gue harus layanin tamu gue." Bima.
"Terima kasih." Sonia.
"Sama-sama." Bima."
Bima memindahkan air panas itu ke ember dan menambahkan air dingin secukupnya agar air tidak terlalu panas. Baru kemudian dia mempersilahkan Sonia untuk mandi.
Sonia sangat senang dengan perhatian yang Bima berikan. Hal itu sudah sedikit melupakan kejadian pahit yang menimpanya belakangan ini.
Tak perlu waktu lama bagi Sonia untuk mandi. Tak seperti di rumahnya yang bisa mencapai berpuluh-puluh menit lamanya.
Sonia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya. Dia lalu mencari Bima untuk meminta baju ganti.
Bima memberitahu supaya Sonia mengambilnya sendiri di lemari. Tanpa berpikir lagi, Sonia menuju lemari dan membukanya. Betapa kagetnya Sonia saat pintu lemari sudah terbuka. Di sana sudah ada beberapa setel pakaian wanita lengkap dengan dalamannya juga dan dari mana dia tahu ukurannya.
'Katanya gak punya baju wanita, tapi ini apa?' Batin Sonia.
Bima memang tidak punya baju wanita sebelumnya. Sonia saja yang tidak peka, dia tidak tahu kalau itu semua pakaian baru. Sebenarnya saat Sonia masih tidur, ada seorang wanita dan seorang lagi pria yang berpakaian rapi datang ke rumah Bima membawakan pakaian untuk Sonia, dan tak lama setelah itu ada beberapa orang lagi datang dengan membawa kasur. Sonia juga tidak menyadari kalau pas dia bangun, dirinya sudah ada di atas kasur. Si wanita itu adalah orang yang ditelpon Bima tadi.
Jadi, sebenarnya siapa Bima itu?
tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Momy Haikal
benci banget aku sama lakinya si jaka Tingkir itu.masa segitu teganya dia biarin istri nya telanjang😡
2022-02-12
0
Cahaya Ramadhani
nah kan..ini keren.. dan hanya ada di novel 😁
2021-09-22
1
Susana Sari
alur cerita mu bagus Thor,sepertinya jarang banget cerita semacam ini saya suka,dan selalu ninggalin jejak,sukses ya
2021-06-13
1